Home / Romansa / Istri Rahasia Om Raymond / 7. Miliki Aku, Om!

Share

7. Miliki Aku, Om!

Author: Henny Djayadi
last update publish date: 2026-06-12 08:51:43

Tak ada kelembutan dalam ciuman Raymond. Penuh kelaparan yang selama bertahun-tahun terpendam.

Tangan kekar Raymond mencengkeram pinggang Jovita. Mengunci tubuh ringkih gadis itu di antara dada bidangnya dengan meja pantry hingga tidak bisa ke mana-mana.

“Jojo…”

Raymond menarik tautan bibir mereka sesaat. Suaranya parau, pecah oleh erangan yang terdengar seperti rintihan kesakitan. Napasnya yang memburu terasa panas di wajah Jovita.

“Seharusnya kau berlari menjauh... sekarang juga, Jojo... sebelum aku benar-benar merusakmu,” bisik Raymond, peringatan itu terdengar seperti sebuah permohonan frustrasi.

Tapi tangan Raymond justru bertolak belakang dengan ucapannya. Jemarinya menyusup ke balik kaus tipis Jovita, menyentuh kulit hangat di pinggang gadis itu. Sentuhan itu membuat Jovita tersentak, tubuhnya menggigil.

Raymond mengangkat wajahnya. Matanya merah, rahangnya mengeras menahan gejolak yang menyiksa. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Ada rasa bersalah saat menginginkan gadis yang selama ini dia lindungi.

Jovita menatapnya dengan sepasang mata yang melebar, dipenuhi ketakutan dan kebingungan. Pria di hadapannya saat ini terasa seperti orang asing.

Sebelum malam ini, Raymond adalah sosok yang selalu menjaga jarak. Setiap kali pria itu mendatangi Maximilian Residence, kos eksklusif miliknya, selalu bersikap dewasa dan formal, layaknya seorang ayah angkat, atau pemilik properti yang sekadar meminta laporan administrasi bulanan.

Hanya sebatas itu. Pria itu tidak pernah lepas kendali, apalagi terlihat tersiksa seperti malam ini.

“Apa yang terjadi, Om?” tanya Jovita dengan suara lirih yang bergetar.

Gadis itu mencoba mendorong dada bidang Raymond, berusaha mencari ruang untuk bernapas di tengah kepungan aroma maskulin pria itu yang memabukkan.

“Kenapa Om seperti ini?”

“Sial... tubuhku...” Raymond mengerang frustrasi, lalu menyusupkan wajahnya ke ceruk leher Jovita. Pria itu melabuhkan kecupan-kecupan basah dan gigitan kecil di sana, mengisap kulit leher Jovita hingga membuat seluruh tubuh gadis itu meremang hebat.

“Ini tidak benar, Jo... ini benar-benar menyiksaku,” rintih Raymond di atas kulitnya. “Aku merasa seperti di bawah kendali obat perangsang. Sesuatu membakar tubuhku dari dalam!”

Jovita terbelalak. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. “O-obat perangsang? Bagaimana mungkin, Om?”

“Kopi itu...” Raymond menatap Jovita dengan pandangan beralih antara kabur dan menuntut. “Sepertinya dari kopi yang kau berikan tadi.”

Wajah Jovita seketika pias, menggeleng cepat dengan kepanikan yang sangat.

“Tidak mungkin, Om! Kopi itu... itu pemberian dari Vio. Buat apa Vio?”

Raymond mencengkeram kedua bahu Jovita, sedikit menekannya ke belakang hingga gadis itu terperangkap sepenuhnya. Sorot mata Raymond yang biasanya teduh kini berkilat liar, dipenuhi kecurigaan dan gairah.

“Kau tidak sedang menjebakku, kan, Jovita?” tanya Raymond dengan suara rendah yang mengintimidasi. “Jawab aku!”

“Tidak, Om! Demi Tuhan, aku melakukannya!” Jovita setengah terisak, suaranya bergetar hebat.

