Share

Istri Pengganti sang Duke Arogan
Istri Pengganti sang Duke Arogan
Author: Xia_Agatha

Cecilia Magrita

Author: Xia_Agatha
last update Last Updated: 2023-02-16 17:47:22

Prang!

“Cecilia!”

“Ma-maafkan saya, Nyonya,” ujarku sembari membungkuk pada seorang wanita paruh baya yang mengelola tempat ini.

Kepalaku sangat pusing, ini sudah kedua kalinya aku memecahkan piring tentu saja Nyonya akan marah. Dia memarahiku habis-habisan di depan karyawan lain.

“Aku akan memotong gajimu untuk bulan ini!”

“Ti-tidak Nyonya. Jangan!”

Jangan potong gajiku, gaji sebulan saja masih belum cukup untuk hidup disini dan jika dia memotongnya lagi aku akan benar-benar di usir dari rumah sewa. Ini juga pekerjaan yang kudapatkan setelah sekian lama, masa aku harus hidup di jalanan lagi?

“Kalau kau tidak mau, jangan lakukan kesalahan yang sama atau kau akan kupecat,” ujarnya yang kemudian pergi meninggalkan ku dengan kesal.

“Baik Nyonya.”

Untung saja dia memberiku kemurahan hati, aku harus lebih berhati-hati. Pelanggan hari ini lebih banyak dari biasanya karena ada pesta perayaan panen. Avalon memang terkenal karena pertanian mereka yang berkembang pesat dan selalu menghasilkan produk yang berkualitas.

Aku menepuk-nepuk pipiku sendiri dan beralih dari tempat cuci piring menjadi pengantar minuman. “Ayo. Fokuskan dirimu Cecilia!”

Brak!

Hari sial ini … aku baru berjalan beberapa langkah dan seseorang sudah menabrakku lagi dari belakang. Kali ini pasti akan langsung di pecat, nyonya yang melihatku dari kejauhan langsung berjalan ke arahku. Siapa sih orang yang berjalan tanpa mata itu!

“Hei, Tuan!”

“Apa?!” tanyanya dengan suara rendah.

Astaga aura mematikan apa ini. Dia memakai tudung jadi aku kesulitan melihat wajahnya. Ayo tahan Cecilia, dia orang yang menabrakmu. “K-kau harusnya meminta maaf!”

“Untuk apa?”

Mendengar suaranya membuatku semakin kesal. “Apa maksudmu? Aku akan kehilangan pekerjaan karenamu!”

“Cecilia!”

Ugh, kenapa wanita itu cepat sekali datangnya. Aku bahkan belum selesai memarahi pria di hadapanku ini.

“Kau benar-benar! Keluar dari sini sekarang. Kau di pecat!” seru Nyonya.

“Tapi Nyonya dia yang menabrak saya.”

“Aku menolak alasan." Tegasnya.

Sial, Pria tadi juga hanya diam saja melihatku di usir. Kalau seperti ini aku harus mencari pekerjaan dimana lagi. Selama ini aku hanya hidup seorang diri dengan berkelana dan mencari makan dimana saja. Aku bahkan tidak tahu siapa orang tua yang sudah membuangku itu.

Baru saja aku hidup nyaman dengan bekerja di bar tapi karena pria itu semuanya berantakan, aku menyusuri jalanan di ibukota dengan pikiran kemana lagi aku harus pergi. Apalagi rasa sakit kepalaku semakin kuat.

“Permisi, Nona?” panggil seseorang yang berdiri tepat di hadapanku hanya beberapa langkah saja kami bisa bertabrakan.

Siapa ini? Aku tidak mengenalnya tapi dia terlihat seperti seorang bangsawan. “Ya? Ada yang bisa kubantu?”

Dia terlihat seperti orang kaya mungkin aku bisa mendapat uang jika membantunya.

“Apa anda mau ikut bersama saya?”

“Hah?”

Mataku terbelalak mendengar tawarannya. Apa ini motif penculikan baru? Kudengar akhir-akhir ini banyak penculikan gadis untuk di jual.

“Seseorang yang saya kenal sepertinya bisa membantumu,” lanjut orang itu.

“Maaf, Nyonya. Tapi saya tidak tertarik.”

Haduh. Aku harus segera pergi sebelum wanita aneh ini terus mengangguku. Dia bahkan langsung mengajakku pergi begitu saja, apa dia pikir aku bodoh.

