로그인Jovita mencengkeram erat tali tasnya, syarat dari Raymond seperti ujian akhir kelulusan, berat dan tak mudah.
Meyakinkan Viola menerima wanita lain menjadi ibunya. “Om, maaf…” Jovita menelan ludah, menatap ragu pria matang di sampingnya. “Kita sama-sama tahu Vio itu keras kepala. Saya tidak yakin dia mau mendengarkan saya jika ini menyangkut Bu Karina.” Raymond tidak membantah. Jemarinya kembali mengetuk setir. Tatap matanya lurus menyembunyikan gurat frustrasi dengan rapi dibalik wajah tenangnya. “Aku tahu. Itu sebabnya, imbalan yang kutawarkan tidak sedikit.” Jovita bimbang. Uang kuliahnya harus lunas minggu depan, tapi ia juga sadar risiko tugas ini. Jika dia gagal, persahabatan dengan Viola taruhannya. Mengumpulkan keberanian yang tersisa, Jovita menarik napas dalam. “Saya… saya akan berusaha bicara dengan Vio, Om,” ucap Jovita ragu. “Tapi saya tidak jamin dia akan setuju. Jadi… bolehkah saya meminta tugas lagi?” Raymond menoleh, sebelah alisnya terangkat. “Maksudnya?” “Saya benar-benar butuh uang, Om. Tolong beri saya kesempatan untuk magang biro arsitektur milik Om,” pinta Jovita cepat sebelum nyalinya menciut. “Saya butuh penghasilan, saya hanya ingin bisa bertahan kuliah sampai lulus.” Satu sudut bibir Raymond terangkat, senyuman samarnya hampir tak tampak. Pria itu mengagumi harga diri Jovita di tengah kemiskinan yang mencekiknya. “Baik. Besok datang ke kantorku jam sembilan pagi. Temui sekretarisku.” “Terima kasih, Om.” Senyum lega terbit di wajah Jovita. “Saya janji akan berusaha keras meyakinkan Vio,” sambung Jovita dengan semangat. Sebelum Jovita sempat meraih tuas pintu, perhatian Raymond teralih ke luar jendela. Di bawah remang lampu jalan di mulut gang, tiga pemuda tanggung bertengger di atas motor. Mereka terbahak-bahak sembari bergiliran menenggak cairan dari botol kaca. Atmosfer berbahaya terasa pekat, bahkan dari balik kaca mobil mewah yang tertutup rapat. Ada kilat cemas di mata Raymond. Ia pernah sekali mendatangi tempat ini, saat mengantar Viola memberikan pakaian bekas untuk Jovita. Dan baginya, tempat ini sangat tidak layak. “Kamu betah tinggal di lingkungan seperti ini?” Jovita tersenyum kecut sambil mengangguk terpaksa. Betah atau tidak, itu bukan pilihan. Memiliki tempat berteduh sudah merupakan keberuntungan baginya. “Masuklah!” ujar Raymond tegas, terdengar dingin dan memerintah. “Aku akan menunggu di sini. Sampai rumah, langsung hubungi aku. Jika dalam lima belas menit aku tidak menerima kabar, aku yang akan masuk ke dalam.” Jantung Jovita berdesir aneh. Sejak ibunya pergi, tidak ada satu orang pun di dunia ini yang peduli apakah dia pulang dengan selamat atau tidak. Perhatian Raymond terasa asing, tapi menghangatkan hati Jovita yang hampa. “Baik, Om.” Jovita bergegas turun, berjalan cepat membelah gang sempit, mengabaikan siulan nakal dan godaan dari para pemuda mabuk di ujung jalan. Begitu membuka pintu kontrakan yang reyot, bau apek bercampur alkohol yang menyengat langsung menyergap indra penciuman Jovita. “Mana uangnya?” Bentakan kasar menyambut kepulangan Jovita. Joni berdiri dengan pakaian kusut dan mata merah. Tanpa aba-aba merangsek maju dan merenggut paksa tas Jovita. “Jangan, Yah! Tambah upah hari ini belum cukup bayar kuliah!” Jovita menahan tali tasnya kuat-kuat. “Buat