Share

3. Terpaksa Nikah

Author: Henny Djayadi
last update publish date: 2026-06-06 08:49:54

Teriakan Joni berhasil memicu kehebohan.

Tetangga yang terbangun langsung berkerumun di depan pintu, menatap Raymond dengan pandangan curiga dan penuh amarah.

​“Dia mau memperkosa Jojo, Pak! Dia memaksa masuk dan memukuli saya!” fitnah Joni pura-pura kesakitan di lantai.

​“Itu tidak benar!” Jovita berteriak di sela tangis, mencoba berdiri di depan Raymond untuk melindunginya.

“Om Raymond tidak seperti itu! Dia cuma mau nolong saya karena dipukuli Ayah! Tolong percaya pada saya!”

Pembelaan Jovita justru semakin menimbulkan curiga, membuat warga yang sudah terprovokasi semakin emosi.

Ditambah pakaian Jovita yang acak-acakan, asumsi liar menyebar.

​“Jangan-jangan mereka memang ada apa-apa. Buat apa orang kaya datang malam-malam ke tempat kumuh begini kalau bukan urusan syahwat?” celetuk seorang warga dari belakang.

​“Betul! Daripada mengotori kampung ini dan bikin sial, lebih baik nikahkan saja mereka sekarang!” seru warga lain yang langsung mendapat anggukan pembenaran.

​Mata Jovita membeliak lebar, jantungnya berpacu kencang.

“Ini tidak seperti yang kalian pikirkan! Jangan fitnah kami!”

Jovita panik. Ia tidak ingin menghancurkan hidup Raymond hanya karena kemalangan dirinya.

Pembicaraan mereka sebelumnya jelas menunjukkan jika Raymond memiliki impian indah dengan perempuan lain, perempuan yang sepadan dengannya.

Bukan ini yang diinginkan Joni. Dia hanya butuh uang.

“Saya minta ganti….”

“Cepat! Panggil Pak Ustaz!” Teriakan salah satu warga memotong ucapan Joni.

​Sementara itu Raymond masih terdiam, menatap kerumunan warga yang mulai terprovokasi. Pandangannya beralih kepada Jovita yang gemetar ketakutan.

Dengan uang dan relasi, Raymond bisa saja menelepon pengacara atau orang-orang kepercayaannya untuk membubarkan massa dan pergi begitu saja. Tapi, risiko gadis di hadapannya akan semakin disiksa ayahnya yang kejam dan dikucilkan warga.

Raymond memang memiliki impian indah bersama Karina. Tapi, situasi ini adalah masalah hidup mati bagi gadis malang di hadapannya. Raymond sadar, malam ini dia bisa menyelamatkan Jovita.

Diawali dengan tarikan napas panjang, Raymond menegakkan berdirinya.

​“Saya akan menikahi Jojo.”

​

Jovita menoleh dengan tatapan tidak percaya.

“Om Raymond… Om tidak perlu berkorban sejauh ini.”

Raymond menepuk pundak Jovita untuk menenangkan. Tapi tatap matanya tertuju pada Joni, penuh ancaman dan tantangan.

Daripada memberi uang pada pemabuk itu, Raymond memilih mengambil risiko menikah dengan Jovita. Pernikahan dadakan ini hanya pernikahan siri yang tak tercatat secara hukum.

“Kemasi semua barangmu, Jo! Setelah kita menikah, aku akan membawamu pergi dari tempat ini.”

“Kau harus memberi mahar!”

“Tentu, tapi untuk Jojo, bukan kamu.”

“Tidak bisa! Kamu harus memberi saya….”

Belum sempat Joni menyebut nominal yang dia inginkan, ustaz yang akan menikahkan Raymond dan Jovita datang.

“Siapa yang harus saya nikahkan?”

“Mereka berdua Pak Ustaz,” ucap salah satu warga sambil menunjuk Raymond dan Jovita bergantian.

​“Apakah syarat-syaratnya lengkap? Bagaimana dengan maharnya?”

​Raymond merogoh dompet kulitnya, menarik selembar uang berwarna merah, satu-satunya uang tunai yang tersisa, lalu meletakkannya di atas meja kayu.

​“Hanya ini uang tunai yang saya bawa saat ini. Saya harap ini sah sebagai mahar,” ucap Raymond datar, tanpa ekspresi.