“Aku akan memberimu tempat tinggal yang nyaman," ujar seseorang yang langsung menghentikan langkahku.

Siapa lagi pria yang tiba-tiba muncul itu. Ini benar-benar hari yang sial, setelah di pecat aku harus berurusan dengan penculik. Apa hariku bisa lebih sial lagi? Aku menoleh ke belakang dan seorang pria paruh baya berdiri disana dengan pakaian mewahnya.

“Maaf Tuan, tapi-“

“Aku belum selesai berbicara.”

Aku juga belum selesai. Mentang mentang dia lebih tua jadi seenaknya memotong perkataan orang lain.

“Aku akan ubah kata-katanya. Apa kau mau menjadi putri angkatku?”

Pertanyaannya sukses membuatku terngaga. “Tuan, ugh ... begini ..." Aku memegangi kepalaku rasanya semakin pusing saja. "Saya bukan orang bodoh yang akan langsung ikut karena di beri sebuah permen.”

“Aku bisa membuktikan kalau aku bukan orang yang berbahaya. Mari berbicara di tempat yang lebih nyaman.”

“Tidak.”

“Kau harus ikut denganku.”

Dia mengeluarkan sebuah kantong dan memberikannya padaku. Astaga. Apa itu benar-benar uang? Dia membawa satu kantong emas penuh.

“Ambil itu,” ucapnya.

"Tuan, ini ....?" aku tidak tahu apa mereka melihat tanganku bergetar. Uang ini terlalu banyak, apa aku terima saja tawarannya. Lagipula aku sudah tidak punya tempat tinggal.

"Bagaimana?"

Kata orang tidak baik menolak rejeki. Tentu saja aku langsung setuju. Kami melanjutkan pembicaraan di tempat yang lebih tertutup seperti yang dikatakannya. Yaitu di dalam café terbesar di ibukota, lebih tepatnya tempan pribadi yang memang sudah di siapkan khusus. Level orang kaya benar-benar berbeda.

“Jadi, apa kita bisa melanjutkannya sekarang?” tanyanya yang kini sudah berhadapan-hadapan denganku.

“Tentu saja. Silahkan anda jelaskan detailnya, apa maksud anda mengadopsi saya?”

“Sebelumnya perkenalkan saya Marquis Magrita.”

“Saya Cecilia, setidaknya orang-orang memanggil saya begitu.”

Aku tidak ingat pasti siapa nama lengkapku, nama Cecilia kudapatkan dari tempat pertamaku bekerja.

“Baiklah. Cecilia, Sebenarnya kau terlihat begitu mirip dengan putriku yang meninggal setahun yang lalu.”

“Putri anda?”

“Benar, aku sangat menyayanginya dan ingin melihatnya lagi.”

Kalau putrinya sudah mati. Apa itu artinya dia memintaku untuk mengisi posisi putrinya itu hanya karena wajahku yang terlihat mirip? Sekarang dia mulai bercerita banyak tentang putrinya dan sesekali menangis.

“Jadi, apa kau bersedia menjadi putri angkatku?”

“Saya tidak setega itu membiarkan orang tua yang begitu menyayangi anaknya menangis. Saya akan pergi bersama anda.”

“Baguslah. Kita akan kembali setelah kau menghabiskan makananmu. Dan kau bisa memanggilku Ayah mulai sekarang,” ujarnya dengan mata yang masih sembab dan suara serak karena menangis.

"Iya, Ayah," jawabku.

Lagipula buat apa membuang kesempatan emas seperti ini? Dia bangsawan yang kaya, aku hanya perlu berpura-pura jadi anaknya saja dan hidup bergelimang harta.

Uang benar-benar yang terbaik.

Mereka membawaku keluar dari ibukota dan perjalanan ini membutuhkan waktu empat hari untuk mencapai wilayah Marquis.

*****

Wah … dari kejauhan saja rumah megahnya sudah terlihat kerlap-kerlip. Aku tidak pernah membayangkan akan hidup di tempat seperti ini sebelumnya.

Semua pelayan keluar untuk menyambut kami, benar-benar orang kaya. Aku harus menyembunyikan ekspresiku sebelum air liurku jatuh.

“Sekarang ini adalah rumahmu, Cecil.”

Aku tidak bisa melepaskan mataku dari kemagahan rumah Marquis ini.

“Pelayan antarkan anak ini ke kamar yang sudah di siapkan," perintah Marquis pada seorang pelayan.

