Home / Romansa / Istri Naskah Mas Politikus / II : Pemecatan Olla

Share

II : Pemecatan Olla

Author: Rahmani Rima
last update Last Updated: 2026-01-14 08:29:22

Tiga jurnalis yang berasal dari Berita Pertama melongo melihat Olla dengan amat sangat berani menanyakan berita personal pada Aidan Halim. Padahal mereka sudah di briefing untuk tidak menanyakan hal itu, tapi Olla malah melanggar seenak udelnya.

Jurnalis lain gak hanya diam. Mereka ikut menyecar Aidan untuk menjawab pertanyaan Olla.

"Bagaimana tanggapan pak Aidan terhadap perceraian pak Dirman dan Bu Tarina?"

"Apa benar pak Aidan selalu mengantar Bu Tarina melakukan mediasi ditengah kesibukan wakil komisi 6 yang padat?"

"Sudah berapa lama hubungan pak Aidan dengan Tarina Jamasir terjalin?"

Mata elang Aidan menatap sinis ke arah Olla. Ia menggerakkan kepala mengkode pengawal untuk menghentikan pertanyaan para jurnalis yang membuatnya naik pitam.

Dengan langkah cepat, dibantu para pengawal, Aidan berhasil menghindari para jurnalis yang terus mengejarnya, bahkan sampai mobil sedan mengkilat miliknya berjalan menjauhi gedung departemen.

Olla tersenyum puas. Ternyata membuat Aidan tersulut emosi gak sesulit itu.

"Olla!" Jurnalis senior siap menghadang Olla, "kamu tuh kenapa sih, kita 'kan udah di briefing sama redaktur tadi, untuk nggak menanyakan hal pribadi sama Aidan Halim!"

Agar terlihat merasa bersalah, padahal dia kegirangan bukan main, Olla menunduk, "Maaf, mbak."

"Sekarang beritanya disiarkan langsung di tivi. Terus kalau udah gini menurut kamu kita akan aman? kamu berani balik ke kantor?"

Jurnalis senior itu ditahan yang lain, "Sabar."

"Sabar? Udah jelas tadi redaktur minta jurnalis magang nggak usah ikut liputan ini. Sekarang kejadian kayak gini, 'kan? Pas kita balik kantor udah pasti kita kena tegur redaktur eksekutif. Iya kalau cuma ditegur, kalau kita sampai di depak dari Berita Pertama, gimana?"

Olla baru kepikiran, bahwa perbuatannya pada Aidan bisa membuat para seniornya mendapat masalah. Dia gak berpikir panjang dan hanya terpaku pada egonya sendiri untuk mempermalukan Aidan.

Jurnalis senior menunjuk Olla, "Kalau kamu punya nyali, pergi ke kantor duluan dan jangan kabur! Jangan mentang-mentang kamu anaknya pak Dirman Sanjaya, kamu bisa lolos dari masalah ini!"

Olla buru-buru kembali ke kantor naik ojek online. Dia yang baru sampai parkiran, disambut ayah yang memasang wajah amat kecewa padanya.

Dengan ragu, Olla melangkah mendekati, "Ayah? Ayah—disini?"

Ayah membuang nafas pelan berharap amarahnya pada Olla bisa di tahan, "Ayah mau bicara sama kamu."

Olla mengikuti ayah ke sebuah ruangan di bawah tangga evakuasi. Dia pikir ayah gak akan datang ke kantor karena masih sibuk dengan urusan perceraian.

"Jelasin kenapa tiba-tiba kamu ngasih pertanyaan itu sama Aidan Halim."

Olla menunduk. Kini dia gak pura-pura merasa bersalah. Dia memang benar menyesal atas tindakan bodohnya tadi, "Soalnya—"

"Soalnya kamu ngira ayah sama ibu cerai gara-gara Adan Halim?"

Olla mengangguk, "Aku lihat di acara gosip, kalau ibu dateng mediasi ditemenin sama dia, yah. Gosip 'kan fakta yang tertunda. Ada bukti fotonya juga, makannya tadi aku yakin banget kalo ibu... Selingkuh sama si—Aidan itu."

Ayah mengusap wajahnya kasar, "La, kamu serius lupa Aidan Halim itu siapa?"

Olla mengangkat wajahnya, "Dia politikus, yah."

"Ayah tahu. Maksud ayah kamu tahu nggak Aidan Halim itu siapanya ibu? Kenapa dia bisa nemenin ibu mediasi di pengadilan?"

