LOGINFreya bergeming, menatap Keano dengan mata yang membola tidak percaya. Dia memutar ulang memori kejadian itu berulang kali di kepalanya, mencoba memastikan bahwa yang dia ingat benar-benar sama dengan apa yang Keano maksud.“Jadi … Anda adalah pemuda itu?” tanya Freya memastikan, suaranya bergetar hebat, masih sulit mempercayai kenyataan yang begitu mengejutkan ini.Keano mengangguk pelan. “Aku tidak ingat apa pun setelah kamu melepaskan tanganku malam itu. Saat aku sadar, aku hanya melihat kedua orang tuaku di sisiku. Aku mencarimu, tapi kamu sudah tidak ada di sana. Kenapa kamu pergi?”Pertanyaan itu meluncur dengan nada yang begitu polos, penuh rasa penasaran yang sudah lama dia simpan sendirian.Freya terdiam, matanya mendadak terasa panas, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Dia menatap Keano dengan senyum getir yang begitu menyayat. “Malam itu, ibu saya juga sedang kritis, Pak. Saat ambulans datang menolong Anda, saya langsung berlari kembali ke rumah sakit untuk mene
Freya bergeming. Tatapannya tak teralihkan dari Keano.Sejenak, jantungnya berdegup lebih cepat, telinganya seperti mendengung, bahkan suara-suara di sekitarnya seperti tak bisa dia dengar.Mata Freya mengerjap, mengembalikan seluruh kesadarannya.“Ap-apa maksud, Bapak?” tanya Freya memastikan. “Bapak hampir mati karena menolong saya, kenapa Bapak bicara begitu?”Keano menatap semakin dalam, jarinya semakin menggenggam erat telapak tangan Freya. “Kamu pernah menyelamatkanku sekali, Freya. Dan yang aku lakukan ini, tak cukup untuk membalas semua yang sudah kamu lakukan untukku.” “Menyelamatkan Anda?” Kening Freya berkerut dalam. Dia bingung.Keano tersenyum. “Sembilan tahun lalu, di tengah hujan, kecelakaan mobil. Apa kamu mengingatnya?”Tubuh Freya menegak mendengar ucapan Keano. Ingatannya dia tarik paksa ke kejadian sembilan tahun lalu yang Keano maksud.Malam itu.Hujan turun begitu deras, membuat jalanan yang biasa dilalui Freya terasa semakin sunyi dan mencekam. Usianya baru se
Keano akhirnya dipindahkan ke ruang inap setelah proses observasi awal selesai dilakukan. Semua orang menunggu dengan cemas di luar, hingga akhirnya diperbolehkan masuk begitu kondisinya dinyatakan stabil, meski kesadarannya belum sepenuhnya kembali.Nadine duduk di kursi dekat ranjang, menatap wajah putranya yang masih terpejam dengan raut khawatir yang belum sepenuhnya reda. Setelah beberapa saat, dia menoleh pada Freya yang berdiri tidak jauh darinya.“Freya, istirahatlah dulu,” kata Nadine lembut. “Malam ini sudah larut, kamu juga butuh waktu untuk pulih dari kejadian tadi. Tidurlah atau kamu mau pulang?”“Tidak.” Freya menggeleng cepat, matanya tidak lepas dari sosok Keano yang terbaring lemah di atas ranjang. Tangannya memeluk lengannya sendiri, menahan agar tubuhnya tak bergetar menahan kecemasan. “Saya akan menjaga dia di sini.”Freya menatap Nadine dan Jordan bergantian, suaranya penuh kesungguhan. “Kalau Mama dan Papa ingin pulang, tidak apa-apa.” Untuk pertama kalinya Frey
Di ruang perawatan yang hanya tertutup tirai.Seorang perawat membersihkan luka di kening dan siku Freya dengan cekatan, sementara Nadine duduk di sampingnya, menemani dengan perhatian yang begitu tulus.“Maaf, gara-gara saya, Keano jadi begini,” kata Freya lagi, suaranya masih bergetar menahan rasa bersalah yang terus menghantui. “Kalau saja saya lebih berhati-hati tadi, mungkin dia tidak perlu sampai—”“Sudah, Freya,” potong Nadine lembut, tangannya mengusap bahu Freya untuk menenangkan. “Ini musibah. Tidak ada yang bisa kita sangka atau hindari ketika kejadian seperti ini tiba-tiba datang.”Meski nada suaranya bijak, Nadine juga sangat mencemaskan kondisi Keano. Tapi, dia tak bisa marah, dia mengingatkan dirinya sendiri, siapa Freya hingga layak mendapat perlindungan putranya sampai seperti ini.Freya menunduk, menahan diri untuk tidak terus menyalahkan dirinya sendiri, meski rasa bersalah itu masih begitu berat menggelayuti dadanya.Nadine menghela napas panjang, matanya menerawan
Mereka tiba di rumah sakit dengan suasana yang begitu mencekam. Freya masih menggenggam erat tangan Keano, tidak ingin melepaskannya sedikit pun, meski para perawat mulai memindah Keano ke ranjang pesakitan lalu membawa Keano masuk ke ruang pemeriksaan.Begitu tiba di ruang pemeriksaan, perawat menahan Freya.“Nona, tolong lepaskan dulu,” kata salah satu perawat dengan nada yang lembut tapi tegas, “kami harus segera menangani Pak Keano.”Freya menatap wajah pucat Keano untuk terakhir kalinya sebelum akhirnya melepaskan genggaman tangannya, membiarkan para petugas medis mendorong ranjang pesakitan itu dengan cepat menuju ruang gawat darurat.“Pak Keano,” bisik Freya lirih, tubuhnya terpaku di tempat, matanya mengikuti perawat yang mendorong masuk ranjang pesakitan itu hingga menghilang di balik pintu kaca yang tertutup rapat.Meski Freya masih melihat Keano yang mendapatkan tindakan medis dari luar ruangan. Tapi ketakutan yang begitu besar menguasai dirinya. Freya berdiri mematung, ta
Di dalam mobil yang sudah ringsek parah.Freya menekan kuat kepalanya, merasakan pening yang membuat pandangannya sempat mengabur sesaat akibat benturan keras yang baru saja terjadi. Dia menoleh ke samping, mendapati pria yang menculiknya tergeletak lemas dengan darah mengalir dari dahinya, mengerang kesakitan tanpa daya untuk bergerak lebih jauh.Dengan tangan yang masih gemetar, Freya mendorong pintu mobil di dekatnyaa, memaksa dirinya keluar dengan langkah terhuyung-huyung. Kepalanya masih terasa berputar, tapi kesadarannya langsung terfokus begitu matanya menangkap pemandangan di hadapannya.Mobil Keano.Ringsek, asapnya mengepul tebal dari bagian depan yang sudah tidak berbentuk lagi.“Pak Keano!” Freya berteriak panik, kakinya bergerak secepat mungkin meski tubuhnya masih sempoyongan, berlari mendekati mobil yang kondisinya begitu mengerikan itu.Dia harus memastikan, apakah pria itu ada di dalam sana atau tidak.Begitu sampai di sana.Freya syok melihat Keano melalui kaca dep







