เข้าสู่ระบบEvalia menyandarkan tubuhnya ke kursi mobil sambil menghembuskan napas panjang. Untungnya, semuanya berjalan lebih baik dari yang ia bayangkan.
Tak lama kemudian, mobil memasuki halaman rumah mewah bergaya modern itu dan berhenti tepat di depan pintu utama.
“Ada masalah, Bu?” Dimas akhirnya bertanya dari kursi pengemudi sambil melirik lewat kaca spion. &ldquo
Sore harinya, setelah makan siang berakhir dan anggota keluarga yang lebih tua perlahan masuk ke dalam rumah untuk beristirahat, taman mulai menjadi lebih tenang.Evalia sudah mengganti gaun pernikahannya dengan pakaian yang lebih sederhana dan nyaman. Ia duduk di salah satu area tempat duduk taman dekat danau, menikmati cahaya matahari yang lembut.Di sampingnya, Estella duduk menemani."Selamat, Kak," kata Estella dengan hangat. "Aku sangat bersyukur akhirnya bisa menghadiri pernikahanmu. Walaupun aku tahu ini sebenarnya adalah pembaruan janji pernikahan."Evalia tertawa kecil. "Kamu harus berterima kasih kepada anak kembarku untuk itu."Estella berkedip bingung. "Apa? Bagaimana bisa?"
Aleksander melanjutkan dengan suara yang lebih lembut. "Tapi entah bagaimana, di antara hari-hari sulit itu dan hari-hari ketika kita kembali bertemu, lalu menjadi orang tua bersama... sesuatu berubah."Ibu jari Aleksander mengusap lembut jemari Evalia. "Kamu menjadi orang yang paling aku percaya. Orang yang selalu ingin aku temui ketika pulang setiap hari."Dada Evalia terasa sedikit sesak mendengar kata-kata itu."Kamu memberiku sebuah keluarga," lanjut Aleksander. "Kamu memberiku seorang putra yang cerdas dan putri-putri yang luar biasa. Kamu memberiku kehidupan yang nggak pernah aku bayangkan sebelumnya."Tatapan Aleksander semakin hangat. "Jadi hari ini, di depan keluarga dan teman-teman kita, aku ingin kembali berjanji kepadamu." Ia menggenggam tangan Evalia sediki
Namun, ketenangan itu hanya bertahan sesaat.Tiba-tiba, Aleksander mendekat dan berbisik pelan di telinganya. "Istriku... katakan sesuatu padaku."Evalia bergumam pelan, masih bersandar santai di tubuhnya. "Hmm?""Siapa informan terpercaya milikmu?"Seluruh tubuh Evalia langsung menegang. Untuk sesaat, ia bertanya-tanya apakah dirinya salah dengar. Namun, ketika perlahan mengangkat kepala dan melihat senyum penuh kecurigaan di wajah Aleksander, ia sadar bahwa pendengarannya tidak salah.Pikirannya seketika memasuki mode panik.'Nggak. Nggak. Jangan percakapan ini lagi...'Evalia buru-buru berusaha memasang ekspresi polos. "Informan ter
Evalia terdiam sejenak. Topik itu membuatnya merasa tidak nyaman. Tanpa mengatakan apa pun lagi, ia mengulurkan tangan dan menekan sebuah tombol kecil di dekat sandaran tangan. Sekat antara kursi depan dan belakang perlahan naik, memisahkan mereka dari pengemudi.Suara lembut mekanisme sekat yang bergerak memenuhi kabin selama beberapa saat.Aleksander sedikit mengangkat alis.Tindakan itu saja sudah cukup untuk memberitahunya bahwa percakapan ini serius.Aleksander mengamati wajah Evalia dengan saksama. Ada keseriusan dalam sorot matanya yang membuat Aleksander langsung waspada.Aleksander bertanya dengan lembut, meski sedikit ketidaksabaran sempat terpancar di matanya. "Apa yang kamu dengar tentang Wiratama Group?"
Di dalam mobil, Aleksander duduk di kursi yang sama seperti pagi tadi. Dia tampak santai, seolah telah menunggu di sana cukup lama.Evalia masuk ke dalam mobil di sampingnya dan mulai memasang sabuk pengaman.Aleksander tidak langsung menjawab. Dia hanya menunggu dengan sabar sampai Evalia selesai memasangnya. Setelah itu, dia meraih tangan istrinya. Jemarinya menggenggam tangan Evalia dengan lembut, memberikan tekanan kecil yang menenangkan."Aku datang untuk memastikan istriku nggak terlihat terlalu lelah saat keluar dari kantornya," kata Aleksander dengan tenang.Evalia tidak bisa menahan senyum mendengar perkataannya. "Hubby," katanya sambil menoleh dengan ekspresi geli, "apa aku terlihat seperti seseorang yang suka stres?"
Jonathan berkedip. Dia jelas tidak menyangka Evalia akan menerimanya secepat itu... tanpa bertanya lebih banyak. Entah mengapa, dadanya tiba-tiba terasa nyeri.Sebelum Jonathan sempat mengatakan apa pun, Evalia kembali berbicara. “Karena kau sudah nggak lagi bekerja di sini,” ucapnya tenang, "aku ingin kau menjual saham perusahaanmu kepadaku.”Jonathan membeku.“Jangan khawatir soal harga,” lanjut Evalia. “Aku akan membelinya dengan harga premium. Lebih tinggi daripada yang mungkin ditawarkan orang lain.”Jonathan menatapnya. Sesaat, dia tidak tahu apakah harus tertawa atau menghela napas. Situasi ini terasa begitu familiar. Perasaan déjà vu tiba-tiba menyelimutinya. Karena itulah tepat yang Aleksander katakan kepadanya sebelumnya.
“Aku janji nggak akan ngomong yang aneh-aneh, Dion…” Eva menahan gemetar dalam suaranya, “Tapi demi kewarasanku, kumohon kamu tenang dan jangan mencoba cari tahu tentang dia. Serius. Lebih baik bagi semua orang kalau kamu nggak mengusik dia. Dia bukan cuma masalah besar, dia udah ada di level ‘VIP’,
Eva mengerutkan kening. “Janji apa?”“Aku pernah janji, nggak akan pernah nyari-nyari hal tentang kamu, hidupmu, keluargamu, juga temanmu. Kecuali kamu sendiri yang minta,” ujar Dion.Evalia terdiam. Dadanya terasa sesak. Ia menarik napas panjang, lalu perlahan tersenyum sendu. Dalam diam, ia member
Keesokan paginya, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Eva bangun dengan perasaan bebas. Tak ada alarm, tak ada panggilan dinas, tak ada Estella yang mendadak menerobos masuk kamarnya dan menyuruhnya cepat bersiap.
Sayangnya, harapan Eva itu tak akan pernah terjadi.Dari balik kaca gelap mobil itu, Eva melihat Waluyo Wijaya duduk di kursi belakang. Tatapannya lurus ke depan, dingin dan tak berperasaan. Ia bahkan tak menoleh sedikit pun ke arah taksi yang baru saja keluar dari area kediamannya.Rasanya seolah E