"Ya karena dia pacarnya ibu. Yah, aku tahu ibu sama ayah sering berantem semenjak aku kecil. Aku nggak pernah tahu masalahnya apa karena kalian selalu diem tiap kali aku ada. Udah pasti ayah berantem sama ibu karena ada orang ketiga 'kan? Aku tahu kok kalo ibu... Agak centil. Ibu pasti kepincut sama cowok lain pas lagi syuting bikin vlog."

"Dan kamu nuduh orang itu Aidan?"

Olla mengangguk lagi dengan semangat, "Aku yakin banget orangnya si—Aidan, yah! Dia katanya nyembunyiin pacarnya dari khalayak. Aneh banget 'kan pacar di sembunyiin gitu, kayak Ambien. Dia pasti takut di geruduk netizen kalo pamerin istri orang ke media."

Ayah menekan sudut matanya yang sudah lelah dengan ocehan anak tunggalnya, "La, Aidan itu anak dari temen ibu, yang jadi pengacara perceraian kita. Berhubung mamanya Aidan lagi sibuk, dan Aidan ada di pengadilan untuk ngurus sesuatu, jadi dia berusaha menenangkan ibu yang terus nangis selama mediasi."

Olla melongo sepersekian detik. Seketika otaknya terasa ngebul. Ingin meyakini Ayah bohong, tapi dia baru ingat sewaktu kecil mereka pernah main bareng, dan sudah di pastikan balas dendamnya salah alamat.

"Tapi ibu katanya punya orang ketiga, yah." Olla masih memiliki sedikit energi untuk membela dirinya.

Ekspresi wajah ayah berubah. Seperti menahan kesal tapi sedikit pasrah, "Iya, bener."

"Tuh, 'kan! Pasti itu si Aidan! Sekarang lagi musim tahu, yah, pacaran sama brondong. Ibu 'kan banyak uang, yah, dari hasil kontennya."

"Ngawur kamu, mana mungkin Aidan mau jadi pacar ibu. Uang dia lebih banyak dari pada uang kita kalo di gabung. Kamu baru magang satu bulan udah bikin masalah. Sekarang kamu ke atas, temui redaktur eksekutif, kamu minta maaf."

Olla mengangguk cepat, "Aku akan minta maaf, yah. Tapi aku pasti masih bisa magang di sini 'kan? Om Hans 'kan—temen baik ibu sama ayah."

Ayah membuang nafas pelan, "Ayah gak tahu."

Olla berjalan pelan menuju ruang redaktur eksekutif. Tatapan seluruh karyawan di kantor saat ia memasuki lift, membuatnya meyakini sesuatu: bahwa dia sangat salah dan berhak untuk dipecat.

Tok-Tok-Tok

"Masuk."

Tanpa diminta Olla duduk dihadapan redaktur eksekutif. Mereka sering bertemu, karena seperti katanya tadi, beliau adalah teman baik ayah dan ibu.

"La, om bukannya gak mau memberikan kesempatan, mengingat selama satu bulan ini kelebihan yang ayah kamu punya jadi seorang jurnalis, menurun sama kamu. Tapi yang kamu perbuat tadi di lapangan sangat fatal. Om menerima banyak aduan dari berbagai pihak untuk menindak tegas jurnalis yang keluar dari jalurnya. Kamu tahu dengan betul 'kan, bahwa sedari ayah kamu bekerja di sini saat kamu masih berusia tujuh tahun, sampe sekarang kamu dua puluh dua tahun, Berita Pertama gak pernah menyajikan hal-hal yang bersifat personal mengenai tokoh atau pejabat negara. Om harap kamu paham kenapa om gak bisa memberikan kesempatan setelah apa yang terjadi."

Olla tak memberikan pembelaan apapun saat redaktur eksekutif menyalahkannya. Dia tahu dirinya memang salah dan berusaha menerima pemecatan ini meski berharap diberikan kesempatan kedua.

Olla keluar dari ruangan dengan wajah yang sangat frustasi. Selama redaktur eksekutif membahas kesalahannya, dia tak mengingat kejadian di depan gedung dewan tadi. Dia malah sibuk memikirkan nasib keluarganya yang berantakan.

Rumah gak akan sama lagi. Salah satu dari ayah atau ibu gak akan tinggal disana. Dia gak tahu siapa yang akan pergi.