“Baik, Tuan," jawab pelayan itu.

“Nah, Putriku, kau ikuti saja dia. Aku harus mengurus surat adopsimu.”

“Iya Ayah.”

“Sampai jumpa lagi, Putriku.”

Dia mengelus ujung kepalaku dengan lembut, seperti inikah rasanya memiliki seorang ayah?

Pelayan itu mengantarku ke sebuah ruangan yang sangat luas, mereka mengatakan bahwa ini adalah kamarku tapi ini terlihat lebih luas bahkan dua kali lipat rumah yang kusewa.

“Kami akan berjaga di luar, silahkan bunyikan loncengnya jika anda membutuhkan sesuatu.”

“Iya. Terima kasih.”

Akhirnya aku punya ruanganku sendiri, astaga kasurnya sangat empuk. Marquis juga memasang foto-foto putrinya di ruangan ini.

“Kami benar-benar mirip.”

Dari warna mata biru, rambut pirang, bahkan wajah. Tidak akan ada yang curiga jika aku mengatakan bahwa putri marquis kembali hidup. Itu pasti akan menjadi cerita yang menarik. Aku menjadi kaya hanya dalam semalam, jika saja orang tua asliku tahu sepertinya aku harus berterima kasih pada mereka telah mewariskan wajah ini padaku.

“Terima kasih sudah membuangku.”

****

Sudah setahun lamanya sejak aku tinggal bersama Marquis sebagai putri angkatnya, selama itu juga aku sudah menempuh Pendidikan bangsawan yang membuat kepalaku rasanya mau pecah. Banyak sekali hal yang perlu kupelajari.

“Bagus, Nona Cecilia. Jika terus seperti ini kita bisa lanjut ke pelajaran berikutnya.”

Hari ini aku mempelajari politik di kerajaan Avalon dan harus menghafalkan banyak nama bangsawan. Mungkin ada lebih dari serratus nama bangsawan di tumpukan kertas yang ada di hadapanku ini.

“Kau melakukannya dengan sangat baik Putriku, terima kasih atas bimbinganmu Countess Afrina.”

Hari ini Marquis memantau ujianku secara langsung, dari dulu dia memang sering datang setiap ujian untuk melihat perkembanganku. Dia selalu memberiku pujian setelah mendapat nilai yang bagus karena berhasil mempelajari semuanya dengan cepat.

“Kalau begitu sampai jumpa di kelas berikutnya, Nona Cecilia.”

“Iya, terima kasih atas bimbingan anda Countess.”

Wanita ini selalu terlihat elegan, bahkan saat memberikan courtesy, dia meninggalkanku bersama Marquis.

“Ayah?”

“Kerja bagus, Putriku. Apa kau ingin aku membelikan perhiasan baru?” tanya dengan senyum yang selalu membuatku senang.

"Tidak perlu Ayah, aku senang bisa membuat ayah bangga."

Entah sejak kapan aku merubah pikiranku dan mengutamakan Marquis daripada uang ataupun perhiasan. Mungkin karena kebaikan yang terus dia berikan. Aku merasa punya keluarga asli sekarang.

“Selamat pagi, Nona cecil,” sapa pengurus kandang kuda begitu melihatku masuk. “Apa anda akan pergi sendirian lagi? Saya tidak melihat kesatria penjaga anda.”

“Pagi, Andre. Iya, aku ingin berjalan-jalan ke bukit belakang bersama Lily.”

Dia adalah Kuda putih yang di berikan Marquis padaku saat aku menjadi anak angkatnya. “Hai, Lily. Bagaimana keadaanmu?”

“Nona, sepertinya dia sangat merindukan anda. Lily bahkan tidak mau di rawat siapapun selain anda,” jawab Andre sembari memberi makan kuda yang lainnya.

“Itu karena dia mengenali pemiliknya.” Aku mengeluarkan Lily dari kandang dan membawanya setelah memberinya sebuah apel, dia adalah kuda terbaik yang bisa aku tunggangi. “Ayo kita pergi Lily!”

“Hati-hati di jalan Nona!” seru Andre.

Kandang kuda itu terletak cukup dekat dengan hutan dan bukit belakang mansion Magrita. Aku bisa langsung melihat bukitnya begitu keluar dari hutan. Ada satu tempat yang sangat sering kudatangi ketika sendirian.

