LOGINSaat mobil Raymond berhenti di area kampus, Jovita yang sedari tadi menunggu dengan wajah pucat bergegas melangkah dan langsung memasuki kabin depan.Raymond menoleh menatap raut letih istrinya. “Vio di mana, Jo?”“Pulang bareng Dylan, Om,” jawab Jovita pelan seraya menyandarkan kepalanya yang terasa agak berat.Raymond mengangguk lega, setidaknya ia tak perlu mengarang alibi lagi untuk menjemput Jovita. Apalagi bareng Dylan, Raymond yakin putrinya dalam suasana hati yang sangat baik.Arsitek senior itu kemudian mengelus pipi Jovita dengan lembut. “Mau langsung pulang atau ke dokter dulu?”“Ke dokter dulu aja, Om,” sahut Jovita seraya menahan rasa mual yang masih sesekali datang.Mobil mewah itu pun perlahan melaju meninggalkan kawasan kampus. Di tengah perjalanan yang tenang, Jovita memutar badannya sedikit menghadap Raymond. Raut ragu menggelembung di dadanya.“Om... bagaimana kalau Jojo benar-benar hamil?” tanya Jovita cemas, memikirkan status kuliah dan rahasia pernikahan mereka.
Di ruang kerjanya, Jimmy menyandarkan punggung ke kursi seraya memainkan ballpoinnya.“Jadi, kamu tetap pergi ke Kaliurang sama Jojo?”Raymond mengangguk pelan seraya membolak-balik dokumen di mejanya. “Hampir saja rencananya berubah.”“Kenapa?”“Tadinya aku berniat mau mengajak Vio juga sekalian, hitung-hitung buat motivasi biar dia makin serius ngerjain skripsinya. Tapi... dia malah lebih memilih sibuk ngejar Dylan.”Jimmy tersenyum miris mendengar jawaban itu, lalu menggeleng-gelengkan kepala.“Vio ini kok rasanya nggak ada mirip-miripnya sama kamu ya, Ray... Secara fisik semuanya keturunan Felisa. Lah wataknya... malah makin mirip omanya.”Yang dimaksud Jimmy dengan ‘oma’ bukan ibu kandung Raymond, tetapi Leonor, ibu tirinya.“Mungkin karena dulu aku terlalu sering meninggalkan dia,” sahut Raymond dengan nada datar.Jimmy menggeleng pelan. Seingatnya, Raymond tidak pernah meninggalkan Viola dalam waktu yang lama. Pria itu hanya terlihat absen saat sedang dilanda kasmaran bersama J
Jovita terperanjat. Matanya membelalak lebar, terkejut bukan main mendengar ucapan yang terlontar begitu enteng dari mulut Dylan."Nggak! Kamu bicara apa sih, Dyl?" sanggah Jovita tegas, suaranya terdengar makin serak.“Bukankah itu sangat mungkin terjadi? Kalian tidur bersama, kan?”Jovita mengalihkan pandangannya, tak ingin membicarakan hal yang privat itu di hadapan pria lain."Aku cuma flu biasa, ketularan Om Ray! Lagipula... aku dan Om Ray sepakat untuk menunda punya anak!"Mendengar pengakuan lugas itu, bukannya tenang, Dylan justru menyunggingkan bibir dengan senyuman sinis yang penuh kepahitan."Status istri disembunyikan... terus sekarang nggak mau punya anak..." ujar Dylan dengan nada merendahkan yang tajam. "Sebenarnya pernikahan macam apa yang sedang kamu jalani, Jo? Kamu benar-benar nggak merasa kalau selama ini kamu cuma dijadikan..."Dylan mendadak menghentikan kalimatnya. Tenggorokannya terasa tercekat, disergap rasa miris dan kasihan yang amat sangat melihat nasib gad
Dylan yang baru saja memarkirkan motornya kembali mengamati langkah Jovita dari kejauhan. Mata pemuda itu menyipit, meneliti setiap gerak-gerik dan perubahan fisik Jovita, mulai dari cara berjalan hingga bentuk tubuhnya.Otak Dylan masih dipenuhi asumsi liar bahwa Jovita mungkin saja sedang mengandung anak Raymond.“Ya Tuhan, aku sangat mencintainya. Tapi betapa jahatnya aku menunggu jandanya.” Dylan menggelengkan kepala, mengusir pikiran buruk di kepalanya.“Tuhan… aku ingin bahagia meski tanpa dia.” Dylan berbisik pada dirinya sendiri.Setelah menghela napas dalam untuk menguatkan hati, Dylan melangkah menyusul Jovita dan Viola. Pemuda itu semakin memangkas jarak mendekati koridor yang memisahkan jurusan arsitektur dan bisnis. Tampaknya Dylan tak ingin berlama-lama bersama Viola, meski ada Jovita di antara mereka.“Kami ke studio dulu,” ucap Dylan dingin. Dia dan Jovita meninggalkan Viola.Viola hanya terdiam menatap interaksi Jovita dan Dylan dengan pandangan cemburu dan napas tert
