LOGINTeriakan Joni berhasil memicu kehebohan.
Tetangga yang terbangun langsung berkerumun di depan pintu, menatap Raymond dengan pandangan curiga dan penuh amarah. “Dia mau memperkosa Jojo, Pak! Dia memaksa masuk dan memukuli saya!” fitnah Joni pura-pura kesakitan di lantai. “Itu tidak benar!” Jovita berteriak di sela tangis, mencoba berdiri di depan Raymond untuk melindunginya. “Om Raymond tidak seperti itu! Dia cuma mau nolong saya karena dipukuli Ayah! Tolong percaya pada saya!” Pembelaan Jovita justru semakin menimbulkan curiga, membuat warga yang sudah terprovokasi semakin emosi. Ditambah pakaian Jovita yang acak-acakan, asumsi liar menyebar. “Jangan-jangan mereka memang ada apa-apa. Buat apa orang kaya datang malam-malam ke tempat kumuh begini kalau bukan urusan syahwat?” celetuk seorang warga dari belakang. “Betul! Daripada mengotori kampung ini dan bikin sial, lebih baik nikahkan saja mereka sekarang!” seru warga lain yang langsung mendapat anggukan pembenaran. Mata Jovita membeliak lebar, jantungnya berpacu kencang. “Ini tidak seperti yang kalian pikirkan! Jangan fitnah kami!” Jovita panik. Ia tidak ingin menghancurkan hidup Raymond hanya karena kemalangan dirinya. Pembicaraan mereka sebelumnya jelas menunjukkan jika Raymond memiliki impian indah dengan perempuan lain, perempuan yang sepadan dengannya. Bukan ini yang diinginkan Joni. Dia hanya butuh uang. “Saya minta ganti….” “Cepat! Panggil Pak Ustaz!” Teriakan salah satu warga memotong ucapan Joni. Sementara itu Raymond masih terdiam, menatap kerumunan warga yang mulai terprovokasi. Pandangannya beralih kepada Jovita yang gemetar ketakutan. Dengan uang dan relasi, Raymond bisa saja menelepon pengacara atau orang-orang kepercayaannya untuk membubarkan massa dan pergi begitu saja. Tapi, risiko gadis di hadapannya akan semakin disiksa ayahnya yang kejam dan dikucilkan warga. Raymond memang memiliki impian indah bersama Karina. Tapi, situasi ini adalah masalah hidup mati bagi gadis malang di hadapannya. Raymond sadar, malam ini dia bisa menyelamatkan Jovita. Diawali dengan tarikan napas panjang, Raymond menegakkan berdirinya. “Saya akan menikahi Jojo.” Jovita menoleh dengan tatapan tidak percaya. “Om Raymond… Om tidak perlu berkorban sejauh ini.” Raymond menepuk pundak Jovita untuk menenangkan. Tapi tatap matanya tertuju pada Joni, penuh ancaman dan tantangan. Daripada memberi uang pada pemabuk itu, Raymond memilih mengambil risiko menikah dengan Jovita. Pernikahan dadakan ini hanya pernikahan siri yang tak tercatat secara hukum. “Kemasi semua barangmu, Jo! Setelah kita menikah, aku akan membawamu pergi dari tempat ini.” “Kau harus memberi mahar!” “Tentu, tapi untuk Jojo, bukan kamu.” “Tidak bisa! Kamu harus memberi saya….” Belum sempat Joni menyebut nominal yang dia inginkan, ustaz yang akan menikahkan Raymond dan Jovita datang. “Siapa yang harus saya nikahkan?” “Mereka berdua Pak Ustaz,” ucap salah satu warga sambil menunjuk Raymond dan Jovita bergantian. “Apakah syarat-syaratnya lengkap? Bagaimana dengan maharnya?” Raymond merogoh dompet kulitnya, menarik selembar uang berwarna merah, satu-satunya uang tunai yang tersisa, lalu meletakkannya di atas meja kayu. “Hanya ini uang tunai yang saya bawa saat ini. Saya harap ini sah sebagai mahar,” ucap Raymond datar, tanpa ekspresi. Di hadapan seorang ustaz