Masuk
“Argh….”
Basah, dingin, dan lengket. Cairan kemerahan koktail buah merembes mengotori seragam katering Jovita. Matanya terpejam mencengkeram kuat nampan yang dia bawa menahan amarah. “Maaf! Sengaja,” cibir salah satu teman Jovita di kampus, meletakkan gelas kosong ke nampan Jovita dengan kasar. “Sepertinya, tempat ini memang tidak cocok untukmu, Jo.” Menjadi mahasiswa pintar dan sering membantu teman mengerjakan tugas, tidak serta merta membuat Jovita diterima saat kemiskinan melekat erat dalam kehidupannya. “Hei, apa-apaan ini?” Viola datang membelah kerumunan. Gaun silvernya berkilau mewah di bawah lampu kristal. “Jojo itu sahabatku! Aku yang mengundangnya….” Kalimat Viola terjeda, dilihatnya Jovita dari ujung kaki hingga ujung kepala. “Kenapa pakai baju ini? Kenapa tidak pakai gaun yang kuberi kemarin?” Tawa renyah sekumpulan mahasiswa elit itu mendadak senyap, digantikan seringai geli merendahkan. Dalam benak mereka, saking miskinnya Jovita, baju saja pemberian dari Viola. Bukan hanya baju pesta yang baru saja disebut Viola, tapi baju andalan yang sering digunakan ke kampus adalah pemberian Viola. “Aku harus bekerja.” Jovita memaksakan senyum untuk sahabatnya. “Selamat ulang tahun, Vio.” “Masuk ke kamar mandi di belakang ballroom sekarang, Jo. Bersihkan dirimu,” perintah Vio tegas, tapi terdengar peduli. Jovita mengangguk samar, bergegas menuju ke kamar mandi. Membersihkan baju bukan tujuan utamanya, tapi meninggalkan orang-orang yang merendahkannya. Begitu Jovita menghilang dari ballroom, sorot mata Vio langsung beralih antusias ke ambang pintu. “Tepat waktu,” gumam Viola dengan senyum puas, bergegas menghampiri sosok yang baru memasuki ballroom tanpa menoleh lagi ke arah Jovita. “Dylan!” Viola menyapa pemuda tampan itu dengan nada manja dan menggoda. “Selamat ulang tahun,” ucap Dylan dingin sambil menyerahkan kado tanpa minat. Tatap mata Dylan tidak tertuju pada Viola, justru memindai seisi ballroom seperti ada orang lain yang dicarinya. Berbeda dengan keriuhan di dalam ballroom, lorong menuju toilet terasa sunyi dan dingin. Jovita berjalan lambat sembari mengusap noda di dadanya. Langkahnya mendadak terhenti saat pendengarannya menangkap suara bariton yang sangat ia kenal dari balik belokan. “Oh… Sayang. Aku mohon sekali lagi!” Suara itu terdengar nelangsa, jauh dari gambaran sosok Raymond Chandra, pemilik biro arsitektur raksasa yang biasanya berdiri tegak, dingin, dan tak tersentuh di rumah mewah tempat Jovita sering menumpang belajar. “Aku mohon pengertianmu, Karin. Aku tidak mungkin meninggalkan ulang tahun Vio sekarang. Dia bisa ngamuk, dan itu sangat buruk untuk hubungan kita nanti.” Dengan kepala mendongak dan ponsel masih menempel erat di telinganya, Raymond menarik napas panjang. Gurat lelah tampak jelas di dahi pria berusia tiga puluh tujuh tahun itu. Di bawah sorot lampu lorong hotel, segala kelebihan Raymond seolah raib. Yang tersisa kini hanya pria yang terjepit di antara dua perempuan yang menguasai hidupnya, putri tunggal dan kekasihnya. Napas Jovita tertahan, dadanya mendadak sesak oleh rasa iri yang janggal. Memorinya terlempar ke gubuk pengap yang ia sebut rumah, teringat Joni, ayahnya. Jangankan memohon dengan suara selembut itu, Joni hanya tahu cara berteriak, mengayun sabuk dan membanting botol minuman keras jika keinginannya tak dipenuhi. Ayahnya adalah alasan mengapa sang ibu memilih pergi beberapa tahun lalu, meninggalkan Jovita yang harus banting tulang membiayai hidupnya sendiri. “Seandainya aku memiliki ayah seperti dia,” batin Jovita perih. “Mungkin Bunda tidak akan kabur, dan aku akan memiliki keluarga yang utuh dan bahagia.” Tiba-tiba, Raymond memutar tubuh. Matanya langsung menangkap sosok gadis di sudut lorong, Raymond mengenali sahabat putrinya itu. “Jojo?” Raymond menurunkan ponselnya. Matanya menyipit, menelusuri seragam katering yang dikenakan gadis itu. “Kenapa kamu ada di sini? Kenapa