Home / Romansa / Istri Naskah Mas Politikus / III : #KaburAjaDulu

Share

III : #KaburAjaDulu

Author: Rahmani Rima
last update Last Updated: 2026-01-14 08:40:31

"Mbak?" pria tua berseragam supir jongkok dibelakang tubuh Olla yang meringkuk.

"Aduh, ketabrak kayaknya ini. Pak Aidan, gimana ini?"

Mendengar nama itu, membuat tubuh Olla terbangun sekaligus. Dia bahkan sudah mempersiapkan ancang-ancang untuk kabur saat mendengar suara sepatu pantofel mendekat ke arahnya. Suasana berubah mencekam.

"Udah bangun pelakunya?" suara bariton Aidan membuat supir mengerut bingung.

"Mbaknya korban, pak, bukan pelaku. Saya pelakunya." pak supir menunjuk dirinya sendiri dengan wajah takut.

Olla memberanikan diri menatap Aidan. Mulai dari sepatunya yang mengkilat, kakinya yang panjang terbalut celana bahan linen premium, kemeja putih yang lengannya dilipat sampai siku, sampai wajahnya yang datar namun siap menerkamnya kapan saja.

Tanpa sadar Olla meneguk ludahnya yang tiba-tiba terasa sakit.

Aidan membungkuk, "Apa kabar Febiolla? Sepertinya kabar kamu sedikit.... Berantakan. Bener begitu?"

Olla merasa pertanyaan itu gak perlu di jawab. Dia hanya perlu siap-siap untuk melarikan diri dari manusia yang dia yakini penuh mempengaruhi banyak pikiran ibu supaya berpisah sama ayah.

Ibu mencintai ayah meski sering bertengkar, begitu keyakinannya. Saat ibu memutuskan menjadi pembuat konten kecantikan dengan merubah penampilan secara total dengan memakai brand baju mewah, pasti dipengaruhi keluarga Aidan yang sudah kaya sedari nenek moyangnya. Kaya tujuh turunan gitu loh. Dan sejak saat itu ibu dan ayah semakin sering ribut. Pokoknya semua pasti salah Aidan.

"Saya masih berbaik hati untuk—"

"Kabuuuur!" Olla melepas kedua sepatu dan berlari kencang menjauhi Aidan.

"Olla!"

Olla terus memperhitungkan jaraknya dengan tempat Aidan berdiri kesal karena dia berhasil kabur. Dari kejauhan Aidan terlihat berkacak pinggang dengan wajah yang menyeramkan.

Ditengah jalan Olla tertawa, "Kabur dari si Aidan mah gampang. Dia mana mungkin ngejar, ntar keringetan. Cowok modelan dia 'kan agak lain."

Saat yakin dirinya aman, Olla berhenti. Dia menghirup oksigen banyak-banyak sambil merogoh saku baju seragam jurnalisnya.

"Gue pulang dulu deh. Gue yakin dia gak akan ngejar sampe rumah."

Wajah Olla seketika pucat pasi. Dia baru ingat, saat tubuhnya menjatuhkan diri sangking lelahnya memikirkan nasib buruk keluarganya, dia memegangi jaket, dimana dalam sakunya terdapat kunci pintu rumah. Dan nahasnya, yup! Jaket itu sekarang tertinggal di TKP!

"Siaaaaal! Gimana gue bisa balik kalo gini caranya?"

Olla jalan mondar-mandir di depan Bar dengan dua bodyguard mejeng di pintu. Dia harus memikirkan cara untuk mendapatkan kunci rumah itu tanpa perlu bertemu Aidan.

"Semua gara-gara si Aidan! Harusnya waktu supirnya ngira gue kenapa-napa, dia gak usah turun dari mobil. Terus kalo udah gini gimana?"

Olla berdiri tegak, "Ayah! Gue ke kantor minta kunci ayah. Tapi—kalo ayah tanya kunci gue kemana, gue jawab apa?"

Olla merengut, "Gue mana mungkin bilang kalo kuncinya ketinggalan di depan si—argh! Gue benci banget sama dia!"

Merasa gak ada jalan lain untuk bisa membuka pintu rumah selain kembali mengambilnya pada Aidan, atau minta kunci dari ayah, Olla melirik Bar yang mendadak terlihat menarik untuknya.

