MasukAku “ketemu” Darius lagi di meja resepsionis hotel.Petugas resepsionis di depan menatap layar komputernya lalu angkat wajah dengan senyum profesional.“Nona Anita, selamat. Anda dapat upgrade gratis ke Aurora Suite di lantai paling atas.”Aku pijat pelipis dan tarik napas panjang.Belum sempat aku bereaksi, sosok yang sudah sangat aku kenal melangkah santai ke sampingku.Darius serahkan paspornya ke resepsionis.“Selamat malam. Aku punya reservasi.”Dia noleh ke arahku, wajahnya tampilkan ekspresi polos yang terlalu dibuat-buat.“Anita, kebetulan sekali.”“Aku juga nginap di hotel ini.”Aku sampai tertawa kecil.Lalu aku berbalik menghadapnya.“Darius, aku nggak butuh semua ini.”“Aku nggak butuh kamu meng-upgrade kamarku.”“Dan aku juga nggak butuh kamu ada dalam radius sepuluh meter dari aku.”“Kamu ngerti?”Dia hanya angkat bahu dengan santai, sama sekali nggak terusik.“Anita, aku cuma mau kamu merasa nyaman.”“Kamu nggak perlu merasa tertekan.”“Lagipula, hotel ini salah satu pro
Darius hanya menatapku, tanpa sedikit pun rasa malu, seolah semua ucapanku nggak mampu sentuh dia.Tiba-tiba aku sadar bahwa berdebat dengan pria ini hanyalah pemborosan waktu yang sia-sia.Aku pejamkan mata, sandarkan kursi, lalu palingkan wajah ke arah jendela, putuskan untuk abaikan dia.Pesawat melaju mulus di atas lapisan awan.Aku pura-pura tidur, mundurkan kursiku, tetapi aku bisa rasakan tatapannya tertuju ke aku.Pandangan itu terasa tajam, susuri sisi wajahku, berhenti lama di dahi, hidung, hingga bibirku.Aku kesal bukan main, tapi tetap nggak buka mata.Setelah waktu yang terasa lama, aku dengar suaranya yang pelan.“Anita.”“Boleh nggak aku tanya?”“Apa kamu putuskan untuk ceraikan aku karena tahu aku kirim pengawal untuk lindungi Angelina?”Aku buka mata dan noleh ke arahnya.“Itu hanya pemicu terakhir.”Setelah semua ini, akhirnya aku bisa katakan itu dengan tenang.“Darius, keinginan untuk ceraikan kamu itu sudah ada sejak lama, sangat lama.”“Anita .…” Suaranya serak.
Sebulan kemudian, luka Darius hampir sepenuhnya pulih.Sayatan yang dulu begitu dalam hingga tulang pun terlihat, kini hanya sisakan bekas luka pucat yang membentang di kulitnya.Selama sebulan itu, aku beberapa kali jenguk dia di rumah sakit. Setiap kunjungan nggak pernah lebih dari sepuluh menit, sekadar ngobrol sebentar, lalu aku pergi.Dia nggak pernah berusaha minta aku kembali.Anehnya, ketegangan di antara kami perlahan mereda.Sekarang, setelah kondisinya membaik, aku siap lanjutkan perjalanan yang sempat tertunda.Aku pesan tiket ke Islander. Sehari sebelum keberangkatan, aku datang ke rumah sakit untuk pamitan.“Darius,” kataku sambil berdiri di samping ranjangnya. “Besok aku berangkat.”Senyumnya seketika membeku.“Ke mana?”“Islander. Setelah itu mungkin keliling Scotan.”“Berapa lama?”Aku angkat bahu dengan santai.“Aku juga nggak tahu. Mungkin aku akan pulang kalau sudah bosan bepergian.”Dia terdiam beberapa detik.Lalu mengangguk pelan, bahkan masih sempat berikan seny
Aku menatap cangkir kopi di hadapanku, sementara pikiranku berputar tanpa arah.Nggak pernah terlintas sedikit pun di pikiranku kalau seperti inilah cerita yang dilihat dari sudut pandang Angelina.Setelah beberapa saat tenggelam dalam pemikiran, akhirnya aku buka suara.“Angelina, makasih sudah kasih tahu semua ini ke aku hari ini.”“Tapi ... aku nggak bisa sepenuhnya percaya dengan itu.”Angelina angkat wajahnya. Matanya masih basah oleh air mata saat menatapku.“Kalau Darius beneran cinta sama aku ....” kataku dengan senyum tipis yang pahit. “Mustahil selama tiga tahun terakhir aku nggak rasakan itu sedikit pun.”“Insting seorang wanita jarang salah.”“Sikap dinginnya, cueknya, rasa nggak pedulinya ... semua itu bukanlah perilaku seorang pria yang sedang jatuh cinta.”“Jadi, Angelina, aku nggak peduli lagi apa dia cinta aku atau nggak. Mungkin saja dia memang cinta aku. Tapi itu sudah nggak penting lagi.”“Yang penting adalah rasa sakit yang aku alami selama tiga tahun itu nyata.”“
Keesokan sorenya, saat aku dorong pintu kedai kopi itu, Angelina sudah lebih dulu duduk di kursi dekat jendela.Dia kenakan sweter rajut berwarna krem, sementara rambut panjangnya diikat longgar ke belakang. Begitu lihat aku, dia langsung berdiri.“Anita,” sapanya pelan, suaranya dibalut rasa gugup yang sulit disembunyikan.Aku duduk di hadapannya dan pesan segelas kopi Americano.Beberapa saat kita hanya terdiam, hingga akhirnya Angelina buka suara.“Anita.” Dia tarik napas dalam-dalam. “Aku datang hari ini untuk katakan sesuatu dari lubuk hatiku yang paling dalam. Maafkan aku.”Dia berdiri lalu bungkukkan badan sedikit ke arahku.Aku terkejut dan buru-buru kasih isyarat agar dia duduk kembali.“Angelina, kamu nggak perlu kayak gitu.”“Aku harus.” Matanya mulai memerah. “Hari itu di kapal pesiar, aku nggak tahu kamu itu istrinya Darius. Aku sudah bilang begitu banyak hal ... begitu banyak hal yang pasti nyakitin kamu.”“Aku bilang ke kamu kalau dia kirim pengawal untuk lindungi aku. A
Jam tiga dini hari ketika Darius akhirnya didorong keluar dari ruang operasi.Aku masih duduk di bangku lorong rumah sakit, pakaian yang aku kenakan belum sempat diganti dan masih dipenuhi darahnya.Aku sendiri nggak tahu mengapa tetap tinggal.Aku hanya ... nggak sanggup melangkah pergi.Dokter keluar dari ruang operasi dan berkata singkat, “Dia sudah lewati masa kritis.”Aku hembuskan napas panjang yang bergetar. Rasanya baru saat itu paru-paruku kembali bekerja.Ruangan kamar di rumah sakit terasa sunyi. Hanya bunyi monitor jantung yang berdetak teratur pecah keheningan.Darius terbaring di atas ranjang rumah sakit. Berbagai selang dan alat medis terhubung ke tubuhnya. Wajahnya pucat seperti kertas. Namun ketika aku masuk, kelopak matanya perlahan terbuka.Tatapannya langsung temukan diriku. Bibirnya bergerak pelan. Aku harus membungkuk lebih dekat untuk dengar apa yang ingin dia katakan.“ ... Bajumu.”Suaranya begitu lemah.“Ganti bajumu. Kamu pasti kedinginan.”Aku membeku. Baru







