LOGINOlla manyun di pintu ruang tamu ketika ayah mengajaknya pergi ke rumah Aidan.
"Kamu mau jalan sendiri atau ayah gusur?" "Ayaaaah," rajuk Olla, "Aku gak hamil, gak perlu nikah sama dia." Ayah membuang nafas, "Jadi kamu mau bikin KK sendiri?" "Ayaaaah! Iya-iya, aku ikut ke rumah dia." Olla berjalan pelan, "Maksud aku tuh, ayah 'kan kerja. Ada wawancara penting sama menteri 'kan?" "Ayah udah izin sama om Hans, gak ada masalah. Ayo." Olla berjalan amat pelan, bagai Kukang yang belum nyemil dedaunan. Ayah yang baru mau mengunci pintu, melirik arah gerbang dimana mobil sedan mengkilat yang di ikuti mobil Lexus masuk ke halaman rumah. Mereka turun dari mobil. Satu orang diantaranya membuat Olla meringis. "Om baru mau ke rumah kamu." Aidan tersenyum ketika salim pada ayah, "Maafkan saya dan Olla, om." "Kita ngobrol di dalem." Ibu yang entah bagaimana ceritanya bisa ikutan bareng mereka dan kebetulan baru bisa bertemu lagi dengan Olla—karena anak tunggalnya ngambek dan enggan di dekati, mengelus punggung Olla lembut, "Semuanya pasti baik-baik aja. Percaya sama ibu." Semua duduk di ruang tamu rumah Olla yang tak seberapa luas. Aidan duduk dengan mama dan Airan. Sedang Olla duduk diapit ayah dan ibu. "Maksud kedatangan saya kesini untuk membahas pertanggungjawaban atas perbuatan saya dan Olla satu bulan lalu di Bar, om." Aidan melirik Olla yang terlihat ingin minggat, karena kakinya terlihat bergerak tidak nyaman, "Sebenarnya saya sudah mengajak Olla menikah sejak pagi kejadian, tapi—Olla menolak." Merasa dirinya di pojokan, Olla menatap Aidan sinis, "Karena gue gak inget apa-apa! Gue tahu diri gue gimana, gak mungkin kita ngelakuin itu. Lo tuh pasti ngarang bebas aja 'kan?" "La, jaga bicara kamu." tegur ayah. Mama Aidan mengubah posisi duduk ke arah Olla, tatapan wajahnya hangat dan merasa bersalah, "La, maafin mas Aidan, ya?" Dahi Olla mengerut, "Mas?" Ibu mengelus lengan Olla, "Kamu lupa ya, waktu kecil 'kan kamu manggil Aidan sama Airan mas. Mereka 'kan dari Jawa." "Umur setua itu mah pantesnya di panggil om, Bu, bukan mas." ucapan Olla membuat mama dan Airan menahan tawa. Aidan menatap Olla penuh pengertian, "La, maafin aku, ya? Maaf kalo aku menyembunyikan hubungan kita tiga tahun ini. Aku baru aja gabung koalisi partai besar, dan kamu juga masih kuliah. Terlalu rentan untuk bilang sama orang-orang kalo kita pacaran. Apalagi kita selama ini juga LDR." Mendengar tutur lembut Aidan yang palsu membuat Olla ingin muntah. "Aku tahu alesan kamu bikin kegaduhan kemarin. Supaya aku cepet publikasiin hubungan kita 'kan?" Benar-benar gak terima disebut dia yang ngebet di nikahi Aidan, juga dia yang katanya kekasih yang disembunyikan itu, Olla menyerang Aidan yang duduk di hadapannya. Dia memukul dada bidang Aidan sambil berteriak. "Jangan ngaco! Awas lo, ya!" Ayah dan ibu menarik Olla, "La, La, udah, gak perlu kayak gini. Kamu kenapa sih?" Olla menunjuk Aidan, "Gue gak mau nikah sama lo! Menikahkan korban dan pelaku itu bukan hal yang baik. Lo politikus 'kan? Tau gak kalo itu melanggar HAM?" Airan yang sedari tadi hanya duduk