مشاركة

2. Fitnah Keji

مؤلف: Henny Djayadi
last update تاريخ النشر: 2026-06-06 08:49:22

Jovita mencengkeram erat tali tasnya, syarat dari Raymond seperti ujian akhir kelulusan, berat dan tak mudah.

​Meyakinkan Viola menerima wanita lain menjadi ibunya.

“Om, maaf…” Jovita menelan ludah, menatap ragu pria matang di sampingnya. “Kita sama-sama tahu Vio itu keras kepala. Saya tidak yakin dia mau mendengarkan saya jika ini menyangkut Bu Karina.”

​Raymond tidak membantah. Jemarinya kembali mengetuk setir. Tatap matanya lurus menyembunyikan gurat frustrasi dengan rapi dibalik wajah tenangnya.

​“Aku tahu. Itu sebabnya, imbalan yang kutawarkan tidak sedikit.”

​Jovita bimbang. Uang kuliahnya harus lunas minggu depan, tapi ia juga sadar risiko tugas ini. Jika dia gagal, persahabatan dengan Viola taruhannya.

​Mengumpulkan keberanian yang tersisa, Jovita menarik napas dalam.

​“Saya… saya akan berusaha bicara dengan Vio, Om,” ucap Jovita ragu. “Tapi saya tidak jamin dia akan setuju. Jadi… bolehkah saya meminta tugas lagi?”

​Raymond menoleh, sebelah alisnya terangkat.

“Maksudnya?”

​“Saya benar-benar butuh uang, Om. Tolong beri saya kesempatan untuk magang biro arsitektur milik Om,” pinta Jovita cepat sebelum nyalinya menciut.

“Saya butuh penghasilan, saya hanya ingin bisa bertahan kuliah sampai lulus.”

​Satu sudut bibir Raymond terangkat, senyuman samarnya hampir tak tampak. Pria itu mengagumi harga diri Jovita di tengah kemiskinan yang mencekiknya.

​“Baik. Besok datang ke kantorku jam sembilan pagi. Temui sekretarisku.”

​“Terima kasih, Om.” Senyum lega terbit di wajah Jovita. “Saya janji akan berusaha keras meyakinkan Vio,” sambung Jovita dengan semangat.

​Sebelum Jovita sempat meraih tuas pintu, perhatian Raymond teralih ke luar jendela.

Di bawah remang lampu jalan di mulut gang, tiga pemuda tanggung bertengger di atas motor. Mereka terbahak-bahak sembari bergiliran menenggak cairan dari botol kaca.

​Atmosfer berbahaya terasa pekat, bahkan dari balik kaca mobil mewah yang tertutup rapat.

​Ada kilat cemas di mata Raymond. Ia pernah sekali mendatangi tempat ini, saat mengantar Viola memberikan pakaian bekas untuk Jovita. Dan baginya, tempat ini sangat tidak layak.

​“Kamu betah tinggal di lingkungan seperti ini?”

​Jovita tersenyum kecut sambil mengangguk terpaksa. Betah atau tidak, itu bukan pilihan. Memiliki tempat berteduh sudah merupakan keberuntungan baginya.

​“Masuklah!” ujar Raymond tegas, terdengar dingin dan memerintah.

​“Aku akan menunggu di sini. Sampai rumah, langsung hubungi aku. Jika dalam lima belas menit aku tidak menerima kabar, aku yang akan masuk ke dalam.”

​Jantung Jovita berdesir aneh. Sejak ibunya pergi, tidak ada satu orang pun di dunia ini yang peduli apakah dia pulang dengan selamat atau tidak.

Perhatian Raymond terasa asing, tapi menghangatkan hati Jovita yang hampa.

​“Baik, Om.”

Jovita bergegas turun, berjalan cepat membelah gang sempit, mengabaikan siulan nakal dan godaan dari para pemuda mabuk di ujung jalan.

Begitu membuka pintu kontrakan yang reyot, bau apek bercampur alkohol yang menyengat langsung menyergap indra penciuman Jovita.

