LOGIN“Papa jahat!”
Pekikan nyaring Viola seketika memutus tautan bibir Raymond dan Karina. Kedua orang dewasa itu menoleh terkejut, mendapati Viola berdiri dengan dada naik-turun menahan amarah, sementara Jovita mematung di belakangnya dengan wajah pias. Raymond segera melepaskan dekapannya pada Karina, lalu melangkah maju dengan ekspresi wajah yang kembali dingin dan berwibawa. “Jaga sopan santunmu, Vio. Ada tamu di sini.” “Tamu? Papa sebut perempuan jalang itu tamu?” tunjuk Viola dengan jari bergetar ke arah Karina. Karina menarik napas panjang, mencoba tersenyum sabar meski matanya menyiratkan luka. “Vio, Tante dan Papa kamu…” “Diam!” bentak Viola sengit. “Kamu tidak punya hak bicara di sini.” “Papa sudah janji mau rujuk sama Mama! Kenapa sekarang justru bermesraan dengan perempuan ini di rumah ini?” “Cukup, Viola!” Bentakan Raymond menggema. “Papa tidak pernah janji rujuk dengan mamamu. Pernikahan kami sudah lama selesai. Dan bulan depan, Papa dan Tante Karina akan segera menikah. Semua keluarga besar dari pihak Papa maupun Tante Karina sudah merestui hubungan kami.” Raymond menjeda kalimatnya, menatap putrinya dengan tatapan jengah yang tak terbantahkan. “Hanya kamu yang belum dewasa untuk menerima kenyataan ini.” Mendengar pengumuman itu, Viola menjerit histeris. Ia membanting tas jinjingnya ke lantai, lalu berlari naik ke lantai dua menuju kamarnya sambil terus mengumpat. Di sudut ruangan, Jovita hanya bisa terdiam membeku. Dadanya sesak seolah pasokan oksigen di sekitarnya mendadak raib. Bulan depan, suaminya akan menikahi perempuan lain. Jovita menunduk, menatap remang lantai marmer di bawah kakinya. Setitik rasa perih yang ganjil menyengat hatinya. Ia menyadari posisinya dengan sangat sadar. Pernikahan dengan Raymond hanyalah kecelakaan. Tindakan impulsif yang terpaksa Raymond ambil untuk menyelamatkannya dari kebiadaban ayahnya. Dan Jovita, tidak berhak menuntut lebih. Jovita melirik Karina yang sedang ditenangkan oleh Raymond dengan usapan lembut di punggungnya. Perempuan itu begitu anggun, berpendidikan, berasal dari keluarga terpandang, dan memiliki kelas sosial yang sama dengan Raymond. ”Cinta itu memang harus setara,” batin Jovita perih, meremas ujung kemejanya sendiri. Rasa rendah diri membuat Jovita berpikir Raymond lebih pantas bersanding dengan perempuan sepadan seperti Karina. Bukan dengan gadis miskin, anak pemabuk, yang hanya menjadi beban. “Jojo,” panggilan Raymond memecah lamunan Jovita. Pria itu menatapnya dengan sisa-sisa ketegangan di wajahnya. “Tolong temani Vio di atas. Tenangkan dia. Aku harus mengantar Karina pulang dulu.” Jovita mengangguk patuh tanpa berani menatap mata suaminya. “Baik, Om. Di kamarnya yang luas, Viola sedang meluapkan emosinya. Bantal-bantal berserakan di lantai, dan Viola terus terisak di atas ranjangnya. Jovita duduk di tepi tempat tidur, mengusap punggung sahabatnya itu dengan sabar, mendengarkan segala sumpah serapah Viola untuk Karina. “Dasar pelacur! Jalang murahan! Tidak ada perempuan yang boleh menikah dengan Papa selain Mama. Titik!” “Vio, kamu juga semakin dewasa. Kamu akan menikah dan meninggalkan Om Ray, jadi… biarkan dia memilih teman hidupnya.” Jovita mencoba menjalankan misinya dengan hati-hati. Viola mendadak berhenti menangis. Ia menoleh cepat, menatap Jovita dengan pandangan tajam dan penuh selidik. “Kenapa