Home / Romansa / Istri Naskah Mas Politikus / V : Oow... Ketahuan!

Share

V : Oow... Ketahuan!

Author: Rahmani Rima
last update Last Updated: 2026-01-14 19:52:44

Satu bulan kemudian...

Olla menutup pintu kamar mandi dengan amat sangat pelan. Kalau bisa suara sedikitpun gak boleh kedengeran sama ayah yang lagi sarapan sendiri di meja makan, seperti duda kebanyakan.

Dengan hati-hati, Olla membuka box tes pek yang ia beli diam-diam semalam, berdalih ke luar rumah untuk membeli Kerak Telor agar ayah gak curiga.

"Hasilnya pasti negatif. Gue gak merasakan apapun yang mencurigakan di perut gue sebulan ini. Bibit si—Aidan pasti gak akan jadi gitu aja. Orang dia kerjanya kobam, mana mungkin bibitnya unggul."

Dalam satu tarikan nafas, Olla yang sudah menampung air pipisnya di wadah, mulai memasukkan tes pek perlahan.

"Oke, kata kemasannya tunggu tiga menitan," Olla diam sejenak, "Kayak lagi masak mi."

Sambil menunggu alat tes kehamilan bekerja maksimal, Olla melakukan berbagai macam aktivitas. Mulai dari cuci tangan, cuci muka dan berakhir berjalan mondar-mandir kayak lagi nunggu hasil ujian.

"Udah tiga menit." Olla mengambil tes pek yang semula dia simpan di pinggir wastafel.

Olla mengambil nafas beberapa kali. Dia membuka tutup–mata sebelum menyambut hasil apapun dari kecerobohannya bersama si musuh salah sasaran itu.

"Apapun hasilnya gue—harus terima."

Olla menahan nafas ketika matanya sudah memakai kacamata. Kan gak lucu kalau dia harus memaju-mundurkan kepalanya saat melihat hasil garis merah itu karena matanya bolor.

"Oke, gue siap. Plis, La, apapun harus lo terima."

Olla menatap lekat-lekat bagian garis yang menampilkan informasi bahwa dirinya...

"Aw! Terima, La—gue—terima kasih, Tuhan!" teriaknya tanpa sengaja.

"La? Kamu kenapa?"

Olla menutup mulutnya, "Eu... Gak—gak papa, yah."

"Ayo cepet makan, nanti sayurnya keburu dingin."

Olla cepat-cepat membereskan bungkus tes pek dan keluar dari kamar mandi untuk makan bersama ayah. Dia dengan cepat menyiuk nasi banyak-banyak, membuat ayah berhenti mengunyah.

Begitu sendok pertama meluncur, Olla mempercepat makannya, ditambah gerakan geleng-geleng kepala karena merasa masakan ayah sangat enak hari ini.

"Pelan-pelan, La. Sayur dan nasinya masih banyak, gak akan ayah abisin."

Olla nyengir kuda. Dia menyiuk lagi nasi dengan sayurnya. Tadi boro-boro ngerasa lapar. Yang ada di pikirannya hanya satu : dia takut hamil anak si Aidan!

Ayah bangkit dari kursi, "Ayah berangkat sekarang ya, ada wawancara sama Kemenpora baru."

"Oke, hati-hati, yah."

Ayah meraih jaket dan kunci mobil sambil mencium hangat kening Olla, "Baik-baik ya, di rumah."

Olla menutup mata, merasakan sisa kehangatan keluarganya yang gak lagi utuh, "Pasti, yah."

Seperginya ayah, Olla bukan melanjutkan makan, tapi berlari ke kamar untuk mencari kartu nama seseorang yang wajib dia hubungin untuk memberi kabar, kalau dia gak hamil.

"Gue taro dimana ya, waktu itu?"

Dengan pandangan jijik, ketika matanya menangkap sesuatu yang dicari, Olla mengambil kartu nama milik Aidan yang diberikannya bulan lalu—di tempat sampah yang berkumpul dengan tisu bekas ingusnya.

"Kita gak akan nikah, Aidan. Enak aja lo mau nikahin gue. Pacar lo noh publis dulu." katanya sibuk memasukkan dua belas digit nomor ponsel Aidan ke ponselnya.

