مشاركة

I30. Panggilan Sang Raja

مؤلف: Cheezyweeze
last update تاريخ النشر: 2026-02-10 15:06:31

Benteng Valerion tidak tidur malam itu. Obor menyala di sepanjang dinding, bayangan para penjaga bergerak seperti hantu di lorong-lorong batu. Angin dingin membawa aroma hujan dan besi.

Di halaman dalam, suara langkah kaki berat menggema. Roderic Hale—Kapten Pengawal Benteng—diseret turun dari tangga utama. Tangannya diborgol rantai baja. Bajunya robek. Namun wajahnya… masih menyimpan kesombongan yang sama.

Cassren Vale berdiri di depan barisan prajurit, matanya dingin seperti bilah pedang.

“Ka
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Istri Palsu Sang Jenderal Perang   I134. Setelah Takhta (END)

    Musim telah berganti. Salju tipis yang dulu menutup halaman Istana Valerion kini telah mencair, digantikan oleh rerumputan muda yang perlahan tumbuh di antara batu-batu tua. Udara pagi terasa lebih hangat, meski sisa dingin masih sesekali menyusup bersama angin. Kerajaan itu masih berdiri. Namun tidak lagi sama. Rhevan berdiri di balkon tinggi yang menghadap ke halaman utama. Di bawah sana, para prajurit berlatih. Gerakan mereka rapi. Disiplin. Namun jika diperhatikan lebih dalam ada sesuatu yang berbeda. Mereka tidak lagi bertarung untuk kekuasaan. Mereka bertarung untuk bertahan. "Pasukan barat sudah kembali." Suara Elora terdengar dari belakang. Tenang seperti biasa. Rhevan tidak langsung menoleh. "Korban?" "Lebih sedikit dari yang kita perkirakan." Jeda. "Namun masih ada." Rhevan mengangguk pelan. Tidak ada kemenangan tanpa kehilangan. Ia sudah belajar itu. Dengan cara yang paling kejam. "Ada laporan lain?" tanyanya. Elora melangkah mendekat. Kini berdiri di sampingny

  • Istri Palsu Sang Jenderal Perang   I133. Takhta yang Memilih

    Aula utama Istana Valerion telah berubah. Pilar-pilar retak. Lantai marmer ternodai darah. Singgasana di ujung ruangan berdiri utuh namun sunyi. Tidak ada penjaga. Tidak ada bangsawan. Hanya lima orang. Kael. Elvaris. Rhevan. Aethran. Dan Elora. Angin dingin menyusup dari jendela yang pecah. Membawa bau logam. Dan akhir dari segalanya. Kael melangkah maju. Setiap langkahnya mantap. Tanpa ragu. Pedangnya terangkat. Namun bukan lagi sebagai pengawal. Melainkan sebagai seseorang yang akhirnya memilih. “Ini berakhir di sini.” Sunyi. Elvaris berdiri di hadapannya. Bayangan menyelimuti sebagian wajahnya. Namun matanya tetap sama. Dalam. Dingin. Tak tergoyahkan. “Seharusnya sejak awal,” jawabnya pelan. Ia melangkah maju. “Namun mereka memilih untuk memperpanjang penderitaan ini.” “Ti

  • Istri Palsu Sang Jenderal Perang   I132. Kael Adalah Penyeimbang

    Pedang mereka berhenti. Hanya beberapa inci dari leher masing-masing. Napas berat terdengar di lorong sempit yang dipenuhi bayangan. Darah menetes dari ujung bilah, jatuh satu per satu ke lantai batu yang dingin. Kael dan Elvaris saling menatap. Tidak ada yang mundur. Tidak ada yang menang. Dan untuk pertama kalinya tidak ada yang tahu harus melanjutkan ke mana. “Cukup.” Suara itu memotong. Tenang. Namun tidak bisa diabaikan. Elora. Ia melangkah maju dari ujung lorong. Langkahnya pelan. Namun setiap pijakannya terasa seperti menekan waktu itu sendiri. “Kalau kalian terus bertarung…” Tatapannya menyapu Kael, lalu Elvaris. “kalian hanya akan mengulang kesalahan yang sama.” Sunyi. Pedang masih terangkat. Namun tidak bergerak. Elora berhenti di antara mereka. Dan untuk pertama kalinya ia tidak berdiri sebagai istri dan bukan sebagai bangsawan. Melainkan satu-satunya orang yang mengetahui seluruh kebenaran. “Malam itu…” katanya pelan. Semua menahan napas. “tidak ada yang bena