“Sebaiknya Jojo istirahat saja dulu di kamar, biar flunya tidak makin parah dan menular ke yang lain,” potong Raymond memecah keheningan dengan nada suara tenang.Bi Lastri yang menyajikan hidangan sarapan di atas meja lebih banyak menundukkan kepala dan memilih diam.Sebagai pelayan tua yang berpengalaman, firasatnya makin menyakini bahwa memang ada hubungan dan rahasia tak biasa yang terjadi antara Raymond dan Jovita selama berada di rumah ini.Jovita mengangguk pelan seraya mengusap hidungnya dengan tisu. “Nggak usah, Om... Jojo mau langsung pulang saja buat istirahat.”Tatapan dan ucapan Bi Lastri membuat Jovita tidak tenang.“Biar aku yang antar pulang,” tawar Raymond cepat dengan nada suara serta perhatian yang terasa intim dan kelewat akrab.Mendengar tawaran spontan itu, dahi Viola makin mengerut dalam. Tatapannya menajam penuh keheranan.Setahu Viola dan dari kabar yang sempat ia dengar beberapa waktu lalu, Jovita sebenarnya sudah lama pindah dari tempat tinggalnya dulu. Bahk
“Aku takut kalau Vio tiba-tiba bangun, Om.” “Tapi aku nggak bisa tidur kalau nggak ada kamu.” Bibir Raymond menjelajah dari pipi, bibir, hingga ceruk leher Jovita. Sementara jemarinya mulai menyelinap ke balik T-shirt pas badan yang dikenakan sang istri. “Sebaiknya Om banyak istirahat agar cepat sembuh,” ujar Jovita berusaha bernegosiasi. Beberapa kali Jovita berusaha menyingkirkan tangan Raymond, ketakutan membuatnya ingin meninggalkan kamar utama yang besar dan mewah itu. Tapi tampaknya tubuhnya berkhianat, sebab sentuhan Raymond yang sudah menjadi candu baginya. “Kita main cepat,” bisik Raymond mencoba meyakinkan Jovita agar tidak menolak. “Quickie?” “Hmm...” Jovita terengah, matanya melirik ke arah pintu dengan cemas. “Tapi… bagaimana kalau Vio bangun?” “Dia tidak akan bangun,” sahut Raymond dengan sua
Jovita mencengkeram erat tali tasnya, syarat dari Raymond seperti ujian akhir kelulusan, berat dan tak mudah.Meyakinkan Viola menerima wanita lain menjadi ibunya.“Om, maaf…” Jovita menelan ludah, menatap ragu pria matang di sampingnya. “Kita sama-sama tahu Vio itu keras kepala. Saya tidak yaki
“Argh….”Basah, dingin, dan lengket.Cairan kemerahan koktail buah merembes mengotori seragam katering Jovita. Matanya terpejam mencengkeram kuat nampan yang dia bawa menahan amarah.“Maaf! Sengaja,” cibir salah satu teman Jovita di kampus, meletakkan gelas kosong ke nampan Jovita dengan kasar. “Se
Pagi belum sepenuhnya pecah kala Jovita berusaha menggeser lengan kekar yang melingkari pinggangnya. Tubuhnya terasa begitu lemas dan remuk setelah semalaman penuh menjadi pelampiasan gairah liar Raymond yang tak terbendung.Begitu Jovita bergerak sedikit saja untuk turun dari ranjang, lengan tegap
Tak ada kelembutan dalam ciuman Raymond. Penuh kelaparan yang selama bertahun-tahun terpendam. Tangan kekar Raymond mencengkeram pinggang Jovita. Mengunci tubuh ringkih gadis itu di antara dada bidangnya dengan meja pantry hingga tidak bisa ke mana-mana.“Jojo…”Raymond menarik tautan bibir mereka