Tut-Tut-Tut

"Halo?" Suara diseberang mengawali.

"Gue gak hamil, gak ada pernikahan. Bye!"

Klik.

Olla mematikan sambungan telpon sebelum dia mendengar jawaban dari Aidan.

"Urusan sama si Aidan udah beres, ayo lanjut makan."

Sangking bahagianya, Olla menari saat keluar kamar. Rasa bahagianya tak terbendung karena tidak perlu berurusan lagi dengan manusia satu itu.

Sebenarnya Olla merasa tak punya masalah dengan Aidan, tentunya sebelum kejadian di depan gedung dewan itu. Kalau di rasa, sebenarnya dia : malu pada Aidan. Tapi berhubung Aidan selalu berhasil membuat amarahnya keluar di saat yang tidak tepat karena luka hati gak lagi punya keluarga utuh, laki-laki sedikit tua itu jadi terasa jahat di matanya.

Satu detik Olla duduk dan siap melanjutkan makan, ponselnya berbunyi nyaring memberikan banyak notifikasi. Disaat yang bersamaan ayah kembali.

"Ayah lupa gak bawa id card. Bisa di usir dari gedung kementerian kalo gak pake itu."

Olla mentertawakan kecerobohan ayah.

Sekeluarnya dari kamar, ayah mengangkat telpon. Matanya yang semula fokus pada jam tangan, mendadak melirik tajam ke arah Olla yang sedang asik makan kerupuk udang.

"Aku ngomong dulu sama Olla. Oke."

Olla melirik ayah yang berjalan pelan ke arahnya dengan wajah menahan marah.

"Olla, jujur sama ayah."

Olla meneguk air, "Soal apa, yah?" tanyanya super santai.

"Kamu sama Aidan—ke Bar bareng?"

Mendengar pertanyaan ayah, membuat Olla tak sengaja menjatuhkan sekeping kerupuk udang. Mulutnya melongo—lengkap dengan kedua mata yang melebar merah siap menangis.

"Jujur sama ayah apa yang kamu lakuin sama Aidan!"

Tak ada sepatah kata pun yang meluncur dari mulut Olla. Dari mana ayah tahu kalau dia dan Aidan ada di Bar?

Olla bangkit untuk menyamai posisinya dengan ayah. Dengan mulut bergetar, dia juga mulai nangis.

"Yah, aku... Gak sampe hamil kok."

Ayah melotot maksimal. Kedua bola matanya seperti akan keluar mendengar penuturan Olla yang malah jadi bola liar.

Olla keceplosan sangking takutnya. Dia gak tahu kalimat apa yang harus di sampaikan—dan malah berakhir membuatnya pusing sendiri.

"La, dua puluh tiga tahun ayah jaga kamu sejak dari kandungan. Ayah ngelakuin apapun untuk bisa melindungi kamu. Sekarang, ayah lengah sedikit karena masalah perceraian sama ibu, kamu malah gini?"

"Maafin aku, yah, heu heu heu."

"Mulai hari ini kamu gak perlu tinggal disini lagi!"

Kedua mata Olla melotot, lebih parah dari pelototan ayah beberapa menit lalu. Jantungnya seperti berhenti berdetak. Karena di usir ayah rasanya lebih menyakitkan daripada menunggu hasil tes pek tadi.

"Terserah kamu mau tinggal di mana, ayah gak peduli!" Ayah mengatur nafasnya, "Kamu beresin baju-baju dan—dan—buat KK sendiri. Ayah... gak bisa maafin kesalahan kamu."

Ollah jongkok, tangannya menggelantung pada lengan ayah untuk mohon ampun. Kalau dia di usir saja, dia bisa cari kost-kostan untuk sementara, tapi kalau disuruh bikin KK sendiri, alamak... Sedihnya.

"Ayah, aku mohon maafin aku heu heu heu."

Ayah memijat dahinya yang berkedut parah. Mendengar tangisan Olla yang selalu terdengar setiap malam karena perceraian dengan ibu, membuat ayah sedikit maklum. Mungkin Olla salah langkah karena salah mereka yang tak mengkomunikasikan perpisahan dengan baik. Bagaimana pun Olla masih tanggung jawab ayah.

"Oke, ayah maafin kamu. Tapi ada syaratnya."