Di hadapan seorang ustaz setempat dan dua orang warga yang bertindak sebagai saksi, sebuah pernikahan siri dadakan terlaksana.

Tanpa dekorasi mewah, tanpa senyum bahagia, dan juga tanpa cinta.

​Jovita duduk menunduk, meremas jemarinya yang gemetar. Di sampingnya, Raymond duduk dengan punggung tegak, melafalkan kalimat kabul dengan satu tarikan napas yang mantap dan tegas, seolah sedang menandatangani kontrak bisnis biasa.

​“Sah?”

​

“Sah.”

​Kata itu meresmikan segalanya.

​Joni yang duduk di sudut ruangan menyaksikan prosesi itu dengan rahang mengeras. Matanya yang merah menatap selembar uang merah di atas meja dengan kilat murka. Harapannya untuk memeras pria kaya di hadapannya runtuh seketika.

​Raymond bangkit berdiri, merapikan jasnya yang sedikit kusut, lalu menatap Joni dengan sorot mata yang begitu mengintimidasi.

“Jojo sudah sah menjadi istri saya. Segala hak dan tanggung jawab atas dirinya ada di tangan saya. Jadi…” Raymond menjeda kalimatnya, memberikan penekanan yang dingin.

“Jika kamu mengganggu istri saya lagi, saya pastikan kamu membusuk di penjara.”

​Joni mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih. Amarah dan dendam membakar dadanya.

Raymond benar-benar tidak memberi uang pada Joni. Parahnya lagi, pria kaya itu juga merenggut Jovita, satu-satunya sumber uang Joni selama ini.

​Malam itu juga, Raymond memboyong Jovita pergi dari kampung kumuh tersebut.

Sepanjang perjalanan, keheningan yang mencekam menyelimuti kabin mobil. Jovita hanya bisa memandang keluar jendela, meratapi nasib hidupnya yang berubah total dalam hitungan jam.

​Mobil berhenti di sebuah kawasan elite di tengah kota. Raymond membawa Jovita ke sebuah bangunan megah bergaya modern minimalis, sebuah rumah kos eksklusif yang menjadi salah satu aset properti investasinya.

​Raymond membuka pintu salah satu kamar suite yang luas, lengkap dengan fasilitas mewah yang bahkan belum pernah Jovita bayangkan sebelumnya.

​Pria itu berbalik, menatap Jovita yang berdiri canggung di dekat pintu.

“Mulai malam ini, kamu tinggal di sini. Semua fasilitas dan keamanan di sini sudah terjamin. Ayahmu tidak akan bisa masuk.”

​Jovita menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya.

“Om… kenapa Om harus sejauh ini? Pernikahan tadi… tidak perlu dilakukan. Bagaimana dengan Bu Karina?”

​Raymond melonggarkan dasinya, gurat lelah tercetak jelas di wajah matangnya.

“Pernikahan tadi hanya nikah siri, Jo. Di mata hukum negara, kita tidak terikat. Aku bisa mengucap talak sewaktu-waktu.”

​Mendengar kata 'talak' yang diucapkan Raymond dengan begitu enteng, dada Jovita terasa berdenyut nyeri.

​Jovita mendongak, menatap langsung ke netra tajam pria berusia tiga puluh tujuh tahun itu.

“Kalau begitu, Om bisa menalak saya saat ini juga. Saya tidak ingin menjadi beban, dan saya juga tidak ingin mengacaukan hidup Om.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Riska
sedih bgt jadi jojo pyk ortu pemabuk, malah difitnah pula ya udah terpaksa nikah dari pd tinggal dgn ortu gila dan pemabuk
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Istri Rahasia Om Raymond   344. Apa Dok?

