Share

5. Tumbler Maut

Author: Henny Djayadi
last update publish date: 2026-06-06 08:51:00

“Papa jahat!”

​Pekikan nyaring Viola seketika memutus tautan bibir Raymond dan Karina.

Kedua orang dewasa itu menoleh terkejut, mendapati Viola berdiri dengan dada naik-turun menahan amarah, sementara Jovita mematung di belakangnya dengan wajah pias.

​Raymond segera melepaskan dekapannya pada Karina, lalu melangkah maju dengan ekspresi wajah yang kembali dingin dan berwibawa.

“Jaga sopan santunmu, Vio. Ada tamu di sini.”

​“Tamu? Papa sebut perempuan jalang itu tamu?” tunjuk Viola dengan jari bergetar ke arah Karina.

​Karina menarik napas panjang, mencoba tersenyum sabar meski matanya menyiratkan luka.

“Vio, Tante dan Papa kamu…”

​“Diam!” bentak Viola sengit. “Kamu tidak punya hak bicara di sini.”

“Papa sudah janji mau rujuk sama Mama! Kenapa sekarang justru bermesraan dengan perempuan ini di rumah ini?”

​“Cukup, Viola!” Bentakan Raymond menggema.

“Papa tidak pernah janji rujuk dengan mamamu. Pernikahan kami sudah lama selesai. Dan bulan depan, Papa dan Tante Karina akan segera menikah. Semua keluarga besar dari pihak Papa maupun Tante Karina sudah merestui hubungan kami.”

​Raymond menjeda kalimatnya, menatap putrinya dengan tatapan jengah yang tak terbantahkan.

“Hanya kamu yang belum dewasa untuk menerima kenyataan ini.”

Mendengar pengumuman itu, Viola menjerit histeris. Ia membanting tas jinjingnya ke lantai, lalu berlari naik ke lantai dua menuju kamarnya sambil terus mengumpat.

​Di sudut ruangan, Jovita hanya bisa terdiam membeku. Dadanya sesak seolah pasokan oksigen di sekitarnya mendadak raib.

Bulan depan, suaminya akan menikahi perempuan lain.

​Jovita menunduk, menatap remang lantai marmer di bawah kakinya. Setitik rasa perih yang ganjil menyengat hatinya. Ia menyadari posisinya dengan sangat sadar.

Pernikahan dengan Raymond hanyalah kecelakaan. Tindakan impulsif yang terpaksa Raymond ambil untuk menyelamatkannya dari kebiadaban ayahnya.

Dan Jovita, tidak berhak menuntut lebih.

​Jovita melirik Karina yang sedang ditenangkan oleh Raymond dengan usapan lembut di punggungnya.

Perempuan itu begitu anggun, berpendidikan, berasal dari keluarga terpandang, dan memiliki kelas sosial yang sama dengan Raymond.

​”Cinta itu memang harus setara,” batin Jovita perih, meremas ujung kemejanya sendiri.

Rasa rendah diri membuat Jovita berpikir Raymond lebih pantas bersanding dengan perempuan sepadan seperti Karina. Bukan dengan gadis miskin, anak pemabuk, yang hanya menjadi beban.

​“Jojo,” panggilan Raymond memecah lamunan Jovita. Pria itu menatapnya dengan sisa-sisa ketegangan di wajahnya.

“Tolong temani Vio di atas. Tenangkan dia. Aku harus mengantar Karina pulang dulu.”

​Jovita mengangguk patuh tanpa berani menatap mata suaminya.

“Baik, Om.

​Di kamarnya yang luas, Viola sedang meluapkan emosinya.

Bantal-bantal berserakan di lantai, dan Viola terus terisak di atas ranjangnya.

Jovita duduk di tepi tempat tidur, mengusap punggung sahabatnya itu dengan sabar, mendengarkan segala sumpah serapah Viola untuk Karina.

“Dasar pelacur! Jalang murahan! Tidak ada perempuan yang boleh menikah dengan Papa selain Mama. Titik!”

“Vio, kamu juga semakin dewasa. Kamu akan menikah dan meninggalkan Om Ray, jadi… biarkan dia memilih teman hidupnya.” Jovita mencoba menjalankan misinya dengan hati-hati.

Viola mendadak berhenti menangis. Ia menoleh cepat, menatap Jovita dengan pandangan tajam dan penuh selidik.

