Home / Romansa / Istri Naskah Mas Politikus / VII : Bukan Pernikahan Impian

Share

VII : Bukan Pernikahan Impian

Author: Rahmani Rima
last update Last Updated: 2026-01-28 14:18:25

Satu minggu kemudian...

Olla membuang nafas pelan ketika diminta buka mata oleh MUA yang baru saja merias wajahnya. Sedari pagi tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Diberi pertanyaan apapun dia hanya mengangguk dan menggeleng.

"Wah cantiknya calon istri pak Aidan," puji MUA yang di amini beberapa asisten, "Beruntung sekali mbak Olla menikah sama pak Aidan."

Tak ada sungging senyum atau pun ucapan terima kasih. Olla sibuk berpikir karena gak bisa kabur dari sini. Banyak bodyguard suruhan Aidan yang berjaga. Dia gak bisa melarikan diri dari status yang sebentar lagi akan mengungkung dirinya menjadi istri dari manusia keras kepala, bermulut pedas dan tukang ngatur seperti si Aidan.

"Mbak, boleh berdiri? Biar tim bisa membuat video after mbak Olla di make-up."

Olla berdiri malas, apalagi tubuhnya terbalut gaun mermaid yang membuatnya sulit bergerak. Matanya memutar mencari seseorang yang bisa menyelamatkan dari situasi ini. Dia melirik Lucy, sahabatnya yang tengah melipat tangan bersender pada dinding dekat pintu.

Olla memberikan kode-kode khusus. Dalam hitungan detik, Lucy yang tahu Olla membutuhkan bantuannya, menghampiri tim MUA yang tengah mengatur lighting dan kamera sebelum mengabadikan potret calon pengantin yang viral sebagai kekasih yang disembunyikan politikus tampan tiga tahun ini.

"Permisi, mbak, mas, saya salah satu aspri pak Aidan. Beliau titip pesan untuk gak mengganggu—" Lucy melirik Olla malas, "Calon istri kesayangannya."

"Tapi ini untuk dokumentasi, mbak." terang salah satu tim.

"Aduh, gimana ya, tapi saya takutnya nanti pak Aidan marah. Untuk dokumentasi nanti aja ditengah acara, ya. Mari mbak Olla ikut saya."

Olla dengan wajah datarnya sedikit tersenyum ketika Lucy membawanya keluar dari ruangan yang membuatnya tak bisa berhenti mendengar pujian untuk Aidan. Narasinya terbalik. Bukan dia yang beruntung bersuamikan manusia sedikit tua itu, tapi si Aidan yang bisa dapetin istri muda dan cantik seperti dirinya.

Berhasil membuat Olla masuk ke dalam ruangan lain yang sudah di sewa Aidan, Lucy kembali melipat tangannya. Ekspresi marah itu tak terelakan, "Kok gue gak percaya ya, lo sama pak Aidan pacaran tiga tahun ini?!"

Olla tak menjawab. Dia mau jawab apa? Orang dia sendiri juga marah dengan narasi pewarta gosip yang menyuguhkan video dirinya yang sering video call dengan Aidan ketika mereka LDR. Jelas-jelas itu AI. Si Aidan memang manusia terniat dalam hal membohongi publik.

"Jawab! Malah diem lo, kayak berhala."

Olla manyun, "Luc, jangan asal percaya sama berita di tivi deh. Lo kayak gak tau gue aja."

"Terus berita lo lagi di Bar berduaan sama pak Aidan apa? Itu gosip? Banyak yg bersaksi kok soal kalian."

Olla mati kutu. Semua bermula dari pertemuannya dengan Aidan di bar. Bukan. Tapi bermula dari dia yang nekat minum minuman haram itu. Resikonya sekarang dia harus bertanggungjawab pada perbuatan biadab mereka—yang sialnya Olla gak pernah ingat apapun soal malam itu kecuali dia di pangku Aidan ke kamarnya.

