เข้าสู่ระบบ“Sebaiknya Jojo istirahat saja dulu di kamar, biar flunya tidak makin parah dan menular ke yang lain,” potong Raymond memecah keheningan dengan nada suara tenang.Bi Lastri yang menyajikan hidangan sarapan di atas meja lebih banyak menundukkan kepala dan memilih diam.Sebagai pelayan tua yang berpengalaman, firasatnya makin menyakini bahwa memang ada hubungan dan rahasia tak biasa yang terjadi antara Raymond dan Jovita selama berada di rumah ini.Jovita mengangguk pelan seraya mengusap hidungnya dengan tisu. “Nggak usah, Om... Jojo mau langsung pulang saja buat istirahat.”Tatapan dan ucapan Bi Lastri membuat Jovita tidak tenang.“Biar aku yang antar pulang,” tawar Raymond cepat dengan nada suara serta perhatian yang terasa intim dan kelewat akrab.Mendengar tawaran spontan itu, dahi Viola makin mengerut dalam. Tatapannya menajam penuh keheranan.Setahu Viola dan dari kabar yang sempat ia dengar beberapa waktu lalu, Jovita sebenarnya sudah lama pindah dari tempat tinggalnya dulu. Bahk
“Aku takut kalau Vio tiba-tiba bangun, Om.” “Tapi aku nggak bisa tidur kalau nggak ada kamu.” Bibir Raymond menjelajah dari pipi, bibir, hingga ceruk leher Jovita. Sementara jemarinya mulai menyelinap ke balik T-shirt pas badan yang dikenakan sang istri. “Sebaiknya Om banyak istirahat agar cepat sembuh,” ujar Jovita berusaha bernegosiasi. Beberapa kali Jovita berusaha menyingkirkan tangan Raymond, ketakutan membuatnya ingin meninggalkan kamar utama yang besar dan mewah itu. Tapi tampaknya tubuhnya berkhianat, sebab sentuhan Raymond yang sudah menjadi candu baginya. “Kita main cepat,” bisik Raymond mencoba meyakinkan Jovita agar tidak menolak. “Quickie?” “Hmm...” Jovita terengah, matanya melirik ke arah pintu dengan cemas. “Tapi… bagaimana kalau Vio bangun?” “Dia tidak akan bangun,” sahut Raymond dengan sua
Dengan suara agak gugup yang berusaha ia tutupi, Raymond cepat-cepat menarik tangannya dan membuat jarak dari Jovita. "Eh, Bibi...” Meski Raymond salah tingkah, tapi tetap mampu menguasai dirinya. “Saya kira tadi Vio, soalnya Jojo pakai baju Vio," alibi Raymond spontan. “Oh…” Bi Lastri langsung tercekat, tidak tahu harus memberi reaksi bagaimana. Alasan yang diberikan Raymond cukup masuk akal, karena pakaian santai yang saat ini dikenakan Jovita memang dipinjam dari Viola. Meskipun dalam hati Bi Lastri merasa ada yang janggal dan tidak percaya begitu saja, tapi wanita tua itu memilih mengangguk patuh. Sebagai asisten rumah tangga yang sudah lama mengabdi, ia sadar betul posisinya untuk tidak ikut campur dalam urusan pribadi sang majikan dan hanya fokus pada tugas pekerjaannya. "Ini Tuan… bibi cuma mau ambil minum hangat.” Sudah kebiasaan perempuan tua itu menjaga k
Di dalam kamar Viola, kedua sahabat itu duduk berhadapan di tepi tempat tidur, berbincang begitu akrab seolah hubungan mereka baik-baik saja. Tak ada kebencian di hati Viola, dan tak ada rahasia di sisi Jovita. “Kalau sudah lulus nanti, apa rencanamu, Jo?” Sambil memangku bantal, Viola terlihat sangat penasaran. Jovita sempat terdiam sejenak. Ingatannya mendadak melayang pada pembicaraan hangat bersama Raymond, rencana mereka untuk melakukan promil setelah Jovita lulus. Dan nasihat Bi Siti agar dia segera hamil sempat terlintas di pikirannya. Namun, menyadari posisinya, Jovita dengan cepat mengubur rapat kenyataan itu dan menjawab menggunakan impian lamanya, impian sebelum garis takdir menyatukannya dengan Raymond. “Aku bakal langsung cari kerja, Vio. Apa pun pekerjaannya, yang penting halal dan hasilnya jelas.” Terdengar klise, tapi itulah impian Jovita di masa-masa sulitnya. “Aku ha
