Mag-log inSaat Raymond melangkah masuk, keadaan rumah keluarga Chandra sudah jauh lebih tenang.
Pria itu melihat sosok Jovita baru saja turun dari lantai dua sambil membawa tas kainnya dan sebuah tumbler pemberian Viola. Raymond menghentikan langkah. "Jojo? Belum pulang?" Jovita sedikit tersentak, lalu mengangguk tak enak hati. "Saya menemani Vio sampai dia tertidur, Om. Kamarnya sudah saya rapikan sedikit." Raymond mengembuskan napas berat, melonggarkan satu kancing teratas kemejanya. "Apa dia masih marah?" "Vio hanya kaget, Om," jawab Jovita dengan nada suara yang lembut, mencoba menenangkan. "Dia anak yang baik. Jika nanti Om memberinya penjelasan pelan-pelan, saya yakin Vio pasti akan memahami situasi dan posisi Om dengan Bu Karina." Raymond terdiam sejenak, menatap lekat-lekat kedewasaan yang terpancar dari gadis muda di hadapannya. Kontras sekali dengan putrinya yang egois. "Sudah terlalu malam. Ayo, aku antar." "Eh, tidak usah, Om. Saya bisa naik ojek." "Jangan membantah, Jovita," potong Raymond tegas, suaranya mutlak dan tak menerima penolakan. "Meski kawasan kosmu aman, tapi jalanan tidak baik untuk anak gadis berkeliaran malam hari." Seolah tidak memiliki pilihan, Jovita mengekor di belakang punggung lebar itu menuju mobil. Di dalam kabin mobil hitam, Raymond mengemudikan mobil dengan santai, sesekali melemparkan obrolan ringan tentang perkuliahan Jovita dan persiapannya untuk mulai magang besok pagi. Jovita menjawabnya dengan sopan, mencoba mengikis rasa canggung. Suasana akrab itu pecah saat ponsel Jovita yang diletakkan di dekat tuas transmisi bergetar. Layarnya menyala terang, menampilkan satu nama yang sejak sore tadi tidak berhenti menghubunginya, Dylan. Mata tajam Raymond melirik sekilas ke arah layar sebelum kembali fokus ke jalanan. Rahangnya tampak mengeras samar. "Dylan? Kamu memiliki hubungan spesial dengannya?" tanya Raymond, nadanya terdengar datar namun menuntut jawaban. Ada amarah, tapi bukan cemburu. Jovita menggeleng cepat, ada gurat ketakutan di wajahnya. "Sama sekali tidak, Om. Dylan hanya teman. Lagipula... saya sangat tahu kalau Dylan adalah pria yang sedang diincar oleh Vio. Saya tidak mungkin mengkhianati sahabat saya sendiri." Raymond hanya bergumam samar sebagai respons. Entah mengapa, tenggorokannya mendadak terasa sangat kering dan panas. Ia meraba kompartemen di pintu mobil, mencari botol air mineral yang biasanya selalu tersedia di sana, namun nihil. Semuanya kosong. “Om Ray cari apa?” “Minum, biasanya saya menyiapkan di sini. Sepertinya habis.” Ia teringat botol minum di pangkuannya. "Ini... tadi Vio memberikan saya kopi di tumbler ini sebelum saya pulang. Kalau Om tidak keberatan, Om bisa meminumnya. Ini belum saya sentuh sama sekali." Tanpa pikir panjang karena rasa haus yang membakar, Raymond menerima tumbler tersebut. Ia membuka tutupnya dan meminum cairan pahit itu. Mungkin tidak serta merta menghilangkan haus, tapi setidaknya membasahi tenggorokannya yang kering. "Terima kasih." Raymond mengembalikan tumbler pada Jovita setelah menenggak setengah isinya. Namun, hanya butuh waktu kurang dari lima menit setelah cairan itu masuk ke tubuhnya, Raymond mulai merasakan ada yang tidak beres. Suhu di dalam kabin mobil yang ber-AC mendadak terasa