    Di ruang perawatan yang sunyi, Viola perlahan mengerjap-kerjap menyesuaikan pandangannya dengan cahaya ruangan. Di sisi ranjang, Roberto duduk kaku sambil melipat tangan di dada.Melihat kakeknya berada di sana, Viola mengumpulkan sisa-sisa tenaganya. Suaranya terdengar sangat lirih, hampir berupa bisikan.“Opa...”Roberto menoleh sekilas, menatap cucunya dengan sorot mata sedingin es tanpa ekspresi. “Ada apa?”Viola menelan ludahnya yang terasa pahit, lalu menatap lurus ke arah Roberto dengan mata berkaca-kaca penuh permohonan.“Opa... mau bantu aku?” tanya Viola parau.Roberto menyipitkan mata, menatap cucunya dengan sorot dingin penuh selidik. “Apa?”“Kalau aku sudah sembuh nanti... aku mau ke luar negeri.”“Kenapa tiba-tiba mau ke luar negeri? Capek kerja karena harus merintis karier dari nol?”Viola menggeleng lemah di atas bantal, menahan nyeri di dadanya. “Sebenarnya... rencana itu sudah ada dari dulu. Mau langsung lanjut studi S2.”Tentu saja Viola menyembunyikan alasan sebena

  • Istri Rahasia Om Raymond   343. Kepedulian Roberto

    Pagi baru saja merayap naik, sinar matahari menembus kaca jendela ruang VIP rumah sakit.Pintu kamar berderit pelan saat Roberto melangkah masuk dengan tongkat penyangganya. Sosok tua itu menyapu pandangan ke dalam ruangan, hingga matanya jatuh pada Jovita yang terlelap di atas ranjang tambahan lipat, posisi tidur wanita itu tampak meringkuk kaku, teramat kurang nyaman untuk ukuran seorang yang tengah mengandung besar.Melihat putranya yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil di leher, emosi Roberto langsung tersulut tanpa aba-aba.“Jadi suami, tanggung jawab sedikit, apa susahnya?” sembur Roberto dengan suara serak namun penuh tekanan.Raymond tertegun di tempatnya, pagi-pagi sudah mendapat makian yang tak jelas arahnya. Urat-urat di lehernya serta-merta mengeras, dorongan untuk membalas dengan mengungkap masa lalu sang papa membuncah di ujung lidah.Tapi, sebelum Raymond sempat membuka mulut untuk meledakkan amarahnya, Roberto kembali menyambung ketus.“Istrimu sed

  • Istri Rahasia Om Raymond   342. Istri Pilihan

    “Tapi di matanya, yang dia tahu dan panggil papa selama ini adalah Raymond, bukan aku!” “Itu semua wajar, karena selama ini dia hidup bersama Raymond. Tapi kalau sudah tiba waktunya... kita bongkar semua rahasia ini di hadapan Viola.” Sebuah rencana busuk terpatri jelas di benak wanita itu. “Kita ambil dia dari Raymond. Jadikan dia satu-satunya putri mahkota yang tunduk di bawah kendalimu sebagai ayah kandung yang sebenarnya.” Elleonor tersenyum dingin, sorot matanya memancarkan ambisi gelap yang tak pernah padam. “Asal kau tahu, tidak mudah meyakinkan Felisa untuk mempertahankan kandungannya. Waktu itu dia hampir mengugurkan kandungannya.” Elleonor menghela napas menjeda kalimatnya. “Kita tinggal selangkah lagi, jangan buat penantian panjang kita berakhir sia-sia.” Julian mendengus lelah, mengusap wajahnya dengan kasar. Pertanyaan penuh keputusasaan meluncur begitu saja dari bibirnya

  • Istri Rahasia Om Raymond   341. Anak Satu-satunya

    "Pa, suruh Mama pergi! Aku jijik... Aku nggak mau lihat Mama lagi!" racaunya parau, napasnya memburu tak beraturan di tengah tangis yang memecah dada.Viola terus memohon. Jemarinya yang bengkak dengan jarum infus tertancap di punggung tangan mencengkeram erat lengan sang dokter, mencakar batas kesadarannya sendiri."Dokter, jangan biarkan Mama masuk!”Bola mata gadis itu berputar liar, menangkap sosok Jovita yang berdiri di samping Raymong. “Jojo, tolong aku, Jo... Temani aku, jangan biarkan Mama mendekat."Di sisi ranjang, Jovita berdiri dalam dilema yang menyesakkan. Ia bergeming, tak menyangka Viola justru memanggilnya dan menolak mamanya. Perempuan yang sedang hamil kembar itu diliputi rasa tidak nyaman, bagaimana pun juga, Felisa adalah ibu kandung yang melahirkan Viola.Melihat trauma psikologis yang terpampang di depan matanya, Jovita hanya mampu mengelus kaki Viola pelan, menyalurkan kehangatan semu yang diharap mampu meredakan gemetar di tubuh gadis itu.“Tenang Vio… semua a