apa kuliah? Buang-buang uang saja!” Plak! Tamparan keras mendarat telak di pipi Jovita, hingga sudut bibirnya pecah, mengalir darah segar. Tak ada penyesalan, Joni justru menjambak rambut Jovita dengan kasar, memaksa wajah putrinya mendongak. “Berikan uangnya sekarang!” “Ampun, Yah… sakit!” Jovita menangis, berusaha melepas cengkeraman kasar di kepalanya. Di saku celananya, ponsel Jovita bergetar. Jovita tahu itu dari Raymond. Lima belas menit berlalu, tapi dia belum sempat menyentuh ponselnya. “Mana uangnya, Jo?” Karena kalah fisik, tas Jovita akhirnya terlepas. Kala Joni hendak pergi membawa ransel itu dengan sisa tenaga yang ada, Jovita merangkak dan memeluk erat kaki ayahnya. “Balikin, Yah!” Tatap mata Jovita sempat tertuju ke kamarnya yang sudah berantakan. Beruntung, ia sudah menyembunyikan sisa tabungannya di tempat lain. “Kalau kuliah Jojo beres, Jojo janji akan cari uang buat bayar utang Ayah.” “Mau bayar pakai apa? Hah? Jual diri?” Joni yang berada dalam pengaruh alkohol langsung menghentakkan kakinya, menginjak punggung tangan Jovita yang mencengkeram celananya. Brak! Pintu kontrakan berdentum keras, setelah ditendang dengan kekuatan penuh dari luar. Raymond berdiri di ambang pintu, tatap matanya dingin mengintimidasi. “Hentikan!” Suara Raymond bergetar menahan amarah yang siap meledak. Benak Raymond langsung terbang kepada putri tinggalnya. Bagaimana jika nasib buruk ini menimpa Viola? Joni tertegun, sedetik kemudian seringai serakah yang menjijikkan terbit di wajahnya. “Oh… kamu sudah menjual diri pada laki-laki ini, Jo?” Joni terkekeh sinis, dengan tangan kembali menjambak Jovita. Air mata Jovita berderaian, ia meringis kesakitan sambil menggeleng. Entah menyangkal ucapan ayahnya atau memberi peringatan kepada Raymond agar tidak terseret dalam masalah keluarganya. “Beri aku uang dan kamu boleh menikmati Jojo sepuasnya malam ini!” ucap Joni tanpa urat malu. Tangan Raymond mengepal hingga buku-buku jarinya memutih, rahangnya pun mengeras. “Aku tidak akan memberi sepeser pun kepada bajingan sepertimu.” Tanpa berpikir panjang, Raymond maju mencengkeram pergelangan tangan Joni yang menjambak Jovita, lalu menghempaskan dengan sentakan kuat hingga pemabuk itu terjungkal. Raymond segera membantu Jovita bangkit dan menyeka darah di ujung bibir gadis itu menggunakan saputangannya. “Kamu tidak apa-apa, Jo?” Jovita tidak sanggup bersuara, ia hanya bisa terisak hebat sambil menggelengkan kepala dalam pelukan perlindungan Raymond. Joni merangkak bangun dengan mata melotot. Dengan amarah dan perasaan terhina, pria itu mulai memukul dinding seng rumahnya, berteriak histeris sekencang mungkin. “Maling! Tolong! Anakku diperkosa! Tolong!”Duduk bersandar di sofa empuk, Raymond dan Jovita menghabiskan sore pertama mereka di apartemen baru.Cahaya senja menembus kaca besar, membingkai momen hangat keduanya. Jovita rebahan santai dengan kepala bersandar nyaman di dada bidang Raymond, sementara jemari kekar pria itu tak henti mengelus dan sesekali mendaratkan kecupan lembut di puncak kepala sang istri.Di tengah suasana yang begitu tenang, Jovita teringat kejadian tadi pagi di dapur. Ia mendongak sedikit, lalu mulai bercerita tentang resep jamu khusus dari Bi Siti.“Tahu nggak, Om? Masak Bi Siti memberi jamu biar aku cepet hamil. Semangat banget dia.”Dada Raymond bergetar, tawa renyahnya pecah mendengar cerita itu.“Sebenarnya...” Raymond menunduk menatap Jovita, suaranya berubah lebih hangat dan dalam, “...aku memang ingin segera punya anak darimu, Jo. Tapi aku tidak akan memaksakan itu. Semua keputusan ada di tanganmu.”Jovita menghela napas pelan, mengusap lembut kemeja Raymond.“Jojo juga mau, Om.”Jovita sadar tugasn