seperti tungku api. Jantung Raymond berdentum gila-gilaan, memompa darah dengan kecepatan yang tidak wajar ke seluruh tubuhnya. Napasnya memburu, jemarinya yang mencengkeram setir mulai bergetar dan berkeringat dingin. Raymond menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mencoba mengusir kabut aneh yang tiba-tiba menyerang kesadarannya. Pandangannya mengabur. Saat melirik ke samping, bayangan Jovita di mata Raymond mendadak berubah. Gadis yang biasanya tampak polos dan kekanakan itu, kini terlihat begitu ranum, memikat, dan memicu hasrat purba yang selama ini terkunci rapat di dalam dirinya. "Om? Om Ray tidak apa-apa?" suara Jovita terdengar sayup-sayup, sarat akan kecemasan. Raymond tidak menjawab. Ia memaksakan seluruh sisa kesadarannya untuk menginjak pedal gas lebih dalam, membelah jalanan hingga akhirnya mobil itu mandek dengan rem mendadak di depan gerbang kos eksklusif tempat Jovita tinggal. "Om Ray, sakit?" Jovita panik saat melihat keringat bercucuran di pelipis Raymond. Napas Raymond terdengar kasar dan berat. Pria itu mencengkeram setir begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. "Turun, Jo... Turun sekarang!" Suara Raymond serak dan bergetar menahan sesuatu yang bergejolak hebat di dalam dadanya. "Tapi Om…" "Aku bilang turun!" Raymond membentak rendah, mata elangnya kini berkilat merah, menatap Jovita dengan tatapan lapar yang menakutkan. Jovita yang ketakutan segera membuka pintu mobil. Belum sempat turun, Jovita melihat kondisi Raymond yang tidak stabil dan memegangi kepala, membuatnya tidak tega pergi. Sifat polos dan rasa berhutang budinya yang besar atas bantuan Raymond, membuat Jovita mengabaikan rasa takutnya dan mendekati Raymond yang sedang bersandar pada kap mobil. "Om, tolong jangan mengemudi dalam kondisi seperti ini. Om istirahat saja dulu di kamar saya di atas, ya? Saya ambilkan air hangat." "Masuk ke kamarmu dan kunci pintunya. Sekarang! Menjauh dariku!" Raymond tahu ada yang salah dengan tubuhnya. Sesuatu telah meracuninya, dan akal sehatnya sedang berperang hebat melawan insting liar yang menuntut pelepasan. "Tidak, Om! Saya tidak bisa meninggalkan Om Ray sendirian seperti ini!" Jovita bersikeras karena khawatir. Gadis itu nekat maju, meraih lengan tegap Raymond untuk memapahnya. Sentuhan kulit Jovita yang dingin pada lengannya yang panas menjadi titik ledak yang meruntuhkan seluruh pertahanan akal sehat Raymond. Dengan susah payah akhirnya mereka tiba di kamar Jovita. “Om Ray bisa istirahat dulu. Saya buatkan minuman hangat, semoga bisa membantu memulihkan kondisi Om.” Jovita mendudukkan tubuh kekar Raymond di sofa ruang tengah, lalu bergegas menuju ke arah pantry kecil. Hawa kamar yang terasa sedikit hangat, Jovita refleks melepas kemeja flanel andalannya dan menyampirkannya di kursi. Memperlihatkan tubuh kurus nan sintal yang kini dibalut oleh kaus rumahan tipis yang ngepas di badan, mencetak jelas lekuk tubuhnya. Raymond merenggut dasinya hingga terlepas, membuka beberapa kancing kemejanya demi mencari oksigen. Nurani dan logikanya berteriak keras memerintahkannya untuk diam dan pergi. Tapi, dorongan tak kasatmata membuat Raymond bangkit berdiri dengan langkah goyah, menghampiri Jovita di pantry. Raymond sadar ini salah, tapi