MasukSesuai dengan perintah Keano. Freya berangkat bersama Nanda.Selama perjalanan menuju mall, Freya hanya duduk diam tanpa berani bicara sepatah kata pun.Freya mengamati jalanan yang mereka lewati. Sampai ketika tiba di beberapa blok sebelum mall, Freya menoleh pada Nanda dan mulai membuka suara.“Pak Nanda, apa Anda bisa menurunkan saya di depan saja?” Freya meminta izin tanpa nada memerintah.Nanda menoleh sekilas pada Freya dengan wajah panik.“Jangan, saya tidak akan menurunkanmu di pinggir jalan.” Nanda langsung menolak. “Tidak apa-apa, lagi pula sudah dekat dengan Mall.” Freya memberi alasan.Nanda menggeleng pelan. “Kamu jangan mempersulit saya. Jika Pak Keano tahu, saya akan terkena masalah.”Freya tertegun mendengar ucapan Nanda. Namun, dia tak menyerah memberi alasan. “Saya tidak akan memberitahu Pak Keano, jadi Anda tidak akan terkena masalah.”Nanda menggeleng lagi. “Tidak bisa,” sanggahnya, “Kamu tetap harus ikut bersama saya sampai mall.”Freya tak bisa berkata-kata. Sam
Freya terkejut mendengar pertanyaan Nadine. Jantungnya mendadak berdegup cepat, darahnya mendesir hebat karena panik mencari jawaban untuk pertanyaan sepele itu.Jika mereka memang saling mencintai, sudah seharusnya Freya mudah menjawab pertanyaan Nadine. Namun, keadaannya berbeda. Freya harus pintar menyembunyikan sandiwara ini dalam sebuah kebohongan yang masuk akal.Freya menatap pada Nadine lagi sambil tersenyum kecil.“Sebenarnya saya tidak terlalu tahu kopi seperti apa yang Keano sukai. Hanya saja, Keano menyukai apa pun yang saya kasih,” ucap Freya meyakinkan agar Nadine tidak mencurigainya jika tak tahu apa-apa tentang Keano.Nadine semakin mengerutkan kening mendengar balasan Freya. Sebagai orang tua yang sudah hidup lebih lama dan menghadapi banyak orang-orang dengan berbagai jenis sifat, Nadine bisa merasakan keanehan dari cara Freya bicara.“Sebenarnya aku masih meragukan pernikahan kalian,” ucap Nadine terang-terangan tanpa basa-basi. “Bagaimanapun juga, pernikahan kalian
Freya baru saja membuka mata saat merasakan posisi tidurnya yang sangat tak nyaman, walau ranjang ini begitu luas.Saat menoleh ke tangannya yang tergeletak di atas ranjang, dia tak melihat Keano menggenggamnya lagi.Dan, ketika memandang ke sisi ranjang tempat Keano tidur semalam, Freya tak mendapati pria itu di sana.Freya mengucek matanya. Dia bangun perlahan dan duduk di atas ranjang masih dengan kesadaran yang belum terkumpul sempurna.Sampai Freya mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Dia menoleh dan mendapati Keano baru saja keluar dari dalam sana, memakai jubah mandi dan handuk kecil melingkar di leher.Freya memperhatikan Keano yang sibuk mengeringkan rambut di depan pintu kamar mandi.Dia melihat wajah Keano sudah tak sepucat semalam.“Anda sudah baik-baik saja, Pak?” Freya memberanikan diri bertanya untuk memastikan.Keano menghentikan gerakan tangannya sejenak saat mendengar suara Freya. Dia menatap pada istri kontraknya ini, Keano langsung tahu apa yang Freya maksud.
Freya melihat dada Keano naik turun tak beraturan. Pelipis serta dahi pria itu dipenuhi bulir-bulir keringat, padahal pendingin udara di dalam kamar tidur mereka berembus cukup dingin. Freya semakin panik saat melihat Keano mengerutkan kening dan tampak gelisah, bahkan bibirnya meringis seolah sedang menahan rasa sakit yang begitu menyakitkan dalam tidurnya.Tanpa memikirkan batas ranjang lagi, Freya bangkit dari posisinya lalu duduk lebih dekat dengan Keano.“Pak … Pak Keano, panggil Freya pelan sembari menepuk-nepuk lengan Keano. “Pak Keano, bangun.” Freya mencoba membangunkan.Namun, tidak ada respon. Keano masih memejamkan mata dengan kerutan di kening yang semakin kentara. Kepala Keano bergerak gelisah seolah sedang mengalami kecemasan yang luar biasa.“Pak Keano. Anda baik-baik saja?” Freya kembali mencoba membangunkan. Namun, usahanya sia-sia.Freya ketakutan melihat Keano masih tidak bereaksi dengan panggilan yang dia lakukan.Freya takut terjadi sesuatu pada Keano jika terus
Freya membeku. Dia menatap panik saat melihat mata Keano menyipit, seolah sedang mengintimidasinya.Seketika Freya meneguk ludah kasar, wajahnya kini memerah padam. Dia memeluk piyama satin di dadanya semakin erat, berusaha keras menyembunyikan kepanikan di balik senyuman yang sangat canggung.“E-eh? Tidak ... tidak ada, Pak,” elak Freya dengan nada suara yang sedikit meninggi karena gugup. “Saya tidak memikirkan apa-apa, kok,” katanya lagi meyakinkan.Senyum samar nyaris tak terlihat terangkat di bibir Keano saat melipat kepanikan di wajah Freya. Sebelum Keano kembali bicara, suara Freya sudah lebih dulu terdengar.“Saya mau ganti baju dulu, Pak.” Freya bicara dengan sangat cepat.Tanpa menunggu balasan Keano, Freya bergegas melangkah menuju pintu walk in closet. Namun, karena langkah kakinya yang terlalu terburu-buru dengan gerakan panik, dia justru tersandung oleh ujung kakinya sendiri.“Akh ….” Freya menjerit pelan saat tubuhnya mendadak limbung ke depan. Dia memejamkan mata rapat
Freya semakin menunduk mendengar ucapan Nadine. Bibirnya dia gigit kuat-kuat, jantungnya berdegup cepat mendengar kalimat menuntut dari mertuanya.Bagaimanapun Freya tidak bisa membantah dan menjelaskan kalau pernikahan mereka disembunyikan jadi tak ada yang tahu dan takkan mempermalukan keluarga Pradipta, seperti kesepakatan antara dia dan Keano.Hingga sekarang, Freya hanya bisa menunduk diam. Sampai ….“Semua yang Freya lakukan sudah atas izinku, Ma,” balas Keano dengan nada suara yang begitu tenang tapi tak terbantahkan. “Statusnya sebagai pekerja meski dia istriku, tidak ada yang memalukan selama aku yang memberinya izin.”Freya tersentak kesekian kalinya saat mendengar ucapan Keano. Pria ini benar-benar membantah semua ucapan ibunya sendiri untuk melindungi Freya?Atau, Keano melakukan ini untuk menutupi pernikahan kontrak mereka?Mata Nadine membola lebar mendengar Keano terus saja melawannya. Dia mendengkus kasar, napasnya seolah berembus pasrah karena sanggahan dari putranya.







