Masuk"Kenapa nggak disuruh masuk?" Maura menyambut di ambang pintu rumah yang sengaja ia buka lebar-lebar."Orang asing kenapa disuruh masuk?" jawab Bumi lempeng, menyeret dua koper besar melintasi ambang pintu lalu mendorong daun pintu kayu itu hingga tertutup lagi.Dia kemudian menatap istrinya, matanya memicing curiga. "Jangan-jangan kamu suka masukin orang asing.""Ngaco!!" sahut Maura tak terima, melotot galak dengan bibir yang sudah merengut sepuluh senti.Bumi terkekeh pelan. Tangan besarnya terulur, mengacak gemas puncak kepala istrinya. "Kalau nggak kenal baik, jangan disuruh masuk rumah. Apalagi kalau nggak ada aku di rumah. Paham?!" tegas Bumi.Maura mengangguk-angguk patuh, meski fokusnya jelas masih tertambat pada drama di luar tadi. "Iya, iya, paham... Trus Ethan tadi gimana?" tanyanya antusias, langsung mengekor tepat di belakang langkah tegap suaminya yang membawa koper-koper ke ruang tengah.Bumi meletakkan koper di samping sofa, lalu mengayunkan langkahnya lurus ke dapur.
Ketika mereka turun, pengemudi di mobil asing itu juga turun. Ya, tinggi besar, dan putih orang luar."Siapa, Mas?" bisik Maura curiga, matanya memicing meneliti sosok pria asing berpostur jangkung yang melangkah mendekati gerbang rumah mereka. Tampaknya memang sedang menunggu."Belum tahu..." jawab Bumi datar.Pria itu menyambar dan menyeret satu koper besar. Istrinya membawa tas mereka, berusaha membantu sambil terus membuntut di belakang punggung tegap suaminya.Pria asing itu menghentikan persis di depan mereka. Raut wajahnya kaku, matanya berwarna terang."Benar ini rumah Dira?" tanya pria asing itu langsung, suaranya berat dengan aksen luar negeri yang terasa di telinga. "Maaf mengganggu."Tapi sepertinya dia sangat fasih bahasa Indonesia.Bumi dan Maura sama-sama bingung. Bumi memandangi pria itu dengan sorot mata menilai yang dingin."Bukan," jawab Bumi singkat.Pria itu mengernyit, melirik sekilas alamat di layar yang digenggamnya, lalu kembali menatap Bumi penuh selidik."Ma
"Sepi banget, nggak ada yang menyambut kepulangan Nyonya dan Tuan Arkatama," seloroh Maura sambil mengayunkan tangannya yang bebas, tangannya yang lain bertengger nyaman di lengan tegap Bumi.Bumi terkekeh pelan sambil mendorong troli bagasi menembus keramaian area kedatangan Bandara. "Ya gimana mau ada yang jemput? Kamu kan yang melarang Mas ngabarin papa. Katanya nggaknmau ngerepotin.""Iya juga sih. Lagian kan praktis, tinggal pesen grab aja, biar praktis," sahut Maura.Sambil menunggu mobil jemputan mereka datang, Maura melipir agak ke tempat sepi, mengangkat telfon dari Leon."Halo, Le-""Ra, jangan kaget ya?" suara Leon dari seberang."Apaan?""Itu- Risti kecelakaan."Ucapan itu sukses membuat Maura melotot kosong. Wajah cantiknya seketika pucat pasi. "HAH?! Jangan bercanda lo ya?!"Bumi yang berdiri agak jauh langsung memasang posisi siaga. Dia cuma menoleh dari tempatnya, tapi matanya sudah menyelidik siap terkam."Sumpah! Serius! Ini Gue lagi nungguin-""Seriusan lo!!" pekik
"Kan kalau kerjaan kampus nggak ada, jadi nggak sesibuk dulu."Bumi tersenyum tipis. Ia meraih tangan Maura, membawa jemari halus itu ke bibirnya dan mendaratkan satu kecupan hangat di sana. "Seneng lah. Duduk di sini sama kamu, ngeliat kamu ketawa dari pagi sampai malam... ini jauh lebih berharga dari gelar apa pun yang pernah Mas kejar.""Bisa aja mantan dosen ini kalau gombal. Tapi gelarmu udah di langit, jangan sombong." goda Maura dengan cengiran manis yang memerah di pipi. "Tapi janji ya, habis ini kita harus sering-sering jalan gini.""Asal kamu janji nggak marah-marah. Pusing aku kalau kamu cemberut, apalagi seharian." balas Bumi memancing tawa renyah dari bibir Maura di tengah keheningan malam kota yang kian larut menuju pukul dua belas malam.**Mereka pulang esok harinya. Dari setengah siang suasana kamar dipenuhi oleh kesibukan persiapan kepulangan. Agak buru-buru dan panik, karena bangun kesiangan.Bumi mengemas seluruh pakaian dan barang bawaan ke dalam koper-koper besar