Dia gak pernah masuk sebelumnya ke tempat begini. Tapi gak ada salahnya mencoba 'kan? Toh dia juga merasa boleh melakukannya karena sudah lulus kuliah meski belum wisuda.

Dengan perlahan, kakinya yang baru dipakaikan sepatu, melangkah ragu ke dalam Bar. Matanya gak berhenti menatap setiap inci ruangan asing yang gak pernah terbayangkan akan dimasukinya.

Jantung Olla tentu saja berdegup kencang. Dia selalu di wanti-wanti untuk menjauhi tempat-tempat buruk. Tapi dia merasa hal buruk justru sudah terjadi pada dua orang yang melukai perasaannya sebagai anak yang hanya ingin orang tua utuh.

"Mau pesan apa, mbak?" tanya bartender dibalik meja ketika Olla hanya berdiri kaku seperti sedang antre sembako gratis.

"Eum.... Air—putih, mas."

Bartender terkejut mendengar pesanan tak biasa orang yang diyakini baru pertama datang ke tempat hiburan ini.

"Air putih? Oke. Ada lagi?"

"Itu aja. Berapa, mas?" Olla merogoh saku belakang celananya untuk mengambil dompet.

"Gratis, mbak. Sebentar saya ambilkan. Silakan duduk."

Sambil menunggu bartender mengambil pesanannya, Olla duduk dengan tidak nyaman di kursi. Matanya mengelilingi seluruh ruangan yang ternyata beda dengan bayanganya selama ini.

Bartender menaruh gelas di meja, "Silakan pesanannya, mbak."

"Terima kasih."

Olla langsung meneguk setengah air yang ada di gelas. Tubuhnya membutuhkan hidrasi cukup setelah di pecat dan kabur dari musuh salah sasarannya. Mana itu si Aidan lagi.

Baru bernafas sebentar menikmati segarnya air, mulut Olla mendadak pahit saat melihat Aidan dengan santainya duduk di ujung meja memesan minuman berwarna coklat yang Olla yakini sebagai minuman haram bernama wiski-wiski itu.

Aidan sepertinya sadar kalau Olla tengah ketakutan dan berencana untuk kabur lagi darinya, karena kakinya sudah turun sebelah dari kursi.

"Gak usah kabur. Nikmatin aja dulu minuman spesialnya."

Olla mendengus di sindir begitu, karena beberapa peminum lain jadi diam-diam mentertawakannya.

"Tambah." pinta Aidan setelah meneguk habis gelas pertama.

Olla yang merasa Aidan gak mempermasalahkan kesalahannya di depan gedung dewan, dan dia asik dengan isi pikirannya sendiri, gak sadar tengah diperhatikan Aidan.

"Habis kabur, dateng ke Bar cuma numpang minum air putih?" sindir Aidan setengah tertawa.

Merasa dirinya di rendahkan, Olla memanggil bartender, "Mas, kasih saya minuman sama kayak dia!" pesannya merasa tertantang.

"Serius, mbak?" tanya wajah bartender dengan wajah gak percaya.

"Iya, kenapa?"

"Kasih aja." kata Aidan ringan setelah meneguk gelas kedua.

Bartender memberikan gelas kecil berisi air keruh pada Olla.

Setengah ragu, Olla mendekatkan gelas pada bibirnya.

"Kalo gak bisa minum gak perlu dipaksa. Anak kecil."

Disebut anak kecil, membuat Olla marah maksimal. Dia bersusah payah berlagak jadi anak gede, tapi Aidan malah meledeknya.

"Gue bukan anak kecil!"

Aidan hanya tertawa. Lagi-lagi dia kembali memesan—gelas ketiga.

Geram dengan suara tawa Aidan dan kumpulan hal yang membuatnya marah, sedih, kecewa tentang banyak hal yang terjadi hari ini, Olla memberanikan diri meneguk habis wiski dengan kadar alkohol tinggi itu.

"Akhhhh." Olla mengeluarkan suara serak merasakan tenggorokannya terasa panas, pahit dan tidak nyaman. Dia terbatuk dan memukul meja sebagai bentuk pertahanan diri.