Tempat itu adalah taman dandelion yang sangat luas, letaknya ada jauh di atas bukit sehingga cukup tenang dan jarang ada orang yang datang kesana. Angin sepoi-sepoi langsung menyapaku begitu sampai. “Kau lihat Lily? Sangat indah bukan?”

Kami berhenti di tengahnya. Tiduran disini sangat nyaman apalagi cuacanya cukup bagus. Kadang semuanya masih terlihat seperti mimpi. “Langitnya sangat indah. Lily, apa kau percaya bahwa dulu orang tua kandungku membuangku? Tapi aku tidak sedih karena sekarang aku mempunyai Tuan Marquis, dia ayah yang baik.”

Sepertinya aku akan segera tertidur karena ini sangat nyaman.

…….

“Bagaimana perkembangan putriku, William?”

Seorang pria berkacamata memberikan berkas-berkas yang dibawanya pada Marquis. “Putri sudah mengalami banyak perkembangan. Beliau sudah bisa berjalan meskipun dengan bantuan tongkat.”

“Bagus, lanjutkan perawatannya. Aku akan mengurus Cecil. Dia akan berguna untukku."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Pengganti sang Duke Arogan   Pertunangan Yvone dan Tristan

    Berkas-berkas yang di temukan oleh Alfonso merupakan skandal besar yang belum di ketahui oleh publik. Di dalamnya berisi perjanjian dan berkas pertunangan antara Yvone Magrita dan Tristan Kinsey. "Wah, Marquis selalu punya cara membuatku terkejut." Revanov terkekeh sembari meletakkan berkas itu kembali ke meja dan malah menarik Cecilia semakin dekat ke dekapannya seolah memperjelas hak miliknya akan gadis itu pada pria di hadapan mereka. 'Sungguh kekanakan' pikir Cecilia, namun sekarang ada yang lebih penting daripada itu. Yvone, gadis itu di jual dan bertunangan dengan Tristan di atas hitam dan putih melalui perjanjian kuno. Sama seperti yang terjadi padanya dan Revanov. "Sekarang kita tahu, Duke Kinsey lah yang berada di belakang rahasia keamanan tempat judi di Magrita. Tidak mengherankan jika itu adalah mereka, sebagai administrator kerajaan akan lebih mudah baginya memanipulasi data dan sebagai keluarga maternal dari ratu terdahulu membuat mereka lebih sulit untuk di curigai

  • Istri Pengganti sang Duke Arogan   Surat dari Yvone

    Pagi itu datang sebuah surat yang berasal dari wilayah Magrita, bukan dari Andre ataupun Alfonso melainkan dari seseorang yang bahkan belum pernah bertemu dengannya secara langsung. "Yvone Magrita," ucapnya lirih membaca nama pengirim di bagian depan surat dan stempel kediaman Magrita. Gadis itu nampak ragu, di pandangnya surat itu untuk waktu yang lama sebelum memutuskan untuk membacanya. -Halo Kakak, kau pasti sudah tahu tentangku mengingat Ayah sudah ada bersamamu. Kak, ada banyak hal yang ingin aku katakan. Bisakah kita bertemu setelah persidangan? Aku sungguh ingin bertemu denganmu, tapi kau pasti sudah tahu bagaimana sikap ayah. Kakak, aku merindukanmu. Terima kasih sudah bertahan selama ini dan semoga kau terus bahagia. Aku sungguh berharap kau berkenan untuk menemuiku nantinya. Tertanda Yvone Magrita - Surat itu singkat tanpa pembukaan formal dan langsung tertuju pada poinnya, tapi entah bagaimana Cecilia bisa merasakan ketulusan dari kata-kata adiknya itu. Sebel

  • Istri Pengganti sang Duke Arogan   Malam Mencekam

    Malam itu badai salju terjadi di wilayah Arcelio, semua orang di perintahkan untuk berdiam di rumah masing-masing setelah menerima bantuan makanan dari kediaman sang Duke. Semua hidup damai meskipun dengan kesulitan yang terjadi karena diskriminasi yang di lakukan sang raja pada wilayah yang dingin itu.Duke saat itu yang tak lain adalah ayah Revanov sedang mengerjakan beberapa dokumen di ruang kerjanya bersama sang istri dan asisten mereka yang tak lain adalah Anderson."Malam itu semuanya begitu tenang, tidak ada keanehan apapun dan tidak akan ada yang menyangka hal tersebut akan terjadi. Melihat mereka bekerja keras membuatku memutuskan untuk keluar dan membawakan mereka camilan juga teh hangat," jelas Anderson. Tangannya mengepal menjadi satu memegang tongkat yang ada di hadapannya.Seperti yang di ceritakan, Anderson pergi sesaat untuk mengambil camilan di dapur dan saat dia kembali, pintu ruang kerja Duke sedikit terbuka dan suara teriakan terdengar di dalamnya bersamaan dengan