​“Mana uangnya?”

​Bentakan kasar menyambut kepulangan Jovita.

​Joni berdiri dengan pakaian kusut dan mata merah. Tanpa aba-aba merangsek maju dan merenggut paksa tas Jovita.

​“Jangan, Yah! Tambah upah hari ini belum cukup bayar kuliah!” Jovita menahan tali tasnya kuat-kuat.

​“Buat apa kuliah? Buang-buang uang saja!”

​Plak!

​Tamparan keras mendarat telak di pipi Jovita, hingga sudut bibirnya pecah, mengalir darah segar.

​Tak ada penyesalan, Joni justru menjambak rambut Jovita dengan kasar, memaksa wajah putrinya mendongak.

“Berikan uangnya sekarang!”

​“Ampun, Yah… sakit!” Jovita menangis, berusaha melepas cengkeraman kasar di kepalanya.

​Di saku celananya, ponsel Jovita bergetar. Jovita tahu itu dari Raymond.

Lima belas menit berlalu, tapi dia belum sempat menyentuh ponselnya.

​“Mana uangnya, Jo?”

​Karena kalah fisik, tas Jovita akhirnya terlepas. Kala Joni hendak pergi membawa ransel itu dengan sisa tenaga yang ada, Jovita merangkak dan memeluk erat kaki ayahnya.

“Balikin, Yah!”

Tatap mata Jovita sempat tertuju ke kamarnya yang sudah berantakan. Beruntung, ia sudah menyembunyikan sisa tabungannya di tempat lain.

“Kalau kuliah Jojo beres, Jojo janji akan cari uang buat bayar utang Ayah.”

​“Mau bayar pakai apa? Hah? Jual diri?”

Joni yang berada dalam pengaruh alkohol langsung menghentakkan kakinya, menginjak punggung tangan Jovita yang mencengkeram celananya.

​Brak!

​Pintu kontrakan berdentum keras, setelah ditendang dengan kekuatan penuh dari luar.

​Raymond berdiri di ambang pintu, tatap matanya dingin mengintimidasi.

​“Hentikan!” Suara Raymond bergetar menahan amarah yang siap meledak.

Benak Raymond langsung terbang kepada putri tinggalnya. Bagaimana jika nasib buruk ini menimpa Viola?

​Joni tertegun, sedetik kemudian seringai serakah yang menjijikkan terbit di wajahnya.

​“Oh… kamu sudah menjual diri pada laki-laki ini, Jo?” Joni terkekeh sinis, dengan tangan kembali menjambak Jovita.

Air mata Jovita berderaian, ia meringis kesakitan sambil menggeleng. Entah menyangkal ucapan ayahnya atau memberi peringatan kepada Raymond agar tidak terseret dalam masalah keluarganya.

​“Beri aku uang dan kamu boleh menikmati Jojo sepuasnya malam ini!” ucap Joni tanpa urat malu.

​Tangan Raymond mengepal hingga buku-buku jarinya memutih, rahangnya pun mengeras.

“Aku tidak akan memberi sepeser pun kepada bajingan sepertimu.”

​Tanpa berpikir panjang, Raymond maju mencengkeram pergelangan tangan Joni yang menjambak Jovita, lalu menghempaskan dengan sentakan kuat hingga pemabuk itu terjungkal.

​Raymond segera membantu Jovita bangkit dan menyeka darah di ujung bibir gadis itu menggunakan saputangannya.

​“Kamu tidak apa-apa, Jo?”

​Jovita tidak sanggup bersuara, ia hanya bisa terisak hebat sambil menggelengkan kepala dalam pelukan perlindungan Raymond.

​Joni merangkak bangun dengan mata melotot. Dengan amarah dan perasaan terhina, pria itu mulai memukul dinding seng rumahnya, berteriak histeris sekencang mungkin.

​“Maling! Tolong! Anakku diperkosa! Tolong!”