Olla buru-buru bangun, takut ayah berubah pikiran, "Aku harus ngapain, yah, biar ayah maafin aku? Aku janji akan ngelakuin apapun."

Ayah membuang nafas pelan, "Kamu harus bertanggung jawab atas kesalahan kamu. Aidan harus menikahi kamu."

JEDER!

Mendengar syarat dari ayah membuat Olla tak berkutik.

"Ayah akan bicara sama Aidan, kamu siap-siap."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Naskah Mas Politikus    VI : Pertanggung Jawaban Aidan

    Olla manyun di pintu ruang tamu ketika ayah mengajaknya pergi ke rumah Aidan. "Kamu mau jalan sendiri atau ayah gusur?" "Ayaaaah," rajuk Olla, "Aku gak hamil, gak perlu nikah sama dia." Ayah membuang nafas, "Jadi kamu mau bikin KK sendiri?" "Ayaaaah! Iya-iya, aku ikut ke rumah dia." Olla berjalan pelan, "Maksud aku tuh, ayah 'kan kerja. Ada wawancara penting sama menteri 'kan?" "Ayah udah izin sama om Hans, gak ada masalah. Ayo." Olla berjalan amat pelan, bagai Kukang yang belum nyemil dedaunan. Ayah yang baru mau mengunci pintu, melirik arah gerbang dimana mobil sedan mengkilat yang di ikuti mobil Lexus masuk ke halaman rumah. Mereka turun dari mobil. Satu orang diantaranya membuat Olla meringis. "Om baru mau ke rumah kamu." Aidan tersenyum ketika salim pada ayah, "Maafkan saya dan Olla, om." "Kita ngobrol di dalem." Ibu yang entah bagaimana ceritanya bisa ikutan bareng mereka dan kebetulan baru bisa bertemu lagi dengan Olla—karena anak tunggalnya ngambek dan enggan

  • Istri Naskah Mas Politikus    V : Oow... Ketahuan!

    Satu bulan kemudian...Olla menutup pintu kamar mandi dengan amat sangat pelan. Kalau bisa suara sedikitpun gak boleh kedengeran sama ayah yang lagi sarapan sendiri di meja makan, seperti duda kebanyakan. Dengan hati-hati, Olla membuka box tes pek yang ia beli diam-diam semalam, berdalih ke luar rumah untuk membeli Kerak Telor agar ayah gak curiga. "Hasilnya pasti negatif. Gue gak merasakan apapun yang mencurigakan di perut gue sebulan ini. Bibit si—Aidan pasti gak akan jadi gitu aja. Orang dia kerjanya kobam, mana mungkin bibitnya unggul." Dalam satu tarikan nafas, Olla yang sudah menampung air pipisnya di wadah, mulai memasukkan tes pek perlahan. "Oke, kata kemasannya tunggu tiga menitan," Olla diam sejenak, "Kayak lagi masak mi." Sambil menunggu alat tes kehamilan bekerja maksimal, Olla melakukan berbagai macam aktivitas. Mulai dari cuci tangan, cuci muka dan berakhir berjalan mondar-mandir kayak lagi nunggu hasil ujian. "Udah tiga menit." Olla mengambil tes pek yang semul

  • Istri Naskah Mas Politikus    IV : One Night Stand?

    Satu hal yang pertama kali disadari Olla saat membuka mata, bukan langit-langit kamarnya yang penuh stiker bintang glow-in-the-dark murahan, tapi aroma kayu cendana dan peppermint. Wangi mahal. Wangi laki-laki mapan.Olla mengerjap. Pandangannya menangkap deretan jas rapi yang tergantung di walk-in closet transparan di sudut ruangan. Ini bukan kamarnya. Ini adalah kamar orang kaya yang harga rumahnya terasa murah saat di review agen properti di internet. Mata Olla mengerjap lagi. Tatapannya berubah waspada saat yakin sesuatu terjadi semalam. Ceklek. "Akhirnya bangun juga si jurnalis amatir ini." tutur Aidan berdiri di pintu. Mulut Olla masih terkunci karena sibuk mengumpulkan nyawa. Dia malah melirik sinis ke arah Aidan sambil mengeratkan selimut pada tubuhnya yang terasa dingin. Sedetik kemudian, dahinya mengerut kala melihat dirinya memakai baju yang berbeda dari kemarin sore di Bar. "Makasih ya servisnya malem. Boleh juga." Aidan pergi habis mengatakan kalimat ambigu itu. Ser