Olla tak memiliki tempat tujuan lain. Dia berjalan luntang-lantung gak tentu arah. Pandangannya kosong. Niatnya mengikuti jejak karir ayah pun sirna. Gak akan ada portal berita yang mau merekrutnya sebagai jurnalis. Wajahnya sangat terpampang nyata ketika membantai Aidan yang ternyata salah target.

"Gue nggak punya siapa-siapa dan apa-apa lagi sekarang. Keluarga yang selalu gue banggain ke semua orang udah nggak ada," Olla terisak, "Gue mau kemana dan ngapain habis ini? Temen pada ilang, pacar boro-boro punya. Sepupu yang lain juga pasti pada hujat gue soal tadi."

Olla gak sadar sudah melangkah jauh dan ada di tengah jalan sangking sedihnya. Dia gak menghiraukan klakson yang dibunyikan berkali-kali. Dia mendadak jongkok untuk menangis lebih dalam.

TIIIIT!

BRUG!

Tubuh Olla terguling ke jalanan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Naskah Mas Politikus    VI : Pertanggung Jawaban Aidan

    Olla manyun di pintu ruang tamu ketika ayah mengajaknya pergi ke rumah Aidan. "Kamu mau jalan sendiri atau ayah gusur?" "Ayaaaah," rajuk Olla, "Aku gak hamil, gak perlu nikah sama dia." Ayah membuang nafas, "Jadi kamu mau bikin KK sendiri?" "Ayaaaah! Iya-iya, aku ikut ke rumah dia." Olla berjalan pelan, "Maksud aku tuh, ayah 'kan kerja. Ada wawancara penting sama menteri 'kan?" "Ayah udah izin sama om Hans, gak ada masalah. Ayo." Olla berjalan amat pelan, bagai Kukang yang belum nyemil dedaunan. Ayah yang baru mau mengunci pintu, melirik arah gerbang dimana mobil sedan mengkilat yang di ikuti mobil Lexus masuk ke halaman rumah. Mereka turun dari mobil. Satu orang diantaranya membuat Olla meringis. "Om baru mau ke rumah kamu." Aidan tersenyum ketika salim pada ayah, "Maafkan saya dan Olla, om." "Kita ngobrol di dalem." Ibu yang entah bagaimana ceritanya bisa ikutan bareng mereka dan kebetulan baru bisa bertemu lagi dengan Olla—karena anak tunggalnya ngambek dan enggan

  • Istri Naskah Mas Politikus    V : Oow... Ketahuan!

    Satu bulan kemudian...Olla menutup pintu kamar mandi dengan amat sangat pelan. Kalau bisa suara sedikitpun gak boleh kedengeran sama ayah yang lagi sarapan sendiri di meja makan, seperti duda kebanyakan. Dengan hati-hati, Olla membuka box tes pek yang ia beli diam-diam semalam, berdalih ke luar rumah untuk membeli Kerak Telor agar ayah gak curiga. "Hasilnya pasti negatif. Gue gak merasakan apapun yang mencurigakan di perut gue sebulan ini. Bibit si—Aidan pasti gak akan jadi gitu aja. Orang dia kerjanya kobam, mana mungkin bibitnya unggul." Dalam satu tarikan nafas, Olla yang sudah menampung air pipisnya di wadah, mulai memasukkan tes pek perlahan. "Oke, kata kemasannya tunggu tiga menitan," Olla diam sejenak, "Kayak lagi masak mi." Sambil menunggu alat tes kehamilan bekerja maksimal, Olla melakukan berbagai macam aktivitas. Mulai dari cuci tangan, cuci muka dan berakhir berjalan mondar-mandir kayak lagi nunggu hasil ujian. "Udah tiga menit." Olla mengambil tes pek yang semul

  • Istri Naskah Mas Politikus    IV : One Night Stand?

    Satu hal yang pertama kali disadari Olla saat membuka mata, bukan langit-langit kamarnya yang penuh stiker bintang glow-in-the-dark murahan, tapi aroma kayu cendana dan peppermint. Wangi mahal. Wangi laki-laki mapan.Olla mengerjap. Pandangannya menangkap deretan jas rapi yang tergantung di walk-in closet transparan di sudut ruangan. Ini bukan kamarnya. Ini adalah kamar orang kaya yang harga rumahnya terasa murah saat di review agen properti di internet. Mata Olla mengerjap lagi. Tatapannya berubah waspada saat yakin sesuatu terjadi semalam. Ceklek. "Akhirnya bangun juga si jurnalis amatir ini." tutur Aidan berdiri di pintu. Mulut Olla masih terkunci karena sibuk mengumpulkan nyawa. Dia malah melirik sinis ke arah Aidan sambil mengeratkan selimut pada tubuhnya yang terasa dingin. Sedetik kemudian, dahinya mengerut kala melihat dirinya memakai baju yang berbeda dari kemarin sore di Bar. "Makasih ya servisnya malem. Boleh juga." Aidan pergi habis mengatakan kalimat ambigu itu. Ser