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Istri Rahasia Om Raymond   8. Candu Baru

    Bisikan Jovita layaknya lampu hijau yang menghancurkan sisa-sisa kewarasan Raymond, hingga kehilangan kendali sepenuhnya. Tanpa sepatah kata pun, Raymond menyusupkan lengannya di bawah lutut dan punggung Jovita, mengangkat tubuh mungil gadis itu ke dalam gendongannya. Ia membawa Jovita menuju kamar utama dengan langkah-langkah besar yang terburu-buru, seolah takut gadis itu akan berubah pikiran. Raymond membaringkan Jovita ke atas kasur dengan gerakan yang sedikit tergesa-gesa. Tubuh besarnya segera mengukung gadis itu di bawah tubuhnya. Dengan kedua lututnya, Raymond memisah kaki Jovita, membuka ruang paling intim gadis itu demi menuntaskan dahaga yang menyiksa. Tanpa pemanasan yang panjang karena gairah yang hampir meledak, Raymond menyatukan tubuh mereka dalam satu dorongan kuat yang dalam. “Ahhh! Om…!” Jovita menjerit kecil, suaranya tertahan di tenggorokan saat rasa sakit yang tajam dan panas menyergap seluruh kesadarannya. Jari-jari Jovita mencengkeram erat bahu kokoh Raym

  • Istri Rahasia Om Raymond   7. Miliki Aku, Om!

    Tak ada kelembutan dalam ciuman Raymond. Penuh kelaparan yang selama bertahun-tahun terpendam. Tangan kekar Raymond mencengkeram pinggang Jovita. Mengunci tubuh ringkih gadis itu di antara dada bidangnya dengan meja pantry hingga tidak bisa ke mana-mana.“Jojo…”Raymond menarik tautan bibir mereka sesaat. Suaranya parau, pecah oleh erangan yang terdengar seperti rintihan kesakitan. Napasnya yang memburu terasa panas di wajah Jovita.“Seharusnya kau berlari menjauh... sekarang juga, Jojo... sebelum aku benar-benar merusakmu,” bisik Raymond, peringatan itu terdengar seperti sebuah permohonan frustrasi.Tapi tangan Raymond justru bertolak belakang dengan ucapannya. Jemarinya menyusup ke balik kaus tipis Jovita, menyentuh kulit hangat di pinggang gadis itu. Sentuhan itu membuat Jovita tersentak, tubuhnya menggigil.Raymond mengangkat wajahnya. Matanya merah, rahangnya mengeras menahan gejolak yang menyiksa. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Ada rasa bersalah saat menginginkan gadis y

  • Istri Rahasia Om Raymond   6. Hilang Kendali

    Saat Raymond melangkah masuk, keadaan rumah keluarga Chandra sudah jauh lebih tenang. Pria itu melihat sosok Jovita baru saja turun dari lantai dua sambil membawa tas kainnya dan sebuah tumbler pemberian Viola.​Raymond menghentikan langkah. "Jojo? Belum pulang?"​Jovita sedikit tersentak, lalu mengangguk tak enak hati. "Saya menemani Vio sampai dia tertidur, Om. Kamarnya sudah saya rapikan sedikit."​Raymond mengembuskan napas berat, melonggarkan satu kancing teratas kemejanya. "Apa dia masih marah?"​"Vio hanya kaget, Om," jawab Jovita dengan nada suara yang lembut, mencoba menenangkan. "Dia anak yang baik. Jika nanti Om memberinya penjelasan pelan-pelan, saya yakin Vio pasti akan memahami situasi dan posisi Om dengan Bu Karina."​Raymond terdiam sejenak, menatap lekat-lekat kedewasaan yang terpancar dari gadis muda di hadapannya. Kontras sekali dengan putrinya yang egois. "Sudah terlalu malam. Ayo, aku antar."​"Eh, tidak usah, Om. Saya bisa naik ojek."​"Jangan membantah, Jovi