setempat dan dua orang warga yang bertindak sebagai saksi, sebuah pernikahan siri dadakan terlaksana. Tanpa dekorasi mewah, tanpa senyum bahagia, dan juga tanpa cinta. Jovita duduk menunduk, meremas jemarinya yang gemetar. Di sampingnya, Raymond duduk dengan punggung tegak, melafalkan kalimat kabul dengan satu tarikan napas yang mantap dan tegas, seolah sedang menandatangani kontrak bisnis biasa. “Sah?” “Sah.” Kata itu meresmikan segalanya. Joni yang duduk di sudut ruangan menyaksikan prosesi itu dengan rahang mengeras. Matanya yang merah menatap selembar uang merah di atas meja dengan kilat murka. Harapannya untuk memeras pria kaya di hadapannya runtuh seketika. Raymond bangkit berdiri, merapikan jasnya yang sedikit kusut, lalu menatap Joni dengan sorot mata yang begitu mengintimidasi. “Jojo sudah sah menjadi istri saya. Segala hak dan tanggung jawab atas dirinya ada di tangan saya. Jadi…” Raymond menjeda kalimatnya, memberikan penekanan yang dingin. “Jika kamu mengganggu istri saya lagi, saya pastikan kamu membusuk di penjara.” Joni mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih. Amarah dan dendam membakar dadanya. Raymond benar-benar tidak memberi uang pada Joni. Parahnya lagi, pria kaya itu juga merenggut Jovita, satu-satunya sumber uang Joni selama ini. Malam itu juga, Raymond memboyong Jovita pergi dari kampung kumuh tersebut. Sepanjang perjalanan, keheningan yang mencekam menyelimuti kabin mobil. Jovita hanya bisa memandang keluar jendela, meratapi nasib hidupnya yang berubah total dalam hitungan jam. Mobil berhenti di sebuah kawasan elite di tengah kota. Raymond membawa Jovita ke sebuah bangunan megah bergaya modern minimalis, sebuah rumah kos eksklusif yang menjadi salah satu aset properti investasinya. Raymond membuka pintu salah satu kamar suite yang luas, lengkap dengan fasilitas mewah yang bahkan belum pernah Jovita bayangkan sebelumnya. Pria itu berbalik, menatap Jovita yang berdiri canggung di dekat pintu. “Mulai malam ini, kamu tinggal di sini. Semua fasilitas dan keamanan di sini sudah terjamin. Ayahmu tidak akan bisa masuk.” Jovita menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. “Om… kenapa Om harus sejauh ini? Pernikahan tadi… tidak perlu dilakukan. Bagaimana dengan Bu Karina?” Raymond melonggarkan dasinya, gurat lelah tercetak jelas di wajah matangnya. “Pernikahan tadi hanya nikah siri, Jo. Di mata hukum negara, kita tidak terikat. Aku bisa mengucap talak sewaktu-waktu.” Mendengar kata 'talak' yang diucapkan Raymond dengan begitu enteng, dada Jovita terasa berdenyut nyeri. Jovita mendongak, menatap langsung ke netra tajam pria berusia tiga puluh tujuh tahun itu. “Kalau begitu, Om bisa menalak saya saat ini juga. Saya tidak ingin menjadi beban, dan saya juga tidak ingin mengacaukan hidup Om.”Bi Siti terduduk lemas di tepi ranjang kamarnya. Tatapannya kosong mengarah ke lantai, sementara dadanya terasa sesak oleh himpitan rasa kecewa yang luar biasa berat.Air mata menetes membasahi pipinya yang mulai dihiasi keriput. Ia merasa seluruh wejangan dan peringatan yang ia sampaikan selama ini diabaikan begitu saja, bahkan seperti dianggap lelucon oleh Jovita.“Jojo...” Suara Bi Siti gemetar menahan tangis yang pecah.“Bibi sudah menganggap kamu seperti anak Bibi sendiri, tapi kenapa kamu malah berbuat seperti ini?”Bi Siti mengusap air matanya kasar, dadanya kian bergemuruh hebat.“Tuan Raymond juga... Bibi begitu menghormati Tuan. Tuan orang berpendidikan, orang terpandang... Tapi tega-teganya kalian berbuat tidak senonoh seperti itu?” Perempuan parih baya itu merasa kepercayaannya diinjak-injak begitu tega.“Duh Gusti... Selama ini Bibi malah ikut menyembunyikan mereka tanpa sadar. Bibi tidak tahu mereka ini statusnya apa, cuma kumpul kebo atau bagaimana... Kenapa Bibi harus