Dan setelah merenung panjang selama satu minggu, membaca banyak komentar netizen yang menyudutkan dirinya sebagai "perempuan nakal", membuatnya menyadari satu hal : gak akan ada laki-laki yang mau mendekatinya setelah mukanya terpampang jelas suka kobam, kalau bukan dengan si pelaku utama alias Aidan, mungkin Olla gak bisa menikah. Jejak digital itu serem, guys.

"La, gue emang masih gak ngerti gimana bisa lo jadi pacar yang di sembunyikan selama ini, tapi—selamat lo bisa nikah sama cowok bibit unggul kayak pak Aidan. Gue iri." Lucy manyun.

"Lo aja sana yang nikah sama si Aidan. Gue males sama dia."

Lucy diam sejenak, dahinya merengut serius, "Gue inget lo pernah bilang kalo nyokap lo temenan sama nyokap pak Aidan. Waktu kecil kalian sering ketemu. Gue juga inget kalo lo selalu sentimen tiap kalo gue atau yang lain puji pak Aidan di kelas. Ini antara lo cemburu atau—"

Ceklek.

"La, udah siap?" tanya Airan.

Olla memasang wajah mengiba, "Kak, aku gak mau nikah sama dia."

Airan menghampiri Olla. Di elus rambut yang sudah di tata sedemikian rupa itu, "Tenang aja, ada kakak. Kalo Aidan nyakitin kamu, kakak siap pasang badan."

Olla memeluk Airan. Dari kecil, lelaki ini memang sudah sering melindunginya, apalagi dari Aidan yang sudah iseng dari dulu.

"Aidan udah nunggu di meja ijab."

Olla melepas pelukkan, "Kakak duluan deh. Aku nanti sama Lucy."

Airan mengangguk. Dia juga tersenyum pada Lucy yang tengah memegangi dadanya penuh drama.

Lucy menggoncang lengan Olla saat matanya sibuk melepas kepergian Airan, "La, kayaknya dia suka deh sama gue. Soalnya kalo ngomong tuh suka liatin mata gue."

Olla menarik tangannya, "Elaaah, itu namanya menghargai. Kalo dia lagi ngomong sama lo malah liatin bakwan, artinya dia laper."

"Ih si Olla!"

"Udah, ayo, gue mau kawin tuh sama manusia setengah om-om idola lo."

Lucy dan ibu menuntun Olla dari depan pintu ballroom menuju meja ijab. Jaraknya cukup jauh. Olla menggerutu dalam hati. Ide siapa sih manten harus berjalan sejauh ini? Gak bisa apa kalau meja ijab tuh nongkrongnya dekat pintu? Mana dia pakai high heels lagi. Ribet.

"Pak Aidan ganteng banget." puji Lucy.

"Iya dong, menantu Tante." balas Ibu kesenangan sendiri.

Lucy gak bohong. Olla pun mengakui kalau Aidan memang ganteng—banget-banget. Aura mantennya keluar. Tapi karena Olla tahu betapa nyebelinnya manusia itu karena keukeuh mereka harus nikah padahal dia gak hamil, dia merasa kegantengan Aidan gak penting.

Semua jurnalis langsung menyoroti wajah Olla. Ketika berjalan pelan, banyak tamu yang berdecak kagum melihatnya. Dia yang gak pernah dandan karena memang gak bisa dan merasa gak perlu belajar, sekali dapat polesan makeup langsung membuatnya pangling.

Begitu Olla berdiri berhadapan dengan Aidan yang melongo melihat kecantikannya, Olla menaikkan bibir atasnya, "Apa lo!" desisnya pelan.

Aidan dengan romantis membuka-kan kursi untuk Olla.

Sebelum ijab di mulai, penghulu membaca serangkaian doa. Aidan dan Olla saling tatap, dan tak lama Aidan tersenyum.

Olla jadi merinding sebadan-badan. Apakah benar Aidan memaksa mereka harus menikah karena.... mencintainya?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Naskah Mas Politikus    XVI : Aidan Cemburu?

