FAZER LOGINBisikan Jovita layaknya lampu hijau yang menghancurkan sisa-sisa kewarasan Raymond, hingga kehilangan kendali sepenuhnya. Tanpa sepatah kata pun, Raymond menyusupkan lengannya di bawah lutut dan punggung Jovita, mengangkat tubuh mungil gadis itu ke dalam gendongannya. Ia membawa Jovita menuju kamar utama dengan langkah-langkah besar yang terburu-buru, seolah takut gadis itu akan berubah pikiran. Raymond membaringkan Jovita ke atas kasur dengan gerakan yang sedikit tergesa-gesa. Tubuh besarnya segera mengukung gadis itu di bawah tubuhnya. Dengan kedua lututnya, Raymond memisah kaki Jovita, membuka ruang paling intim gadis itu demi menuntaskan dahaga yang menyiksa. Tanpa pemanasan yang panjang karena gairah yang hampir meledak, Raymond menyatukan tubuh mereka dalam satu dorongan kuat yang dalam. “Ahhh! Om…!” Jovita menjerit kecil, suaranya tertahan di tenggorokan saat rasa sakit yang tajam dan panas menyergap seluruh kesadarannya. Jari-jari Jovita mencengkeram erat bahu kokoh Raym
Tak ada kelembutan dalam ciuman Raymond. Penuh kelaparan yang selama bertahun-tahun terpendam. Tangan kekar Raymond mencengkeram pinggang Jovita. Mengunci tubuh ringkih gadis itu di antara dada bidangnya dengan meja pantry hingga tidak bisa ke mana-mana.“Jojo…”Raymond menarik tautan bibir mereka sesaat. Suaranya parau, pecah oleh erangan yang terdengar seperti rintihan kesakitan. Napasnya yang memburu terasa panas di wajah Jovita.“Seharusnya kau berlari menjauh... sekarang juga, Jojo... sebelum aku benar-benar merusakmu,” bisik Raymond, peringatan itu terdengar seperti sebuah permohonan frustrasi.Tapi tangan Raymond justru bertolak belakang dengan ucapannya. Jemarinya menyusup ke balik kaus tipis Jovita, menyentuh kulit hangat di pinggang gadis itu. Sentuhan itu membuat Jovita tersentak, tubuhnya menggigil.Raymond mengangkat wajahnya. Matanya merah, rahangnya mengeras menahan gejolak yang menyiksa. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Ada rasa bersalah saat menginginkan gadis y
Saat Raymond melangkah masuk, keadaan rumah keluarga Chandra sudah jauh lebih tenang. Pria itu melihat sosok Jovita baru saja turun dari lantai dua sambil membawa tas kainnya dan sebuah tumbler pemberian Viola.Raymond menghentikan langkah. "Jojo? Belum pulang?"Jovita sedikit tersentak, lalu mengangguk tak enak hati. "Saya menemani Vio sampai dia tertidur, Om. Kamarnya sudah saya rapikan sedikit."Raymond mengembuskan napas berat, melonggarkan satu kancing teratas kemejanya. "Apa dia masih marah?""Vio hanya kaget, Om," jawab Jovita dengan nada suara yang lembut, mencoba menenangkan. "Dia anak yang baik. Jika nanti Om memberinya penjelasan pelan-pelan, saya yakin Vio pasti akan memahami situasi dan posisi Om dengan Bu Karina."Raymond terdiam sejenak, menatap lekat-lekat kedewasaan yang terpancar dari gadis muda di hadapannya. Kontras sekali dengan putrinya yang egois. "Sudah terlalu malam. Ayo, aku antar.""Eh, tidak usah, Om. Saya bisa naik ojek.""Jangan membantah, Jovi
“Papa jahat!”Pekikan nyaring Viola seketika memutus tautan bibir Raymond dan Karina. Kedua orang dewasa itu menoleh terkejut, mendapati Viola berdiri dengan dada naik-turun menahan amarah, sementara Jovita mematung di belakangnya dengan wajah pias.Raymond segera melepaskan dekapannya pada Karina, lalu melangkah maju dengan ekspresi wajah yang kembali dingin dan berwibawa. “Jaga sopan santunmu, Vio. Ada tamu di sini.”“Tamu? Papa sebut perempuan jalang itu tamu?” tunjuk Viola dengan jari bergetar ke arah Karina.Karina menarik napas panjang, mencoba tersenyum sabar meski matanya menyiratkan luka. “Vio, Tante dan Papa kamu…”“Diam!” bentak Viola sengit. “Kamu tidak punya hak bicara di sini.”“Papa sudah janji mau rujuk sama Mama! Kenapa sekarang justru bermesraan dengan perempuan ini di rumah ini?”“Cukup, Viola!” Bentakan Raymond menggema. “Papa tidak pernah janji rujuk dengan mamamu. Pernikahan kami sudah lama selesai. Dan bulan depan, Papa dan Tante Karina akan segera men
Raymond terdiam sejenak, menatap lekat sudut bibir Jovita yang masih sedikit membiru akibat hantaman Joni. Ucapan Jovita yang menuntut talak mengandung keangkuhan dan kepasrahan penuh ironi.“Aku tidak sebajingan itu, Jo,” suara Raymond melunak, namun tetap tegas. “Jika aku menalakmu malam ini dan membiarkanmu pergi, besok pagi ayahmu pasti akan menyeretmu kembali ke neraka itu. Aku harus memastikan kamu benar-benar aman dan bisa mandiri terlebih dahulu.”Jovita meremas ujung kemejanya. Pertanyaan yang sejak tadi menyumbat tenggorokannya akhirnya lolos juga. “Lalu… bagaimana dengan Bu Karina?”Mendengar nama Karina disebut, sorot mata Raymond meredup sekilas. Ada beban berat yang kembali menggelayuti pundaknya.“Kamu harus merahasiakan pernikahan kita dari siapa pun. Baik itu Vio, maupun Karina. Tidak boleh ada satu orang pun yang tahu.”Raymond menatap Jovita dalam-dalam. “Perjanjian kita sebelumnya tetap berlaku, kau harus meyakinkan Vio untuk menerima Karina sebagai ibu b
Teriakan Joni berhasil memicu kehebohan. Tetangga yang terbangun langsung berkerumun di depan pintu, menatap Raymond dengan pandangan curiga dan penuh amarah.“Dia mau memperkosa Jojo, Pak! Dia memaksa masuk dan memukuli saya!” fitnah Joni pura-pura kesakitan di lantai.“Itu tidak benar!” Jovita berteriak di sela tangis, mencoba berdiri di depan Raymond untuk melindunginya. “Om Raymond tidak seperti itu! Dia cuma mau nolong saya karena dipukuli Ayah! Tolong percaya pada saya!”Pembelaan Jovita justru semakin menimbulkan curiga, membuat warga yang sudah terprovokasi semakin emosi.Ditambah pakaian Jovita yang acak-acakan, asumsi liar menyebar.“Jangan-jangan mereka memang ada apa-apa. Buat apa orang kaya datang malam-malam ke tempat kumuh begini kalau bukan urusan syahwat?” celetuk seorang warga dari belakang.“Betul! Daripada mengotori kampung ini dan bikin sial, lebih baik nikahkan saja mereka sekarang!” seru warga lain yang langsung mendapat anggukan pembenaran.Mata Jovita m