“Vio... Papa menghubungi kamu akhir-akhir ini?” Felisa mencoba memancing informasi tentang mantan suaminya.Di balik meja makan granit yang megah, Felisa duduk berhadapan dengan putri tunggalnya, sambil memoles mentega ke atas rotinya. Dia melirik Viola yang sibuk mengaduk serealnya.Felisa sebenarnya sudah tidak betah berlama-lama berada di rumah Raymond. Terlalu melelahkan baginya untuk terus bersandiwara pura-pura menjadi ibu yang penuh kasih di hadapan Viola.Di rumah mewah ini, Felisa hanya bisa menumpang makan dan tidur, sementara kebutuhan finansial pribadinya yang lain sama sekali tak terpenuhi.Sebagai wanita yang terbiasa hidup mewah, Felisa harus memutar otak mencari uang. Di dekat putrinya, ia tak bisa berkomunikasi dengan leluasa setiap kali ada ‘pelanggan’ atau klien yang menghubunginya. Ia tetap harus menjaga citra sebagai ibu yang baik di mata Viola.“Iya, Ma.” Viola mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangan dari mangkuknya. “Papa lagi di Singapura ada urusan bisnis
“Kamu suka?”Di atas ranjang yang masih berantakan, Raymond menopang tubunya dengan satu tangan, menatap wajah Jovita yang merona hangat di sampingnya. Pria itu menyunggingkan senyum lembut yang hanya dia berikan untuk orang yang dia sayang.Jovita tidak segera menjawab, masih tertegun. Matanya menatap kotak perhiasan kecil berbahan beludru hitam yang kini terbuka di atas pangkuannya. Di dalamnya, sebuah cincin berlian berkilau begitu indah menagkap pendar cahaya lampu kamar.“Bagus sekali, Om...” Akhirnya Jovita bersuara, lirih hampir berbisik karena terpukau. “Pasti mahal banget, ya?”Raymond terkekeh pelan. “Sangat pantas untukmu.”Dengan gerakan perlahan dan lembut, Raymond mengambil cincin itu dari kotaknya, lalu menyusupkan lingkarannya ke jari manis tangan kanan Jovita. Cincin itu terpasang sangat pas, seolah memang diciptakan khusus untuk jemari lentik sang istri.Raymond mengangkat tangan Jovita, lalu melabuhkan sebuah kecupan hangat dan lama di punggung tangannya.Jovita men
Raymond terlihat segar dengan kaus kasual dan celana santai, melangkah turun menuju area dapur. Suara langkah kakinya menyapa Bi Siti yang sedang sibuk merapikan meja dapur.“Bi, sarapan sudah siap?”Bi Siti yang sedang membelakangi meja langsung tersentak kaget. Perempuan paruh baya itu membalikkan badan dengan mata membelalak, memegang dadanya yang terkejut.“Eh, Tuan Raymond!” Bi Siti tampak heran, karena dia tidak mengetahui kedatangan Raymond. “Kapan Tuan datang? Perasaan sampai malam belum ada.”“Tadi malam, Bi,” jawab Raymond santai sambil menarik salah satu kursi di meja makan.Bi Siti mengerutkan kening, mencoba mengeledah ingatannya.“Lho, kok Jojo nggak ada ngabari Bibi ya kalau Tuan sudah pulang? Mana ini sudah mau siang, malah belum turun-turun juga...”Raymond berdehem pelan untuk menutupi senyum tipis yang nyaris terukir di bibirnya.“Mungkin capek, Bi. Tadi malam dia lembur mengerjakan tugas sampai larut sekali,” ujar Raymond membela istri kecilnya dengan nada tenang d