  • Istri Naskah Mas Politikus    III : #KaburAjaDulu

    "Mbak?" pria tua berseragam supir jongkok dibelakang tubuh Olla yang meringkuk. "Aduh, ketabrak kayaknya ini. Pak Aidan, gimana ini?" Mendengar nama itu, membuat tubuh Olla terbangun sekaligus. Dia bahkan sudah mempersiapkan ancang-ancang untuk kabur saat mendengar suara sepatu pantofel mendekat ke arahnya. Suasana berubah mencekam. "Udah bangun pelakunya?" suara bariton Aidan membuat supir mengerut bingung. "Mbaknya korban, pak, bukan pelaku. Saya pelakunya." pak supir menunjuk dirinya sendiri dengan wajah takut. Olla memberanikan diri menatap Aidan. Mulai dari sepatunya yang mengkilat, kakinya yang panjang terbalut celana bahan linen premium, kemeja putih yang lengannya dilipat sampai siku, sampai wajahnya yang datar namun siap menerkamnya kapan saja. Tanpa sadar Olla meneguk ludahnya yang tiba-tiba terasa sakit. Aidan membungkuk, "Apa kabar Febiolla? Sepertinya kabar kamu sedikit.... Berantakan. Bener begitu?" Olla merasa pertanyaan itu gak perlu di jawab. Dia hanya pe

  • Istri Naskah Mas Politikus    II : Pemecatan Olla

    Tiga jurnalis yang berasal dari Berita Pertama melongo melihat Olla dengan amat sangat berani menanyakan berita personal pada Aidan Halim. Padahal mereka sudah di briefing untuk tidak menanyakan hal itu, tapi Olla malah melanggar seenak udelnya. Jurnalis lain gak hanya diam. Mereka ikut menyecar Aidan untuk menjawab pertanyaan Olla. "Bagaimana tanggapan pak Aidan terhadap perceraian pak Dirman dan Bu Tarina?" "Apa benar pak Aidan selalu mengantar Bu Tarina melakukan mediasi ditengah kesibukan wakil komisi 6 yang padat?" "Sudah berapa lama hubungan pak Aidan dengan Tarina Jamasir terjalin?" Mata elang Aidan menatap sinis ke arah Olla. Ia menggerakkan kepala mengkode pengawal untuk menghentikan pertanyaan para jurnalis yang membuatnya naik pitam. Dengan langkah cepat, dibantu para pengawal, Aidan berhasil menghindari para jurnalis yang terus mengejarnya, bahkan sampai mobil sedan mengkilat miliknya berjalan menjauhi gedung departemen. Olla tersenyum puas. Ternyata membuat

  • Istri Naskah Mas Politikus    I : Menyerang Politikus

    Olla menyeduh kopi di pantry kantor surat kabar Berita Pertama, dimana ayah juga bekerja disini sebagai jurnalis veteran. Dia baru selesai sidang skripsi dan belum tahu mau kerja apa. Mencoba magang disini untuk mencari pengalaman. Ya sukur-sukur langsung diterima kerja 'kan?"La, ayah mana? Ada berita yang masih nyangkut nih, belum bisa di publis." rekan kerja ayah mengikuti Olla yang membawa gelas kopi ke ruangan. "Bentar, aku tanya ayah dulu, mungkin masih di jalan." Olla duduk di kursi milik ayah. Sambil menelpon, tangannya mengambil figura yang menunjukkan potret dirinya, ayah dan ibu yang saling berpelukan di pantai. Beberapa saat gak ada jawaban, Olla mencoba menelpon ulang. "Di angkat, La?" "Belum, tante, bentar ya."Rekan kerja ayah yang lain, menaruh box makan siang di meja, "Ayahmu gak bisa angkat telpon, La." Dahi Olla mengerut, "Loh, kenapa, om? Emang ayah lagi ngapain?"Teman ayah melirik semua orang yang ada di ruangan. "Ayah ada kerjaan meliput, ya? Tumbe

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status