LOGIN“T-Tuan... tolong lepaskan saya. Saya janji bakal ganti rugi pakai apa pun yang Tuan minta, saya bersumpah, tapi tolong biarkan saya pergi!” pinta Kiara dengan suara bergetar hebat. Air mata kembali menumpuk di pelupuk mata bulatnya.
Arvino terkekeh dingin. Sorot mata cokelat gelapnya menatap Kiara dengan tatapan menyindir yang tajam. “Ganti rugi?” desis Arvino rendah, mengikis jarak hingga napas hangatnya menerpa ceruk leher Kiara. “Kamu ganti rugi pakai apa? Uang? Aku sudah punya banyak.” Kiara membisu, bibir bawahnya bergetar pasrah. “Tuan–” “Ikut saja apa yang aku katakan! Jangan banyak membantah! Kamu cukup jadi istri pura-puraku untuk beberapa waktu.” Kiara makin pening. Gadis itu merasa takdir baik tidak berpihak padanya. Bagaimana mungkin niatnya kabur dari klub malam justru membuatnya terperangkap jadi istri pria yang bahkan namanya saja tidak dia tahu. “Tapi kita nggak saling kenal,” beo Kiara lirih. Dia tidak tau harus pakai cara apa supaya bisa kabur dari sini. “Aku tidak peduli,” sahut Arvino angkuh. “Tuan…” “Bersihkan dirimu!” titah Arvino mutlak, tanpa mau mendengarkan bantahan lagi. Ia melempar selembar kemeja putih polos milik pribadinya ke pangkuan Kiara. “Dan ganti bajumu yang sempit itu!” Kiara menelan ludah. Meski ketakutan setengah mati, ia tahu tidak punya pilihan selain patuh. Setidaknya, sekarang dia harus menurut sambil mencari cara untuk menjauh darinya. Dengan tangan gemetaran, gadis itu memeluk kemeja besar milik Arvino di dadanya, Kiara memutar badan dan bergegas melangkah menuju kamar mandi. Namun, karena masih agak pusing dan terburu-buru, Kiara sampai tidak menyadari jika dia sedang menginjak lantai yang basah efek tetesan air dari tubuh Arvino tadi. Dan— Srettt! “Akh!” Kaki Kiara tergelincir. Tubuhnya kehilangan keseimbangan dan terdorong ke depan. Kiara memejamkan mata rapat-rapat, bersiap menyambut rasa sakit akibat dihantam lantai keras. BUGH! Bukannya lantai dingin yang ia rasakan, tubuh mungil Kiara justru menabrak punggung kokoh Arvino yang sedang membelakanginya. Dan apa yang lebih parah dari kejadian barusan? Karena gaun putih berpotongan rendah itu melorot, dua aset milik Kiara yang luar biasa padat dan kenyal menekan sangat erat tepat di tengah-tengah punggung berotot Arvino. Kiara membeku. Tubuh mungilnya masih telungkup di atas punggung Arvino. Kedua tangannya bertumpu di bahu pria itu, sementara wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari tengkuknya. Untuk beberapa detik, otak Kiara seolah berhenti bekerja. Keheningan mendadak terasa begitu mematikan. Perempuan 20 tahunan itu menelan ludah dengan gugup. Perlahan, ia mengangkat kepala dan menatap sekeliling. ‘Ya ampun!’ Gadis itu benar-benar jatuh tepat di atas tubuh Arvino. “T-Tuan…” panggil Kiara pelan dengan suara gemetar. Arvino tidak bergerak. Bahunya tampak sedikit menegang, sementara ekspresi wajahnya tidak bisa dipastikan karena posisinya yang membelakangi Kiara. “Tu—” “Minggir!” perintahnya singkat dengan suara rendah. Kiara langsung mengangguk cepat meskipun Arvino tidak bisa melihatnya. “I-iya!” Dengan terburu-buru, Kiara mencoba mendorong tubuhnya untuk bangkit. Namun karena terlalu panik, gerakannya justru menjadi kacau. “Ah?!” Tubuhnya bergeser terlalu cepat dan tanpa sengaja menyenggol bagian sensitif Arvino. “Ugh!” Arvino mendadak diam. Rahangnya mengeras. Jari-jarinya mengepal di sisi tubuh, sementara napasnya tertahan selama beberapa detik. Kiara yang menyadari kesalahannya langsung membeku. Wajahnya berubah merah padam. “Ya ampun…” Suara Kiara nyaris tidak terdengar. Arvino memejamkan mata sesaat, menarik napas panjang, lalu membuangnya perlahan. “Cepat menyingkir!” titahnya akhirnya dengan nada sangat tenang tapi terdengar mematikan. Kiara langsung menutup mulut dengan kedua tangannya. Matanya membulat penuh kepanikan. “Maafkan saya.” Arvino kemudian berdiri tegak dan merapikan handuknya yang nyaris melorot dengan gerakan tenang tapi terasa sangat mengintimidasi. Dan Kiara, gadis itu masih berdiri di depannya dengan gugup. ‘Duh, mati aku!’ Arvino memutar badannya perlahan. Rahangnya mengetat keras. “Kamu—” Ia menunjuk ke arah Kiara. “Tsk, jalan yang benar saja tidak bisa!” gertak Arvino kasar. Suaranya terdengar sedikit serak—entah karena apa. “Maaf…” desis Kiara lagi. Kepalanya merunduk semakin dalam. Arvino mengibaskan tangannya dan kembali berkata, “Masuk ke kamar mandi sekarang! Sebelum aku hilang kesabaran!” “I-iya, Tuan!” Kiara langsung melesat masuk ke dalam kamar mandi dan membanting pintunya rapat-rapat. Brak! Arvino menghembuskan napas panjang. Ia masih bisa merasakan sisa ketegangan akibat kejadian barusan, tetapi buru-buru menepisnya. Pria itu memilih berjalan menuju lemari pakaian, berusaha menganggap insiden kecil itu tidak pernah terjadi. *** Sementara itu di dalam kamar mandi, Kiara tampak membasahi wajah dengan air dingin untuk menenangkan dirinya. Namun, ketenangan itu hanya bertahan beberapa detik ketika tangannya mencoba meraih ritsleting gaun pengantin yang membungkus tubuhnya. “Duh, mati aku!” Resleting di bagian punggungnya ternyata tersangkut tepat di pertengahan korset. “Tsk, gimana ini? Arrgh! Kenapa pakai nyangkut segala, sih?!” desis Kiara panik. Dia sudah mencoba menariknya perlahan, tetapi resleting itu sama sekali tidak bergerak. Gaun yang ukurannya pas membuatnya semakin kesulitan untuk melepaskannya seorang diri. “Astaga... aku benar-benar sial.”Mobil Rolls-Royce Phantom bernuansa hitam legam itu meluncur mulus membelah jalanan ibu kota. Di dalam kabin belakang yang kedap suara, suasana begitu hening hingga suara helaan napas Kiara terdengar jelas. Kiara duduk sangat menyudut di dekat pintu kanan, berusaha memberi jarak sejauh mungkin dari sosok Arvino yang duduk tegap di sampingnya. Jemari mulus Kiara meremas ujung kemeja yang tadi Arvino berikan. Mata bulatnya berkedip pelan, menatap takjub pada interior mobil yang sedang ditumpanginya. ‘Waah, mobilnya bagus banget. Atap mobilnya bisa dibuka gitu lagi,’ batin Kiara kagum luar biasa. ‘Jok juga, empuk banget.’ Ia menggoyangkan bokongnya tanpa sadar. ‘Bahkan mobilnya wangi banget kayak toko parfum. Pria di sebelahku ini benar-benar orang kaya.’ Kiara terus bergumam dan mengagumi setiap sudut mobil dalam hatinya dengan wajah polos yang tak bisa menyembunyikan rasa takjubnya. Arvino yang sejak tadi menyilangkan kaki sambil bermain ponselnya hanya meliriknya sesekali. Pr
“Astaga... aku benar-benar sial.” Kiara menghembuskan napas panjang. Setelah berpikir beberapa saat, ia akhirnya memutuskan untuk meminta bantuan. Dengan wajah masih merah membara menahan malu, Kiara memutar kunci pintu kamar mandi, lalu membukanya sedikit. Gadis itu mengintip ke luar dengan ragu. Tepat di luar sana seseorang memang masih berdiri. Dan orang itu adalah Arvino. “T-Tuan...” panggil Kiara dengan suara yang sangat pelan. Arvino yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil menoleh galak. “Apa lagi?!” “A-anu,” cicit Kiara lirih, menyembunyikan wajahnya di balik celah pintu. “Bisa tolong bantu buka ini?” “Buka apa?” tanya Arvino sambil mengerutkan keningnya. “Resleting gaunnya tiba-tiba macet. S- saya sudah mencoba untuk membukanya tapi nggak bisa,” terang Kiara. “Tck.” Arvino mendesis kasar, mencoba mempertahankan aura galaknya. Ia melangkah menghampiri kamar mandi dan mendorong pintunya. Kiara refleks membelakangi Arvino, menutupi bagian depan dad
“T-Tuan... tolong lepaskan saya. Saya janji bakal ganti rugi pakai apa pun yang Tuan minta, saya bersumpah, tapi tolong biarkan saya pergi!” pinta Kiara dengan suara bergetar hebat. Air mata kembali menumpuk di pelupuk mata bulatnya. Arvino terkekeh dingin. Sorot mata cokelat gelapnya menatap Kiara dengan tatapan menyindir yang tajam. “Ganti rugi?” desis Arvino rendah, mengikis jarak hingga napas hangatnya menerpa ceruk leher Kiara. “Kamu ganti rugi pakai apa? Uang? Aku sudah punya banyak.” Kiara membisu, bibir bawahnya bergetar pasrah. “Tuan–” “Ikut saja apa yang aku katakan! Jangan banyak membantah! Kamu cukup jadi istri pura-puraku untuk beberapa waktu.” Kiara makin pening. Gadis itu merasa takdir baik tidak berpihak padanya. Bagaimana mungkin niatnya kabur dari klub malam justru membuatnya terperangkap jadi istri pria yang bahkan namanya saja tidak dia tahu. “Tapi kita nggak saling kenal,” beo Kiara lirih. Dia tidak tau harus pakai cara apa supaya bisa kabur dari sini.
