LOGINSetelah pemeriksaan selesai, dokter menatap Keano dengan senyum puas, menuliskan beberapa catatan di lembar rekam medisnya. “Kondisi Pak Keano sudah jauh lebih stabil. Tidak ada tanda-tanda gangguan psikologis lanjutan seperti yang kami khawatirkan sebelumnya. Anda hanya perlu istirahat total selama beberapa hari ke depan.”Dokter menatap pada Keano lagi dengan senyum ramah di wajahnya.Keano mengangguk pelan mendengar penjelasan dokter.“Terima kasih, Dokter,” balas Nadine, menghela napas lega mendengar kabar baik itu. Kecemasannya semalaman ini benar-benar sirna sekarang.“Kalau begitu, kami permisi dulu.” Dokter menyudahi kunjungan pemeriksaan terhadap Keano. Dia dan perawat berjalan menuju pintu kamar.Begitu dokter dan perawat meninggalkan ruangan, Nadine menoleh pada Freya yang masih berdiri di dekat ranjang. “Freya, ayo sarapan dulu. Dari semalam kamu belum makan apa-apa. Mama bawakan sarapan khusus buatmu.”“Sebentar, Ma,” jawab Freya, matanya justru beralih ke nampan makanan
Nadine tersenyum lembut, melangkah pelan-pelan ke arah meja kecil di sudut ruangan untuk meletakkan rantang sarapan yang dibawanya tanpa menimbulkan suara yang bisa membangunkan Freya.Setelahnya, Nadine kembali mendekat ke sisi ranjang Keano. Menatap putranya dengan penuh kelegaan.“Freya menjagaku semalaman,” kata Keano pelan, suaranya penuh perhatian. “Biarkan dia istirahat lebih lama.”Nadine mengangguk, menatap putranya dengan raut yang masih menyimpan sisa kekhawatiran. “Bagaimana kondisimu sekarang? Apa kamu mengalami mimpi buruk lagi setelah baru saja mengalami kecelakaan seperti itu?”Nadine menghela napas panjang. “Mama dan Papa benar-benar syok dengar kamu nyetir sampai nekat nabrak mobil pelaku penculikan itu.”Keano menggeleng pelan, matanya sekilas melirik ke arah Freya yang masih tertidur pulas di ranjang penunggu. “Tidak. Aku baik-baik saja selama Freya ada di sisiku.”Nadine ikut menatap ke arah yang sama, bibirnya melengkung membentuk senyum penuh makna. “Jadi, Freya
Freya merasakan pipinya semakin memanas, kecanggungan yang begitu besar menguasai dirinya. “Apa itu sopan, Pak? Memanggil nama Bapak begitu saja?”“Sopan,” jawab Keano tenang, “karena kita suami istri.”“Tapi kontrak kita—” Freya mencoba menegaskan status pernikahan mereka yang sebenarnya, tatapannya begitu serius pada Keano.Sayangnya, Keano tidak membalas, hanya menatapnya dalam diam, seolah membiarkan kalimat itu menggantung tanpa perlu dibahas lebih jauh. Sekarang, Keano tak mau mengakui kontrak itu sah.Freya mengatupkan bibirnya melihat Keano yang diam dengan tatapan tak teralihkan darinya. Dia tidak tahu harus berkata apa lagi. Suasana yang begitu intim ini membuatnya semakin sulit berpikir jernih, detak jantungnya masih berdegup begitu kencang sejak kecupan tiba-tiba yang Keano lakukan tadi.“Saya … saya akan panggil perawat,” kata Freya cepat, mencoba mencari alasan untuk keluar dari situasi yang begitu canggung ini. “Harusnya tadi saya langsung memanggil mereka begitu Bapak
Freya bergeming, menatap Keano dengan mata yang membola tidak percaya. Dia memutar ulang memori kejadian itu berulang kali di kepalanya, mencoba memastikan bahwa yang dia ingat benar-benar sama dengan apa yang Keano maksud.“Jadi … Anda adalah pemuda itu?” tanya Freya memastikan, suaranya bergetar hebat, masih sulit mempercayai kenyataan yang begitu mengejutkan ini.Keano mengangguk pelan. “Aku tidak ingat apa pun setelah kamu melepaskan tanganku malam itu. Saat aku sadar, aku hanya melihat kedua orang tuaku di sisiku. Aku mencarimu, tapi kamu sudah tidak ada di sana. Kenapa kamu pergi?”Pertanyaan itu meluncur dengan nada yang begitu polos, penuh rasa penasaran yang sudah lama dia simpan sendirian.Freya terdiam, matanya mendadak terasa panas, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Dia menatap Keano dengan senyum getir yang begitu menyayat. “Malam itu, ibu saya juga sedang kritis, Pak. Saat ambulans datang menolong Anda, saya langsung berlari kembali ke rumah sakit untuk mene
Freya bergeming. Tatapannya tak teralihkan dari Keano.Sejenak, jantungnya berdegup lebih cepat, telinganya seperti mendengung, bahkan suara-suara di sekitarnya seperti tak bisa dia dengar.Mata Freya mengerjap, mengembalikan seluruh kesadarannya.“Ap-apa maksud, Bapak?” tanya Freya memastikan. “Bapak hampir mati karena menolong saya, kenapa Bapak bicara begitu?”Keano menatap semakin dalam, jarinya semakin menggenggam erat telapak tangan Freya. “Kamu pernah menyelamatkanku sekali, Freya. Dan yang aku lakukan ini, tak cukup untuk membalas semua yang sudah kamu lakukan untukku.” “Menyelamatkan Anda?” Kening Freya berkerut dalam. Dia bingung.Keano tersenyum. “Sembilan tahun lalu, di tengah hujan, kecelakaan mobil. Apa kamu mengingatnya?”Tubuh Freya menegak mendengar ucapan Keano. Ingatannya dia tarik paksa ke kejadian sembilan tahun lalu yang Keano maksud.Malam itu.Hujan turun begitu deras, membuat jalanan yang biasa dilalui Freya terasa semakin sunyi dan mencekam. Usianya baru se
Keano akhirnya dipindahkan ke ruang inap setelah proses observasi awal selesai dilakukan. Semua orang menunggu dengan cemas di luar, hingga akhirnya diperbolehkan masuk begitu kondisinya dinyatakan stabil, meski kesadarannya belum sepenuhnya kembali.Nadine duduk di kursi dekat ranjang, menatap wajah putranya yang masih terpejam dengan raut khawatir yang belum sepenuhnya reda. Setelah beberapa saat, dia menoleh pada Freya yang berdiri tidak jauh darinya.“Freya, istirahatlah dulu,” kata Nadine lembut. “Malam ini sudah larut, kamu juga butuh waktu untuk pulih dari kejadian tadi. Tidurlah atau kamu mau pulang?”“Tidak.” Freya menggeleng cepat, matanya tidak lepas dari sosok Keano yang terbaring lemah di atas ranjang. Tangannya memeluk lengannya sendiri, menahan agar tubuhnya tak bergetar menahan kecemasan. “Saya akan menjaga dia di sini.”Freya menatap Nadine dan Jordan bergantian, suaranya penuh kesungguhan. “Kalau Mama dan Papa ingin pulang, tidak apa-apa.” Untuk pertama kalinya Frey