memperhatikan, mengubah posisi duduknya lebih tegap, "Saya setuju. Pernikahan bukan solusi untuk masalah seperti ini. Biarin Olla sebagai korban memilih, untuk menikah atau nggak sama Aidan." Aidan melirik Airan, "Kak, gue sama Olla ngelakuin itu atas dasar kemauan dua belah pihak," Aidan berpaling melirik ayah dan ibu, "Om, Tante, saya punya bukti kalo saya dan Olla melakukan itu atas dasar mau sama mau. Sebentar saya tunjukkan." Melihat pergerakan Aidan yang akan merogoh ponsel dari saku celananya, membuat Olla yang semula duduk tak tenang—langsung berdiri bak atlet k****u yang akan merebut ponsel Aidan. Dia gak sudi ayah dan ibu melihat kegilaannya ketika bermain dengan Aidan. Seperti tahu apa yang akan dilakukan Olla, Aidan tidak jadi merogoh ponselnya. Dia malah menangkap kedua lengan Olla, "Jangan ngelakuin disini, sayang, malu." Melihat ekspresi semua orang terkejut karena Olla dinilai agresif dalam konotasi centil—padahal dia melakukan itu untuk menyerang Aidan, membuatnya diam seribu bahasa, takut pergerakan sedikitpun malah akan membuat dirinya kalah telak. Apalagi ayah menggeleng tak percaya dengan sikap Olla. "Kapan kamu akan menikahi Olla?" "Minggu depan, om." jawab Aidan dengan penuh keyakinan. "Oke, minggu depan. Nanti om langsung urus surat-suratnya ke KUA." Ayah menarik Olla untuk kembali duduk, "Terima kasih sudah mau bertanggung jawab, Aidan. Terlepas Olla hamil atau nggak. Om lega, anak om satu-satunya bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya. Seenggaknya nama baik keluarga kita masih terjaga. Apalagi ada video kalian lagi di Bar. Om gak bisa bayangin, gimana keluarga besar yang lain, juga—masyarakat akan menilai kalian." "Sudah kewajiban saya menikahi Olla, om." Melihat senyum merekah Aidan—juga ibu dan ayah yang merasa aman karena anak gadis tunggalnya di nikahi, membuat Olla pasrah. Sebenarnya dia heran, kenapa Aidan bersikukuh mau menikahinya, padahal lelaki lain justru malah kabur. Aidan memang agak lain. "...La, itu Aidan tanya kamu." Olla yang baru kembali dari kesadarannya, melirik ibu lalu menatap Aidan. "Wedding dream kamu kayak gimana, sayang? Nanti biar Aspri aku urus semuanya." "Terserah, yang mau nikah 'kan elo, bukan gue." jawab Olla super ketus. "Nanti Tante bantuin ya, Dan. Tante tahu banget wedding dream Olla kayak gimana." "Oke, Tante, makasih." Olla diam sejenak sebelum mulai bertanya. Dia sadar kalau secara komunikasi Aidan lebih unggul darinya, "Kalian semua percaya aku pacaran sama politikus ini?" Ibu mengganggam tangan Olla, "Ibu awalnya nggak percaya, karena kamu selalu sibuk ngintilin ayah ke kantor kalo lagi gak ada jadwal kuliah. Tapi setelah Aidan tunjukkin bukti kalo tiga tahun ini kalian pacaran diem-diem, ibu percaya." Olla melirik Aidan yang tersenyum puas. 