เข้าสู่ระบบAdrian Hayes tidak pernah mengubah cara pendekatannya. Saat Alex mulai berubah dan Frans belajar lebih berhati-hati, Adrian tetap hadir tanpa memaksa. Ia mengirim artikel hukum yang mungkin berguna bagi Valeria, memberi informasi seminar melalui Carissa, dan tidak pernah menjadikan hal itu sebagai alasan untuk mendekati Valeria. Bukan karena lebih intens, tetapi karena sikapnya selalu konsisten.Rabu siang, Alex, Frans, dan Adrian berada di gedung yang sama tanpa merencanakannya. Alex datang untuk bertemu firma hukum di lantai tujuh, Frans menemui klien di lantai sebelas, sementara Adrian menghadiri seminar hukum di aula gedung. Mereka bertiga masuk ke lift hampir bersamaan dari arah berbeda. Setelah pintu tertutup, suasana menjadi hening selama beberapa detik. Alex akhirnya menjadi orang pertama yang berbicara."Adrian," katanya dengan nada yang profesional da
Peter tidak langsung membalas pesan Frans malam itu. Ia membaca pesan tersebut, membuat kopi, lalu duduk di depan laptop yang masih menampilkan pekerjaannya. Peter tahu ada percakapan yang perlu dilakukan dan tidak cukup dibahas lewat pesan singkat.Akhirnya, Peter mengambil ponselnya dan menelepon Frans.Frans mengangkat di dering pertama. "Peter.""Kamu ada di mana sekarang?" tanya Peter langsung."Kantor. Mau pulang," jawab Frans.“Jangan pulang dulu. Kopi Raga di Arjuna Selatan, kamu tahu?” tanya Peter dengan nada serius.“Tahu,” jawab Frans singkat."Kita ketemu disana," kata Peter. Lalu ia menutup telepon
Frans tidak berencana datang ke Westbridge University. Ia hanya melewati kawasan kampus karena klien firmanya memiliki kantor di gedung sebelah dan pertemuannya selesai lebih cepat. Saat berjalan menuju parkiran sambil melihat ponsel, ia melihat Valeria berdiri di halaman samping fakultas hukum bersama Alex. Frans berhenti beberapa detik. Ia tidak bisa mendengar percakapan mereka, tetapi melihat Valeria mendengarkan dengan tenang dan Alex berbicara tanpa terlihat tegang. Tidak ada ketegangan di antara mereka, dan hal itu membuat Frans merasa tidak nyaman.Frans akhirnya berjalan lebih cepat menuju parkiran. Ia duduk di dalam mobil hampir sepuluh menit tanpa menyalakan mesin. Pikirannya masih tertuju pada apa yang baru saja dilihatnya ketika ponselnya bergetar. Pesan dari Rodrigo.“Pak Frans, Pak Alex minta aku sampaikan bahwa pertemuan dengan Valeria tadi
Valeria tidak langsung menyadari perubahan itu. Perubahan biasanya terlihat dari hal-hal kecil yang baru terasa setelah membentuk sebuah pola. Pola itu mulai terlihat sekitar tiga minggu setelah Alex datang ke apartemennya tanpa pemberitahuan dan Valeria memintanya untuk tidak mengulanginya. Sejak malam itu, Alex tidak pernah menghubunginya secara langsung. Bukan karena marah, tetapi karena ia benar-benar mendengarkan dan memilih menghormati batas yang Valeria buat.Sebaliknya, beberapa hal kecil mulai terjadi tanpa Valeria duga. Tiga hari setelah malam itu, Ethan menghubunginya di sela jam mengajar."Ada dokumen yang dikirimkan ke kantorku pagi ini," kata Ethan dengan nada yang sedikit berbeda dari biasanya. "Dari Alex. Tentang kasus yang masih berkaitan dengan namamu dalam beberapa dokumen warisan.""Isinya tentan
Langkah kaki Alex menjauh dari pintu apartemen Valeria terasa berat, seolah setiap lantai yang ia turuni menariknya kembali ke atas. Ia tahu ia salah. Kedatangannya malam ini terlalu tiba-tiba, terlalu penuh perasaan yang meluap tanpa kendali, dan jelas membuat Valeria merasa tertekan. Sesuatu yang sama sekali tidak ingin ia lakukan. Di lobi, ia berhenti sejenak, menatap lantai marmer yang dingin, lalu menepuk pelan dahinya sendiri. Ia seharusnya lebih sabar. Ia seharusnya memberi ruang, bukan mendesak dengan cara yang justru memisahkan mereka.Alex berbalik perlahan. Kakinya melangkah kembali menuju lantai tempat apartemen Valeria berada, kali ini jauh lebih tenang, lebih terukur. Ia tidak datang untuk meminta jawaban atau menuntut kepastian. Ia hanya ingin menyampaikan satu hal saja; permintaan maaf yang tulus, tanpa syarat, tanpa pamrih. Sesampainya di depan pintu itu lagi, ia tidak langsung mengetuk. I
Valeria membuka pintu. Alex berdiri di sana dengan kemeja yang sedikit kusut, rambut berantakan, dan wajah yang terlihat lelah. Ia datang bukan karena sudah memikirkan semuanya dengan tenang, tetapi karena sudah tidak bisa menahan diri untuk datang."Alex," kata Valeria dengan nada yang lebih tenang dari yang mungkin Alex harapkan. "Ini sudah larut malam.""Aku tahu," jawab Alex. "Maaf. Tapi ada yang perlu aku katakan dan aku tidak bisa menunggu sampai besok."Valeria melirik Natalia yang masih duduk di sofa. Natalia terlihat ragu apakah harus pergi atau tetap tinggal. Valeria kemudian membuka pintu lebih lebar."Masuk," katanya singkat.Alex masuk dan melihat Natalia. Ia mengangguk sekali ke arah perempuan itu se
Valeria tidak langsung menjawab."Ia diam sejenak, bukan karena ragu. Ia hanya memperhatikan suara Alex yang sudah dikenalnya selama dua tahun. Napas berat dan nada angkuh itu terdengar berbeda kali ini, seolah keangkuhannya mulai pudar." "Valeria?""Aku dengar kamu, Alex." Suaranya datar, bukan d
Pintu tertutup di belakang Valeria. Langkahnya tetap tenang saat menuruni teras rumah keluarga Pradiptama, tidak terburu-buru, tidak ragu, seolah yang baru saja terjadi hanyalah percakapan biasa, padahal ia baru saja mengakhiri pernikahannya. Udara malam terasa dingin, namun anehnya ia tidak lagi m
“Mama? Ada apa mama tiba-tiba telepon?” gumam Valeria.Tangannya sempat bergetar sebelum akhirnya menekan tombol hijau di layar ponselnya. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan suaranya. “Halo, Ma…” ucapnya, berusaha terdengar biasa.“Val, kamu di mana sekarang?” suara lembut Helena L
“Pasti Alex senang dengan kejutan aku. Hari ini ulang tahunnya dan aku ingin membuatkan acara spesial untuknya.” ujar Valeria sambil tersenyum.Kotak kue itu terasa lebih berat dari seharusnya. Valeria Laurent menatapnya sekilas sebelum kembali melangkah masuk ke dalam gedung megah milik keluarga P