Jovita berusaha melepaskan dirinya. Gerakan Raymond semakin tidak terkendali.

“Argh! Om...”

Satu erangan lolos dari bibir Jovita saat tangan Raymond bergerak naik dan meremas dadanya di balik kain kaus. Remasan yang menuntut, penuh kepemilikan yang primitif.

“Maaf...” ucap Raymond dengan suara yang kian serak, nyaris tak terdengar.

Alih-alih menarik tangannya, Raymond justru meremasnya semakin intens, menuntut penyerahan yang lebih dalam. Pria itu benar-benar telah kehilangan kendali atas akal sehatnya.

“Om… emmph….”

Raymond kembali membungkam mulut Jovita dengan ciuman yang lebih dalam, melumat bibir ranum itu hingga kata-kata Jovita tertelan kembali di tenggorokan.

Jovita memejamkan mata erat-erat. Sentuhan Raymond mengirimkan gelombang kenikmatan yang asing sekaligus menyiksa. Di balik kegelapan matanya, bayangan wajah Karina dan Viola tiba-tiba melintas, menghadirkan rasa bersalah yang menghimpit dada.

Tapi, sebuah pikiran lain tiba-tiba menyelinap ke benak Jovita.

Pria yang sedang memeluknya dengan frustrasi ini adalah pria yang telah membiayai dua semester kuliahnya tanpa mengeluh. Pria yang memberinya tempat tinggal mewah, perlindungan dari kejamnya dunia luar, dan selalu memperlakukannya dengan baik, meski Jovita hanyalah gadis miskin yang tak punya apa-apa.

Sementara itu, sampai detik ini, tugas yang dibebankan di pundaknya belum juga berhasil Jovita selesaikan. Jovita merasa berutang pada pria ini.

Lalu, salahkah jika malam ini Jovita memberikan apa yang dibutuhkan Raymond?

Dengan tangan gemetar, Jovita perlahan memberanikan diri menyentuh rahang tegas Raymond yang ditumbuhi rambut-rambut halus. Air matanya jatuh dengan lambat, membasahi pipinya yang merona panas.

“Om…” Suara Jovita lirih, penuh kepasrahan yang tulus. “Aku istrimu.”

Raymond seketika membeku. Gerakan tangannya terhenti, matanya menatap Jovita dengan tatapan yang campur aduk antara tidak tega dan hasrat yang kian memuncak.

Jovita menarik wajah Raymond mendekat, menciumnya dengan polos namun penuh ketulusan. Lalu, dengan suara yang bergetar karena malu dan penyerahan diri, ia berbisik di bibir Raymond yang basah.

“Miliki aku, Om.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Rahasia Om Raymond   324. Rela

    Sebenarnya, rencana Viola untuk melanjutkan studi ke luar negeri sudah sempat terdengar sejak lama. Ketika kenyataan itu di depan mata dan Viola benar-benar akan merealisasikannya, rasa kehilangan langsung menghantam dada Jovita. Apalagi, hubungan mereka sebagai keluarga belum sepenuhnya mencair dan membaik secara utuh.Jovita duduk di samping Raymond, mengusap pelan punggung suaminya untuk menenangkan. “Menurut Om... apa dia masih marah padaku?”Jovita teringat masa lalu. Dulu saat mengetahui Jovita akan magang di Vastu Chandra, Viola meminta bantuan agar sahabatnya itu mengawasi papanya saat dekat dengan Karina. Tapi ternyata, justru Jovita sendiri yang menikah dengan Raymond.Raymond mengusap wajahnya yang tampak lelah, lalu menatap Jovita lurus.“Vio bilang, dia ambil keputusan ini bukan karena marah padamu, dan dia menegaskan ini juga bukan karena Dylan. Vio cuma bilang... dia ingin belajar mandiri.”“Om percaya?”Raymond menghela napas panjang dan dalam, mencoba meredakan gejola