  • Istri Palsu Sang Jenderal Perang   I131. Dua Takdir, Satu Takhta

    Lorong dalam istana dipenuhi bau besi dan darah. Api obor yang tersisa berkelip lemah, menciptakan bayangan panjang di dinding batu yang retak. Di kejauhan, suara pertempuran mulai mereda, digantikan oleh sunyi yang lebih menekan. Langkah kaki terdengar. Pelan. Teratur. Kael tidak perlu menoleh. Ia sudah tahu. “Akhirnya…” ucapnya pelan. Langkah itu berhenti beberapa meter di depannya. “Elvaris.” Sunyi. Lalu suara itu menjawab. “Nama yang indah untuk sesuatu yang seharusnya tidak ada.” Kael memutar tubuhnya perlahan. Dan di sanalah ia berdiri. Adrian—tidak, tapi Elvaris. Tanpa senyum kali ini. Tanpa permainan. Hanya tatapan dingin yang dalam, seperti jurang yang tidak memiliki dasar. “Kau datang untuk menyelesaikan ini?” tanya Kael. “Tidak,” jawab Elvaris tenang. Jeda. “Aku datang untuk mengambil kembali apa yang kau pakai tanpa pernah menjadi milikmu.” Udara terasa lebih berat. Kael menggenggam pedangnya lebih erat. “Kalau itu takhta—” “Bukan hanya takhta.” Poto

  • Istri Palsu Sang Jenderal Perang   I130. Kematian Lady Mirela

    Darah pertama menetes di lantai aula. Lalu yang kedua. Lalu tidak bisa dihitung lagi. Jeritan menggema di antara pilar yang retak. Api obor bergoyang liar, bayangannya menari seperti iblis yang menertawakan kekacauan. Istana Valerion akhirnya jatuh ke dalam perang. Kael bergerak tanpa ragu. Pedangnya menebas satu pengkhianat, lalu berputar, menahan serangan dari arah samping. Gerakannya cepat. Presisi. Tanpa emosi. Namun matanya tajam. Mengamati. Mencari pola. Dan ia menemukannya. “Ini bukan serangan acak…” gumamnya. “Formasi tiga arah!” teriak Elora dari sisi lain aula. Suaranya tegas. “Lindungi sisi barat—mereka memancing kita ke tengah!” Kael langsung bereaksi. “Rhevan!” “Aku di sini!” Rhevan melompat dari satu bentrokan ke bentrokan lain, darah menodai lengannya. Namun langkahnya tidak goyah. “Ambil sisi kiri. Jangan biarkan mereka memecah barisan!” “Dimengerti!”

  • Istri Palsu Sang Jenderal Perang   I129. Dendam Pewaris

    Debu masih berjatuhan. Asap memenuhi aula yang retak. Suara batu runtuh, jeritan, dan langkah kaki bercampur menjadi satu kekacauan yang memekakkan telinga. Namun di tengah semua itu waktu terasa melambat. Karena semua orang tahu… ada sesuatu yang lebih penting daripada runtuhnya istana. “E—” Suara itu lemah. Hampir tenggelam. Namun cukup untuk menarik perhatian. Kael menoleh. Rhevan ikut menoleh. Aethran membeku— Mirela. Tubuhnya gemetar. Darah mengalir dari pelipisnya. Namun matanya terkunci pada satu titik kosong. Seolah ia melihat seseorang yang tidak terlihat oleh yang lain. “El…” Napasnya tersendat. “Elvaris…” Sunyi. Nama itu jatuh. Pelan. Namun menghantam lebih keras dari ledakan apa pun. Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang berbicara. Seolah dunia berhenti. “Elvaris…” ulang Mirela, suaranya pecah. “Dia… anak itu…” “Elvaris…” Rh

  • Istri Palsu Sang Jenderal Perang   I121. Malam Para Pemburu

    Tubuh bangsawan itu bahkan belum sempat dipindahkan. Darah masih mengalir tipis dari sudut bibirnya, membasahi lantai marmer aula yang dingin. Semua orang berdiri dalam lingkaran ketegangantidak berani mendekat tidak berani menjauh seolah satu langkah saja… bisa menjadi yang terakhir. Lalu— “Eh…”

  • Istri Palsu Sang Jenderal Perang   I120. Permainan yang Sebenarnya

    “Aku tidak akan memberitahu kalian.” Kalimat itu jatuh. Dingin. Tanpa ragu. Dan dalam sekejap seluruh aula membeku. Aethran Valerion mengernyit tajam. Rahangnya mengeras, tangannya mengepal di sisi tubuhnya. “Apa maksudmu?” suaranya turun, penuh ancaman. Elora Avelyne tidak langsung menjawab. Ia

  • Istri Palsu Sang Jenderal Perang   I119. Antara Takhta dan Hati

    Aula Istana Valerion masih dipenuhi ketegangan yang belum mereda. Namun kali ini bukan karena pedang. Bukan karena darah. Melainkan karena satu kenyataan yang baru saja berdiri di tengah mereka. Elora Avelyne. Wanita itu berdiri tegak, tanpa sedikit pun menunjukkan keraguan. Pasukannya tetap siaga

  • Istri Palsu Sang Jenderal Perang   I116. Pemburu di Antara Mereka

    “Orang itu… masih ada di ruangan ini.” Kalimat Lady Mirela menggantung di udara seperti racun yang perlahan menyebar. Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang berbicara. Namun sesuatu telah berubah. Tatapan. Jarak. Napas. Semua orang kini saling mencurigai. Seorang bangsawan mundur

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status