"Olla!" Aidan menghampiri Olla. Dia gak nyangka, anak dari sahabat mamanya berani minum wiski sekali teguk padahal Olla adalah seorang peminum super pemula, "Ngapain di minum si!"

Bayangan di mata Olla mengabur. Isi kepalanya terasa berisik sekali, tubuhnya limbung, dia juga kebingungan sendiri.

Di detik terakhir kesadarannya, Aidan tampak khawatir padanya. Apakah Olla salah lihat?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Naskah Mas Politikus    VI : Pertanggung Jawaban Aidan

    Olla manyun di pintu ruang tamu ketika ayah mengajaknya pergi ke rumah Aidan. "Kamu mau jalan sendiri atau ayah gusur?" "Ayaaaah," rajuk Olla, "Aku gak hamil, gak perlu nikah sama dia." Ayah membuang nafas, "Jadi kamu mau bikin KK sendiri?" "Ayaaaah! Iya-iya, aku ikut ke rumah dia." Olla berjalan pelan, "Maksud aku tuh, ayah 'kan kerja. Ada wawancara penting sama menteri 'kan?" "Ayah udah izin sama om Hans, gak ada masalah. Ayo." Olla berjalan amat pelan, bagai Kukang yang belum nyemil dedaunan. Ayah yang baru mau mengunci pintu, melirik arah gerbang dimana mobil sedan mengkilat yang di ikuti mobil Lexus masuk ke halaman rumah. Mereka turun dari mobil. Satu orang diantaranya membuat Olla meringis. "Om baru mau ke rumah kamu." Aidan tersenyum ketika salim pada ayah, "Maafkan saya dan Olla, om." "Kita ngobrol di dalem." Ibu yang entah bagaimana ceritanya bisa ikutan bareng mereka dan kebetulan baru bisa bertemu lagi dengan Olla—karena anak tunggalnya ngambek dan enggan

  • Istri Naskah Mas Politikus    V : Oow... Ketahuan!

    Satu bulan kemudian...Olla menutup pintu kamar mandi dengan amat sangat pelan. Kalau bisa suara sedikitpun gak boleh kedengeran sama ayah yang lagi sarapan sendiri di meja makan, seperti duda kebanyakan. Dengan hati-hati, Olla membuka box tes pek yang ia beli diam-diam semalam, berdalih ke luar rumah untuk membeli Kerak Telor agar ayah gak curiga. "Hasilnya pasti negatif. Gue gak merasakan apapun yang mencurigakan di perut gue sebulan ini. Bibit si—Aidan pasti gak akan jadi gitu aja. Orang dia kerjanya kobam, mana mungkin bibitnya unggul." Dalam satu tarikan nafas, Olla yang sudah menampung air pipisnya di wadah, mulai memasukkan tes pek perlahan. "Oke, kata kemasannya tunggu tiga menitan," Olla diam sejenak, "Kayak lagi masak mi." Sambil menunggu alat tes kehamilan bekerja maksimal, Olla melakukan berbagai macam aktivitas. Mulai dari cuci tangan, cuci muka dan berakhir berjalan mondar-mandir kayak lagi nunggu hasil ujian. "Udah tiga menit." Olla mengambil tes pek yang semul

  • Istri Naskah Mas Politikus    IV : One Night Stand?

    Satu hal yang pertama kali disadari Olla saat membuka mata, bukan langit-langit kamarnya yang penuh stiker bintang glow-in-the-dark murahan, tapi aroma kayu cendana dan peppermint. Wangi mahal. Wangi laki-laki mapan.Olla mengerjap. Pandangannya menangkap deretan jas rapi yang tergantung di walk-in closet transparan di sudut ruangan. Ini bukan kamarnya. Ini adalah kamar orang kaya yang harga rumahnya terasa murah saat di review agen properti di internet. Mata Olla mengerjap lagi. Tatapannya berubah waspada saat yakin sesuatu terjadi semalam. Ceklek. "Akhirnya bangun juga si jurnalis amatir ini." tutur Aidan berdiri di pintu. Mulut Olla masih terkunci karena sibuk mengumpulkan nyawa. Dia malah melirik sinis ke arah Aidan sambil mengeratkan selimut pada tubuhnya yang terasa dingin. Sedetik kemudian, dahinya mengerut kala melihat dirinya memakai baju yang berbeda dari kemarin sore di Bar. "Makasih ya servisnya malem. Boleh juga." Aidan pergi habis mengatakan kalimat ambigu itu. Ser