tidak di dalam bersama Vio dan yang lainnya?” Jovita menunduk. “Saya... saya sedang bekerja, Om.” Raymond terdiam sejenak. menyaksikan penampilan Jovita yang sangat kontras dengan gaun-gaun pesta seharga puluhan juta yang berseliweran di ballroom sana. Jovita adalah sahabat dekat Viola, tidak datang sebagai tamu undangan, melainkan sebagai buruh kasar. “Ayo, ikut merayakan ulang tahun Vio.” “Tidak Om,” tolak Jovita tanpa berpikir panjang, menunduk menatap seragamnya. “Saya tidak ingin merusak pesta Vio.” Sebagai seorang pelayan saja kedatangannya tidak diterima, apalagi jika sampai dia masuk bersama sang donator acara. Raymond memperhatikan jemari Jovita yang saling meremas, lalu mengangguk samar seolah paham situasi. Dia tidak akan memaksa. Raymond paham, berada di tengah pesta mewah dengan seragam katering pasti membuat Jovita tidak nyaman. “Baiklah kalau begitu. Lain kali kalau ada masalah jangan sungkan untuk bicara, mungkin Om bisa bantu.” Jovita mengangguk. “Terima kasih, Om.” “Jangan terlalu memaksakan diri.” Kalimat pendek Raymond, layaknya kepedulian yang menghangatkan hati Jovita. Raymond berbalik, melangkah tegap menuju ballroom, meninggalkan Jovita yang terpaku menatap punggung lebar itu. Punggung yang terlihat begitu kokoh untuk bersandar. Menjelang jam sebelas malam pesta akhirnya usai. Lorong hotel mulai lengang, menyisakan sisa aroma parfum mahal yang menguap di udara. Di depan lobi, Viola tampak gelisah. Matanya tertuju pada Dylan, pria incarannya itu terlihat mondar-mandir di dekat pintu kaca, mengawasi setiap orang yang keluar. Viola tahu persis siapa yang sedang ditunggu pemuda itu, dan kenyataan tersebut membuat hatinya terbakar cemburu. “Papa!” Viola mencegat Raymond yang baru kelar dari lift. “Papa, tolong antar Jojo pulang, ya? Sudah malam, kasihan dia.” Raymond mengernyit, mengalihkan pandangan pada Jovita yang muncul dengan kemeja flannel sederhana. “Pokoknya Papa harus antar. Vio nggak tenang kalau Jojo pulang sendiri jam segini,” ucap Viola dengan manja, sambil menarik lengan papanya mendekat ke arah Jovita. Jovita mencoba menolak. “Enggak usah, Vio. Aku bisa sendiri.” “Jojo, jangan bantah!” Viola memelotot. “Papa nggak keberatan, kan?” Raymond menatap Jovita sejenak, lalu mengangguk singkat. Bukan hanya untuk menuruti permintaan anaknya, tapi juga kasihan pada Jovita. “Ayo, saya antar.” Dengan perasaan sungkan yang amat sangat, Jovita akhirnya menurut. Saat mobil hitam milik Raymond perlahan meninggalkan pelataran hotel, Viola tersenyum puas. Ia berbalik dan melangkah cepat menghampiri Dylan yang masih menunggu Jovita. “Dylan!” panggil Viola dengan nada yang dibuat sedih. “Bisa antar aku pulang? Papa tiba-tiba ada urusan bisnis mendadak, aku ditinggal sendiri.” Dylan menoleh, matanya masih tampak mencari. “Kamu lihat Jovita?” Viola mendesah pelan, pura-pura tidak acuh. “Oh, Jojo? Dia sudah pulang dari tadi. Kamu telat, tadi ada cowok yang jemput.” Wajah Dylan seketika lesu. Ia mengembuskan napas kecewa dan cemburu mendengar Jovita bersama pria lain. “Dylan! Bisakan antar aku?” Tatap mata Viola memohon manja. Dylan mengembuskan napas kasar. Ia tahu keluarga Viola memesan penthouse di hotel ini untuk menginap, tapi penolakan hanya akan membuat semakin lama untuk menghindar dari Viola. “Masuk!” perintah Dylan dengan terpaksa. Sementara itu di mobil Raymond membelah jalan yang mulai lengang. Jovita merasa kerdil di jok kulit yang empuk. Tangan Jovita bertumpu di pangkuan, saling meremas ujung kemeja belel. “Kenapa mengambil kerja sampingan di hari ulang tahun sahabatmu sendiri?” Suara bariton Raymond memecah keheningan, matanya tetap lurus menatap jalanan. “Saya butuh uang, Om.” “Untuk?” “Tunggakan semesteran saya sudah lewat tiga bulan. Kalau minggu depan belum lunas, saya di-DO.” Jovita menunduk malu. “Kalau cuma itu, saya bisa bantu.” Raymond melirik singkat. “Sebagai gantinya, saya ingin bantuan kecil.” Jantung