FAZER LOGINBrak!
Benev menutup pintu kamarnya lebih keras dari yang ia maksudkan. Ia berdiri diam beberapa detik di balik pintu, rahang masih mengeras, napasnya berat. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuh. Amarahnya belum sepenuhnya hilang. Entah ditujukan pada Estella, atau pada dirinya sendiri. Ia berjalan menuju ranjang dan duduk di tepinya dengan gerakan kasar. Kedua siku bertumpu di paha, kepala tertunduk. Ia mengusap wajahnya kasar. “Bo“Aku bertanya kepadamu, Jessica!” Wanita itu masih bungkam. Benev tertawa pendek tanpa humor. Ia menatap Jessica lekat-lekat, mencoba memahami alasan di balik tindakan nekat tersebut. “Apa ini soal perasaanmu padaku?” Jessica akhirnya mengangkat wajah. Matanya berkaca-kaca, tetapi kali ini ia tidak berusaha menyangkal. “Iya!” jawabnya tegas. “Aku tidak mau kau kembali kepadanya, Benev. Aku tidak mau Estella kembali ke sini dan mengambil tempatku!” Rahang Benev mengeras. “Jadi, kau tega membuatnya menderita hanya karena kau tidak bisa menerima kenyataan bahwa aku tidak mencintaimu?” Jessica terdiam, air matanya mulai mengalir. Namun, Benev sama sekali tidak melunak. “Dengarkan aku baik-baik, Jessica. Apa pun perasaanmu kepadaku, kau tidak berhak menghancurkan hidup Estella untuk memuaskan keinginanmu sendiri.” _____ Sebuah taksi berhent
Damien baru saja meninggalkan kamar hotel setelah menjelaskan hasil penyelidikannya mengenai akta perceraian palsu yang diterima Estella. Begitu pintu tertutup, Benev menghembuskan napas panjang. Ia menoleh kepada Estella yang duduk di sofa dengan wajah dingin, seolah seluruh penjelasan tadi sama sekali tidak berarti baginya. “Aku tidak akan menyalahkanmu karena kesalahpahaman ini,” ujarnya. “Aku tahu kau belum memahami proses perceraian dengan baik. Itu sebabnya kau langsung mempercayai dokumen tersebut.” Estella mengangkat wajah, menatapnya lurus sebelum menyunggingkan senyum tipis yang sama sekali tidak mengandung kehangatan. “Sandiwara yang bagus.” Kening Benev berkerut. “Sandiwara apa maksudmu?” Estella tidak menjawab. Ia bangkit, mengambil tasnya dari atas ranjang, lalu menyampirkannya ke bahu. “Kau membuang waktuku semalaman di sini hanya untuk menyaksikan kebohonganmu sen
Cahaya matahari pagi menyelinap melalui celah tirai, menerangi kamar Fablo yang masih sunyi. Pria itu perlahan membuka mata, tetapi alih-alih segera bangun, ia justru menatap langit-langit dengan pikiran yang kembali terseret pada kejadian semalam. Kedatangan Benev di hotel. Pertengkaran mereka. Dan pengakuan pria itu bahwa dirinya belum menceraikan Estella. Fablo mengusap wajahnya kasar. “Apa maksudnya? Kenapa semuanya begitu rumit?” Fablo menghembuskan napas panjang, lalu menyingkirkan selimut dan beranjak dari ranjang. Ia membersihkan diri sebelum turun ke lantai satu untuk sarapan. Namun, begitu tiba di ruang makan, langkahnya melambat. Tidak ada Estella. Hanya seorang pelayan yang sedang menata hidangan di atas meja. Fablo menarik kursi, tetapi sebelum duduk, ia menoleh kepada wanita itu. “Estella belum pulang?” Pelayan tersebut menggeleng sopan. “Belum, Tuan. Sampai pagi in
Estella menyeka air matanya dengan kasar, lalu berbalik dan masuk kembali ke kamar. Ia tak ingin melihat wajah Benev lebih lama. Pria itu sudah cukup menyakitinya, dan ia tidak punya tenaga untuk menghadapi kebohongan lain darinya. Fablo hendak menyusul, tetapi Benev segera menghadangnya. “Biarkan dia sendiri,” ujar Fablo dingin. “Justru kau yang harus pergi.” Benev menatapnya tajam. “Ini urusan suami istri. Jangan ikut campur.” Fablo mendengus. “Suami istri? Kau baru saja mengatakan sendiri bahwa kau tidak menceraikannya. Lalu, di mana kau ketika dia menangis karena merasa dibuang olehmu?” Rahang Benev mengeras. “Jangan menguji kesabaranku, Fablo.” Suaranya merendah, tetapi ancaman di dalamnya terdengar jelas. “Pulanglah sebelum aku kehilangan kesabaran dan membuatmu menyesali keputusanmu untuk ikut campur dalam rumah tanggaku.” Fablo terdiam. Ia ingin membalas, tetapi dari soro
Tatapan Benev melewati bahu Fablo, menyapu bagian dalam kamar sebelum berhenti pada Estella yang terbaring di atas ranjang. Rahangnya mengeras. Beberapa detik berlalu tanpa suara. Kemudian, ia kembali menatap Fablo dengan sorot mata yang semakin tajam. “Apa yang sedang kau lakukan bersama istriku?” “Istriku?” Sudut bibir Fablo terangkat sinis. “Estella bukan istrimu.” Benev tersenyum miring, “Minggir!” “Tidak.” Fablo menghalangi pintu dengan tubuhnya. “Kau tidak akan masuk dan menyentuh Estella seujung jari pun.” Satu alis Benev terangkat, kedua tangannya terlipat di dada. “Kau siapa berani-beraninya melarang seorang suami menemui istrinya sendiri?” Alih-alih menjawab, Fablo justru melangkah keluar kamar, lalu menutup pintu di belakangnya. Begitu berhadapan langsung dengan Benev, ia mendorong dada pria itu dengan keras hingga keduanya terpisah beberapa langkah. “Ak
Fablo menelan ludah dengan susah payah. Kalimat yang baru saja keluar dari mulut Estella membuatnya kehilangan kata-kata selama beberapa detik. “Apa yang kamu katakan?” ia berusaha tersenyum tipis, menyembunyikan kegugupan yang mulai mengusik dadanya. “Sebentar lagi Kakak selesai bekerja. Setelah itu, kita pulang.” Fablo hendak beranjak, tetapi Estella segera meraih lengannya. “Aku serius, Kak.” Gadis itu mendongak, menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Lagipula, aku bukan istri orang lagi. Aku tidak punya ikatan dengan siapa pun. Aku bebas melakukan apa pun yang kuinginkan.” Fablo berbalik dan menghembuskan napas panjang. “Jangan menganggap hal seperti ini sepele, Este. Ada banyak hal yang harus kamu pikirkan sebelum mengambil keputusan.” Estella tersenyum hambar. “Aku bahkan belum pernah disentuh suamiku sendiri, Kak.” Deg! Jantung Fablo seolah menghantam dadanya sendiri. Ia ti







