共有

196.

作者: anfebizha
last update 公開日: 2026-07-31 23:30:11

"Angkat, brengsek! Angkat!" maki Dira berbisik, napasnya memburu.

Dia kembali menelepon. Sekali, dua kali, tiga kali, hingga panggilan kelima, semuanya berujung pada suara operator.

Dokter Julian sama sekali tidak berniat mengangkat telepon dari.

Apinya amarah Dira kian membakar. Dengan sisa keberanian yang picik, jemari-jemarinya kembali menari liar di atas laya, menyusun barisan kalimat panjang yang dipenuhi gertakan sekaligus rayuan finansial.

Dengan penawaran 100 juta untuk hasil itu.

Pesan
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (23)
goodnovel comment avatar
Dwi Utami
dosen kiler tp mesum ny gk ad obat wkwk......
goodnovel comment avatar
Dedi Mulyadi
semoga dokter julian ga mau di suap
goodnovel comment avatar
Ritha Herawaty
betul banget
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Istri Pengganti Mas Dosen   250.

    Dengan helaan napas pasrah seberat beban hidup mahasiswa abadi, Bumi akhirnya mengalah.Tapi, jangan kira Pak Dosen protektif ini bakal mengizinkan istrinya turun santai di halte depan kampus seperti biasa."Mas! Turun di gerbang depan aja! Nanti ada yang lihat!" pekik Maura panik saat mobil hitam Bumi justru meluncur mulus melewati halte dan terus melaju masuk ke dalam area kampus."Nggak ada halte-haltean hari ini," balas Bumi santai tanpa beban, memutar kemudi dengan satu tangan menuju area khusus."AKKHH!! BUMI KAMPRET!" umpat Maura heboh, tangannya sudah memegang gagang pintu mobil."Coba aja buka pintunya kalau mau Mas gendong dari parkiram sampai lantai tiga," sahut Bumi tenang, tatapannya lurus ke depan."Dasar Dosen gila!!" rengek Maura ketus.Tanpa memedulikan tatapan heran puluhan mahasiswa yang sedang nongkrong di koridor, mobil mewah itu dengan tidak tahu dirinya meluncur mantap dan terparkir mulus di Parkiran Khusus Dosen, tepat di sebelah mobil Dekan."Turun aja," kata

  • Istri Pengganti Mas Dosen   249.

    Dia memasang raut wajah nomor satu paling datar dan tenang se-alam semesta, enggan menunjukkan sedikit pun kerapuhan di depan wanita di hadapannya.Maura menoleh perlahan ke arah Papanya, menunggu bantahan. Namun, Sang Papa hanya menunduk diam seribu bahasa. Bungkamnya pria paruh baya itu seolah menjadi stempel pengesahan atas segala tuduhan yang mulanya cuma awang-awang.Di tengah situasi emosional yang siap meledak itu, Bumi berdiri."Sepertinya sudah cukup, Pa," pangkas Bumi dingin, suara baritonnya bergetar menahan amarah yang sangat pekat. "Tujuan kami ke sini untuk mencari fakta medis dan kejelasan, bukan untuk mendengarkan hinaan tidak berdasar pada istri saya."Bumi berbalik, menunduk menatap Maura, dia merengkuh bahu istrinya, membantu Maura berdiri."Ayo kita pulang, Sayang," bisik Bumi tepat di telinga Maura. "Nggak ada lagi yang perlu kita dengarkan di sini."Maura mengangguk kaku. Sambil digandeng protektif oleh suaminya, Maura keluar meninggalkan rumah besar yang kini te

  • Istri Pengganti Mas Dosen   248.

    Tak butuh waktu lama, Bumi kembali ke ruang tengah membawa piring. Dia menarik kursi kecil untuk duduk tepat di hadapan Maura, menyodorkan suapan pertama dengan sangat sabar."Ayo, makan dulu," bujuk Bumi.Maura menerima suapan demi suapan dalam diam. Kunyahannya lambat, namun rasa hangat dari makanan dan perhatian suaminya perlahan mengembalikan sisa-sisa tenaganya yang sempat terkuras.Di sela-sela suapan kelima, Bumi merapikan helai rambut Maura yang menutupi dahi, lalu bertanya dengan suara rendah yang amat menenangkan."Jadi... kamu pengennya gimana? Tanya Papa dulu?" tanya Bumi lembut.Maura berhenti mengunyah sejenak. Ia menatap tumpukan berkas tua di atas meja kaca, lalu cuma mengangkat kedua bahunya ragu. Pikiran dan perasaannya masih terlalu kalut untuk menyusun rencana."Tanya Papa dulu nggak apa-apa, mumpung hari Minggu. Nanti malam Mas antar," kata Bumi memberi usulan tanpa sedikit pun nada memaksa. "Mau?"Maura menoleh, menatap iris mata suaminya.Setelah terdiam beberap

  • Istri Pengganti Mas Dosen   247.

