เข้าสู่ระบบSatu hal yang pertama kali disadari Olla saat membuka mata, bukan langit-langit kamarnya yang penuh stiker bintang glow-in-the-dark murahan, tapi aroma kayu cendana dan peppermint. Wangi mahal. Wangi laki-laki mapan.
Olla mengerjap. Pandangannya menangkap deretan jas rapi yang tergantung di walk-in closet transparan di sudut ruangan. Ini bukan kamarnya. Ini adalah kamar orang kaya yang harga rumahnya terasa murah saat di review agen properti di internet. Mata Olla mengerjap lagi. Tatapannya berubah waspada saat yakin sesuatu terjadi semalam. Ceklek. "Akhirnya bangun juga si jurnalis amatir ini." tutur Aidan berdiri di pintu. Mulut Olla masih terkunci karena sibuk mengumpulkan nyawa. Dia malah melirik sinis ke arah Aidan sambil mengeratkan selimut pada tubuhnya yang terasa dingin. Sedetik kemudian, dahinya mengerut kala melihat dirinya memakai baju yang berbeda dari kemarin sore di Bar. "Makasih ya servisnya malem. Boleh juga." Aidan pergi habis mengatakan kalimat ambigu itu. Servis? Olla mengulang kata kunci itu puluhan kali dalam pikirannya. Setelah sadar maksud dari perkataan Aidan, dia bangkit dari kasur dan mengejarnya keluar kamar. "Aidan! Lo habis ngapain gue!" Aidan tersenyum penuh misteri. Dia terlihat gak akan mengulang ucapannya, karena malah sibuk meneguk kopi hitam di meja makan. "Jangan lupa cek rutin kesehatan calon anak kita." "Aidan!" Aidan menggapai jas yang tersimpan di kursi makan. Dia berjalan begitu saja, ninggalin Olla yang siap ngamuk saat seorang lelaki seusia Aidan mengangkat tumpukkan kertas tanpa bicara. "Aidan, jangan pergi dulu!" Mata Aidan menyipit tajam, "Udah jam berapa ini? Saya bukan pengangguran seperti kamu." Sedetik setelah Aidan pergi, Olla membeku. Tangannya sibuk menggeledah tubuhnya sendiri, memeriksa sesuatu. "Malem emangnya gue ngapain si Aidan?! Kok dia bilang soal—servis?" Aidan kembali. Dia merogoh sesuatu dari dalam saku jasnya. "Gue bukan ani-ani! Gue gak butuh duit lo!" Aidan menggerutu tidak jelas. Dia menaruh kunci dengan gantungan boneka Labubu segede gaban, "Mungkin kamu mau pulang dulu ke rumah orang tua, sebelum kamu tinggal disini." Olla mengambil kunci itu kasar, "Apa yang terjadi semalem?" "Ah, gak inget, ya? Sayang sekali. Saya pergi, ada jadwal rapat. Kamu mending mandi dan menikmati semua fasilitas di rumah ini. Kamu bisa makan atau pesan apapun. Uangnya saya taruh di atas laci kamar. Dan satu lagi..." Aidan memegangi dagu Olla, "Jangan lupakan saya sebagai orang pertama yang—" "Gak! Gak mungkin!" Olla menyilang tangannya dengan histeris, "Lo! Elo jebak gue 'kan?" "Kamu dengan kesadaran penuh minum wiski itu dalam sekali teguk, jadi itu namanya saya jebak kamu?" Olla menggeleng kencang, "Gak! Semalem gue pasti langsung tidur. Kita gak ngapa-ngapain!" Aidan memainkan ponselnya dengan santai. Matanya yang tajam melirik ke arah Olla yang masih tak terima dengan narasi yang sudah pasti itu karangan Aidan saja. Dengan senyum misterius, Aidan menunjukkan layar ponsel yang menunjukkan Olla meracau tidak jelas dan tubuhnya yang bergerak bagai cacing