  • Istri Rahasia Om Raymond   323. Sedih Juga

    Viola duduk termenung di depan meja belajar kamarnya. Layar laptop yang menyala menampilkan deretan informasi detail mengenai program studi dan persyaratan pendaftaran dari kampus-kampus yang tertera di brosur tadi siang. Berbagai kertas informasi berjejer rapi di sekeliling laptopnya.Ketukan pelan di pintu kamarnya memecah keheningan."Masuk," sahut Viola tanpa mengalihkan pandangannya dari layar. Dia menduga itu Bi Lastri yang datang membawa minuman dan camilan.Pintu terbuka, ternyata sosok Raymond muncul dari balik pintu. Pria itu tersenyum hangat, namun mengernyitkan kening saat mendapati putrinya sedang berkutat di depan laptop dengan lembaran brosur yang berserakan di atas meja."Belum tidur?" tanya Raymond lembut sembari mendekat. "Sedang sibuk apa malam-malam begini?"Raymond mengambil salah satu lembar kertas tebal yang berserakan di atas meja. Matanya membelalak kaget saat membaca deretan nama universitas ternama dan peta kampus di benua Eropa serta Australia."Vio... ini

  • Istri Rahasia Om Raymond   322. Tekad Viola

    SUV yang dikendarai Raymond perlahan memasuki pelataran luas kediaman keluarga Hadiningrat.Dari balik jendela kaca ruang depan, Damian dan Dylan berdiri berdampingan. Kedua pria berbeda generasi itu saling lempar pandang dengan makna tersendiri saat mengenali kendaraan yang baru saja berhenti di depan halaman utama.Kelegaan seketika terpancar dari raut wajah Damian dan Dylan saat pintu mobil terbuka dan hanya menampilkan sosok Raymond yang dengan sigap membukakan pintu untuk Jovita. Tidak ada Viola bersama mereka.“Sadar diri juga, anak manja itu,” ucap Dylan penuh kelegaan lalu meninggalkan Damian menuju ke tempat adiknya berada.Bagi Dylan, ketiadaan Viola adalah sebuah kebebasan. Pria muda itu sangat enggan jika harus bersandiwara memasang topeng keramahan di hadapan Viola.Sementara bagi Damian, situasi ini jauh lebih krusial. Damian yang dalam perjalanan hidupnya sudah mengalami dua kali pernikahan akibat perjodohan, paham betul bagaimana dinamika perasaan pria bekerja.Damian

  • Istri Rahasia Om Raymond   321. Menghindar

    Bi Lastri terkesiap, nyaris menjatuhkan sendok di tangannya. “Non Vio! Kenapa ngomong begitu? Apa ada masalah sama Tuan, atau sama Jojo?”Viola menggeleng pelan, air matanya kembali mendesak ingin keluar namun ia tahan sekuat tenaga.“Nggak ada masalah, Bi. Aku… hanya tidak ingin ganggu kebahagiaan Papa.”“Non Vio jangan berpikir seperti itu, Non Vio adalah salah satu sumber kebahagiaan Tuan.”Viola tahu itu, papanya telah banyak berkorban untuk kebahagiaanya, terutama korban perasaan menutupi aib mamanya.“Selama aku masih di sini, Papa harus terus membagi waktu dan perhatiannya antara aku dan Jojo... Papa pasti capek banget harus terus berada di tengah-tengah, jadi seperti punya dua istri.”Bi Lastri mengernyitkan kening, mencoba menenangkan. “Tapi Non, sekarang kan Non sama Tuan tinggal serumah, harusnya nggak ada masalah... toh dulu Jojo dulu juga sering nginep di sini.”“Dulu Jojo kalau nginep tidurnya sama aku, sekarang sama papa.”Bi Lastri menahan senyum melihat wajah masam Vi