Jovita mencelos hingga membuatnya langsung menoleh. Di dalam mobil yang remang, wajah matang Raymond tampak begitu tenang, tapi tetap menyiratkan kuasa yang mutlak. Hidup keras mengajarkan Jovita satu hal, tidak ada makan siang gratis, apalagi dari pria sekaya Raymond. “Apa... apa yang harus saya lakukan untuk itu, Om?” tanya Jovita, suaranya bergetar. Raymond mengetukkan jarinya di setir, menatap gadis muda di sampingnya yang tampak ketakutan namun butuh pertolongan. “Kamu adalah orang yang paling didengar oleh Vio saat ini,” ucap Raymond dengan nada rendah yang dingin. “Bantu saya meyakinkan dia… agar mau menerima Karina sebagai ibu barunya.”Pagi-pagi sekali, Raymond dan Jovita sudah tiba di rumah sakit. Suasana di lorong area perawatan Intensif terasa begitu sunyi dan dingin saat mereka melangkah menuju kamar Viola.Di depan pintu kamar, pertemuan canggung dengan Felisa tak terelakkan.Jovita, yang dulunya bisa bersikap biasa dan luwes terhadap Felisa sewaktu masih dianggap sekadar sahabat Viola, kini merasakan jarak yang begitu membentang lebar. Mengingat posisinya sekarang yang telah sah menjadi istri Raymond, ada getaran kewaspadaan yang terselip di dadanya.Ditambah lagi, meski Felisa terlihat sangat lelah dan kusut akibat semalaman tidak tidur, garis kecantikan mantan istri suaminya itu masih tampak jelas. Jovita tahu betul, situasi yang menguras emosi dan penuh kerapuhan seperti saat ini memiliki celah berbahaya yang bisa saja memicu nostalgia atau kedekatan kembali di antara mantan pasangan itu.Raymond melangkah maju, memutus keheningan di antara mereka. Pria itu menatap Felisa datar.“Pulanglah. Ganti aku dan Jo
Raymond menundukkan kepalanya dalam-dalam, bersuara lesu dan parau. “Sejak awal... Papa tidak pernah percaya kalau Vio itu anak kandungku.”Berulang kali Raymond menghela napas panjang, ingin rasanya melepas semua beban dengan bercerita, tapi itu berarti harus kembali mengorek luka lama.“Papa adalah orang pertama yang melihat aku bersama Feli, dia langsung berpikir ini adalah jebakan. Papa semakin marah karena aku lebih memilih bertanggung jawab dan mempertahankan Vio, daripada menuruti permintaannya untuk menggugurkan atau membuang anak itu... Bayangkan, Jo, aku masih SMA saat Vio lahir ke dunia.”DEG.Jovita tertegun. Matanya membelalak tak percaya. Kenyataan bahwa Raymond harus menanggung beban sebesar itu di usia yang masih sangat muda sungguh menyayat hatinya.“Setiap bayi terlahir suci tanpa dosa...” lanjut Raymond dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Saat itu, aku cuma tidak ingin Vio bernasib sama seperti diriku... lahir dan tumbuh besar tanpa pernah merasakan kasih sayang s
Pertanyaan menohok dari Roberto sama sekali tidak mengejutkan bagi Elleonor. Sejak detik pertama ia melangkah ke rumah sakit dan memutuskan untuk mendonorkan darahnya, Elleonor sudah sangat tahu risikonya. Ia sadar betul rahasia lama yang terkubur puluhan tahun akan terkuak.Tapi bagi Elleonor, keselamatan dan nyawa Viola jauh lebih utama daripada segala topeng kebohongan yang ia pakai selama ini.Dengan wajah pucat yang memancarkan ketegaran pasrah, Elleonor membalikkan tubuhnya perlahan, menatap lurus mata suaminya tanpa sedikit pun rasa gentar. Tapi sebisa mungkin dia akan tetap menyembunyikan kebenaran, karena tujuannya belum tercapai.“Vio itu anaknya Feli,” jawab Elleonor lirih tapi tegas. “Kau tahu sendiri, Feli adalah anak dari adikku yang dititipkan pada kita. Aku sudah berjanji akan menjaga Feli, tapi aku gagal. Feli hamil….”Roberto terkekeh sinis penuh kepahitan, langkah kakinya semakin mendekat hingga menyisakan jarak yang sangat tipis di antara mereka. Matanya menyalang
