LOGINMalam semakin larut.
Jarum jam perlahan mendekati pukul sepuluh ketika ketiga pria yang membuat Renata gelisah itu akhirnya berdiri dari kursi mereka.
Setelah membayar tagihan, mereka melangkah keluar sambil sesekali masih melirik ke arah dalam kafe. Baru setelah pintu kaca tertutup rapat di belakang mereka, Renata mengembuskan napas lega. Ketegangan yang beberapa waktu lalu dia tahan perlahan menghilang, meski rasa waspada masih tersisa.
Tak lama kemudian, jarum jam menunjukkan pukul setengah sebelas. Lampu di sebagian area pelanggan mulai dipadamkan sebagai tanda Lumière Café telah resmi tutup.
Seperti biasa, seluruh karyawan saling berbagi tugas. Renata mengangkat gelas-gelas kotor ke dapur, merapikan kursi dan meja, lalu mengepel lantai hingga mengilap. Setelah memastikan semua pekerjaannya selesai, dia masuk ke ruang ganti untuk melepas seragam kerja dan mengenakan kembali pakaian yang dipakainya saat datang.
Saat keluar dari ruang ganti sambil menyampirkan tas di bahu, Siska yang sedang mematikan mesin kasir menghampirinya. "Ren, kamu pulang sama siapa?" tanya Siska dengan nada penuh perhatian.
Renata mengangkat ponselnya, menunjukkan aplikasi ojek online yang sudah siap digunakan. "Naik ojek online saja," jawab Renata.
Siska mengangguk pelan. Mengingat kejadian beberapa jam sebelumnya, dia masih merasa khawatir membiarkan Renata pulang sendirian. "Hati-hati, ya," ujar Siska.
"Iya, Kak." Renata tersenyum tipis sebagai tanda terima kasih. Meski senyumnya tampak lelah, dia tetap berusaha meyakinkan Siska bahwa dirinya akan baik-baik saja.
Setelah berpamitan dengan rekan-rekan yang lain, gadis itu melangkah keluar dari Lumière Café, sementara udara malam yang sejuk langsung menyambutnya.
Gadis itu mengambil koper kecil yang sejak tadi disimpan di ruang karyawan. Koper tersebut memang tidak besar, tetapi cukup untuk menampung beberapa potong pakaian dan barang-barang penting yang sempat dia bawa sebelum meninggalkan rumah.
Saat Renata melangkah melewati area kasir, Siska tanpa sengaja melihat koper tersebut. Dahinya langsung berkerut heran. "Kamu mau ke mana bawa koper?" tanya Siska.
Pertanyaan itu membuat langkah Renata terhenti sejenak. Jantungnya berdegup lebih cepat. Dia belum siap menceritakan bahwa dirinya baru saja diusir dari rumah. "Oh, mau menginap di rumah teman," jawab gadis itu akhirnya. Renata berusaha tersenyum senatural mungkin, meski suaranya terdengar sedikit gugup.
Sementara itu, Siska hanya mengangguk. Dia tidak menangkap kegelisahan yang disembunyikan Renata. "Ya sudah, hati-hati," ujar Siska.
"Iya, Kak. Terima kasih." Renata membalas dengan senyum tipis, lalu melangkah keluar dari Lumière Café sambil menarik koper kecilnya.
Udara malam langsung menyergap tubuh Renata. Angin bertiup pelan membawa hawa dingin, sementara rintik gerimis mulai turun membasahi jalanan dan memantulkan cahaya lampu kota di atas aspal yang basah.
Renata berteduh di bawah kanopi kafe. Dengan satu tangan memegang gagang koper, tangan lainnya membuka aplikasi ojek online di ponselnya. Dia berkali-kali menekan tombol pesan. Satu permintaan terkirim, tetapi tak lama kemudian dibatalkan sistem karena tidak ada pengemudi yang menerima.
Gadis itu mencoba lagi, lalu mencoba untuk ketiga kalinya. Akan tetapi, Hasilnya tetap sama. Rasa cemas perlahan menyelinap di hati Renata. Jam sudah semakin malam, gerimis belum juga reda, sementara dia tidak memiliki tempat lain untuk menunggu.