    Papanya tersenyum lepas, merangkul mesra seorang wanita muda berwajah manis dengan rambut bergelombang yang sama sekali tak pernah Maura lihat sebelumnya. Wanita itu jelas bukan Mamanya, apalagi Dira.Rasa dingin mendadak merayapi tengkuk Maura. Jarinya yang gemetar kembali merogoh ke dalam amplop, mengeluarkan sekumpulan lembaran kertas tua yang tepinya sudah agak rapuh.Itu adalah salinan dokumen medis dan rekam medis dari sebuah rumah sakit bersalin di luar kota, bertanggal puluhan tahun lalu.Mata Maura membelalak lebar saat menyapu baris demi baris tulisan di sana. Nama Papanya tercantum jelas sebagai penanggung jawab pasien atas nama wanita yang namanya sangat asing.Dewi Tri."Dewi, Tri." gumam Maura sendirian.Di lembar paling akhir, surat sebuah salinan surat keterangan kelahiran yang kolom nama ibunya telah dikosongkan secara sengaja, namun stempel resmi rumah sakit itu menyatakan status bayi yang dilahirkan. Anak Kandung.Jantung Maura berdegup kencang tak beraturan. Tangan

  • Istri Pengganti Mas Dosen   246.

    "Hamil kocak!" sentak Maura gemas, meski suaranya tetap terdengar agak parau."HA?! Isi pej**-nya pak Bumi?!""Congor Lo, kocak!" sentak Maura.Suasana ruangan itu seketika hening selama tiga detik. Risti beku di tempatnya. Matanya yang bulat membelalak makin lebar."Hah?! Serius lo?!" pekik Risti histeris, refleks berdiri dari kursi sampai kursinya terdorong ke belakang. "Demi apa?! Pak Dosen Killer itu, mau punya buntut?!""SSSHHH! Berisik banget sih. Pelan aja!" bisik Maura panik, menunjuk pintu kamar. "Ini klinik, bukan lapangan basket! Nanti suster masuk disangkanya lo kesambet!"Risti buru-buru menutupi mulutnya sendiri dengan kedua tangan. Dia kembali duduk dengan gerakan heboh, mendekatkan wajahnya ke arah Maura dengan binar mata yang meletup-letup."Bentar, bentar... Lo mau ngeprank apa seriusa?!" ulang Risti."Serius." balas Maura kesal."Yang bener?""Ya emang bener."Risti lalu menunjuk perut Maura dengan jari telunjuknya, ragu-ragu. Tampak aneh."Jadi, di dalam sini bener

  • Istri Pengganti Mas Dosen   245.

    Malam itu, sang calon Direktur sekaligus Dosen itu harus menerima kekalahan telak di tangannya sendiri. Hukum karma berlaku instan, pasal protektif yang dia gaungkan seharian kini berbalik mengunci pergerakannya tanpa celah.Bumi melihati punggung Maura yang tertutup selimut tebal. Suara kekehan kecil istrinya yang berusaha diredam di balik bantal masih terdengar jelas, makin menyulut gemas di dada Bumi.Pria itu mengacak rambutnya sekali lagi, lalu mendengus pasrah. Tanpa aba-aba, dia memajukan tubuhnya, menempel rapat ke punggung Maura dan melingkarkan kedua lengan tegapnya di pinggang sang istri."Awas ya, kalau udah lewat trimester pertama, Mas tagih bunga sama dendanya sekaligus," bisik Bumi tepat di telinga Maura, menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher istrinya yang beraroma sabun vanila.Maura mendadak merinding mendengar ancaman manis itu. Ia memutar tubuhnya perlahan di dalam dekapan Bumi, mendongak menatap wajah suaminya yang tampan."Karena aku murah hati, utang itu n

  • Istri Pengganti Mas Dosen   2. Pesan Penentuan

    Suara Maura menggema di lorong, membuat dua mahasiswa yang lewat refleks menoleh, lalu pura-pura tidak peduli sambil tetap mencuri pandang."Kenapa lo teriak kayak liat saldo minus?""Gue- gue harus balik. bokap gue pingsan," sahut Maura gagap.Tangannya gemetar saat menyambar tas kanvasnya dari ta

  • Istri Pengganti Mas Dosen   1. KULKAS DUA PINTU BERJALAN

    Matahari Surabaya pagi itu seolah sedang pamer kekuatan. Panasnya tak main-main, sanggup membuat aspal parkiran Fakultas Bahasa dan Sastra terasa seperti panggangan roti.Maura Adhisti turun dari motornya dengan gerakan dramatis, kacamata bulat bertengger di hidung, rambut dikuncir kuda asal-asalan

  • Istri Pengganti Mas Dosen   5. Harga Diri Yang Tergores

    Maura turun dengan bahu merosot, diikuti Bumi yang berjalan di belakangnya. Atmosfer di ruang tamu masih sama. Suram, menyesakkan, dan bau minyak kayu putih yang menyengat dari arah Papa.Begitu sampai di bawah, Papa langsung mendongak. Matanya yang merah menatap Bumi, seakan pria itu adalah satu-s

  • Istri Pengganti Mas Dosen   4. Teori dari mana itu?

    “Ng, nggak tahu, Nak,” jawabnya pelan, lalu menoleh ke arah Maura. “Coba kamu cari di kamar kakakmu, Ra.”Maura langsung menghela napas panjang, kepalanya mendongak ke plafon seolah berharap ada jawaban jatuh dari sana. “Capek, Ma,” jawabnya lemas. Suaranya penuh penderitaan versi anak bungsu yang

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status