sih, kamu selalu mendukung Papa untuk menikah lagi? Dibayar berapa kamu sama Papaku, Jo?” Jovita mendadak gugup, persis seperti seorang maling yang tertangkap basah. “Bu-bukan begitu, Vio. Maksudku… Om Ray juga butuh pendamping yang mengurusnya. Kamu tidak kasihan melihat papamu kesepian?” “Terus kamu nggak kasihan sama mamaku? Mamaku dicerai, dicampakkan, dibuang begitu saja, dan sekarang harus hidup sendiri di luar sana.” Viola berteriak histeris. Jovita bungkam. Ia memilih menurunkan kepalanya. “Maaf.” Satu kata yang lolos dari bibir Jovita seperti pengakuan kalah debat. Sampai saat ini, ia tak tahu alasan perceraian kedua orang tua Viola. Tiba-tiba, ponsel Jovita yang tergeletak di atas nakas bergetar kuat. Layarnya menyala, menampilkan nama panggilan yang langsung membuat Viola menghentikan tangisnya. Dylan. Viola langsung menyipitkan matanya yang sembap. Suasana hatinya yang sudah hancur lebur akibat kabar rencana pernikahan papanya, kini tersulut api cemburu yang membakar akal sehat. Dylan, pria idaman yang selama ini Vio kejar mati-matian hingga merendahkan harga diri, justru terus-menerus mencari Jovita. “Sebentar.” Jovita berpamitan sedikit menjauh. Biasanya Dylan menghubunginya hanya untuk membahas tugas maket kuliah yang tenggatnya semakin mepet. Viola bangkit meraih botol minum yang berada di meja rias. Dari dalam laci, Viola mengambil bungkusan kecil sambil melirik Jovita, seolah memastikan sahabatnya itu tidak melihat. “Aku mau buat kopi dulu,” potong Viola dingin, lalu berjalan keluar kamar menuju dapur dengan langkah tergesa-gesa. Di depan konter dapur yang sepi, dengan pikiran diracuni cemburu pada Jovita, serta kemarahan akibat rencana pernikahan papanya. Ia merogoh saku roknya, mengeluarkan bungkusan kecil. “Pakai ini kalau kamu sudah menemukan pria impianmu, Vio. Sedikit saja, dia pasti tidak akan bisa menolakmu.” Kata-kata sang mama menari-nari di kepala Viola. Obat perangsang dosis tinggi itu adalah pemberian sang mama. Awalnya ditujukan agar Viola bisa menggunakannya untuk menjerat Dylan. Namun malam ini, setan di kepala Viola membisikkan rencana lain yang lebih kejam. “Kau oleh ambil semua milikku, kecuali Dylan,” gumam Viola kejam. “Kita lihat, apa Dylan masih mau menatapmu setelah ini.” Viola memasukkan serbuk dalam bungkusan itu, lalu mencampurnya dengan kopi hitam yang biasa menemani Jovita lembur mengerjakan tugas. Viola tidak peduli kapan Jovita akan meminumnya. Begitu cairan itu masuk ke tubuh Jovita, sahabat miskinnya itu pasti akan kelimpungan menahan gairah yang tidak semestinya. Dengan senyum puas yang mengerikan, Viola kembali ke kamar sambil membawa botol minum tersebut. “Ini, Jo. Kopi kesukaanmu,” ucap Viola dengan nada suara yang dibuat selembut mungkin, menyodorkan tumbler maut itu kepada Jovita. “Bawa pulang saja, buat teman ngerjain tugas.”Begitu Jovita turun dari mobil di halaman rumah, Elvi langsung menyambutnya dan mendekap tubuh putrinya itu dengan erat.“Bagaimana kerjanya, lancar, kan?” tanya Elvi hangat sambil mengurai pelukan dan menatap wajah Jovita lekat-lekat. “Kalau capek jangan dipaksain ya. Bunda yakin Raymond sangat mampu mencukupi semua kebutuhan hidupmu. Ya kan, Ray?”Raymond mengangguk sopan dengan senyum tipis di hadapan ibu mertuanya. “Iya, Bu.”Jovita menyahut pelan, berusaha menjaga jarak. “Buat bisa lulus kuliah kan butuh perjuangan dan kerja keras. Masa setelah lulus ilmunya malah nggak dipakai sama sekali?”Elvi tersenyum maklum, mengusap lengan Jovita dengan lembut. “Iya, Bunda paham. Tapi kan kamu sekarang lagi hamil muda, harus ekstra jaga kesehatan juga.”Jovita hanya mengangguk kaku. Di dalam hatinya, ia masih merasa agak risih dan canggung menerima perhatian serta kepedulian Elvi yang terasa berlebihan.“Oh ya, bunda sudah siapkan ayam bumbu rujak pesananmu,” lanjut Elvi penuh semangat. “T
