Mag-log in“Kamu di mana? Papa jemput sekarang!” ucap Raymond dengan suara tegas dan penuh penekanan, tak ingin memberi ruang untuk dibantah. Di ujung telepon, terdengar Viola mendengkus pelan. “Aku bukan anak kecil lagi, Pa! Aku berhak menentukan hidupku sendiri!” “Kalau kau mau hidup mandiri, Papa akan sangat mendukungmu!” sahut Raymond cepat, suaranya tajam menembus sambungan telepon. “Tapi kalau kau ingin hidup bersama mamamu... Papa tidak akan pernah mengizinkanmu!” “Kenapa?” bantah Viola emosional, suaranya terdengar mulai serak menahan tangis. “Apa salahnya kalau aku mau hidup sama mama kandungku sendiri?” Raymond mengepalkan tangannya rapat-rapat merasa terpojok, lidahnya seketika gatal ingin mengungkap segala aib mantan istrinya. Tapi akal sehatnya menahannya agar tidak menyakiti putrinya, dan membuat hubungan mereka semakin menjauh. “Kehidupan seperti apa yang kau
"Pekerjaanmu simpel, Jon. Kamu cuma perlu mengurus perhitungan rancangan anggaran biaya, spesifikasi material, dan penyusunan berkas penawaran proyek pengerjaan bangunan yang mau kuajukan." Julian memberi penjelasan kepada Joni.Julian kemudian condong ke depan, bertanya serius, "Kamu bisa bikin proposal lengkap untuk proyek dalam waktu cepat?"Joni mengangguk mantap tanpa ragu. "Beri aku cetak biru denah bangunan, daftar harga material terbaru, sama rincian spesifikasi teknis yang dimau pemilik proyek. Kalau datanya lengkap, gampang buatku menyusun RAB dan jadwal kerjanya."Julian tersenyum puas. Mendengar Joni menyebutkan kebutuhan teknis itu secara spontan membuat Julian makin yakin bahwa pria tua di depannya ini benar-benar sangat paham dan berpengalaman di bidang kontraktor.Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di sebuah rumah kontrakan sederhana yang sengaja Julian sewa.Bekerja sama dengan Joni terasa jauh lebih menguntungkan dan menghemat biaya bagi Julian karena ia bis
Julian duduk bersedekap, menyandarkan punggung ke kursi kayu rumah makan padang di pinggir jalan yang bising. Matanya tak lepas mengamati Joni yang sedang menyantap nasi padang di depannya dengan begitu lahap.Pria lusuh itu tampak seperti orang yang sudah berhari-hari tidak menyentuh makanan, menikmati setiap suap rendang dan bumbu padang, salah satu lauk terenak di dunia, seolah itu adalah santapan terakhirnya.Sambil terus mengunyah tanpa mempedulikan etika. Tiba-tiba, Joni mendongak menatap Julian, suara kunyahannya terhenti sejenak, meninggalkan sisa minyak di sudut bibir.“Apa yang mau kau bicarakan denganku?” Joni bertanya blak-blakan. “Soal masa lalu Felisa?”Julian baru saja mengangkat gelas es teh, hendak membasahi tenggorokannya yang mendadak kering.Belum sempat air itu melewati kerongkongan, Joni menyambar lagi dengan nada dingin menusuk, “Kau mau menikah sama sundal itu?”Uhuk!Julian tersedak hebat. Es teh manis itu serasa menyembur ke hidungnya. Rasa panas melesat hing
Begitu melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya, Raymond mendapati Jovita berdiri cemas di tengah ruangan bersama Jimmy. Tanpa membuang waktu, Raymond langsung merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukan.“Tenang, Sayang... Dia tidak akan bisa menyakitimu lagi,” bisik Raymond lembut, mengusap punggung Jovita yang sempat tegang.Jimmy yang masih berdiri tak jauh dari mereka, sejak tadi gatal ingin bertanya, menuntaskan rasa penasaran.“Apa maksud kedatangannya yang sebenarnya?”Raymond menghela napas panjang dan dalam, lalu melepas pelukannya perlahan. “Sepertinya setelah ditinggal Jojo, hidupnya semakin kacau tak terarah. Dia datang ke sini minta uang.”Jimmy mengangguk-angguk paham. Walau hanya mendengar secuil cerita dari riwayat kelam masa lalu keluarga Jovita, Jimmy sudah bisa menilai tabiat dan karakter orang tua macam apa ayah Jovita tersebut.Jovita menunduk, meremas jemarinya sendiri dengan raut wajah serba salah.“Bagaimana kalau... aku coba bicara baik-baik saja dengan Ayah, Om