Dengan perlahan, Raymond melepaskan ikatan tubuhnya dari sang istri. Jovita sempat melenguh pelan karena rasa kehilangan kehangatan, namun dengan sigap Raymond segera menariknya kembali ke dalam dekapan. Pria itu membalikkan tubuhnya sehingga kepala Jovita bersandar nyaman di atas dada bidangnya.Mereka berbaring dalam keheningan yang intim dan menenangkan selama beberapa saat. Raymond mengusap punggung mulus Jovita dengan gerakan melingkar yang lembut, sesekali mendaratkan kecupan hangat di pelipis, pipi, dan bibir istrinya. Jovita merasa begitu aman, hangat, dan terlindungi berada di dalam pelukan kokoh tersebut.Namun, usapan lembut itu perlahan mengalami perubahan. Jemari Raymond yang semula membelai punggung turun menuju pinggul Jovita, meremasnya halus. Jovita dapat merasakan gelombang hasrat suaminya yang kembali menyala dan mengeras di bawah perutnya.“Om...” gumam Jovita setengah protes, setengah menggoda.“Kalau dekat kamu otomatis begini,” bisik Raymond serak di telinganya.
Dengan napas yang mulai memburu, Raymond mengangkat tubuh Jovita dengan sangat mudah. Kedua tangan besarnya menopang tubuh istrinya yang ramping, sementara kaki Jovita refleks melingkar di pinggang tegas Raymond.Bibir mereka bertemu dalam ciuman yang liar dan intens, lidah saling menari, mengecap, dan menuntut lebih.Jovita mengerang pelan di dalam pagutan Raymond, tangannya mencengkeram bahu pria itu seolah takut terjatuh, meski ia tahu Raymond tak akan melepaskannya.Tanpa memutus ciuman, Raymond melangkah menuju ranjang king-size di kamar mereka. Dengan lembut, ia merebahkan tubuh Jovita.Tubuh mereka tak pernah terpisah, Raymond langsung menindih, bibirnya masih melumat bibir Jovita yang sudah membengkak karena ciuman panas tadi.Tangan Raymond mulai bergerak. Dari pinggang, naik ke punggung, lalu merayap ke depan. Ia meremas dada Jovita dengan penuh nafsu, jempolnya menyapu puncak yang sudah mengeras. Jovita menggeliat, napasnya tersengal.“Om... ah...”“Kamu milikku malam ini,”
Pagi belum sepenuhnya pecah kala Jovita berusaha menggeser lengan kekar yang melingkari pinggangnya. Tubuhnya terasa begitu lemas dan remuk setelah semalaman penuh menjadi pelampiasan gairah liar Raymond yang tak terbendung.Begitu Jovita bergerak sedikit saja untuk turun dari ranjang, lengan tegap
Dengan gerakan yang terburu-buru Raymond melepas tanktop Jovita. Bibirnya turun, menciumi leher, tulang selangka, lalu ke gundukan di dada yang kencang. Ia menghisap puncaknya dengan rakus hingga membuat Jovita menggeliat dan mendesah pelan.Tangan Raymond terus turun, menyusup ke balik hot pants h
“Bagaimana kalau kita coba berpikir sedikit lebih dewasa... dan mengesampingkan ego masing-masing?”Jovita memindahkan ponselnya ke telinga kiri, lalu meringkuk di atas tempat tidur dengan lutut ditekuk.Di seberang saluran telepon, suara Viola terdengar sangat nyaring, memecah keheningan malam kam
“Argh….”Basah, dingin, dan lengket.Cairan kemerahan koktail buah merembes mengotori seragam katering Jovita. Matanya terpejam mencengkeram kuat nampan yang dia bawa menahan amarah.“Maaf! Sengaja,” cibir salah satu teman Jovita di kampus, meletakkan gelas kosong ke nampan Jovita dengan kasar. “Se