Karina berdiri mematung di depan dinding kaca besar di ruang kerjanya, menatap lurus pemandangan pencakar langit kota yang membisu. Pandangannya kosong, tenggelam dalam pusaran ragu yang mulai menggerogoti logikanya.Sebenarnya, jauh dalam lubuk hatinya, Karina tidak yakin Raymond memiliki hubungan spesial dengan Jovita. Gadis itu terlalu muda, sangat bertolak belakang dengan semua prinsip yang pernah Raymond tegaskan padanya.“Lihat gadis-gadis itu! Kalau tahu kamu duda, pasti mereka lari ke arahmu sambil berteriak nikahi aku, Om.”Raymond hanya tertawa mendengar keluhan Karina yang tidak terima saat banyak gadis yang terus memperhatikan kekasihnya. Meski sudah tidak muda lagi, tapi pesona Raymond seolah tak pernah memudar.“Mereka masih terlalu muda, belum tahu pahitnya hidup. Mereka pikir hidup hanya senang-senang saja.”“Apalagi kalau kesampaian dapat om-om matang kaya kamu.”“Kalau cemburu malah tambah cantik,” goda Raymond sambil menoel hidung Karina.Sedekat dan sehangat itu hu
Raymond melangkah pelan memasuki kamar dan mendapati Jovita masih meringkuk di balik selimut tebal.Sejak Raymond tiba di rumah tadi malam, Jovita memang sudah meringkuk kesakitan seperti ini.Keinginan Raymond untuk melepas lelah dan meluapkan rasa rindu pada sang istri terpaksa harus ia urungkan, semalam ia hanya bisa berbaring miring, memeluk erat tubuh Jovita sembari memberikan kehangatan hingga mereka tertidur.Raymond duduk di tepi ranjang. “Masih sakit, Jo?” tanyanya lembut.Jovita mendongak sedikit dari balik bantal, lalu mengangguk pelan dengan raut wajah lesu.Raymond tersenyum maklum, tangan kekarnya terulur mengusap lembut rambut Jovita yang terurai.“Nanti siang, kalau kondisimu sudah baikan, aku jemput ya. Kita pergi lihat calon apartemen kita.”“Hmm...” Jovita hanya bergumam pelan mengiyakan.Tak ingin mengganggu waktu istirahat istrinya lebih lama, Raymond segera bangkit dan bersiap-siap menuju kantor.Meski sudah menikah, Raymond tetap mandiri seperti dulu. Tak pernah
“Ngapain, Mas?” Pak Budi menegur tegas sembari menghampiri pria berjaket gelap yang sudah beberapa hari ini terlihat mondar-mandir di depan area kos Maximilian Residence. Pria itu sempat tersentak kaget, namun dengan cepat berusaha memasang raut wajah polos. “Mau cari kos buat adik saya, Pak,” jawabnya meyakinkan. Pak Budi menatapnya penuh curiga dari atas sampai bawah. “Adiknya cewek?” “Iya, Pak, cewek.” Pak Budi kemudian menjelaskan dengan nada datar, “Tempat ini memang kos khusus cewek, Mas. Keamanannya ketat.” Pria misterius itu memiringkan kepalanya sedikit, berpura-pura bingung lalu melancarkan aksi menyelidikinya. “Tapi... saya sering lihat ada laki-laki yang keluar masuk tempat itu, Pak. Yang pakai SUV hitam itu.” “Itu pemiliknya, Mas,” jawab Pak Budi tanpa ragu. “Lho, katanya khusus cewek? Nggak bahaya pemilik cowok yang masih muda seperti itu tinggal di dalam?” sahut pria itu cepat, mencoba memancing informasi lebih dalam. Pak Budi terkekeh pelan, lalu menjawab san
