Mag-log inAleksander membalas genggamannya dengan lembut. Ia ingin meminta maaf atas semua masa lalu yang telah dilewatkannya. Ia ingin berjanji bahwa mulai sekarang ia tidak akan melewatkan satu pun momen bersama Evalia.
Namun semua kata itu tersangkut di tenggorokan. Yang berhasil keluar hanyalah kalimat lirih.
“Kamu pantas mendapatkan yang terbaik.”
![]()
Setelah dengan sopan meminta izin kepada gurunya, Rafael bergegas menghampiri Laura. Perempuan itu segera berdiri dan bertepuk tangan pelan.“Tuan Muda,” ujar Laura hangat, matanya berbinar seolah baru saja bertemu idolanya, “setiap kali mendengar Tuan Muda bermain piano, saya merasa seperti sedang terbang ke bulan.”Biasanya Rafa sangat menyukai kalimat itu. Namun hari ini, ia nyaris tidak mendengarnya. “Kak Laura,” tanyanya dengan alis berkerut, suara kecilnya dipenuhi kekhawatiran, “Mami di mana? Kenapa Mami nggak menungguku di sini?”Senyum Laura sempat tertahan sebelum ia menjawab lembut, “Oh... tadi Mami menerima telepon dari Bos. Beliau keluar sebentar untuk menerima telepon itu.”Mata Rafael membesar. &l
Mereka bertiga kemudian memasuki ruang piano bersama-sama.Cahaya matahari mengalir masuk melalui jendela-jendela tinggi, menciptakan semburat hangat di atas permukaan piano hitam yang mengilap. Jono dan guru piano Rafael sudah menunggu di dalam, berdiri dengan sikap hormat di dekat instrumen tersebut.Rafael naik ke bangku piano dengan santai, jemari kecilnya menggantung di atas tuts. Evalia dan Laura duduk di sofa di sudut ruangan, mencurahkan seluruh perhatian mereka kepadanya.Nada-nada pertama mulai memenuhi ruangan. Permainannya memang belum sempurna. Beberapa tuts ditekan terlalu keras, beberapa perpindahan nada masih terdengar kikuk. Namun, permainan itu tulus, sungguh-sungguh, dan dipenuhi usaha. Bibir Evalia melengkung membentuk senyum lembut saat mendengarkannya.
Evalia tersenyum sambil sedikit mendorong kursinya ke belakang. “Ya, Tante. Aku sudah semakin baik. Sekarang aku bisa berjalan lebih cepat, bahkan sudah kembali bekerja.”“Kembali bekerja?” ulang Marni dengan nada terkejut. “Astaga, Eva... kau sedang cedera, bukan sedang bosan.”Evalia tertawa. “Tante, aku janji nggak sedang berlari maraton. Aku cuma... duduk dengan sangat agresif di ruang kerja rumahku.”Marni jelas belum sepenuhnya yakin. Sejak mendengar tentang kecelakaan Evalia, ia terus-menerus menelepon, selalu menanyakan hal yang sama dan mencemaskan Evalia seolah wanita itu adalah anaknya sendiri.“Syukurlah kalau begitu,” ujar Marni lembut. “Aku sedang berpikir... sepertinya aku harus mencari wakt
Aleksander mengangguk sekali, puas.Percakapan kemudian beralih ketika Rania menjelaskan bagaimana ia menemukan Evan malam sebelumnya dalam keadaan berdarah dan setengah sadar di tengah hutan.Dokter sesekali menyela untuk memberikan penjelasan medis singkat, semuanya disampaikan dengan hati-hati dan penuh hormat.Setelah penjelasan selesai, Aleksander memberi isyarat ke arah pintu. "Dokter. Rania. Tolong tunggu di luar. Aku perlu bicara empat mata dengan Evan dan Surya."Rania mengangguk lalu pergi tanpa bertanya. Dokter menyusulnya dan menutup pintu di belakang mereka, membuat ruangan itu seketika diselimuti keheningan.Aleksander kembali menatap Evan. Ada sesuatu yang berubah. Kekakuan pada postur tubuhnya sedikit mengendu
Aleksander Batubara melangkah masuk. Tinggi. Tenang. Terkendali. Kehadirannya saja seolah membuat seluruh udara di ruangan itu tertarik ke arahnya.Surya mengikuti tepat di belakangnya dengan tablet di tangan, matanya menyapu seluruh ruangan.Di belakang mereka berjalan seorang pria berjas putih, jelas dokter yang menangani Evan, dengan kegugupan yang begitu kentara.Rania langsung merasakannya, tekanan sekaligus keterkejutan. Tidak pernah terlintas dalam benaknya bahwa Boss tertinggi mereka adalah Aleksander Batubara, sosok yang selama ini selalu dilihatnya dalam berita dan di internet.Ya Tuhan! Jadi, Bos Besar kami adalah Aleksander Batubara?Rania ingin sekali meneriakkan kalimat itu, tetapi semuanya hanya bergem
"Tapi mereka gagal," jawab Evan tenang. "Dan sejak awal mereka memang nggak punya kesempatan."Rania menyilangkan kedua tangan di dada. "Oh, ya? Coba jelaskan.""Aku menghabisi mereka," kata Evan. Meski kondisinya seperti itu, nada bangga tetap menyelinap dalam suaranya. "Nggak ada satu pun yang lolos."Rania menggeleng. Ia tidak menyukai ucapan Evan. "Kamu menang bukan karena kamu ngak terkalahkan. Kamu menang karena mereka amatir. Mereka bahkan nggak tahu cara menggunakan pistol dengan benar, apalagi senapan mesin berat. Kalau mereka profesional, mereka nggak mungkin meleset dari kepalamu, "Rania mendadak berhenti. Ia segera memalingkan tubuh, mengatupkan rahang sambil berpura-pura mengagumi pohon hias palsu yang berdiri di dekat jendela.
“Aku janji nggak akan ngomong yang aneh-aneh, Dion…” Eva menahan gemetar dalam suaranya, “Tapi demi kewarasanku, kumohon kamu tenang dan jangan mencoba cari tahu tentang dia. Serius. Lebih baik bagi semua orang kalau kamu nggak mengusik dia. Dia bukan cuma masalah besar, dia udah ada di level ‘VIP’,
Eva mengerutkan kening. “Janji apa?”“Aku pernah janji, nggak akan pernah nyari-nyari hal tentang kamu, hidupmu, keluargamu, juga temanmu. Kecuali kamu sendiri yang minta,” ujar Dion.Evalia terdiam. Dadanya terasa sesak. Ia menarik napas panjang, lalu perlahan tersenyum sendu. Dalam diam, ia member
Keesokan paginya, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Eva bangun dengan perasaan bebas. Tak ada alarm, tak ada panggilan dinas, tak ada Estella yang mendadak menerobos masuk kamarnya dan menyuruhnya cepat bersiap.
Sayangnya, harapan Eva itu tak akan pernah terjadi.Dari balik kaca gelap mobil itu, Eva melihat Waluyo Wijaya duduk di kursi belakang. Tatapannya lurus ke depan, dingin dan tak berperasaan. Ia bahkan tak menoleh sedikit pun ke arah taksi yang baru saja keluar dari area kediamannya.Rasanya seolah E