“Ayah...” gumam Jovita lirih, bola matanya melebar menatap sosok pria di depan pintu masuk.Meski sudah lama tak bertatap muka, Jovita masih mengenali garis wajah dan postur ayahnya dengan sangat baik.Raymond seketika menoleh, memiringkan tubuhnya ke arah Jovita. “Dia... ayahmu?”Raymond kembali melemparkan pandangannya ke arah kerumunan satpam dan pria lusuh itu untuk memastikan. Raymond memang tidak terlalu mengenali wujud ayah mertuanya, mengingat mereka hanya pernah bertemu sekali saat pernikahan siri yang tergesa-gesa dulu, itu pun dalam suasana penuh tekanan.Melihat kekacauan di depan dan menyadari riwayat sang ayah mertua yang penuh masalah, Raymond langsung mengambil keputusan tegas.“Kalau begitu, kamu masuk dulu lewat pintu samping. Biar aku yang urus dia.”“Tapi, Om...” potong Jovita panik, jemarinya cemas mencengkeram lengan kemeja Raymond.“Nggak ada tapi-tapian, Sayang,” potong Raymond lembut namun sangat tidak menerima bantahan. “Aku enggak mau membahayakan kamu dan a
Joni mengepalkan tangannya erat-erat, matanya menatap tajam ke arah aspal jalanan. Otaknya berputar keras, memikirkan bagaimana cara agar ia bisa kembali bangkit dari keterpurukan ini.Pria yang dulunya pengusaha kaya itu sudah tidak punya apa-apa lagi. Harta, perusahaan, bahkan keluarganya sudah hancur tak berbekas. Sekarang dia hidup di jalanan, bertahan hidup dari belas kasihan orang.Tiba-tiba, ingatan Joni tertuju pada sosok anak perempuannya. Pria itu bergumam lirih, “Seharusnya sekarang Jojo sudah lulus... Dia pasti sudah kerja.”Joni mengerutkan dahi, mencoba mengingat kembali potongan-potongan masa lalu yang berhubungan dengan putri tunggalnya itu. Binar licik seketika melintas di matanya.“Bukankah... dia sudah menikah dengan papa sahabatnya itu?”Sebuah seringai tipis terukir di bibirnya yang kering. Sebuah rencana picik mulai terbangun di dalam kepalanya. Joni menatap sekeliling tempat kumuh itu dengan tekad bulat untuk segera angkat kaki dari sana.‘Aku harus menemui Jojo
Raymond terdiam sejenak, menatap lekat sudut bibir Jovita yang masih sedikit membiru akibat hantaman Joni. Ucapan Jovita yang menuntut talak mengandung keangkuhan dan kepasrahan penuh ironi.“Aku tidak sebajingan itu, Jo,” suara Raymond melunak, namun tetap tegas. “Jika aku menalakmu malam ini
Teriakan Joni berhasil memicu kehebohan. Tetangga yang terbangun langsung berkerumun di depan pintu, menatap Raymond dengan pandangan curiga dan penuh amarah.“Dia mau memperkosa Jojo, Pak! Dia memaksa masuk dan memukuli saya!” fitnah Joni pura-pura kesakitan di lantai.“Itu tidak benar!” Jovita
Jovita mencengkeram erat tali tasnya, syarat dari Raymond seperti ujian akhir kelulusan, berat dan tak mudah.Meyakinkan Viola menerima wanita lain menjadi ibunya.“Om, maaf…” Jovita menelan ludah, menatap ragu pria matang di sampingnya. “Kita sama-sama tahu Vio itu keras kepala. Saya tidak yaki
“Argh….”Basah, dingin, dan lengket.Cairan kemerahan koktail buah merembes mengotori seragam katering Jovita. Matanya terpejam mencengkeram kuat nampan yang dia bawa menahan amarah.“Maaf! Sengaja,” cibir salah satu teman Jovita di kampus, meletakkan gelas kosong ke nampan Jovita dengan kasar. “Se