"Ya Allah." Keluhan lirih itu lolos dari bibir Renata. Gadis itu memeluk tasnya lebih erat untuk mengusir hawa dingin sambil sesekali melirik layar ponsel. Aplikasi ojek online masih terus mencari pengemudi, tetapi belum ada satu pun yang menerima pesanannya. Dia sangat berharap ada pengemudi yang cepat menerima.
Sementara itu, jalan di depan Lumière Café mulai lengang. Suara kendaraan semakin jarang terdengar, lampu-lampu pertokoan di sepanjang jalan pun dipadamkan satu per satu, menyisakan penerangan dari lampu jalan yang temaram.
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti tak jauh dari Renata. Jantungnya seketika berdegup lebih cepat.
Pintu belakang mobil itu terbuka perlahan. Seorang pria turun dengan langkah sedikit sempoyongan. Wajahnya memerah, napasnya berbau alkohol.
Renata langsung mengenali. Dialah salah satu pelanggan yang sempat mengganggunya di dalam kafe.
"Lho, ketemu lagi." Pria itu menyeringai sambil mendekat.
Renata tanpa sadar mundur selangkah. Jemarinya semakin erat menggenggam tas. "Pak, saya mau pulang," ujar Renata.
"Aku antar." Nada bicara pria itu terdengar santai, tetapi sorot matanya membuat Renata semakin ketakutan.
"Tidak usah!" tolak gadis itu. Renata mencoba menghindarinya dengan melangkah ke samping.
Namun, pria itu justru ikut mendekat, menutup jalan yang hendak dilewatinya. "Ayolah. Jangan jual mahal," ujar si pria.
Renata memilih berjalan menjauh sambil menarik koper kecilnya. Sayangnya, baru beberapa langkah diambil, pria itu lebih dulu meraih pergelangan tangannya.
"Lepas, Pak!" Renata berusaha menarik tangannya sekuat tenaga, tetapi cengkeraman pria itu semakin kuat.
"Tadi di dalam sok jual mahal. Sekarang sudah nggak ada yang lihat."
Ucapan itu membuat tubuh Renata gemetar. Dia terus meronta, berusaha membebaskan diri meski tenaganya kalah jauh. "Tolong!" Suara Renata memecah kesunyian malam.
Namun, jalanan terlalu sepi. Tidak ada pejalan kaki, tidak ada kendaraan yang berhenti. Gerimis yang turun justru membuat suasana terasa semakin sunyi.
Pria itu menarik tubuh Renata hingga hampir kehilangan keseimbangan. Koper kecilnya terjatuh dan terguling beberapa meter di atas trotoar. "Diam!" Bentakan itu membuat Renata semakin panik.
Air mata mulai mengalir tanpa bisa ditahan. "Pak, tolong lepaskan saya," pinta Renata dengam suara bergetar dipenuhi rasa takut.
Tepat saat itu, sorot lampu sebuah mobil hitam menyinari mereka. Cahaya terang membuat pria mabuk itu spontan menyipitkan mata. Mobil tersebut berhenti tepat di depan Lumière Café dan pintu pengemudi terbuka.
Seorang pria bertubuh tinggi turun dengan langkah tenang. Meski ekspresinya datar, sorot matanya tajam saat melihat tangan yang masih mencengkeram pergelangan Renata. Dia berhenti beberapa langkah dari mereka. Suaranya terdengar rendah dan dingin, tetapi memiliki wibawa yang membuat suasana mendadak membeku. "Lepaskan dia!" perintahnya.
Renata menoleh ke arah sumber suara. Napasnya masih memburu, pipinya basah oleh air mata.
Untuk pertama kalinya malam itu, secercah harapan muncul di tengah rasa takut yang hampir melumpuhkannya.