“Kenapa sih, kamu selalu mendukung Papa untuk menikah lagi? Dibayar berapa kamu sama Papaku, Jo?”

Jovita mendadak gugup, persis seperti seorang maling yang tertangkap basah.

“Bu-bukan begitu, Vio. Maksudku… Om Ray juga butuh pendamping yang mengurusnya. Kamu tidak kasihan melihat papamu kesepian?”

“Terus kamu nggak kasihan sama mamaku? Mamaku dicerai, dicampakkan, dibuang begitu saja, dan sekarang harus hidup sendiri di luar sana.” Viola berteriak histeris.

​Jovita bungkam. Ia memilih menurunkan kepalanya.

“Maaf.”

Satu kata yang lolos dari bibir Jovita seperti pengakuan kalah debat. Sampai saat ini, ia tak tahu alasan perceraian kedua orang tua Viola.

​Tiba-tiba, ponsel Jovita yang tergeletak di atas nakas bergetar kuat. Layarnya menyala, menampilkan nama panggilan yang langsung membuat Viola menghentikan tangisnya.

​Dylan.

​Viola langsung menyipitkan matanya yang sembap.

Suasana hatinya yang sudah hancur lebur akibat kabar rencana pernikahan papanya, kini tersulut api cemburu yang membakar akal sehat.

Dylan, pria idaman yang selama ini Vio kejar mati-matian hingga merendahkan harga diri, justru terus-menerus mencari Jovita.

“Sebentar.”

Jovita berpamitan sedikit menjauh. Biasanya Dylan menghubunginya hanya untuk membahas tugas maket kuliah yang tenggatnya semakin mepet.

Viola bangkit meraih botol minum yang berada di meja rias. Dari dalam laci, Viola mengambil bungkusan kecil sambil melirik Jovita, seolah memastikan sahabatnya itu tidak melihat.

​“Aku mau buat kopi dulu,” potong Viola dingin, lalu berjalan keluar kamar menuju dapur dengan langkah tergesa-gesa.

​Di depan konter dapur yang sepi, dengan pikiran diracuni cemburu pada Jovita, serta kemarahan akibat rencana pernikahan papanya. Ia merogoh saku roknya, mengeluarkan bungkusan kecil.

​“Pakai ini kalau kamu sudah menemukan pria impianmu, Vio. Sedikit saja, dia pasti tidak akan bisa menolakmu.”

Kata-kata sang mama menari-nari di kepala Viola. Obat perangsang dosis tinggi itu adalah pemberian sang mama.

Awalnya ditujukan agar Viola bisa menggunakannya untuk menjerat Dylan.

​Namun malam ini, setan di kepala Viola membisikkan rencana lain yang lebih kejam.

​“Kau oleh ambil semua milikku, kecuali Dylan,” gumam Viola kejam. “Kita lihat, apa Dylan masih mau menatapmu setelah ini.”

​Viola memasukkan serbuk dalam bungkusan itu, lalu mencampurnya dengan kopi hitam yang biasa menemani Jovita lembur mengerjakan tugas.

Viola tidak peduli kapan Jovita akan meminumnya. Begitu cairan itu masuk ke tubuh Jovita, sahabat miskinnya itu pasti akan kelimpungan menahan gairah yang tidak semestinya.

​Dengan senyum puas yang mengerikan, Viola kembali ke kamar sambil membawa botol minum tersebut.

​“Ini, Jo. Kopi kesukaanmu,” ucap Viola dengan nada suara yang dibuat selembut mungkin, menyodorkan tumbler maut itu kepada Jovita.

“Bawa pulang saja, buat teman ngerjain tugas.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Dedi Mulyadi
viola jahat banget sh katanya sahabat
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Istri Rahasia Om Raymond   213. Ayah dan Anak

    Roberto menarik laci meja kerjanya, tersimpan sebuah foto lama berbingkai kayu. Foto itu menampilkan keluarga kecil Roberto di masa lalu—dirinya, almarhum istri pertamanya, dan seorang anak laki-laki yang kala itu masih berusia sekitar enam tahun.Dengan tangan bergetar, Roberto merengkuh foto tersebut dan meletakkannya di dada. Matanya berkaca-kaca menatap senyum mendiang istrinya.“Maafkan aku... maafkan aku karena telah merusak impian yang kita bangun bersama,” bisik Roberto lirih dengan suara serak. “Aku berjanji, aku akan mengembalikan seluruh modal dan hasil kerja keras yang pernah kau berikan... hanya kepada anak kita.”Saat Roberto hendak mengembalikan bingkai foto itu ke dalam laci, ponsel di atas mejanya mendadak berdering nyaring.Roberto melirik layar. Begitu melihat nama Raymond tertera di sana, senyum tipis sempat mengembang mengira anak laki-lakinya ingin menyapa sang ayah.Begitu tombol hijau digeser dan panggilan terhubung, suara dingin dan tajam Raymond langsung meny

