Share

6. Hilang Kendali

Penulis: Henny Djayadi
last update Tanggal publikasi: 2026-06-06 08:51:34

Saat Raymond melangkah masuk, keadaan rumah keluarga Chandra sudah jauh lebih tenang.

Pria itu melihat sosok Jovita baru saja turun dari lantai dua sambil membawa tas kainnya dan sebuah tumbler pemberian Viola.

​Raymond menghentikan langkah. "Jojo? Belum pulang?"

​Jovita sedikit tersentak, lalu mengangguk tak enak hati.

"Saya menemani Vio sampai dia tertidur, Om. Kamarnya sudah saya rapikan sedikit."

​Raymond mengembuskan napas berat, melonggarkan satu kancing teratas kemejanya.

"Apa dia masih marah?"

​"Vio hanya kaget, Om," jawab Jovita dengan nada suara yang lembut, mencoba menenangkan. "Dia anak yang baik. Jika nanti Om memberinya penjelasan pelan-pelan, saya yakin Vio pasti akan memahami situasi dan posisi Om dengan Bu Karina."

​Raymond terdiam sejenak, menatap lekat-lekat kedewasaan yang terpancar dari gadis muda di hadapannya. Kontras sekali dengan putrinya yang egois.

"Sudah terlalu malam. Ayo, aku antar."

​"Eh, tidak usah, Om. Saya bisa naik ojek."

​"Jangan membantah, Jovita," potong Raymond tegas, suaranya mutlak dan tak menerima penolakan. "Meski kawasan kosmu aman, tapi jalanan tidak baik untuk anak gadis berkeliaran malam hari."

Seolah tidak memiliki pilihan, Jovita mengekor di belakang punggung lebar itu menuju mobil.

​Di dalam kabin mobil hitam, Raymond mengemudikan mobil dengan santai, sesekali melemparkan obrolan ringan tentang perkuliahan Jovita dan persiapannya untuk mulai magang besok pagi. Jovita menjawabnya dengan sopan, mencoba mengikis rasa canggung.

Suasana akrab itu​ pecah saat ponsel Jovita yang diletakkan di dekat tuas transmisi bergetar. Layarnya menyala terang, menampilkan satu nama yang sejak sore tadi tidak berhenti menghubunginya, Dylan.

​Mata tajam Raymond melirik sekilas ke arah layar sebelum kembali fokus ke jalanan. Rahangnya tampak mengeras samar.

"Dylan? Kamu memiliki hubungan spesial dengannya?" tanya Raymond, nadanya terdengar datar namun menuntut jawaban. Ada amarah, tapi bukan cemburu.

​Jovita menggeleng cepat, ada gurat ketakutan di wajahnya.

"Sama sekali tidak, Om. Dylan hanya teman. Lagipula... saya sangat tahu kalau Dylan adalah pria yang sedang diincar oleh Vio. Saya tidak mungkin mengkhianati sahabat saya sendiri."

​Raymond hanya bergumam samar sebagai respons. Entah mengapa, tenggorokannya mendadak terasa sangat kering dan panas. Ia meraba kompartemen di pintu mobil, mencari botol air mineral yang biasanya selalu tersedia di sana, namun nihil. Semuanya kosong.

“Om Ray cari apa?”

“Minum, biasanya saya menyiapkan di sini. Sepertinya habis.”

Ia teringat botol minum di pangkuannya.

"Ini... tadi Vio memberikan saya kopi di tumbler ini sebelum saya pulang. Kalau Om tidak keberatan, Om bisa meminumnya. Ini belum saya sentuh sama sekali."

​Tanpa pikir panjang karena rasa haus yang membakar, Raymond menerima tumbler tersebut. Ia membuka tutupnya dan meminum cairan pahit itu. Mungkin tidak serta merta menghilangkan haus, tapi setidaknya membasahi tenggorokannya yang kering.

"Terima kasih." Raymond mengembalikan tumbler pada Jovita setelah menenggak setengah isinya.

​Namun, hanya butuh waktu kurang dari lima menit setelah cairan itu masuk ke tubuhnya, Raymond mulai merasakan ada yang tidak beres.

​Suhu di dalam kabin mobil yang ber-AC mendadak terasa seperti tungku api. Jantung Raymond berdentum gila-gilaan, memompa darah dengan kecepatan yang tidak wajar ke seluruh tubuhnya. Napasnya memburu, jemarinya yang mencengkeram setir mulai bergetar dan berkeringat dingin.

