Mag-log inMelihat mobil Raymond memasuki pekarangan rumah, Jovita bergegas bangkit. Perempuan hamil itu berjalan cepat setengah berlari ingin menyambut kepulangan anak tirinya dari rumah sakit.Jovita mengerutkan kening melihat Raymond turun seorang diri dari kursi pengemudi. Pintu mobil di belakang tertutup rapat tanpa ada sosok lain yang menyusul.Rasa cemas langsung merayap, Jovita menyambut suaminya di teras dengan tatapan penuh tanya.“Vio mana? Belum boleh pulang? Dia tidak apa-apa, kan?” Ada khawatir dan penasaran dalam tiap kata yang terlontar dari bibir Jovita.Raymond meraih tangan Jovita, menggenggamnya erat untuk menyalurkan ketenangan yang justru gagal ia miliki sendiri.“Vio pulang ke rumah papa.”Alis Jovita terangkat. “Kenapa? Dia masih marah sama kita?”Tanpa menjawab, Raymond membimbing Jovita memasuki rumah. Mereka duduk berdampingan di sofa panjang ruang tamu. Sekilas, pandangan Raymond jatuh pada perut istrinya yang sudah besar, wajar jika Roberto mengkhawatirkannya.“Ini i
Viola, yang belum sepenuhnya lelap, mengerjap kaget mendapati kedatangan sang kakek yang tidak biasa, di waktu selarut ini.Gadis itu buru-buru mengubah posisinya, mencoba duduk meski ringisan tertahan sempat lolos dari bibirnya.“Opa... malam-malam begini? Ada apa?” tanya Viola parau, terdengar sangat berhati-hati.Roberto tidak langsung menjawab. Pria tua itu menarik kursi duduk tepat di sisi brankar merapikan jasnya yang masih melekat sempurna.“Beberapa hari lalu, kamu sempat meminta bantuan opa untuk membantumu pergi ke luar negeri, bukan?” Roberto to the point membuka percakapan, suaranya datar namun mengikat perhatian.Manik mata Viola melebar tipis. Ia mengangguk pelan. “Iya, Opa... Vio memang ingin lanjut studi ke Australia.”“Aku sudah memikirkan permintaanmu,” lanjut Roberto tegas. “Dan aku pastikan, aku akan mendukung penuh keinginanmu itu. Semua fasilitas, dokumen, dan biaya kuliahmu akan diurus sampai tuntas.”Secercah binar kelegaan melintas di mata Viola. Tapi, sebelum
Jovita mengantar langkah suaminya hingga ke teras depan. Meski usia kandungannya baru menginjak lima bulan, kehamilan kembar membuatnya perutnya sudah membuncit begitu kentara, bahkan terasa menghalangi jarak saat Raymond hendak menunduk untuk mencium keningnya.Karena ukuran perut yang kian membesar itulah, sejak insiden kecelakaan Viola beberapa waktu lalu, Raymond memutuskan Jovita menarik diri dari kantor dan memindahkan seluruh aktivitas kerjanya ke rumah secara penuh. Segala tugas administrasi dan gambar desain kini ia selesaikannya secara online.Keputusan itu membuat Raymond merasakan ketenangan yang berganda. Selain memastikan sang istri tidak kelelahan akibat mobilitas harian, ia juga tidak perlu lagi merasa risih memikirkan Aris, rekan sekantor yang hingga kini masih sering mencuri pandang penuh penyesalan, seolah belum sepenuhnya ikhlas menerima kenyataan bahwa Jovita telah resmi menjadi istri orang lain.“Kalau saja pagi ini nggak ada meeting dengan klien, rasanya aku mas
Waktu berputar tanpa suara, membawa Roberto pada kenyataan paling telak dalam sisa hidupnya.Di ruang kerjanya yang sunyi, amplop cokelat dari laboratorium swasta tergeletak terbuka di atas meja kerjanya. Sepasang mata tua yang biasanya memancarkan kalkulasi dingin dan penuh ambisi kini gemetar hebat.Selembar kertas putih di tangannya mencetak persentase yang meremukkan seluruh harga diri dan keyakinannya selama ini.99,99 persen. Viola bukan darah daging Raymond. Gadis itu adalah anak kandung Julian.Bagi Roberto ini adalah bukti nyata kegagalannya. Bukan hanya sebagai laki-laki, tapi juga seorang ayah.Air mata tua yang sudah puluhan tahun mengering mendadak tumpah, menetes membasahi kertas yang mengungkap kenyataan itu. Roberto merasa menjadi pria paling bodoh di dunia. Rasa bersalah yang teramat pekat menghantam dadanya tanpa ampun, meremukkan ego yang selama ini diagungkannya.Betapa kejam dirinya pada Raymond, putra kandung yang dia singkirkan dan harus terbebani kesalahan yang