@Raymond Chandra[Kamu pulang duluan pakai taksi][Aku mampir ke rumah dulu][Mau kasih hadiah buat Vio]@Jovita Anindita[OK][Om nginap di sana]Om Ray:[Tentu saja tidak][Tunggu aku pulang][Jangan lupa pakai baju yang aku belikan dari Singapura]Jovita menghembuskan napas panjang, seketika teringat wujud baju tidur yang dibawakan Raymond dari Singapura. Wajahnya merona merah sekaligus dongkol.“Jauh-jauh ke Singapura, masa yang dibeli baju kurang bahan begitu... mana tipis banget lagi! Bikin mriang saja,” gerutu Jovita dalam hati, mengetuk-ngetuk layarnya dengan gemas sebelum mengunci ponsel.Jovita bergegas merapikan barang-barangnya di meja kerja. Ia memandang sekeliling ruangan untuk terakhir kalinya, mematri kenangan manis dan ilmu yang didapatkan di sana, lalu melangkah keluar gedung untuk memesan taksi online.Sebagai anak magang, hari ini adalah hari terakhirnya menjejakkan kaki di kantor Vastu Chandra.Perjalanan pulang menuju Maximilian Residence terbilang lancar meski s
Dylan terdiam cukup lama, menunduk, menatap cangkir kopi di hadapannya yang mulai memutih akibat kepulan uap yang menghilang.Pernyataan terakhir Raymond memukul kesadarannya cukup telak. Sebagai pria yang tumbuh di lingkungan keluarga elite, Dylan tahu betul betapa kejamnya dunia mereka jika sebuah rahasia atau kelemahan terekspos sebelum waktunya.Dengan segala yang dimilikinya, Raymond akan tetap bertahan oleh badai skandal. Tapi tidak akan sama dengan Jovita. Posisinya sangat lemah, bisa saja dia menjadi bahan perundungan yang menyudutkannya.Sebutan-sebutan yang merendahkan bisa saja langsung melekat pada diri Jovita. Pelakor, perempuan simpanan, atau lebih kasar lagi, pelacur.Dylan menghembuskan napas panjang, mencoba menekan seluruh ego dan gelombang kekecewaan yang masih bergolak di dadanya.“Saya paham...” ujar Dylan pelan, nadanya berubah jauh lebih tenang walau garis wajahnya masih menyiarkan luka yang tak sanggup ia sembunyikan.Pemuda itu mendongak, menatap lurus mata Ra
Pagi belum sepenuhnya pecah kala Jovita berusaha menggeser lengan kekar yang melingkari pinggangnya. Tubuhnya terasa begitu lemas dan remuk setelah semalaman penuh menjadi pelampiasan gairah liar Raymond yang tak terbendung.Begitu Jovita bergerak sedikit saja untuk turun dari ranjang, lengan tegap
Raymond terdiam sejenak, menatap lekat sudut bibir Jovita yang masih sedikit membiru akibat hantaman Joni. Ucapan Jovita yang menuntut talak mengandung keangkuhan dan kepasrahan penuh ironi.“Aku tidak sebajingan itu, Jo,” suara Raymond melunak, namun tetap tegas. “Jika aku menalakmu malam ini
Teriakan Joni berhasil memicu kehebohan. Tetangga yang terbangun langsung berkerumun di depan pintu, menatap Raymond dengan pandangan curiga dan penuh amarah.“Dia mau memperkosa Jojo, Pak! Dia memaksa masuk dan memukuli saya!” fitnah Joni pura-pura kesakitan di lantai.“Itu tidak benar!” Jovita
“Argh….”Basah, dingin, dan lengket.Cairan kemerahan koktail buah merembes mengotori seragam katering Jovita. Matanya terpejam mencengkeram kuat nampan yang dia bawa menahan amarah.“Maaf! Sengaja,” cibir salah satu teman Jovita di kampus, meletakkan gelas kosong ke nampan Jovita dengan kasar. “Se