kepanasan saat memasuki rumah ini. "Saya gak perlu tunjukkin video lanjutannya 'kan? Kamu pasti bisa menebak sendiri alurnya. Saya pergi." Kini Aidan benar-benar pergi, karena Olla yang berdiri persis orang baru saja terkena gendam selama sepuluh menit, tak menemukan tanda-tanda pintu utama rumah ini terbuka. Olla bergegas mandi dan kembali memakai baju miliknya yang sudah di cuci karena wangi. Sebelum pergi, dia melirik setumpuk uang yang mejeng di atas laci, seperti ucapan Aidan tadi. Bukannya mengambil uang itu, Olla malah meringis. Dia melangkah besar keluar kamar dan akan pulang dengan tangan kosong. Namun baru sampai teras rumah, dia kembali, "Gue boleh pulang dengan tangan kosong, tapi nggak dengan perut kosong." Olla kembali masuk dan menikmati sandwich yang sudah terhidang di meja—lengkap dengan menu lainnya. Meski rasanya hambar karena otaknya sibuk mengingat hal sekecil apapun soal malam, dia tetap menjejalkan apapun yang bisa di makan. Ojek online yang mengantarkan Olla pulang berhenti di depan pagar rumah yang tertutup rapat. Olla membuka helmet dengan mata merah dan mulut cemberut. Lampu rumahnya masih menyala. "Ayah... Kayaknya gak pulang deh. Ibu... Apalagi." Olla benar-benar hancur. Tubuhnya tak bergerak saat kedua langkah kakinya berhenti di undakan tangga teras. "Gue... Udah gak punya siapa-siapa lagi, heu heu heu." "Kamu salah. Kamu punya saya dan... Calon anak kita." Olla yang sedang menangis sesenggukan, memelankan suaranya. Baru saja dia keluar dari rumah Aidan, orangnya malah nongkrong di rumahnya sekarang. "Saya ada agenda lapangan di sekitar sini, terus ingat kamu. Saya juga ingat semalam kita..." Aidan berbisik, "One night stand." Olla melotot. Dia yakin seribu, bahkan sejuta persen kalau semalam tidak pernah terjadi hal-hal di luar dugaannya. "Gak ya, Aidan! Gak usah ngarang bebas. Hal yang mungkin terjadi adalah gue muntah dan... Ya tidur aja, atau pingsan deh. Gak mungkin terjadi hal-hal erotik seperti yang lo sebutin itu." Aidan membuka kancing kemeja paling atas, menunjukkan tanda merah dekat leher, "Mungkin kamu inget ini, hasil karya kamu semalem." Olla melotot. Di video yang ditunjukkan Aidan tadi pagi, memang terlihat dirinya yang nyosor ke arah dada. Tapi seingatnya bukan untuk memberikan tanda cupang, tapi untuk menggigitnya yang sudah membuatnya berani menenggak minuman terkutuk itu. "Saya tahu, gak mudah buat kamu terima semua ini. Orang tua yang bercerai, karir yang berantakan, dan... Kecerobohan soal masa depan. Tapi satu yang harus kamu tahu, Olla. Saya—akan bertanggung jawab atas semua yang terjadi." Nafas Olla tercekat mendengar kalimat terakhir yang Aidan katakan. "....apalagi ada kemungkinan kamu mengandung anak saya. Penerus keluarga Halim." Olla melirik perutnya yang rata. Dia tak akan pernah bisa membayangkan ada janin yang akan tumbuh di dalam perutnya, menggeser posisi lemak segunung yang menjadi pemilik tahta tertinggi dalam tubuhnya selama ini. Apalagi itu katanya adalah benih Aidan. Tangan Aidan mengelus bahu Olla pelan, ekspresi wajahnya yang aneh membuat