Rapat antar dua perusahaan itu akhirnya selesai dengan kesepakatan bisnis. Begitu dokumen ditutup, Raymond, Damian, dan Dylan berjalan keluar dari ruang rapat secara bersamaan. Tanpa ragu, ketiganya melangkah menuju area kubikel tempat Jovita sedang menekuni komputernya.Raymond berjalan sedikit di depan, tatapannya memancar was-was. Ia sangat paham betapa rumitnya perasaan Jovita terhadap keluarga Hadiningrat, dan ia tak ingin kehadiran Damian membuat suasana hati istrinya yang sedang hamil itu memburuk.“Jo, kita makan siang bareng, yuk?” ajak Damian begitu tiba di dekat meja Jovita, menyapa dengan nada hangat yang begitu kebapaan.Jovita menghentikan pekerjaannya dan mendongak. Pandangannya berganti-ganti menatap Damian, Dylan, dan Raymond yang berdiri sejajar. Ia bisa melihat raut cemas tersembunyi di wajah Raymond.Jovita menarik napas panjang secara halus. Kali ini, ia sadar betul posisinya. Ia memilih menyingkirkan ego dan luka pribadinya sejenak demi bertindak sebagai istri ya
Jovita membolak-balik lembar denah dengan kening berkerut karena fokus. “Kliennya minta ada taman di depan, tapi sisa lahan di bagian belakang juga harus tetap luas ya, Mas?” “Iya, konsepnya rumah tumbuh,” Aris menjelaskan sembari berdiri di sisi meja Jovita. “Jadi desain bangunannya harus benar-benar flexible untuk pengembangan ke depannya kalau pemilik rumah mau nambah ruangan.” Seorang arsitek lain di kubikel sebelah ikut menimpali tanpa mengalihkan pandangan dari layarnya, “Proyek renovasi Perumahan Griya Asri itu emang tantangan banget, Jo. Luas tanahnya terbatas, tapi daftar permintaannya segunung.” “Tapi selama magang dulu, ini kan salah satu kelebihan Jovita,” sahut Aris dengan nada membela yang bangga. “Dia jago banget mengolah lahan sempit biar tetap multifungsi dan kelihatan lega.” Jovita tersenyum tipis, matanya mulai meneliti skala ukuran di atas kertas. “Kalau untuk space tangganya, mending dibuat bertingkat pakai dak beton dari awal atau atapnya langsung ditinggikan
“Kalau kalian tidak tahu apa-apa, jangan banyak bicara!” tegur Aris dengan suara tegas dan sarat ketegangan, menghentikan kasak-kusuk di area kubikel.Bukannya merasa bersalah, salah satu staf wanita justru mencibir sinis. “Idih... yang mau belain bidadari idamannya. Dia tuh nggak sesuci yang kamu bayangkan, Ris!”Aris menatap mereka satu per satu dengan pandangan tajam penuh sindiran. “Terus, apa yang kalian dapat dengan bicara seperti itu?”Para karyawan yang tadinya asyik merumitkan rumor tentang Jovita mendadak terkunci mulutnya, canggung menghadapi konfrontasi langsung dari Aris.“Semua gosip murahan kalian itu nggak akan pernah mengurangi kebahagiaan Pak Raymond dan Jovita,” lanjut Aris dengan intonasi dingin namun menusuk. “Tapi... ucapan kalian bisa membahayakan posisi dan nasib kalian sendiri di kantor ini. Selama kalian masih kerja ikut orang, jangan pernah coba-coba menghina orang yang memberi kalian makan dan membayar gaji kalian.”Di balik ketegasannya membela Jovita, dad