  • Istri Rahasia Om Raymond   212. Belum Terlambat

    Tiba di apartemen, Raymond langsung membimbing Jovita menuju tempat tidur, memastikan istrinya berbaring dengan nyaman sebelum merogoh ponsel di sakunya dan melangkah sedikit menjauh ke balkon.Raymond mengusap wajahnya yang lelah, lalu menghubungi Viola.“Vio...” ucap Raymond begitu sambungan telepon terhubung. “Malam ini papa nggak bisa pulang. Ada beberapa urusan mendadak yang harus Papa selesaikan.”Dari seberang telepon, Viola terdengar kecewa tapi bisa memaklumi. “Ya udah nggak apa-apa. Sebenarnya ada banyak hal yang sebenarnya aku mau ngobrol dengan papa sebagai persiapan bekerja di Chandra Group besok.”“Maafkan Papa, Vio... Untuk masalah yang satu ini, Papa benar-benar tidak bisa meninggalkannya. Mungkin Papa baru bisa pulang ke rumah menjelang hari wisudamu nanti,” ucap Raymond penuh penyesalan.Setelah diam sejenak, Viola akhirnya menghela napas pasrah. “Oke, Pa.”Setelah sambungan telepon terputus, Jovita yang duduk di sampingnya menatap Raymond dengan raut wajah prihatin.

  • Istri Rahasia Om Raymond   211. Ujian

    Raymond berlari kencang menyusuri lorong rumah sakit dengan napas memburu dan wajah panik. Begitu mendorong pintu area UGD, matanya menangkap sosok Jovita yang terbaring lemah di atas brankar, sedang diperiksa oleh Dokter Amira.Raymond bergegas mendekat, meraih tangan dingin istrinya. “Dokter! Bagaimana keadaan istri saya?” tanya Raymond dengan suara bergetar panik.Dokter Amira menoleh lalu memberikan senyum menenangkan. “Syukurlah, tidak ada yang serius, Pak Raymond. Sepertinya Mbak Jovita hanya mengalami syok berat yang memicu kram perut. Tapi secara keseluruhan, kondisi janin dan ibunya baik-baik saja.”Dokter Amira terdiam sejenak, tampak ragu sebelum akhirnya melanjutkan dengan nada lebih serius, “Tapi... mungkin ada sesuatu yang baru saja terjadi atau mengganggu pikiran Mbak Jovita. Sebaiknya segera dibicarakan dan diselesaikan baik-baik, Pak. Stres pada trimester pertama sangat riskan, kita harus memastikan kejadian seperti ini tidak terulang lagi.”Raymond mengangguk cepat d

  • Istri Rahasia Om Raymond   210. Jangan Tinggalkan Mama!

    Jovita meremas jemari di atas pangkuan, tampak bingung harus memanggil pria paruh baya di hadapannya dengan sebutan apa.Haruskah ia memanggil ‘Opa’ seperti yang biasa ia lakukan saat bersama Viola?Atau memanggil “Papa”? Jovita diselimuti ketakutan besar jika dirinya sama sekali belum diterima sebagai menantu di keluarga Chandra.Setelah membasahi bibir yang mendadak kering, Jovita akhirnya memilih opsi paling aman.“Ada... ada yang perlu dibicarakan, Pak?” panggil Jovita dengan sebutan 'Pak' pilihan kata yang terasa netral, formal, sekaligus menjaga jarak aman.Ya, kini Jovita dan Roberto kini sudah duduk berhadapan di sebuah restoran yang cukup privat di dalam mall. Dalam suasana yang canggung.Tanpa basa-basi, Roberto merogoh saku jasnya lalu meluncurkan selembar cek yang sudah tertulis angka fantastis di atas meja, tepat ke hadapan Jovita.“Tinggalkan Raymond,” ucap Roberto dingin dan penuh penekanan.Jovita tersentak kaget. Secara refleks, jemarinya langsung bergerak mengusap pe

  • Istri Rahasia Om Raymond   209. Siapa Lagi?