“Arvino! Apa kamu sudah gila?!” bentaknya. “Siapa perempuan ini?! Kenapa kamu tiba-tiba menjadikannya istri? Kita bahkan nggak tahu asal-usulnya!” “Mama, tenang dulu!” potong Arvino datar. Suaranya memang tidak meninggi, tetapi sorot matanya yang dingin tetap tertuju pada tubuh Kiara yang terbaring pasrah di atas ranjang. “Bagaimana Mama bisa tenang?!” bentak ibunya histeris. “Vivian kabur, dan kamu malah menikahi cewek antah berantah ini di depan ratusan tamu VIP dan media! Mau ditaruh di mana muka keluarga Alister?!” Ayah Arvino melangkah maju, menatap putranya tajam. “Jelaskan, Arvino! Kenapa kamu mengambil keputusan segila ini?” Arvino memutar tubuhnya, menghadap kedua orang tuanya dengan wajah keras tanpa penyesalan. “Aku tidak punya pilihan lain. Jika aku mengumumkan pembatalan pernikahan begitu saja, saham perusahaan akan anjlok besok pagi dan keluarga kita jadi bahan tertawaan orang-orang.” “Tapi kenapa harus dengan wanita nggak jelas ini?!” desis ibunya murka. “Urusan d
“Ikuti ucapanku kalau mau selamat dari mereka,” bisik Arvino tegas dengan suara berat yang membuat bulu kuduk Kiara meremang. “Atau kamu mau aku serahkan kembali ke orang-orang itu sekarang juga?” Kiara menelan ludah. Hatinya mencelos. Ia menatap mata gelap Arvino yang tajam dan mengintimidasi, lalu beralih menatap para bodyguard yang masih memandangnya seperti mangsa. Dengan tubuh gemetar hebat dan dada yang bergemuruh ketakutan, Kiara akhirnya mengangguk pelan. Arvino kembali mengangkat kepalanya, menyapu pandangannya ke arah para pengejar dengan tatapan membunuh. “Kalian dengar! Siapapun yang berani menyentuh seujung rambut calon istriku ini, akan kupastikan kalian tidak akan bisa melihat matahari besok pagi.” Melihat ancaman nyata dari pria sekelas Arvino, kelima pria itu tidak punya pilihan lain. Mereka menunduk takut lalu mundur perlahan, menghilang di balik pintu besar yang tertutup kembali. Arvino tidak memberi ruang untuk kehebohan tamu atau protest histeris dari or
Lima menit sebelumnya... Di dalam area salah satu kamar hotel yang mewah, Arvino berdiri di depan cermin tinggi, merapikan tuksedo hitam rapinya. Pria setinggi 188 cm itu tampak begitu luar biasa sempurna. Rahangnya tegas dan berstruktur tajam dengan pahatan wajah maskulin yang dingin. Rambut hitam peraknya disisir rapi ke belakang, memperlihatkan dahi lebar dan alis tebal yang menaungi sepasang mata tajam berwarna cokelat gelap—sepasang mata tajam yang mampu membuat siapa pun bergidik ketakutan. Tubuhnya atletis berotot padat, dibungkus sempurna dalam tuksedo mewah buatan desainer ternama. “Arvino! Bagaimana ini?! Vivian belum datang juga! Para tamu VIP dan media sudah berkumpul di ballroom,” bentak ibunya panik setengah mati sambil memegang dadanya. “Tenang dulu, Ma!” sahut Arvino datar. Suaranya berat dan dominan, meski rahang tegasnya mengetat keras. “Aku sedang mengerahkan orangku untuk mencari Vivian.” Bersamaan dengan itu, ponsel di saku jas Arvino bergetar. Sebuah pesan m