  • Istri Rahasia Om Raymond   320. Mau Pergi

    Di salah satu butik perlengkapan bayi ternama, tampak pasangan suami istri dengan bahagia melangkah berdampingan.Raymond berjalan santai dengan satu tangan menggandeng erat jemari Jovita, sementara tangan lainnya mendorong trolley belanjaan yang mulai terisi. Jovita, yang mengenakan baju hamil berpotongan simpel berwarna pastel, tampak begitu manja mengapit lengan suaminya.“Om, lihat deh! Lucu banget sepatu mungil ini...” Jovita sangat antusias mengambil sepasang sepatu bayi berukuran sangat kecil berwarna krem, lalu menempelkannya di telapak tangan Raymond.Raymond tertawa kecil, menatap sepatu mungil di tangannya lalu beralih menatap wajah cantik istrinya yang berbinar. Pria dewasa itu mengusap lembut pipi Jovita dengan ibu jarinya.“Iya… ini lucu, tapi ini untuk bayi perempuan, Sayang. Yang buat Baby Davi... Kamu sudah dapat kadonya belum?”“Sudah Om! Tadi baju setelan sama baby bouncer-nya kan sudah dipilihin,” sahut Jovita yang dari tadi bergelayut manja, menyandarkan kepalanya

  • Istri Rahasia Om Raymond   319. Sadar Setelah Karma

    “Kau boleh tidak percaya dengan ucapanku. Kalau kau ingin bukti dan saksi, atau bahkan ingin melihat sendiri secara langsung bagaimana mamamu bekerja... aku bisa menunjukkannya padamu detik.”Viola menggeleng cepat dengan bibir gemetar. Bayangan suara genit mamanya di telepon beberapa hari lalu seketika berputar hebat di kepalanya. Tidak, melihatnya secara langsung hanya akan membuat hatinya yang sudah retak ini semakin hancur.Damian melipat kedua tangannya di depan dada, melanjutkan dengan nada dingin, tapi kali ini sedikit melembut“Maaf jika aku harus berbicara sekeras ini di depanmu. Seperti halnya diamnya papamu selama ini demi menjaga perasaanmu, bicaraku kali ini juga dilakukan demi menjaga keluargaku.”Pria itu jeda sejenak, memberikan penekanan pada setiap kata yang keluar dari bibirnya.“Dan sebagai gadis yang sudah dewasa, aku rasa kau tahu betul apa yang harus kau lakukan setelah mendengar semua ini.”Viola mengangguk samar sambil menyeka air mata yang berderaian.“Diam m

  • Istri Rahasia Om Raymond   3. Terpaksa Nikah

    Teriakan Joni berhasil memicu kehebohan. Tetangga yang terbangun langsung berkerumun di depan pintu, menatap Raymond dengan pandangan curiga dan penuh amarah.​“Dia mau memperkosa Jojo, Pak! Dia memaksa masuk dan memukuli saya!” fitnah Joni pura-pura kesakitan di lantai.​“Itu tidak benar!” Jovita

  • Istri Rahasia Om Raymond   2. Fitnah Keji

    Jovita mencengkeram erat tali tasnya, syarat dari Raymond seperti ujian akhir kelulusan, berat dan tak mudah.​Meyakinkan Viola menerima wanita lain menjadi ibunya.​“Om, maaf…” Jovita menelan ludah, menatap ragu pria matang di sampingnya. “Kita sama-sama tahu Vio itu keras kepala. Saya tidak yaki

  • Istri Rahasia Om Raymond   5. Tumbler Maut

    “Papa jahat!”​Pekikan nyaring Viola seketika memutus tautan bibir Raymond dan Karina. Kedua orang dewasa itu menoleh terkejut, mendapati Viola berdiri dengan dada naik-turun menahan amarah, sementara Jovita mematung di belakangnya dengan wajah pias.​Raymond segera melepaskan dekapannya pada Kari

  • Istri Rahasia Om Raymond   4. Dilema Jovita

    ​Raymond terdiam sejenak, menatap lekat sudut bibir Jovita yang masih sedikit membiru akibat hantaman Joni. Ucapan Jovita yang menuntut talak mengandung keangkuhan dan kepasrahan penuh ironi.​“Aku tidak sebajingan itu, Jo,” suara Raymond melunak, namun tetap tegas. “Jika aku menalakmu malam ini

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status