    Olla sudah diberi tindakan, berupa suntik antihistamin untuk mengobati bidurannya. Untungnya gak sampai harus opname, karena gak ada sesak nafas. Sebenarnya pun dia sudah dibolehkan pulang setelah infus habis, tapi Aidan keukeuh mau merawat inapkan istri naskahnya. Dan Olla kepaksa nurut karena badannya pun sedikit lemas karena efek alerginya. Dia gak punya daya upaya untuk melawan. Pikirannya sempet mikir, kenapa Aidan malah mau menahanya disini. Dia gak tahu sudah disiapkan naskah apa lagi. Bodo amat lah. "Infus vitaminnya sudah terpasang," kata suster sambil mengecek laju infus, "Ada yang bisa saya bantu lagi, mbak Olla, pak Aidan?""Ada yang bikin kamu gak nyaman dan pingin diganti, sayang?" Tanya Aidan.Olla menggeleng. Dia memang gak butuh apa-apa lagi, "Makasih banyak, sus.""Sama-sama, mbak Olla. Kalau begitu saya permisi."Selepas suster pergi, Aidan duduk ditepian ranjang menggenggam tangan Olla. Wajahnya serius banget, "Maafin aku ya, La?"'Aku?' Olla mengula

  • Istri Naskah Mas Politikus    XV : Mengelabui Aidan

    Sebelum AIdan menjawab pertanyaannya, Lucy baru terlihat batang hidungnya. Olla melirik Lucy memintanya sembunyi sebelum bertemu Aidan. Dari sebrang, Lucy mengangguk paham."Gue ke toilet dulu."Aidan bangkit, membuat Olla terpaksa harus mendorongnya kembali duduk, "Ngapain?""Anter kamu. Ada mbak Ria.""Gak usah keseringan cari muka. Kerja aja, jangan makan gaji buta. Gaji lo tuh duit gue itu, uang rakyat sipil."Olla buru-buru ke toilet untuk mengatur strategi bersama Lucy yang sudah menunggunya disana."Luc!""Jadi gimana?""Kita harus singkirin dulu mbak Ria.""Siapa tuh?""Aspri gue, yang tadi berdiri gak jauh dari meja gue.""Anjay, beneran jadi istri pejabat lo ya, jadi iri gue.""Jadi istri pejabat gak ada enaknya, percaya sama gue. Apa-apa harus di atur, apalagi depan media."Lucy diam. Matanya melirik sinis."Kenapa lo?""Jangan-jangan pernikahan lo juga di atur."Sekarang Olla yang diam."Lo benci sama dia, sampe nuduh pacar yang dia sembu

  • Istri Naskah Mas Politikus    XIV : Serius?

    Airan mengeluarkan ponsel dan menunjukkan chat dari Olla, "Kamu chat sharelock lokasi ini ke kakak, setengah jam lalu."Aidan merebut ponsel Airan. Dibacanya pelan-pelan isi pesan itu.Olla yang penasaran karena merasa dia gak mengirim pesan apapun pada kakak ipar palsunya, melongokan kepalanya ke layar. Dia pun menganga pada kecerobohannya sendiri. "Kamu ngapain minta kakak kesini, sayang?" Tanya AIdan sedikit ketus, "Kakak sibuk loh."Olla melirik Aidan dan Airan silih berganti. Dia gak mungkin bilang kalau dia sebenarnya ingin mengirim pesan pada Lucy, bisa berantakan rencananya untuk mengelabui Aidan soal asisten pribadi itu."Eum.. aku kayaknya gak fokus deh, kak. Aku tadi--niat laporan ke ayah. Iya, gitu." Jawabnya berusaha meyakinkan, padahal nada ragunya kentara banget."Bener kayak gitu?" Todong Aidan."Iya, mas. Aku 'kan apa-apa cerita ke ayah." Olla menatap Airan, "Maaf ya, kak.""Gak papa. Hari ini kakak lagi free kok sampe siang, jadi gak masalah."Aida

  • Istri Naskah Mas Politikus    XIII : Olla Bingung!