“Boleh, tapi hati-hati.” Suara Raymond serak karena gairah. Tangan Raymond menyelinap masuk ke dalam blus longgar Jovita, langsung menyentuh kulit hangat di pinggang yang lebih lembut karena kehamilan. Raymond melepas blus yang dikenakan Jovita, disusul bra yang sudah ketat di bagian depan. Dua buah dada tampak semakin berisi karena kehamilan lima bulan itu langsung terpapar. Puncaknya lebih gelap, lebih sensitif, dan sedikit bengkak. “Dadamu… makin montok. Cantik banget…” bisik Raymmond lalu membungkuk. Mulutnya langsung mengecup salah satu, lalu menghisap pelan-pelan. Lidahnya memutar, menggigit ringan, sementara tangannya yang lain memijat dada satunya dengan hati-hati. Rasa asin-manis dari kulit Jovita memenuhi mulutnya. Setiap hisapan membuat Jovita menggeliat, punggungnya melengkung, jari-jari kakinya mengerat di seprai. “Ahh… pelan…” Tapi tangan Jovita
Viola terbaring menatap langit-langit kamar yang putih polos. Sunyi merayap begitu cepat, menghimpit dadanya dengan rasa kesepian yang sangat pekat.Sendiri.Tidak ada lagi sosok Papa yang melindunginya dengan kehangatan tanpa batas. Tidak ada lagi sahabat setia tempatnya berbagi dan berkeluh kesah. Apalagi Dylan, pria yang menjadi muara cintanya, kini hanya tinggal kenangan manis yang tak pernah sungguh-sungguh bisa ia miliki.Dunia di sekelilingnya bergerak maju, sementara dirinya tertinggal sendirian dalam kehampaan.Mata Viola berkaca-kaca. Air mata dingin menetes perlahan, membasahi bantal di bawah kepalanya. Di lubuk hatinya yang paling dalam, sebuah pertanyaan lirih berbisik, menghujam jiwa.‘Mungkinkah... semua rasa sakit dan kehancuran ini adalah karma atas segala kesalahanku di masa lalu?’Langkah kaki memasuki ruang perawatan menyadarkan Viola dari lamunan. Perawat jaga memeriksa tetesan cairan infus yang mengalir pelan di punggung tangan Viola. Tak lama berselang, nampan b
“Papa jahat!”Pekikan nyaring Viola seketika memutus tautan bibir Raymond dan Karina. Kedua orang dewasa itu menoleh terkejut, mendapati Viola berdiri dengan dada naik-turun menahan amarah, sementara Jovita mematung di belakangnya dengan wajah pias.Raymond segera melepaskan dekapannya pada Kari
Raymond terdiam sejenak, menatap lekat sudut bibir Jovita yang masih sedikit membiru akibat hantaman Joni. Ucapan Jovita yang menuntut talak mengandung keangkuhan dan kepasrahan penuh ironi.“Aku tidak sebajingan itu, Jo,” suara Raymond melunak, namun tetap tegas. “Jika aku menalakmu malam ini
Teriakan Joni berhasil memicu kehebohan. Tetangga yang terbangun langsung berkerumun di depan pintu, menatap Raymond dengan pandangan curiga dan penuh amarah.“Dia mau memperkosa Jojo, Pak! Dia memaksa masuk dan memukuli saya!” fitnah Joni pura-pura kesakitan di lantai.“Itu tidak benar!” Jovita
Jovita mencengkeram erat tali tasnya, syarat dari Raymond seperti ujian akhir kelulusan, berat dan tak mudah.Meyakinkan Viola menerima wanita lain menjadi ibunya.“Om, maaf…” Jovita menelan ludah, menatap ragu pria matang di sampingnya. “Kita sama-sama tahu Vio itu keras kepala. Saya tidak yaki







