เข้าสู่ระบบTerima kasih yang sudah mengikuti kisah Freya dan Keano, jangan lupa dukung cerita ini dengan komentar kalian.
Freya berangkat bersama Nanda seperti hari sebelumnya. Dia sudah tiba di mall dan langsung masuk untuk bersiap bekerja.Suasana di area belakang toko kosmetik dipenuhi bisik-bisik karyawan yang berkumpul di depan papan pengumuman. Freya berjalan mendekat bersama Rachel, ikut menyelinap di antara kerumunan untuk melihat kertas yang baru saja ditempel.Pengumuman Resmi: Manajer Toko Kosmetik Area Lantai 2 — Brian MahendraFreya membaca nama itu berulang kali, memastikan matanya tidak salah lihat.“Apa?” Rachel yang berdiri di sampingnya bersuara lebih dulu, matanya membola tak percaya. “Brian? Yang benar saja!”Bisikan di sekitar mereka semakin ramai. Beberapa karyawan saling berpandangan dengan raut heran, ada juga yang menggelengkan kepala pelan.“Bukannya penjualan Brian selalu di bawah rata-rata?” bisik salah satu karyawan dari toko sebelah.“Iya, aneh sekali. Padahal semua tahu Freya yang paling konsisten mencapai target,” timpal yang lain, suaranya cukup pelan tapi masih terdenga
Keesokan harinya.Freya baru saja selesai mengganti pakaian kerjanya di dalam kamar mandi. Dia keluar dengan blus lengan panjang berwarna krem, rambutnya masih setengah basah dan tergerai di bahu.Freya melangkah menuju cermin besar di sudut walk in closet, lalu mulai menyisir rambutnya dengan gerakan cepat karena waktu hampir siang.Sampai suara pintu walk in closet kembali terbuka, membuat Freya menoleh sekilas.Keano melangkah masuk dengan kemeja putih yang belum sepenuhnya dikancingkan dan memperlihatkan sebagian dada bidangnya. Tangannya membawa sebuah kotak kecil berwarna putih.Freya buru-buru mengalihkan pandangan, pipinya memanas tanpa alasan jelas. Dia kembali fokus menyisir rambutnya, berusaha terlihat sesibuk mungkin.“Duduk,” kata Keano begitu sampai di dekat Freya, suaranya datar seperti biasa.Freya menghentikan gerakan tangannya. Dia menoleh dengan kening berkerut. “Duduk, Pak? Untuk apa?”Keano tidak menjawab. Dia hanya menunjuk kursi kecil di dekat meja rias dengan d
Malam hari. Jam kerja telah usai. Freya berjalan keluar dari pintu khusus karyawan sambil menarik lengan baju pendeknya lebih rendah, berusaha menutupi memar yang masih membekas di kulitnya sejak insiden dengan Brian pagi tadi.Dia melangkah menuju titik jemput yang tadi pagi Nanda katakan. Namun, saat tiba di sana bukan mobil Nanda yang terparkir di sana.Freya menghentikan langkah saat melihat mobil sedan hitam Keano berhenti tepat di depannya, kaca jendela belakang turun perlahan.“Masuk.”Suara Keano yang datar itu membuat Freya tersentak kecil. Dia menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada rekan kerja yang melihat, lalu bergegas masuk ke dalam mobil.“Kenapa Bapak sendiri yang jemput?” tanya Freya begitu duduk dan menutup pintu mobil dengan pelan.“Nanda ada urusan lain,” jawab Keano singkat, tatapannya tertuju ke luar jendela.Freya mengangguk pelan, tidak berani bertanya lebih jauh. Dia menyandarkan punggungnya, lalu tanpa sadar menggosok pelan lengannya yang masih teras
Freya langsung menatap ke suara yang menginterupsi. Begitu juga dengan Brian dan Melissa. Keduanya melebarkan mata mereka melihat siapa yang sedang melangkah mendekat.Seketika itu, tangan Freya akhirnya terlepas dari Brian. Dia mengusap lengannya yang sakit karena perbuatan Brian.Di hadapan mereka, kini berdiri Keano yang menatap tajam pada Brian dan Melissa, lalu sorot mata Keano melunak ketika melihat Freya menunduk dengan wajah menahan sakit.“Apa yang terjadi di sini?” Suara Keano terdengar tegas dan dalam.Brian dan Melissa langsung membungkukkan tubuh mereka ke Keano.Brian begitu panik, lalu dia mencoba menjelaskan. “Tidak ada apa-apa, Pak. Kami … kami … kami hanya sedang berdiskusi biasa.” Brian tersenyum karier ke Keano karena takut terkena masalah.Satu sudut alis Keano tertarik ke atas mendengar penjelasan Brian. Sampai dia menatap pada Freya, lalu Keano bertanya, “Apa yang dia katakan benar?”Freya tersentak mendengar pertanyaan Keano, apalagi tatapan pria ini kini tert
Sesuai dengan perintah Keano. Freya berangkat bersama Nanda.Selama perjalanan menuju mall, Freya hanya duduk diam tanpa berani bicara sepatah kata pun.Freya mengamati jalanan yang mereka lewati. Sampai ketika tiba di beberapa blok sebelum mall, Freya menoleh pada Nanda dan mulai membuka suara.“Pak Nanda, apa Anda bisa menurunkan saya di depan saja?” Freya meminta izin tanpa nada memerintah.Nanda menoleh sekilas pada Freya dengan wajah panik.“Jangan, saya tidak akan menurunkanmu di pinggir jalan.” Nanda langsung menolak. “Tidak apa-apa, lagi pula sudah dekat dengan Mall.” Freya memberi alasan.Nanda menggeleng pelan. “Kamu jangan mempersulit saya. Jika Pak Keano tahu, saya akan terkena masalah.”Freya tertegun mendengar ucapan Nanda. Namun, dia tak menyerah memberi alasan. “Saya tidak akan memberitahu Pak Keano, jadi Anda tidak akan terkena masalah.”Nanda menggeleng lagi. “Tidak bisa,” sanggahnya, “Kamu tetap harus ikut bersama saya sampai mall.”Freya tak bisa berkata-kata. Sam
Freya terkejut mendengar pertanyaan Nadine. Jantungnya mendadak berdegup cepat, darahnya mendesir hebat karena panik mencari jawaban untuk pertanyaan sepele itu.Jika mereka memang saling mencintai, sudah seharusnya Freya mudah menjawab pertanyaan Nadine. Namun, keadaannya berbeda. Freya harus pintar menyembunyikan sandiwara ini dalam sebuah kebohongan yang masuk akal.Freya menatap pada Nadine lagi sambil tersenyum kecil.“Sebenarnya saya tidak terlalu tahu kopi seperti apa yang Keano sukai. Hanya saja, Keano menyukai apa pun yang saya kasih,” ucap Freya meyakinkan agar Nadine tidak mencurigainya jika tak tahu apa-apa tentang Keano.Nadine semakin mengerutkan kening mendengar balasan Freya. Sebagai orang tua yang sudah hidup lebih lama dan menghadapi banyak orang-orang dengan berbagai jenis sifat, Nadine bisa merasakan keanehan dari cara Freya bicara.“Sebenarnya aku masih meragukan pernikahan kalian,” ucap Nadine terang-terangan tanpa basa-basi. “Bagaimanapun juga, pernikahan kalian