ia benar-benar telah kehilangan kendali atas dirinya sendiri. “Om.” Jovita tersentak kaget saat membalikkan badan dan menyadari Raymond sudah berdiri begitu dekat, mengurung tubuhnya di depan meja pantry. “Maaf.” Suara Raymond bergetar parau, matanya menggelap oleh pekatnya gairah. “Aku tahu ini salah, tapi aku benar-benar sudah tidak mampu mengendalikan diriku lagi.” “Om….” Belum sempat Jovita melanjutkan kalimat penolakannya, Raymond sudah menunduk, melabuhkan bibirnya dengan panas dan menuntut di atas bibir tipis gadis itu.Bisikan Jovita layaknya lampu hijau yang menghancurkan sisa-sisa kewarasan Raymond, hingga kehilangan kendali sepenuhnya. Tanpa sepatah kata pun, Raymond menyusupkan lengannya di bawah lutut dan punggung Jovita, mengangkat tubuh mungil gadis itu ke dalam gendongannya. Ia membawa Jovita menuju kamar utama dengan langkah-langkah besar yang terburu-buru, seolah takut gadis itu akan berubah pikiran. Raymond membaringkan Jovita ke atas kasur dengan gerakan yang sedikit tergesa-gesa. Tubuh besarnya segera mengukung gadis itu di bawah tubuhnya. Dengan kedua lututnya, Raymond memisah kaki Jovita, membuka ruang paling intim gadis itu demi menuntaskan dahaga yang menyiksa. Tanpa pemanasan yang panjang karena gairah yang hampir meledak, Raymond menyatukan tubuh mereka dalam satu dorongan kuat yang dalam. “Ahhh! Om…!” Jovita menjerit kecil, suaranya tertahan di tenggorokan saat rasa sakit yang tajam dan panas menyergap seluruh kesadarannya. Jari-jari Jovita mencengkeram erat bahu kokoh Raym
Tak ada kelembutan dalam ciuman Raymond. Penuh kelaparan yang selama bertahun-tahun terpendam. Tangan kekar Raymond mencengkeram pinggang Jovita. Mengunci tubuh ringkih gadis itu di antara dada bidangnya dengan meja pantry hingga tidak bisa ke mana-mana.“Jojo…”Raymond menarik tautan bibir mereka sesaat. Suaranya parau, pecah oleh erangan yang terdengar seperti rintihan kesakitan. Napasnya yang memburu terasa panas di wajah Jovita.“Seharusnya kau berlari menjauh... sekarang juga, Jojo... sebelum aku benar-benar merusakmu,” bisik Raymond, peringatan itu terdengar seperti sebuah permohonan frustrasi.Tapi tangan Raymond justru bertolak belakang dengan ucapannya. Jemarinya menyusup ke balik kaus tipis Jovita, menyentuh kulit hangat di pinggang gadis itu. Sentuhan itu membuat Jovita tersentak, tubuhnya menggigil.Raymond mengangkat wajahnya. Matanya merah, rahangnya mengeras menahan gejolak yang menyiksa. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Ada rasa bersalah saat menginginkan gadis y
Saat Raymond melangkah masuk, keadaan rumah keluarga Chandra sudah jauh lebih tenang. Pria itu melihat sosok Jovita baru saja turun dari lantai dua sambil membawa tas kainnya dan sebuah tumbler pemberian Viola.Raymond menghentikan langkah. "Jojo? Belum pulang?"Jovita sedikit tersentak, lalu mengangguk tak enak hati. "Saya menemani Vio sampai dia tertidur, Om. Kamarnya sudah saya rapikan sedikit."Raymond mengembuskan napas berat, melonggarkan satu kancing teratas kemejanya. "Apa dia masih marah?""Vio hanya kaget, Om," jawab Jovita dengan nada suara yang lembut, mencoba menenangkan. "Dia anak yang baik. Jika nanti Om memberinya penjelasan pelan-pelan, saya yakin Vio pasti akan memahami situasi dan posisi Om dengan Bu Karina."Raymond terdiam sejenak, menatap lekat-lekat kedewasaan yang terpancar dari gadis muda di hadapannya. Kontras sekali dengan putrinya yang egois. "Sudah terlalu malam. Ayo, aku antar.""Eh, tidak usah, Om. Saya bisa naik ojek.""Jangan membantah, Jovi