  • Istri Naskah Mas Politikus    III : #KaburAjaDulu

    "Mbak?" pria tua berseragam supir jongkok dibelakang tubuh Olla yang meringkuk. "Aduh, ketabrak kayaknya ini. Pak Aidan, gimana ini?" Mendengar nama itu, membuat tubuh Olla terbangun sekaligus. Dia bahkan sudah mempersiapkan ancang-ancang untuk kabur saat mendengar suara sepatu pantofel mendekat ke arahnya. Suasana berubah mencekam. "Udah bangun pelakunya?" suara bariton Aidan membuat supir mengerut bingung. "Mbaknya korban, pak, bukan pelaku. Saya pelakunya." pak supir menunjuk dirinya sendiri dengan wajah takut. Olla memberanikan diri menatap Aidan. Mulai dari sepatunya yang mengkilat, kakinya yang panjang terbalut celana bahan linen premium, kemeja putih yang lengannya dilipat sampai siku, sampai wajahnya yang datar namun siap menerkamnya kapan saja. Tanpa sadar Olla meneguk ludahnya yang tiba-tiba terasa sakit. Aidan membungkuk, "Apa kabar Febiolla? Sepertinya kabar kamu sedikit.... Berantakan. Bener begitu?" Olla merasa pertanyaan itu gak perlu di jawab. Dia hanya pe

  • Istri Naskah Mas Politikus    II : Pemecatan Olla

    Tiga jurnalis yang berasal dari Berita Pertama melongo melihat Olla dengan amat sangat berani menanyakan berita personal pada Aidan Halim. Padahal mereka sudah di briefing untuk tidak menanyakan hal itu, tapi Olla malah melanggar seenak udelnya. Jurnalis lain gak hanya diam. Mereka ikut menyecar Aidan untuk menjawab pertanyaan Olla. "Bagaimana tanggapan pak Aidan terhadap perceraian pak Dirman dan Bu Tarina?" "Apa benar pak Aidan selalu mengantar Bu Tarina melakukan mediasi ditengah kesibukan wakil komisi 6 yang padat?" "Sudah berapa lama hubungan pak Aidan dengan Tarina Jamasir terjalin?" Mata elang Aidan menatap sinis ke arah Olla. Ia menggerakkan kepala mengkode pengawal untuk menghentikan pertanyaan para jurnalis yang membuatnya naik pitam. Dengan langkah cepat, dibantu para pengawal, Aidan berhasil menghindari para jurnalis yang terus mengejarnya, bahkan sampai mobil sedan mengkilat miliknya berjalan menjauhi gedung departemen. Olla tersenyum puas. Ternyata membuat

  • Istri Naskah Mas Politikus    I : Menyerang Politikus

    Olla menyeduh kopi di pantry kantor surat kabar Berita Pertama, dimana ayah juga bekerja disini sebagai jurnalis veteran. Dia baru selesai sidang skripsi dan belum tahu mau kerja apa. Mencoba magang disini untuk mencari pengalaman. Ya sukur-sukur langsung diterima kerja 'kan?"La, ayah mana? Ada berita yang masih nyangkut nih, belum bisa di publis." rekan kerja ayah mengikuti Olla yang membawa gelas kopi ke ruangan. "Bentar, aku tanya ayah dulu, mungkin masih di jalan." Olla duduk di kursi milik ayah. Sambil menelpon, tangannya mengambil figura yang menunjukkan potret dirinya, ayah dan ibu yang saling berpelukan di pantai. Beberapa saat gak ada jawaban, Olla mencoba menelpon ulang. "Di angkat, La?" "Belum, tante, bentar ya."Rekan kerja ayah yang lain, menaruh box makan siang di meja, "Ayahmu gak bisa angkat telpon, La." Dahi Olla mengerut, "Loh, kenapa, om? Emang ayah lagi ngapain?"Teman ayah melirik semua orang yang ada di ruangan. "Ayah ada kerjaan meliput, ya? Tumbe

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status