  • Istri Rahasia Om Raymond   340. Diusir

    Jam sudah menunjuk pukul empat sore. Felisa menatapnya dengan debar jantung yang tak karuan.Sudah waktunya Felisa bersiap menggantikan shift jaga di rumah sakit. Ada ketakutan luar biasa di dalam dadanya jika nanti Viola terbangun dan menolak kehadiranna.Tapi mau mundur ada rasa sungkan. Sekalipun ia tahu Raymond tidak akan marah atau mengungkit, rasa tidak enak pada Jovita mencengkeram hatinya lebih kuat.Bagaimana bisa ia sebagai ibu kandung berleha-leha, sementara Jovita yang selama ini telah ia sakiti dengan begitu keji, justru dengan tulus meluangkan waktu merawat putrinya meski dalam kondisi hamil?***Di ruang VIP rumah sakit, suasana sore menjelang senja terasa lebih tenang. Di sisi ranjang, Raymond dan Jovita masih bercakap-cakap pelan sambil menunggu kedatangan Felisa.“Sudah jam segini Feli belum datang,” ucap Raymond yang terlihat gelisah dan berulang kali menatap pintu.Jovita melirik sinis kea rah suaminya. “Oh kangen mantan ternyata,” celetuknya sambil mengalihkan pan

  • Istri Rahasia Om Raymond   339. Sepenggal Masa Lalu

    Tatapan Raymond kembali jatuh pada sosok Viola yang terbaring tenang di balik selimut putih. Selama ini, ia meyakini bahwa kemiripan fisik Viola dengannya adalah bukti dari ikatan darah di antara mereka. Keyakinan Raymond memang tidak sepenuhnya salah, garis genetik itu memang ada di antara mereka, hanya saja bukan dari benihnya asal garis itu tercipta. “Aku akan menyelidiki ini sampai tuntas,” gumam Raymond dengan rahang mengeras. Jovita merapatkan posisi duduknya, menyusun logika dingin di tengah kekalutan. “Kita bisa mulai dari memetakan motif siapa yang paling kuat untuk menjebak Om Ray saat itu. Siapa yang paling diuntungkan dengan keadaan ini.” Raymond mengangguk, membenarkan logika istrinya. “Kalau itu Pak Roberto, bukankah dia punya pengalaman menyimbunyikan istri simpanan? Jadi daripada membuat orang lain bertanggung jawab, aku yakin dia akan menggunkan ca

  • Istri Rahasia Om Raymond   1. Upik Abu di Tengah Pesta

    “Argh….”Basah, dingin, dan lengket.Cairan kemerahan koktail buah merembes mengotori seragam katering Jovita. Matanya terpejam mencengkeram kuat nampan yang dia bawa menahan amarah.“Maaf! Sengaja,” cibir salah satu teman Jovita di kampus, meletakkan gelas kosong ke nampan Jovita dengan kasar. “Se

  • Istri Rahasia Om Raymond   7. Miliki Aku, Om!

    Tak ada kelembutan dalam ciuman Raymond. Penuh kelaparan yang selama bertahun-tahun terpendam. Tangan kekar Raymond mencengkeram pinggang Jovita. Mengunci tubuh ringkih gadis itu di antara dada bidangnya dengan meja pantry hingga tidak bisa ke mana-mana.“Jojo…”Raymond menarik tautan bibir mereka

  • Istri Rahasia Om Raymond   6. Hilang Kendali

    Saat Raymond melangkah masuk, keadaan rumah keluarga Chandra sudah jauh lebih tenang. Pria itu melihat sosok Jovita baru saja turun dari lantai dua sambil membawa tas kainnya dan sebuah tumbler pemberian Viola.​Raymond menghentikan langkah. "Jojo? Belum pulang?"​Jovita sedikit tersentak, lalu me

  • Istri Rahasia Om Raymond   5. Tumbler Maut

    “Papa jahat!”​Pekikan nyaring Viola seketika memutus tautan bibir Raymond dan Karina. Kedua orang dewasa itu menoleh terkejut, mendapati Viola berdiri dengan dada naik-turun menahan amarah, sementara Jovita mematung di belakangnya dengan wajah pias.​Raymond segera melepaskan dekapannya pada Kari

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status