"Tas kamu, Mas..!" seru Maura di ambang pintu kamar hotel."HMM.. Bekasmu ketinggalan sayang!"Bumi menyusul."CK!!"Matahari pagi merambat pelan, membiarkan kehangatan tipis menerobos sela-sela kabut tipis yang menyelimuti kawasan Pelataran Candi Borobudur. Di antara deretan batu-batu andesit berukir relief kuno yang berdiri megah menantang zaman, Bumi Arkatama dan Maura melangkah berdampingan.Udara pagi yang segar bertiup lembut, memainkan ujung dress hamil berwarna pastel milik Maura dan helai rambutnya yang dibiarkan terurai setengah.Bumi berjalan dengan tempo yang sangat terukur, satu tangannya menggenggam jemari Maura dengan erat, tangannya yang lain dengan sigap menopang punggung bawah sang istri setiap kali mereka harus melangkahi anak tangga yang agak tinggi.Pengalaman menjelajahi Borobudur dengan kondisi Maura yang sedang mengandung membawa dinamika tersendiri bagi pasangan ini. Bumi, dengan tabiat protektifnya yang eksentrik, bertindak bagaikan pengawal pribadi profesion
Bumi hanya menaikkan sebelah alisnya, merespons gertakan Maura dengan hening dan penuh percaya diri. Pria itu mengawasi setiap pergerakan istrinya dari atas dengan tatapan penuh intensitas.Jemari lentur Maura meluncur cekatan melonggarkan kancing dan resleting celana Bumi. Begitu bentukan yang menegang keras itu terbebas penuh dari balik kain minimnya, Maura menelan ludah sesaat sebelum mendongak, tersenyum licik dan sangat menantang."Inget, ini harga satu tas mewah!" bisik Maura tegas.Tanpa menunggu balasan suaminya, Maura mendekatkan wajahnya. Hembusan napas hangatnya menyapu permukaan yang sudah memanas itu, sebelum akhirnya ia melingkarkan bibirnya dan mulai mengulum di bagian ujung, pelan-pelan."Ahnh..."Satu helaan napas berat lolos dari bibir Bumi. Pria itu mendadak memejamkan mata, jemari tangannya yang semula bersedekap santai kini refleks mencengkeram sprei di samping tubuhnya. Ketahanan dan gengsi tinggi yang biasanya ia agungkan runtuh seketika oleh keahlian tak terdug
Suara Maura menggema di lorong, membuat dua mahasiswa yang lewat refleks menoleh, lalu pura-pura tidak peduli sambil tetap mencuri pandang."Kenapa lo teriak kayak liat saldo minus?""Gue- gue harus balik. bokap gue pingsan," sahut Maura gagap.Tangannya gemetar saat menyambar tas kanvasnya dari ta
Matahari Surabaya pagi itu seolah sedang pamer kekuatan. Panasnya tak main-main, sanggup membuat aspal parkiran Fakultas Bahasa dan Sastra terasa seperti panggangan roti.Maura Adhisti turun dari motornya dengan gerakan dramatis, kacamata bulat bertengger di hidung, rambut dikuncir kuda asal-asalan
Maura turun dengan bahu merosot, diikuti Bumi yang berjalan di belakangnya. Atmosfer di ruang tamu masih sama. Suram, menyesakkan, dan bau minyak kayu putih yang menyengat dari arah Papa.Begitu sampai di bawah, Papa langsung mendongak. Matanya yang merah menatap Bumi, seakan pria itu adalah satu-s
“Ng, nggak tahu, Nak,” jawabnya pelan, lalu menoleh ke arah Maura. “Coba kamu cari di kamar kakakmu, Ra.”Maura langsung menghela napas panjang, kepalanya mendongak ke plafon seolah berharap ada jawaban jatuh dari sana. “Capek, Ma,” jawabnya lemas. Suaranya penuh penderitaan versi anak bungsu yang