Olla patut curiga dengan kalimat yang akan di luncurkan. "Kapanpun kamu siap, saya akan menemui kamu untuk membicarakan pernikahan kita." Olla kiceup. Tak ada perlawanan atau teriakan. Bukan karena dia terbius kalimat khas buaya buntung, tapi karena tangan Aidan berpindah mengelus kepalanya. Kok Olla jadi baper gini sih?!Olla sudah diberi tindakan, berupa suntik antihistamin untuk mengobati bidurannya. Untungnya gak sampai harus opname, karena gak ada sesak nafas. Sebenarnya pun dia sudah dibolehkan pulang setelah infus habis, tapi Aidan keukeuh mau merawat inapkan istri naskahnya. Dan Olla kepaksa nurut karena badannya pun sedikit lemas karena efek alerginya. Dia gak punya daya upaya untuk melawan. Pikirannya sempet mikir, kenapa Aidan malah mau menahanya disini. Dia gak tahu sudah disiapkan naskah apa lagi. Bodo amat lah. "Infus vitaminnya sudah terpasang," kata suster sambil mengecek laju infus, "Ada yang bisa saya bantu lagi, mbak Olla, pak Aidan?""Ada yang bikin kamu gak nyaman dan pingin diganti, sayang?" Tanya Aidan.Olla menggeleng. Dia memang gak butuh apa-apa lagi, "Makasih banyak, sus.""Sama-sama, mbak Olla. Kalau begitu saya permisi."Selepas suster pergi, Aidan duduk ditepian ranjang menggenggam tangan Olla. Wajahnya serius banget, "Maafin aku ya, La?"'Aku?' Olla mengula
Sebelum AIdan menjawab pertanyaannya, Lucy baru terlihat batang hidungnya. Olla melirik Lucy memintanya sembunyi sebelum bertemu Aidan. Dari sebrang, Lucy mengangguk paham."Gue ke toilet dulu."Aidan bangkit, membuat Olla terpaksa harus mendorongnya kembali duduk, "Ngapain?""Anter kamu. Ada mbak Ria.""Gak usah keseringan cari muka. Kerja aja, jangan makan gaji buta. Gaji lo tuh duit gue itu, uang rakyat sipil."Olla buru-buru ke toilet untuk mengatur strategi bersama Lucy yang sudah menunggunya disana."Luc!""Jadi gimana?""Kita harus singkirin dulu mbak Ria.""Siapa tuh?""Aspri gue, yang tadi berdiri gak jauh dari meja gue.""Anjay, beneran jadi istri pejabat lo ya, jadi iri gue.""Jadi istri pejabat gak ada enaknya, percaya sama gue. Apa-apa harus di atur, apalagi depan media."Lucy diam. Matanya melirik sinis."Kenapa lo?""Jangan-jangan pernikahan lo juga di atur."Sekarang Olla yang diam."Lo benci sama dia, sampe nuduh pacar yang dia sembu
Airan mengeluarkan ponsel dan menunjukkan chat dari Olla, "Kamu chat sharelock lokasi ini ke kakak, setengah jam lalu."Aidan merebut ponsel Airan. Dibacanya pelan-pelan isi pesan itu.Olla yang penasaran karena merasa dia gak mengirim pesan apapun pada kakak ipar palsunya, melongokan kepalanya ke layar. Dia pun menganga pada kecerobohannya sendiri. "Kamu ngapain minta kakak kesini, sayang?" Tanya AIdan sedikit ketus, "Kakak sibuk loh."Olla melirik Aidan dan Airan silih berganti. Dia gak mungkin bilang kalau dia sebenarnya ingin mengirim pesan pada Lucy, bisa berantakan rencananya untuk mengelabui Aidan soal asisten pribadi itu."Eum.. aku kayaknya gak fokus deh, kak. Aku tadi--niat laporan ke ayah. Iya, gitu." Jawabnya berusaha meyakinkan, padahal nada ragunya kentara banget."Bener kayak gitu?" Todong Aidan."Iya, mas. Aku 'kan apa-apa cerita ke ayah." Olla menatap Airan, "Maaf ya, kak.""Gak papa. Hari ini kakak lagi free kok sampe siang, jadi gak masalah."Aida