    Olla menggeliat ketika gorden kamarnya dibuka lebar-lebar. Oleh siapa lagi kalau bukan manusia satu itu. "Aidan!""Kamu bisa disiplin gak? Jam berapa ini?"Olla melirik nakas, tempat dimana jam digital bertengger, "Baru jam tujuh.""Baru kamu bilang? Sekarang kamu bangun, mandi dan siap-siap. Kamu ada jadwal maen tenis hari ini.""Lo aja sana." Olla memeluk bantal.Aidan yang terbiasa hidup serba teratur, merasa menghadapi Olla adalah peer besar. Sudah suka melawan, manajemen waktunya jelek pula. Dia menghampiri Olla nyaris menciumnya, "Bangun atau saya--""Heh!" Olla mendorong Aidan, "Jangan suka cari kesempatan ya sama gue! Kita emang pernah ngelakuin itu, tapi cukup sekali! Gak sudi gue di jamah sama cowok serakah kayak lo!""Serakah?"Olla turun dari ranjang dengan wajah super kesal, "Lo punya pacar, tapi pas mabok malah maen sama gue. Apa namanya kalo bukan serakah? Jangan biasain diri bebas ngelakuin apapun karena lo politikus deh, gak mempan di gue.""Udah

  • Istri Naskah Mas Politikus    XII : Nurut!

    Olla terus menarik ujung roknya ketika wawancara selesai. Aidan masih bicara dengan kepala jurnalis. Olla sibuk memikirkan apa yang harus dilakukan sebagai bentuk terima kasih karena Aidan sudah membelanya. Dia tahu benar, ucapan Aidan akan mempengaruhi bagaimnana netizen menilainya nanti."Yuk pulang, sayang." Aidan memeluk pinggang Olla.Tak banyak protes, Olla menurut. Saat sampai rumah, Aidan gak bicara apapun. Dia sibuk dengan lembaran berkas yang baru saja diserahkan Rendi."Mas, aku boleh ngobrol sebentar?" Tanya Olla. Dia mau istirahat tapi merasa perlu mengucapkan terima kasih pada suaminya sebelum lupa.Rendi yang duduk tak jauh dari Aidan bangkit untuk pergi ke belakang rumah, memberikan ruang supaya Olla bisa ngobrol dengan Aidan.Olla duduk disebelah Aidan, "Eum, mas, makasih." Katanya masih setengah berakting."Buat?""Aku tahu kok tadi kamu ngomong kayak gitu supaya netizen gak makin sibuk caci aku. Soal bar dan baju 'kan sebenernya semua atas kemauan a

  • Istri Naskah Mas Politikus    XI : Sisi Baik Aidan

    Olla berteriak kencang bersama Lucy di acara konser band favoritnya. Tubuhnya bergerak lincah, melompat kegirangan saat pikirannya terasa damai karena tidak perlu lagi mengikuti aturan suami naskahnya. "Habis ini jadi 'kan nemenin gue beli parfum?" tanya Lucy berteriak. "Jadi dong." Jawab Olla berteriak juga. "Pak Aidan gak papa emang?" "Eum... Gak papa lah." Lucy menarik tubuh Olla agar tidak lagi melompat, "Gue lupa tanya. Tadi lo kesini sama siapa?" "Supir." Olla gak bohong, dia memang datang sama supir keluarga mama. "Pak Aidan tahu lo kesini 'kan?" Selidik Lucy. "Tahu lah." "Syukur deh. Jangan cari masalah lo sama dia. Rakyat sipil kayak kita mending ikut aturan yang ada aja, cari aman.""Iya-iya, lo ngomong kayak gitu udah berapa kali coba?" Setengah kesal, Olla berusaha mengembalikan moodnya untuk menikmati sisa konser. Dia heran, kenapa Lucy malah berada dipihak Aidan. Sahabatnya jelas-jelas adalah dirinya.Belum lima menit berlalu, Olla

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status