“Papa jahat!”Pekikan nyaring Viola seketika memutus tautan bibir Raymond dan Karina. Kedua orang dewasa itu menoleh terkejut, mendapati Viola berdiri dengan dada naik-turun menahan amarah, sementara Jovita mematung di belakangnya dengan wajah pias.Raymond segera melepaskan dekapannya pada Karina, lalu melangkah maju dengan ekspresi wajah yang kembali dingin dan berwibawa. “Jaga sopan santunmu, Vio. Ada tamu di sini.”“Tamu? Papa sebut perempuan jalang itu tamu?” tunjuk Viola dengan jari bergetar ke arah Karina.Karina menarik napas panjang, mencoba tersenyum sabar meski matanya menyiratkan luka. “Vio, Tante dan Papa kamu…”“Diam!” bentak Viola sengit. “Kamu tidak punya hak bicara di sini.”“Papa sudah janji mau rujuk sama Mama! Kenapa sekarang justru bermesraan dengan perempuan ini di rumah ini?”“Cukup, Viola!” Bentakan Raymond menggema. “Papa tidak pernah janji rujuk dengan mamamu. Pernikahan kami sudah lama selesai. Dan bulan depan, Papa dan Tante Karina akan segera men
Raymond terdiam sejenak, menatap lekat sudut bibir Jovita yang masih sedikit membiru akibat hantaman Joni. Ucapan Jovita yang menuntut talak mengandung keangkuhan dan kepasrahan penuh ironi.“Aku tidak sebajingan itu, Jo,” suara Raymond melunak, namun tetap tegas. “Jika aku menalakmu malam ini dan membiarkanmu pergi, besok pagi ayahmu pasti akan menyeretmu kembali ke neraka itu. Aku harus memastikan kamu benar-benar aman dan bisa mandiri terlebih dahulu.”Jovita meremas ujung kemejanya. Pertanyaan yang sejak tadi menyumbat tenggorokannya akhirnya lolos juga. “Lalu… bagaimana dengan Bu Karina?”Mendengar nama Karina disebut, sorot mata Raymond meredup sekilas. Ada beban berat yang kembali menggelayuti pundaknya.“Kamu harus merahasiakan pernikahan kita dari siapa pun. Baik itu Vio, maupun Karina. Tidak boleh ada satu orang pun yang tahu.”Raymond menatap Jovita dalam-dalam. “Perjanjian kita sebelumnya tetap berlaku, kau harus meyakinkan Vio untuk menerima Karina sebagai ibu b
Teriakan Joni berhasil memicu kehebohan. Tetangga yang terbangun langsung berkerumun di depan pintu, menatap Raymond dengan pandangan curiga dan penuh amarah.“Dia mau memperkosa Jojo, Pak! Dia memaksa masuk dan memukuli saya!” fitnah Joni pura-pura kesakitan di lantai.“Itu tidak benar!” Jovita berteriak di sela tangis, mencoba berdiri di depan Raymond untuk melindunginya. “Om Raymond tidak seperti itu! Dia cuma mau nolong saya karena dipukuli Ayah! Tolong percaya pada saya!”Pembelaan Jovita justru semakin menimbulkan curiga, membuat warga yang sudah terprovokasi semakin emosi.Ditambah pakaian Jovita yang acak-acakan, asumsi liar menyebar.“Jangan-jangan mereka memang ada apa-apa. Buat apa orang kaya datang malam-malam ke tempat kumuh begini kalau bukan urusan syahwat?” celetuk seorang warga dari belakang.“Betul! Daripada mengotori kampung ini dan bikin sial, lebih baik nikahkan saja mereka sekarang!” seru warga lain yang langsung mendapat anggukan pembenaran.Mata Jovita m