Olla menggeliat ketika gorden kamarnya dibuka lebar-lebar. Oleh siapa lagi kalau bukan manusia satu itu. "Aidan!""Kamu bisa disiplin gak? Jam berapa ini?"Olla melirik nakas, tempat dimana jam digital bertengger, "Baru jam tujuh.""Baru kamu bilang? Sekarang kamu bangun, mandi dan siap-siap. Kamu ada jadwal maen tenis hari ini.""Lo aja sana." Olla memeluk bantal.Aidan yang terbiasa hidup serba teratur, merasa menghadapi Olla adalah peer besar. Sudah suka melawan, manajemen waktunya jelek pula. Dia menghampiri Olla nyaris menciumnya, "Bangun atau saya--""Heh!" Olla mendorong Aidan, "Jangan suka cari kesempatan ya sama gue! Kita emang pernah ngelakuin itu, tapi cukup sekali! Gak sudi gue di jamah sama cowok serakah kayak lo!""Serakah?"Olla turun dari ranjang dengan wajah super kesal, "Lo punya pacar, tapi pas mabok malah maen sama gue. Apa namanya kalo bukan serakah? Jangan biasain diri bebas ngelakuin apapun karena lo politikus deh, gak mempan di gue.""Udah
Olla terus menarik ujung roknya ketika wawancara selesai. Aidan masih bicara dengan kepala jurnalis. Olla sibuk memikirkan apa yang harus dilakukan sebagai bentuk terima kasih karena Aidan sudah membelanya. Dia tahu benar, ucapan Aidan akan mempengaruhi bagaimnana netizen menilainya nanti."Yuk pulang, sayang." Aidan memeluk pinggang Olla.Tak banyak protes, Olla menurut. Saat sampai rumah, Aidan gak bicara apapun. Dia sibuk dengan lembaran berkas yang baru saja diserahkan Rendi."Mas, aku boleh ngobrol sebentar?" Tanya Olla. Dia mau istirahat tapi merasa perlu mengucapkan terima kasih pada suaminya sebelum lupa.Rendi yang duduk tak jauh dari Aidan bangkit untuk pergi ke belakang rumah, memberikan ruang supaya Olla bisa ngobrol dengan Aidan.Olla duduk disebelah Aidan, "Eum, mas, makasih." Katanya masih setengah berakting."Buat?""Aku tahu kok tadi kamu ngomong kayak gitu supaya netizen gak makin sibuk caci aku. Soal bar dan baju 'kan sebenernya semua atas kemauan a
Olla berteriak kencang bersama Lucy di acara konser band favoritnya. Tubuhnya bergerak lincah, melompat kegirangan saat pikirannya terasa damai karena tidak perlu lagi mengikuti aturan suami naskahnya. "Habis ini jadi 'kan nemenin gue beli parfum?" tanya Lucy berteriak. "Jadi dong." Jawab Olla berteriak juga. "Pak Aidan gak papa emang?" "Eum... Gak papa lah." Lucy menarik tubuh Olla agar tidak lagi melompat, "Gue lupa tanya. Tadi lo kesini sama siapa?" "Supir." Olla gak bohong, dia memang datang sama supir keluarga mama. "Pak Aidan tahu lo kesini 'kan?" Selidik Lucy. "Tahu lah." "Syukur deh. Jangan cari masalah lo sama dia. Rakyat sipil kayak kita mending ikut aturan yang ada aja, cari aman.""Iya-iya, lo ngomong kayak gitu udah berapa kali coba?" Setengah kesal, Olla berusaha mengembalikan moodnya untuk menikmati sisa konser. Dia heran, kenapa Lucy malah berada dipihak Aidan. Sahabatnya jelas-jelas adalah dirinya.Belum lima menit berlalu, Olla