'Apa yang Aidan tunjukkin sama ibu, ya? Kenyataannya 'kan tiga tahun ini gue adalah jomblo ngenes. Awas aja kalo si Aidan ngasih tunjuk yang macem-macem. Abis lo, Aidan.' Olla diam sejenak, 'Abis? Elo yang abis, Olla! Dia bakal jadi suami lo seminggu lagi.' Melihat semua orang sibuk berbincang mengenai acara yang akan digelar satu minggu lagi, Olla malah sibuk mengatur strategi untuk menggagalkan acara pernikahannya sendiri. Tapi gimana, ya, caranya melawan Aidan yang berkuasa, sedang Olla hanya rakyat sipil biasa?Olla manyun di pintu ruang tamu ketika ayah mengajaknya pergi ke rumah Aidan. "Kamu mau jalan sendiri atau ayah gusur?" "Ayaaaah," rajuk Olla, "Aku gak hamil, gak perlu nikah sama dia." Ayah membuang nafas, "Jadi kamu mau bikin KK sendiri?" "Ayaaaah! Iya-iya, aku ikut ke rumah dia." Olla berjalan pelan, "Maksud aku tuh, ayah 'kan kerja. Ada wawancara penting sama menteri 'kan?" "Ayah udah izin sama om Hans, gak ada masalah. Ayo." Olla berjalan amat pelan, bagai Kukang yang belum nyemil dedaunan. Ayah yang baru mau mengunci pintu, melirik arah gerbang dimana mobil sedan mengkilat yang di ikuti mobil Lexus masuk ke halaman rumah. Mereka turun dari mobil. Satu orang diantaranya membuat Olla meringis. "Om baru mau ke rumah kamu." Aidan tersenyum ketika salim pada ayah, "Maafkan saya dan Olla, om." "Kita ngobrol di dalem." Ibu yang entah bagaimana ceritanya bisa ikutan bareng mereka dan kebetulan baru bisa bertemu lagi dengan Olla—karena anak tunggalnya ngambek dan enggan
Satu bulan kemudian...Olla menutup pintu kamar mandi dengan amat sangat pelan. Kalau bisa suara sedikitpun gak boleh kedengeran sama ayah yang lagi sarapan sendiri di meja makan, seperti duda kebanyakan. Dengan hati-hati, Olla membuka box tes pek yang ia beli diam-diam semalam, berdalih ke luar rumah untuk membeli Kerak Telor agar ayah gak curiga. "Hasilnya pasti negatif. Gue gak merasakan apapun yang mencurigakan di perut gue sebulan ini. Bibit si—Aidan pasti gak akan jadi gitu aja. Orang dia kerjanya kobam, mana mungkin bibitnya unggul." Dalam satu tarikan nafas, Olla yang sudah menampung air pipisnya di wadah, mulai memasukkan tes pek perlahan. "Oke, kata kemasannya tunggu tiga menitan," Olla diam sejenak, "Kayak lagi masak mi." Sambil menunggu alat tes kehamilan bekerja maksimal, Olla melakukan berbagai macam aktivitas. Mulai dari cuci tangan, cuci muka dan berakhir berjalan mondar-mandir kayak lagi nunggu hasil ujian. "Udah tiga menit." Olla mengambil tes pek yang semul
Satu hal yang pertama kali disadari Olla saat membuka mata, bukan langit-langit kamarnya yang penuh stiker bintang glow-in-the-dark murahan, tapi aroma kayu cendana dan peppermint. Wangi mahal. Wangi laki-laki mapan.Olla mengerjap. Pandangannya menangkap deretan jas rapi yang tergantung di walk-in closet transparan di sudut ruangan. Ini bukan kamarnya. Ini adalah kamar orang kaya yang harga rumahnya terasa murah saat di review agen properti di internet. Mata Olla mengerjap lagi. Tatapannya berubah waspada saat yakin sesuatu terjadi semalam. Ceklek. "Akhirnya bangun juga si jurnalis amatir ini." tutur Aidan berdiri di pintu. Mulut Olla masih terkunci karena sibuk mengumpulkan nyawa. Dia malah melirik sinis ke arah Aidan sambil mengeratkan selimut pada tubuhnya yang terasa dingin. Sedetik kemudian, dahinya mengerut kala melihat dirinya memakai baju yang berbeda dari kemarin sore di Bar. "Makasih ya servisnya malem. Boleh juga." Aidan pergi habis mengatakan kalimat ambigu itu. Ser