Raymond menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, membuka ponsel untuk memeriksa jadwal kerja yang baru saja dikirimkan sekretarisnya pagi ini.Tapi, konsentrasinya buyar seketika. Dari balik layarnya, mata Raymond justru sibuk memperhatikan sang istri yang sedang sibuk berdandan di depan meja rias untuk hari pertama kerjanya kembali di Vastu Chandra.Jovita pagi ini tampil manis dan anggun. Ia memadukan blouse bahan silk warna cream berpotongan longgar dengan cullotte pants warna camel yang jatuh sempurna. Baju longgar itu sengaja ia pilih untuk menyamarkan perutnya yang mulai sedikit membuncit di awal kehamilan. Rambut hitamnya dibiarkan terurai dengan riasan tipis nan segar di wajahnya.Meski sudah mengenakan setelan pakaian kerja yang serba longgar dan tertutup, di mata Raymond, Jovita tetap saja terlihat amat cantik dan memesona. Apalagi bagian dadanya yang semakin tampak berisi, membuat Raymond takut para pria akan mengalihkan pandangan ke sana.Bahkan dalam hati, terbit pemik
“Waktu magang dulu, Jojo itu luar biasa banget,” puji Aris penuh semangat. Senyumnya makin lebar, matanya berbinar meluapkan kekaguman tanpa menyadari rahang sang bos yang kian mengeras.“Dia cepat banget paham ide rancangan, efisien, dan eksekusi visual arsitekturnya rapi sekali. Belum lagi kepribadiannya yang ramah dan selalu bisa mencairkan suasana tim. Menurut saya, ini langkah yang sangat tepat kalau perusahaan kembali merekrut Jojo yang berbakat itu!”Membayangkan Aris nantinya bekerja di ruangan yang sama, berdiskusi di atas meja yang sama, bahkan duduk di kubikel berdampingan dengan Jovita, dada Raymond seketika bergemuruh hebat dipenuhi gelombang cemburu. Pandangan mata Raymond berkilat tajam menatap arsitek mudanya itu.Tak ingin membuat salah satu arsitek muda andalannya terus melayang dalam harapan palsu, Raymond menyandarkan punggungnya lalu bersuara dingin.“Nanti Jojo akan berada di divisi yang sama seperti saat dia magang dulu.”Senyum Aris makin mengembang lebar. Hara
Tak ada kelembutan dalam ciuman Raymond. Penuh kelaparan yang selama bertahun-tahun terpendam. Tangan kekar Raymond mencengkeram pinggang Jovita. Mengunci tubuh ringkih gadis itu di antara dada bidangnya dengan meja pantry hingga tidak bisa ke mana-mana.“Jojo…”Raymond menarik tautan bibir mereka
Saat Raymond melangkah masuk, keadaan rumah keluarga Chandra sudah jauh lebih tenang. Pria itu melihat sosok Jovita baru saja turun dari lantai dua sambil membawa tas kainnya dan sebuah tumbler pemberian Viola.Raymond menghentikan langkah. "Jojo? Belum pulang?"Jovita sedikit tersentak, lalu me
Raymond terdiam sejenak, menatap lekat sudut bibir Jovita yang masih sedikit membiru akibat hantaman Joni. Ucapan Jovita yang menuntut talak mengandung keangkuhan dan kepasrahan penuh ironi.“Aku tidak sebajingan itu, Jo,” suara Raymond melunak, namun tetap tegas. “Jika aku menalakmu malam ini
Teriakan Joni berhasil memicu kehebohan. Tetangga yang terbangun langsung berkerumun di depan pintu, menatap Raymond dengan pandangan curiga dan penuh amarah.“Dia mau memperkosa Jojo, Pak! Dia memaksa masuk dan memukuli saya!” fitnah Joni pura-pura kesakitan di lantai.“Itu tidak benar!” Jovita