Viola yang duduk di kursi depan merogoh layar konsol tengah, mengganti pemutar lagu yang tadinya mengalunkan musik jazz instrumental pilihan Raymond menjadi musik Indie Pop yang lebih berenergi.Raymond tidak menegur atau melarang tindakan putrinya itu. Pria dewasa itu hanya mengembuskan napas kasar tanpa kata, lalu kembali mengemudikan mobilnya dengan tenang, menyadari sepenuhnya bahwa selera musiknya dan generasi sang putri memang terpisah jarak yang cukup jauh.Untuk memecah keheningan kabin, Viola memutar badannya sedikit ke belakang, membuka percakapan dengan Jovita.“Jo, skripsimu gimana? Kamu sudah dapat judul dan kerangkanya?”“Sudah, aku kan sudah memikirkan dan mengumpulkan konsep skripsi ini sejak awal magang kemarin. Jadi sekarang tinggal fokus eksekusi rancangan maket dan penyusunan berkasnya saja.”Viola menyunggingkan senyum tipis, ada nada menyindir yang agak tajam terselip dari balik cara bicaranya.“Wah, sepertinya buru-buru banget. Di kejar target apa? Mau buru-buru
Seperti biasa, setiap kali di studio arsitektur kampus, Jovita akan selalu tekun berkutat dengan pemotongan bahan dan perekat untuk menyelesaikan maket skripsinya.Tak jauh dari meja kerja Jovita, Dylan berdiri berpura-pura sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Tapi, sesekali matanya mencuri pandang ke arah Jovita.Bukan hanya terpesona oleh kecantikan Jovita yang fokus dengan desainnya, tetapi Dylan juga terpesona oleh presisi dan detail luar biasa pada karya gadis itu.Sentuhan desain Jovita kini jauh berbeda. Tampaknya gadis itu telah menyerap banyak sekali ilmu dan teknik kelas atas langsung dari Raymond.Dylan perlahan melangkah mendekat, membungkuk sedikit untuk mengamati maket Jovita dari jarak dekat.“Bagus banget, Jo... Struktur dan proporsinya terlihat sangat profesional.”Dylan tidak bohong, sebagai calon penerus Hadiningrat Group sejak kecil dia sudah dijejali dengan berbagai bentuk desain arsitektur kelas dunia. Karya Raymond selalu punya pembeda bagi Dylan, dan kini hal itu
Pagi belum sepenuhnya pecah kala Jovita berusaha menggeser lengan kekar yang melingkari pinggangnya. Tubuhnya terasa begitu lemas dan remuk setelah semalaman penuh menjadi pelampiasan gairah liar Raymond yang tak terbendung.Begitu Jovita bergerak sedikit saja untuk turun dari ranjang, lengan tegap
Tak ada kelembutan dalam ciuman Raymond. Penuh kelaparan yang selama bertahun-tahun terpendam. Tangan kekar Raymond mencengkeram pinggang Jovita. Mengunci tubuh ringkih gadis itu di antara dada bidangnya dengan meja pantry hingga tidak bisa ke mana-mana.“Jojo…”Raymond menarik tautan bibir mereka
Saat Raymond melangkah masuk, keadaan rumah keluarga Chandra sudah jauh lebih tenang. Pria itu melihat sosok Jovita baru saja turun dari lantai dua sambil membawa tas kainnya dan sebuah tumbler pemberian Viola.Raymond menghentikan langkah. "Jojo? Belum pulang?"Jovita sedikit tersentak, lalu me
“Papa jahat!”Pekikan nyaring Viola seketika memutus tautan bibir Raymond dan Karina. Kedua orang dewasa itu menoleh terkejut, mendapati Viola berdiri dengan dada naik-turun menahan amarah, sementara Jovita mematung di belakangnya dengan wajah pias.Raymond segera melepaskan dekapannya pada Kari