​Raymond menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mencoba mengusir kabut aneh yang tiba-tiba menyerang kesadarannya. Pandangannya mengabur.

Saat melirik ke samping, bayangan Jovita di mata Raymond mendadak berubah. Gadis yang biasanya tampak polos dan kekanakan itu, kini terlihat begitu ranum, memikat, dan memicu hasrat purba yang selama ini terkunci rapat di dalam dirinya.

​"Om? Om Ray tidak apa-apa?" suara Jovita terdengar sayup-sayup, sarat akan kecemasan.

​Raymond tidak menjawab. Ia memaksakan seluruh sisa kesadarannya untuk menginjak pedal gas lebih dalam, membelah jalanan hingga akhirnya mobil itu mandek dengan rem mendadak di depan gerbang kos eksklusif tempat Jovita tinggal.

​"Om Ray, sakit?" Jovita panik saat melihat keringat bercucuran di pelipis Raymond.

​Napas Raymond terdengar kasar dan berat. Pria itu mencengkeram setir begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Turun, Jo... Turun sekarang!" Suara Raymond serak dan bergetar menahan sesuatu yang bergejolak hebat di dalam dadanya.

​"Tapi Om…"

​"Aku bilang turun!" Raymond membentak rendah, mata elangnya kini berkilat merah, menatap Jovita dengan tatapan lapar yang menakutkan.

​Jovita yang ketakutan segera membuka pintu mobil. Belum sempat turun, Jovita melihat kondisi Raymond yang tidak stabil dan memegangi kepala, membuatnya tidak tega pergi.

​Sifat polos dan rasa berhutang budinya yang besar atas bantuan Raymond, membuat Jovita mengabaikan rasa takutnya dan mendekati Raymond yang sedang bersandar pada kap mobil.

"Om, tolong jangan mengemudi dalam kondisi seperti ini. Om istirahat saja dulu di kamar saya di atas, ya? Saya ambilkan air hangat."

​"Masuk ke kamarmu dan kunci pintunya. Sekarang! Menjauh dariku!"

​Raymond tahu ada yang salah dengan tubuhnya. Sesuatu telah meracuninya, dan akal sehatnya sedang berperang hebat melawan insting liar yang menuntut pelepasan.

​"Tidak, Om! Saya tidak bisa meninggalkan Om Ray sendirian seperti ini!"

Jovita bersikeras karena khawatir. Gadis itu nekat maju, meraih lengan tegap Raymond untuk memapahnya.

​Sentuhan kulit Jovita yang dingin pada lengannya yang panas menjadi titik ledak yang meruntuhkan seluruh pertahanan akal sehat Raymond.

Dengan susah payah akhirnya mereka tiba di kamar Jovita.

​“Om Ray bisa istirahat dulu. Saya buatkan minuman hangat, semoga bisa membantu memulihkan kondisi Om.”

Jovita mendudukkan tubuh kekar Raymond di sofa ruang tengah, lalu bergegas menuju ke arah pantry kecil.

Hawa kamar yang terasa sedikit hangat, Jovita refleks melepas kemeja flanel andalannya dan menyampirkannya di kursi. Memperlihatkan tubuh kurus nan sintal yang kini dibalut oleh kaus rumahan tipis yang ngepas di badan, mencetak jelas lekuk tubuhnya.

Raymond merenggut dasinya hingga terlepas, membuka beberapa kancing kemejanya demi mencari oksigen. Nurani dan logikanya berteriak keras memerintahkannya untuk diam dan pergi.

Tapi, dorongan tak kasatmata membuat Raymond bangkit berdiri dengan langkah goyah, menghampiri Jovita di pantry.

Raymond sadar ini salah, tapi ia benar-benar telah kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

“Om.” Jovita tersentak kaget saat membalikkan badan dan menyadari Raymond sudah berdiri begitu dekat, mengurung tubuhnya di depan meja pantry.

“Maaf.” Suara Raymond bergetar parau, matanya menggelap oleh pekatnya gairah. “Aku tahu ini salah, tapi aku benar-benar sudah tidak mampu mengendalikan diriku lagi.”

“Om….”

Belum sempat Jovita melanjutkan kalimat penolakannya, Raymond sudah menunduk, melabuhkan bibirnya dengan panas dan menuntut di atas bibir tipis gadis itu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Istri Rahasia Om Raymond   344. Apa Dok?