"Mbak?" pria tua berseragam supir jongkok dibelakang tubuh Olla yang meringkuk. "Aduh, ketabrak kayaknya ini. Pak Aidan, gimana ini?" Mendengar nama itu, membuat tubuh Olla terbangun sekaligus. Dia bahkan sudah mempersiapkan ancang-ancang untuk kabur saat mendengar suara sepatu pantofel mendekat ke arahnya. Suasana berubah mencekam. "Udah bangun pelakunya?" suara bariton Aidan membuat supir mengerut bingung. "Mbaknya korban, pak, bukan pelaku. Saya pelakunya." pak supir menunjuk dirinya sendiri dengan wajah takut. Olla memberanikan diri menatap Aidan. Mulai dari sepatunya yang mengkilat, kakinya yang panjang terbalut celana bahan linen premium, kemeja putih yang lengannya dilipat sampai siku, sampai wajahnya yang datar namun siap menerkamnya kapan saja. Tanpa sadar Olla meneguk ludahnya yang tiba-tiba terasa sakit. Aidan membungkuk, "Apa kabar Febiolla? Sepertinya kabar kamu sedikit.... Berantakan. Bener begitu?" Olla merasa pertanyaan itu gak perlu di jawab. Dia hanya pe
Tiga jurnalis yang berasal dari Berita Pertama melongo melihat Olla dengan amat sangat berani menanyakan berita personal pada Aidan Halim. Padahal mereka sudah di briefing untuk tidak menanyakan hal itu, tapi Olla malah melanggar seenak udelnya. Jurnalis lain gak hanya diam. Mereka ikut menyecar Aidan untuk menjawab pertanyaan Olla. "Bagaimana tanggapan pak Aidan terhadap perceraian pak Dirman dan Bu Tarina?" "Apa benar pak Aidan selalu mengantar Bu Tarina melakukan mediasi ditengah kesibukan wakil komisi 6 yang padat?" "Sudah berapa lama hubungan pak Aidan dengan Tarina Jamasir terjalin?" Mata elang Aidan menatap sinis ke arah Olla. Ia menggerakkan kepala mengkode pengawal untuk menghentikan pertanyaan para jurnalis yang membuatnya naik pitam. Dengan langkah cepat, dibantu para pengawal, Aidan berhasil menghindari para jurnalis yang terus mengejarnya, bahkan sampai mobil sedan mengkilat miliknya berjalan menjauhi gedung departemen. Olla tersenyum puas. Ternyata membuat
Olla menyeduh kopi di pantry kantor surat kabar Berita Pertama, dimana ayah juga bekerja disini sebagai jurnalis veteran. Dia baru selesai sidang skripsi dan belum tahu mau kerja apa. Mencoba magang disini untuk mencari pengalaman. Ya sukur-sukur langsung diterima kerja 'kan?"La, ayah mana? Ada berita yang masih nyangkut nih, belum bisa di publis." rekan kerja ayah mengikuti Olla yang membawa gelas kopi ke ruangan. "Bentar, aku tanya ayah dulu, mungkin masih di jalan." Olla duduk di kursi milik ayah. Sambil menelpon, tangannya mengambil figura yang menunjukkan potret dirinya, ayah dan ibu yang saling berpelukan di pantai. Beberapa saat gak ada jawaban, Olla mencoba menelpon ulang. "Di angkat, La?" "Belum, tante, bentar ya."Rekan kerja ayah yang lain, menaruh box makan siang di meja, "Ayahmu gak bisa angkat telpon, La." Dahi Olla mengerut, "Loh, kenapa, om? Emang ayah lagi ngapain?"Teman ayah melirik semua orang yang ada di ruangan. "Ayah ada kerjaan meliput, ya? Tumbe