  • Istri Rahasia Om Raymond   5. Tumbler Maut

    “Papa jahat!”​Pekikan nyaring Viola seketika memutus tautan bibir Raymond dan Karina. Kedua orang dewasa itu menoleh terkejut, mendapati Viola berdiri dengan dada naik-turun menahan amarah, sementara Jovita mematung di belakangnya dengan wajah pias.​Raymond segera melepaskan dekapannya pada Karina, lalu melangkah maju dengan ekspresi wajah yang kembali dingin dan berwibawa. “Jaga sopan santunmu, Vio. Ada tamu di sini.”​“Tamu? Papa sebut perempuan jalang itu tamu?” tunjuk Viola dengan jari bergetar ke arah Karina.​Karina menarik napas panjang, mencoba tersenyum sabar meski matanya menyiratkan luka. “Vio, Tante dan Papa kamu…”​“Diam!” bentak Viola sengit. “Kamu tidak punya hak bicara di sini.”“Papa sudah janji mau rujuk sama Mama! Kenapa sekarang justru bermesraan dengan perempuan ini di rumah ini?”​“Cukup, Viola!” Bentakan Raymond menggema. “Papa tidak pernah janji rujuk dengan mamamu. Pernikahan kami sudah lama selesai. Dan bulan depan, Papa dan Tante Karina akan segera men

  • Istri Rahasia Om Raymond   4. Dilema Jovita

    ​Raymond terdiam sejenak, menatap lekat sudut bibir Jovita yang masih sedikit membiru akibat hantaman Joni. Ucapan Jovita yang menuntut talak mengandung keangkuhan dan kepasrahan penuh ironi.​“Aku tidak sebajingan itu, Jo,” suara Raymond melunak, namun tetap tegas. “Jika aku menalakmu malam ini dan membiarkanmu pergi, besok pagi ayahmu pasti akan menyeretmu kembali ke neraka itu. Aku harus memastikan kamu benar-benar aman dan bisa mandiri terlebih dahulu.”​Jovita meremas ujung kemejanya. Pertanyaan yang sejak tadi menyumbat tenggorokannya akhirnya lolos juga. “Lalu… bagaimana dengan Bu Karina?”​Mendengar nama Karina disebut, sorot mata Raymond meredup sekilas. Ada beban berat yang kembali menggelayuti pundaknya.​“Kamu harus merahasiakan pernikahan kita dari siapa pun. Baik itu Vio, maupun Karina. Tidak boleh ada satu orang pun yang tahu.”​Raymond menatap Jovita dalam-dalam. “Perjanjian kita sebelumnya tetap berlaku, kau harus meyakinkan Vio untuk menerima Karina sebagai ibu b

  • Istri Rahasia Om Raymond   3. Terpaksa Nikah

    Teriakan Joni berhasil memicu kehebohan. Tetangga yang terbangun langsung berkerumun di depan pintu, menatap Raymond dengan pandangan curiga dan penuh amarah.​“Dia mau memperkosa Jojo, Pak! Dia memaksa masuk dan memukuli saya!” fitnah Joni pura-pura kesakitan di lantai.​“Itu tidak benar!” Jovita berteriak di sela tangis, mencoba berdiri di depan Raymond untuk melindunginya. “Om Raymond tidak seperti itu! Dia cuma mau nolong saya karena dipukuli Ayah! Tolong percaya pada saya!”Pembelaan Jovita justru semakin menimbulkan curiga, membuat warga yang sudah terprovokasi semakin emosi.Ditambah pakaian Jovita yang acak-acakan, asumsi liar menyebar.​“Jangan-jangan mereka memang ada apa-apa. Buat apa orang kaya datang malam-malam ke tempat kumuh begini kalau bukan urusan syahwat?” celetuk seorang warga dari belakang.​“Betul! Daripada mengotori kampung ini dan bikin sial, lebih baik nikahkan saja mereka sekarang!” seru warga lain yang langsung mendapat anggukan pembenaran.​Mata Jovita m

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status