    Di ruang perawatan yang sunyi, Viola perlahan mengerjap-kerjap menyesuaikan pandangannya dengan cahaya ruangan. Di sisi ranjang, Roberto duduk kaku sambil melipat tangan di dada.Melihat kakeknya berada di sana, Viola mengumpulkan sisa-sisa tenaganya. Suaranya terdengar sangat lirih, hampir berupa bisikan.“Opa...”Roberto menoleh sekilas, menatap cucunya dengan sorot mata sedingin es tanpa ekspresi. “Ada apa?”Viola menelan ludahnya yang terasa pahit, lalu menatap lurus ke arah Roberto dengan mata berkaca-kaca penuh permohonan.“Opa... mau bantu aku?” tanya Viola parau.Roberto menyipitkan mata, menatap cucunya dengan sorot dingin penuh selidik. “Apa?”“Kalau aku sudah sembuh nanti... aku mau ke luar negeri.”“Kenapa tiba-tiba mau ke luar negeri? Capek kerja karena harus merintis karier dari nol?”Viola menggeleng lemah di atas bantal, menahan nyeri di dadanya. “Sebenarnya... rencana itu sudah ada dari dulu. Mau langsung lanjut studi S2.”Tentu saja Viola menyembunyikan alasan sebena

  • Istri Rahasia Om Raymond   343. Kepedulian Roberto

    Pagi baru saja merayap naik, sinar matahari menembus kaca jendela ruang VIP rumah sakit.Pintu kamar berderit pelan saat Roberto melangkah masuk dengan tongkat penyangganya. Sosok tua itu menyapu pandangan ke dalam ruangan, hingga matanya jatuh pada Jovita yang terlelap di atas ranjang tambahan lipat, posisi tidur wanita itu tampak meringkuk kaku, teramat kurang nyaman untuk ukuran seorang yang tengah mengandung besar.Melihat putranya yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil di leher, emosi Roberto langsung tersulut tanpa aba-aba.“Jadi suami, tanggung jawab sedikit, apa susahnya?” sembur Roberto dengan suara serak namun penuh tekanan.Raymond tertegun di tempatnya, pagi-pagi sudah mendapat makian yang tak jelas arahnya. Urat-urat di lehernya serta-merta mengeras, dorongan untuk membalas dengan mengungkap masa lalu sang papa membuncah di ujung lidah.Tapi, sebelum Raymond sempat membuka mulut untuk meledakkan amarahnya, Roberto kembali menyambung ketus.“Istrimu sed

  • Istri Rahasia Om Raymond   342. Istri Pilihan

    “Tapi di matanya, yang dia tahu dan panggil papa selama ini adalah Raymond, bukan aku!” “Itu semua wajar, karena selama ini dia hidup bersama Raymond. Tapi kalau sudah tiba waktunya... kita bongkar semua rahasia ini di hadapan Viola.” Sebuah rencana busuk terpatri jelas di benak wanita itu. “Kita ambil dia dari Raymond. Jadikan dia satu-satunya putri mahkota yang tunduk di bawah kendalimu sebagai ayah kandung yang sebenarnya.” Elleonor tersenyum dingin, sorot matanya memancarkan ambisi gelap yang tak pernah padam. “Asal kau tahu, tidak mudah meyakinkan Felisa untuk mempertahankan kandungannya. Waktu itu dia hampir mengugurkan kandungannya.” Elleonor menghela napas menjeda kalimatnya. “Kita tinggal selangkah lagi, jangan buat penantian panjang kita berakhir sia-sia.” Julian mendengus lelah, mengusap wajahnya dengan kasar. Pertanyaan penuh keputusasaan meluncur begitu saja dari bibirnya

  • Istri Rahasia Om Raymond   341. Anak Satu-satunya

    "Pa, suruh Mama pergi! Aku jijik... Aku nggak mau lihat Mama lagi!" racaunya parau, napasnya memburu tak beraturan di tengah tangis yang memecah dada.Viola terus memohon. Jemarinya yang bengkak dengan jarum infus tertancap di punggung tangan mencengkeram erat lengan sang dokter, mencakar batas kesadarannya sendiri."Dokter, jangan biarkan Mama masuk!”Bola mata gadis itu berputar liar, menangkap sosok Jovita yang berdiri di samping Raymong. “Jojo, tolong aku, Jo... Temani aku, jangan biarkan Mama mendekat."Di sisi ranjang, Jovita berdiri dalam dilema yang menyesakkan. Ia bergeming, tak menyangka Viola justru memanggilnya dan menolak mamanya. Perempuan yang sedang hamil kembar itu diliputi rasa tidak nyaman, bagaimana pun juga, Felisa adalah ibu kandung yang melahirkan Viola.Melihat trauma psikologis yang terpampang di depan matanya, Jovita hanya mampu mengelus kaki Viola pelan, menyalurkan kehangatan semu yang diharap mampu meredakan gemetar di tubuh gadis itu.“Tenang Vio… semua a