    Keluar dari gedung Vastu Chandra, Raymond melangkah menuju mobil SUV miliknya. Begitu duduk di balik kemudi, ia merogoh ponsel dan mengetik pesan untuk Jovita.@Raymond Chandra[Bagaimana baby hari ini? sudah mulai nendang belum]Tak butuh waktu lama, ponselnya bergetar.@Jovita Anindita[Sabar Om]Raymond terkekeh pelan membaca balasan singkat itu. Meski tahu pergerakan bayinya belum terasa, tapi dia memang sudah tidak sabar.@Raymond Chandra[Aku temui Viola dulu, jadi terlambat balik apartemen]@Jovita Anindita[Ya Om]@Raymond Chandra[Mau dibawain oleh-oleh apa nanti malam@Jovita Anindita[Terserah]Raymond menghembuskan napas kasar seraya mengusap wajahnya kasar. Kata 'terserah' dari perempuan selalu menjadi teka-teki paling rumit yang menguras otak pria mana pun, tak peduli seberapa hebat pria itu di luar sana.Sambil memutar otak memikirkan kuliner apa yang sanggup meluluhkan kata 'terserah' sang istri, Raymond menjalankan mobilnya melintasi jalanan kota menuju rumah utama.S

  • Istri Rahasia Om Raymond   208. Kapan Mau Diumumkan?

    “Kau gila, Fel!” Mata Julian membelalak menatap perempuan di hadapannya.‘Perempuan ini iblis,’ bisik suara di dalam kepala Julian, berulang kali menegaskan rasa takut yang mendadak mencengkeram dadanya.Dulu, sosok Felisa di matanya adalah paduan sempurna dari pesona ragawi, kehangatan keibuan, dan kasih sayang yang menenangkan. Namun, ingatan itu kini berubah menjadi bayangan yang mengerikan.Tanpa beban Felisa melenyapkan bayi dalam kandungannya berulang kali, demi mempertahankan bentuk tubuh dan ambisi gaya hidupnya. Ditambah lagi, perempuan itu memanfaatkan kepolosan Viola sebagai alat mengeruk kemewahan, membuat Julian merinding.Otak Julian menjerit ketakutan, ajakan nekat yang baru lolos dari mulut Felisa bukan sekadar gertakan. Dia tahu pasti, iblis berwajah cantik di depannya ini tidak akan ragu menumpahkan darah siapa pun demi targetnya, dan giliran siapa selanjutnya jika rencana ini gagal? Bisa jadi dirinya sendiri.Felisa justru tertawa sinis melihat kepanikan di wajah Ju

  • Istri Rahasia Om Raymond   6. Hilang Kendali

    Saat Raymond melangkah masuk, keadaan rumah keluarga Chandra sudah jauh lebih tenang. Pria itu melihat sosok Jovita baru saja turun dari lantai dua sambil membawa tas kainnya dan sebuah tumbler pemberian Viola.​Raymond menghentikan langkah. "Jojo? Belum pulang?"​Jovita sedikit tersentak, lalu me

  • Istri Rahasia Om Raymond   4. Dilema Jovita

    ​Raymond terdiam sejenak, menatap lekat sudut bibir Jovita yang masih sedikit membiru akibat hantaman Joni. Ucapan Jovita yang menuntut talak mengandung keangkuhan dan kepasrahan penuh ironi.​“Aku tidak sebajingan itu, Jo,” suara Raymond melunak, namun tetap tegas. “Jika aku menalakmu malam ini

  • Istri Rahasia Om Raymond   3. Terpaksa Nikah

    Teriakan Joni berhasil memicu kehebohan. Tetangga yang terbangun langsung berkerumun di depan pintu, menatap Raymond dengan pandangan curiga dan penuh amarah.​“Dia mau memperkosa Jojo, Pak! Dia memaksa masuk dan memukuli saya!” fitnah Joni pura-pura kesakitan di lantai.​“Itu tidak benar!” Jovita

  • Istri Rahasia Om Raymond   2. Fitnah Keji

    Jovita mencengkeram erat tali tasnya, syarat dari Raymond seperti ujian akhir kelulusan, berat dan tak mudah.​Meyakinkan Viola menerima wanita lain menjadi ibunya.​“Om, maaf…” Jovita menelan ludah, menatap ragu pria matang di sampingnya. “Kita sama-sama tahu Vio itu keras kepala. Saya tidak yaki

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status