  • Istri Pengganti sang Duke Arogan   Panti asuhan

    Setelah perdebatan yang cukup panjang akhirnya Cecilia di izinkan untuk keluarga bersama dengan Frederik. Meskipun pria itu terlihat sedikit lesu karena tiba-tiba terseret padahal tugasnya masih banyak. "Maafkan aku Frederik, tapi aku harus keluar hari ini. Mereka bilang wisata pemandian air panasnya sudah siap." Ucapan Cecilia cukup membuatnya tersentak dan menatap gadis itu dengan bingung. Wisata air panas? Bukankah tadi mereka izin untuk pergi ke panti asuhan? Akankah ini baik-baik saja? Ada begitu banyak pertanyaan yang terlihat jelas di wajahnya hingga membuat Cecilia terkekeh. "Kita memang akan ke panti asuhan, kau tidak perlu terkejut begitu. Lagipula kita akan melewati tempat wisatanya juga. Melihat lihat sejenak tidak akan membuatmu terluka." "Maafkan saya Nyonya, saya bertindak tidak sopan." Dia menghela nafas lega, setidaknya saat ini dia selamat dari amukan tuannya. "Tak apa, kau yang tiba-tiba terseret olehku jadi aku akan menganggapnya tidak pernah terjadi."

  • Istri Pengganti sang Duke Arogan   Kebenaran 2

    "Katakan padaku Ayah, apa yang membuat kami berbeda? Kami lahir dari rahim yang sama, memiliki wajah yang sama. Kami sama-sama putrimu tapi kenapa hanya Yvone? kenapa hanya dia yang kau pedulikan?!" Tangannya mengepal di kedua sisi menahan diri untuk tidak menangis ataupun melakukan sesuatu yang akan dia sesali. Sedangkan Marquis terlihat tenang seolah tidak merasa bersalah sedikitpun. "Kau terlahir sehat, berbeda dengan saudarimu. Dia selalu sakit-sakitan sejak kecil. Lihatlah bahkan tanpa aku, kau bisa tumbuh dengan baik. Tapi bagaimana dengan adikmu, dia menderita," Marquis terus berceloteh tentang betapa kasihannya Yvone dan melupakan bahwa Cecilia mungkin mengalami hal yang sama. Tidak, mungkin sejak awal memang Cecilia tidak perna ada dalam hidup orang di hadapannya ini. "Cukup Ayah, kau sudah memberiku alasan yang jelas. Tapi kenapa kau juga harus membunuh ibu?" Cecilia menurunkan suaranya, dia terlihat lebih tenang setelah menerima kenyataan bahwa dirinya sejak awal

  • Istri Pengganti sang Duke Arogan   Kebenaran

    Revanov dengan singkat menjelaskan bahwa akan diadakan sidang pengadilan dalam waktu dekat setelah semua bukti di berikan. Mereka juga memutuskan memberi wewenang pada keluarga Duke untuk mengurung para tersangka. "Apa akhirnya semua ini akan berakhir, bagaimana dengan keadilan untukmu?" tanya Cecilia. Kekhawatiran terlihat jelas di wajahnya. "Keadilan untukku? Kenapa kau bertanya begitu? Yang menjadi korban disini adalah kau Cecil. Kau sudah mengalami banyak hal sampai detik ini," suara Revanov terdengar melembut. Dia menggenggam erat tangan istrinya seolah meyakinkan semua baik-baik saja. Bahwa dirinya sudah tidak lagi terluka karena masalalu. "Jangan bercanda. Orang itu sudah melakukan hal keji pada keluargamu. Aku tidak akan tinggal diam dan membiarkan namamu menjadi semakin buruk. Dia bahkan tidak pantas mati dengan mudah." "Cacil, aku sungguh baik-baik saja. Lagipula tidak ada bukti untuk itu. Menyiksanya sudah cukup membuatku puas dan kau benar, kematian terlalu mudah un

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status