  • Istri Rahasia Om Raymond   340. Diusir

    Jam sudah menunjuk pukul empat sore. Felisa menatapnya dengan debar jantung yang tak karuan.Sudah waktunya Felisa bersiap menggantikan shift jaga di rumah sakit. Ada ketakutan luar biasa di dalam dadanya jika nanti Viola terbangun dan menolak kehadiranna.Tapi mau mundur ada rasa sungkan. Sekalipun ia tahu Raymond tidak akan marah atau mengungkit, rasa tidak enak pada Jovita mencengkeram hatinya lebih kuat.Bagaimana bisa ia sebagai ibu kandung berleha-leha, sementara Jovita yang selama ini telah ia sakiti dengan begitu keji, justru dengan tulus meluangkan waktu merawat putrinya meski dalam kondisi hamil?***Di ruang VIP rumah sakit, suasana sore menjelang senja terasa lebih tenang. Di sisi ranjang, Raymond dan Jovita masih bercakap-cakap pelan sambil menunggu kedatangan Felisa.“Sudah jam segini Feli belum datang,” ucap Raymond yang terlihat gelisah dan berulang kali menatap pintu.Jovita melirik sinis kea rah suaminya. “Oh kangen mantan ternyata,” celetuknya sambil mengalihkan pan

  • Istri Rahasia Om Raymond   339. Sepenggal Masa Lalu

    Tatapan Raymond kembali jatuh pada sosok Viola yang terbaring tenang di balik selimut putih. Selama ini, ia meyakini bahwa kemiripan fisik Viola dengannya adalah bukti dari ikatan darah di antara mereka. Keyakinan Raymond memang tidak sepenuhnya salah, garis genetik itu memang ada di antara mereka, hanya saja bukan dari benihnya asal garis itu tercipta. “Aku akan menyelidiki ini sampai tuntas,” gumam Raymond dengan rahang mengeras. Jovita merapatkan posisi duduknya, menyusun logika dingin di tengah kekalutan. “Kita bisa mulai dari memetakan motif siapa yang paling kuat untuk menjebak Om Ray saat itu. Siapa yang paling diuntungkan dengan keadaan ini.” Raymond mengangguk, membenarkan logika istrinya. “Kalau itu Pak Roberto, bukankah dia punya pengalaman menyimbunyikan istri simpanan? Jadi daripada membuat orang lain bertanggung jawab, aku yakin dia akan menggunkan ca

  • Istri Rahasia Om Raymond   3. Terpaksa Nikah

    Teriakan Joni berhasil memicu kehebohan. Tetangga yang terbangun langsung berkerumun di depan pintu, menatap Raymond dengan pandangan curiga dan penuh amarah.​“Dia mau memperkosa Jojo, Pak! Dia memaksa masuk dan memukuli saya!” fitnah Joni pura-pura kesakitan di lantai.​“Itu tidak benar!” Jovita

  • Istri Rahasia Om Raymond   2. Fitnah Keji

    Jovita mencengkeram erat tali tasnya, syarat dari Raymond seperti ujian akhir kelulusan, berat dan tak mudah.​Meyakinkan Viola menerima wanita lain menjadi ibunya.​“Om, maaf…” Jovita menelan ludah, menatap ragu pria matang di sampingnya. “Kita sama-sama tahu Vio itu keras kepala. Saya tidak yaki

  • Istri Rahasia Om Raymond   1. Upik Abu di Tengah Pesta

    “Argh….”Basah, dingin, dan lengket.Cairan kemerahan koktail buah merembes mengotori seragam katering Jovita. Matanya terpejam mencengkeram kuat nampan yang dia bawa menahan amarah.“Maaf! Sengaja,” cibir salah satu teman Jovita di kampus, meletakkan gelas kosong ke nampan Jovita dengan kasar. “Se

  • Istri Rahasia Om Raymond   7. Miliki Aku, Om!

    Tak ada kelembutan dalam ciuman Raymond. Penuh kelaparan yang selama bertahun-tahun terpendam. Tangan kekar Raymond mencengkeram pinggang Jovita. Mengunci tubuh ringkih gadis itu di antara dada bidangnya dengan meja pantry hingga tidak bisa ke mana-mana.“Jojo…”Raymond menarik tautan bibir mereka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status