Saat-saat yang mendebarkan berlalu hingga akhirnya pintu ganda ruang operasi terbuka. Dokter keluar dengan melepas masker medisnya, menampilkan raut wajah yang jauh lebih tenang dibanding sebelumnya.“Keluarga Saudari Viola?” panggil dokter tersebut.Raymond dan yang lainnya langsung mendekat dengan napas tertahan.“Puji Tuhan, pendarahan di dalam dada sudah berhasil kami hentikan dan transfusi darah berjalan sangat lancar,” ujar sang dokter membawa angin segar. “Saat ini kondisi kritisnya sudah terlewati dan tanda-tanda vitalnya mulai stabil. Memang luka akibat benturan di kepala dan patah tulang rusuknya membutuhkan proses pemulihan, tapi masa gentingnya sudah lewat. Tolong tetap berikan dukungan doa dan suasana yang tenang agar pasien bisa segera memulihkan kesadarannya.”Mendengar penuturan itu, Raymond menghembuskan napas lega. Beban berat yang meremukkan dadanya seolah terangkat seketika. Ia berpaling menatap Jovita yang berdiri bersandar lemah di sampingnya. Wajah istrinya tamp
Semua pasang mata seketika tertuju ke ujung koridor. Di sana berdiri Elleonor, mama kandung Julian sekaligus istri siri Roberto. Napasnya masih tersengal-sengal karena berlari menyusuri lorong panjang.Julian tersentak kaget. Ia bergegas menghampiri mamanya, hendak membisikkan rencananya. "Mama, jangan ikut campur! Dengarkan aku dulu…"Tapi rasa sayang dan takut kehilangan membuat Elleonor sama sekali tidak menghiraukan anaknya. Tanpa ragu sedikit pun, Elleonor menerobos Julian dan langsung menghampiri sang dokter."Dokter, golongan darah saya sama dengan Vio! Ambil darah saya sebanyak yang dibutuhkan!" tegas Elleonor dengan bibir bergetar.Melihat fisik Elleonor yang sudah tidak muda lagi dan tampak kelelahan, sang dokter sempat ragu sejenak. "Ibu... usia dan kondisi Ibu perlu kita periksa dulu, donor darah di usia ini berisiko…""Tidak ada waktu lagi, Dok! Nyawa cucu saya lebih penting! Cepat periksa saya sekarang!" potong Elleonor tegas tak menerima bantahan, bahkan dari ahlinya se
Suara isak tangis dan ratapan Felisa yang sampai bersimpuh di lantai sama sekali tak mampu menyentuh hati Julian. Pria itu justru membuang muka, mencari celah untuk bisa segera pergi dari kekacauan ini.Julian berbalik menatap dingin, dan berkata dengan santai. “Aku ada urusan lain. Permisi.”Seolah tanpa beban, Julian melangkah hendak meninggalkan rumah sakit.“Berhenti!” teriak Roberto menggelegar, emosinya memuncak hingga urat-urat di lehernya menegang.Julian tersenyum menyeringai, saat akhirnya papanya memanggilnya. Ini akan menjadi awal negosiasi, dan Julian akan memanfaatkan situasi ini sebaik-baiknya.Roberto melangkah cepat dan mencegat jalan Julian, menatap putra keduanya dengan kilatan amarah membara.“Otakmu di mana, Julian! Di dalam sana ada nyawa yang sedang terancam, dan kamu mau pergi begitu saja setelah tahu cuma darahmu yang bisa menyelamatkannya?!”Julian terkekeh sinis, sama sekali tidak gentar menatap mata sang papa.“Lalu kenapa kalau aku bisa, Pa?”Julian menant
Saat Raymond melangkah masuk, keadaan rumah keluarga Chandra sudah jauh lebih tenang. Pria itu melihat sosok Jovita baru saja turun dari lantai dua sambil membawa tas kainnya dan sebuah tumbler pemberian Viola.Raymond menghentikan langkah. "Jojo? Belum pulang?"Jovita sedikit tersentak, lalu me
“Papa jahat!”Pekikan nyaring Viola seketika memutus tautan bibir Raymond dan Karina. Kedua orang dewasa itu menoleh terkejut, mendapati Viola berdiri dengan dada naik-turun menahan amarah, sementara Jovita mematung di belakangnya dengan wajah pias.Raymond segera melepaskan dekapannya pada Kari
Raymond terdiam sejenak, menatap lekat sudut bibir Jovita yang masih sedikit membiru akibat hantaman Joni. Ucapan Jovita yang menuntut talak mengandung keangkuhan dan kepasrahan penuh ironi.“Aku tidak sebajingan itu, Jo,” suara Raymond melunak, namun tetap tegas. “Jika aku menalakmu malam ini
Teriakan Joni berhasil memicu kehebohan. Tetangga yang terbangun langsung berkerumun di depan pintu, menatap Raymond dengan pandangan curiga dan penuh amarah.“Dia mau memperkosa Jojo, Pak! Dia memaksa masuk dan memukuli saya!” fitnah Joni pura-pura kesakitan di lantai.“Itu tidak benar!” Jovita