  • Istri Naskah Mas Politikus    III : #KaburAjaDulu

    "Mbak?" pria tua berseragam supir jongkok dibelakang tubuh Olla yang meringkuk. "Aduh, ketabrak kayaknya ini. Pak Aidan, gimana ini?" Mendengar nama itu, membuat tubuh Olla terbangun sekaligus. Dia bahkan sudah mempersiapkan ancang-ancang untuk kabur saat mendengar suara sepatu pantofel mendekat ke arahnya. Suasana berubah mencekam. "Udah bangun pelakunya?" suara bariton Aidan membuat supir mengerut bingung. "Mbaknya korban, pak, bukan pelaku. Saya pelakunya." pak supir menunjuk dirinya sendiri dengan wajah takut. Olla memberanikan diri menatap Aidan. Mulai dari sepatunya yang mengkilat, kakinya yang panjang terbalut celana bahan linen premium, kemeja putih yang lengannya dilipat sampai siku, sampai wajahnya yang datar namun siap menerkamnya kapan saja. Tanpa sadar Olla meneguk ludahnya yang tiba-tiba terasa sakit. Aidan membungkuk, "Apa kabar Febiolla? Sepertinya kabar kamu sedikit.... Berantakan. Bener begitu?" Olla merasa pertanyaan itu gak perlu di jawab. Dia hanya pe

  • Istri Naskah Mas Politikus    II : Pemecatan Olla

    Tiga jurnalis yang berasal dari Berita Pertama melongo melihat Olla dengan amat sangat berani menanyakan berita personal pada Aidan Halim. Padahal mereka sudah di briefing untuk tidak menanyakan hal itu, tapi Olla malah melanggar seenak udelnya. Jurnalis lain gak hanya diam. Mereka ikut menyecar Aidan untuk menjawab pertanyaan Olla. "Bagaimana tanggapan pak Aidan terhadap perceraian pak Dirman dan Bu Tarina?" "Apa benar pak Aidan selalu mengantar Bu Tarina melakukan mediasi ditengah kesibukan wakil komisi 6 yang padat?" "Sudah berapa lama hubungan pak Aidan dengan Tarina Jamasir terjalin?" Mata elang Aidan menatap sinis ke arah Olla. Ia menggerakkan kepala mengkode pengawal untuk menghentikan pertanyaan para jurnalis yang membuatnya naik pitam. Dengan langkah cepat, dibantu para pengawal, Aidan berhasil menghindari para jurnalis yang terus mengejarnya, bahkan sampai mobil sedan mengkilat miliknya berjalan menjauhi gedung departemen. Olla tersenyum puas. Ternyata membuat

  • Istri Naskah Mas Politikus    I : Menyerang Politikus

    Olla menyeduh kopi di pantry kantor surat kabar Berita Pertama, dimana ayah juga bekerja disini sebagai jurnalis veteran. Dia baru selesai sidang skripsi dan belum tahu mau kerja apa. Mencoba magang disini untuk mencari pengalaman. Ya sukur-sukur langsung diterima kerja 'kan?"La, ayah mana? Ada berita yang masih nyangkut nih, belum bisa di publis." rekan kerja ayah mengikuti Olla yang membawa gelas kopi ke ruangan. "Bentar, aku tanya ayah dulu, mungkin masih di jalan." Olla duduk di kursi milik ayah. Sambil menelpon, tangannya mengambil figura yang menunjukkan potret dirinya, ayah dan ibu yang saling berpelukan di pantai. Beberapa saat gak ada jawaban, Olla mencoba menelpon ulang. "Di angkat, La?" "Belum, tante, bentar ya."Rekan kerja ayah yang lain, menaruh box makan siang di meja, "Ayahmu gak bisa angkat telpon, La." Dahi Olla mengerut, "Loh, kenapa, om? Emang ayah lagi ngapain?"Teman ayah melirik semua orang yang ada di ruangan. "Ayah ada kerjaan meliput, ya? Tumbe

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status