Dirga masih menggenggam tangan Renata ketika mereka berjalan meninggalkan area kafe. Langkah pria itu tidak terburu-buru, seolah ingin memastikan istrinya benar-benar merasa tenang setelah kejadian yang baru saja mereka alami.Sementara itu, Renata sesekali melirik wajah suaminya. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan, tetapi entah mengapa, ia justru merasa malu untuk memulainya. Terlebih setelah mendengar pengakuan Dirga bahwa pria itu datang karena merindukannya.Sebuah alasan sederhana yang berhasil membuat hatinya berdebar lebih cepat."Mas Dirga.""Hm?"Dirga menoleh. Tatapannya langsung tertuju kepada Renata yang berjalan di sampingnya. Ia memperlambat langkah ketika menyadari istrinya seperti sedang memikirkan sesuatu."Kamu kenapa tiba-tiba datang?"Pertanyaan itu sebenarnya sudah muncul sejak Dirga pertama kali memasuki kafe. Renata tidak menyangka suaminya akan datang tanpa pemberitahuan, apalagi ketika ia masih sibuk menyelesaikan pekerjaannya.Dirga menatapnya sejenak sebe
Renata menahan napas. Entah kenapa, satu kata itu membuat dadanya menghangat.Suaminya.Dirga mengucapkannya tanpa keraguan, tanpa perlu menjelaskan panjang lebar. Seolah status itu adalah sesuatu yang memang ingin dia tegaskan kepada siapa pun. Padahal, hubungan mereka selama ini masih menyimpan banyak hal yang belum sepenuhnya dipahami Renata.Pernikahan mereka bermula dari keadaan yang tidak sederhana. Ada alasan, kesepakatan, dan keputusan yang awalnya terasa lebih masuk akal daripada romantis. Namun, belakangan ini, Dirga semakin sering melakukan hal-hal kecil yang membuat Renata lupa bahwa pernikahan mereka tidak dimulai dari kisah cinta seperti kebanyakan pasangan. Kedatangan Dirga hari itu adalah salah satunya.Dirga menatap pria tersebut tanpa senyum. Dia tidak perlu melirik Renata untuk mengetahui bahwa istrinya berdiri tepat di belakangnya."Saya dengar dari istri saya bahwa Anda beberapa kali mengganggunya."Pria itu tertawa kecil. Tawanya terdengar dipaksakan, seolah dia
Pagi itu, Renata kembali menjalani rutinitasnya seperti biasa. Setelah beberapa hari terakhir dipenuhi kejutan—mulai dari pernikahannya yang akhirnya diketahui Celina hingga pertemuan dengan keluarga Dirga—Renata justru merasa membutuhkan sesuatu yang sederhana. Bekerja.Bekerja di kafe selalu membuat pikirannya lebih tenang. Di sana, dia bisa menjadi Renata yang biasa. Bukan istri seorang pengusaha kaya. Bukan bagian dari keluarga Mahardika. Hanya Renata. Seorang wanita yang sedang berusaha menyelesaikan kuliah dan membangun kehidupannya sendiri.Pagi itu, Renata mengenakan seragam Lumière Café lalu mengikat rambutnya dengan rapi."Renata, meja lima pesanannya sudah siap," panggil salah satu rekannya."Iya."Renata mengambil nampan dan berjalan menuju meja pelanggan.Beberapa jam berlalu dengan tenang. Sampai seorang pria datang sendirian. Usianya mungkin sekitar tiga puluh tahun. Dia duduk di salah satu meja dekat kasir, lalu beberapa kali memanggil Renata meskipun sebenarnya pelaya
Malam semakin larut. Setelah berbincang sebentar dengan Renata dan Dirga, Bi Sari akhirnya berpamitan untuk kembali ke kamarnya. Dia masih sempat mengingatkan mereka agar tidak tidur terlalu malam sebelum menutup percakapan dengan senyum ramah. Renata membalas senyum itu sebelum berjalan menuju kamar bersama Dirga. Begitu memasuki kamar, suasana yang lebih tenang menyambut mereka. Lampu tidur memancarkan cahaya hangat, sementara udara sejuk dari pendingin ruangan membuat Renata merasa nyaman setelah menjalani hari yang cukup panjang. Dirga meletakkan ponselnya di atas nakas, kemudian berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaian tidur. Sementara itu, Renata duduk di depan meja rias dan mulai melepas anting-anting yang dikenakannya sejak sore. Dia meletakkan perhiasan itu ke dalam kotak kecil, lalu memperhatikan pantulan wajahnya di cermin. Malam itu benar-benar berbeda dari yang dibayangkannya. Dia datang ke rumah utama dengan perasaan gugup, tetapi pulang dengan membawa begitu
Begitu tiba di rumah, Renata dan Dirga mendapati Bi Sari sudah menunggu di ruang tengah. Wanita paruh baya itu duduk di sofa sambil menonton televisi dengan volume kecil. Namun, begitu mendengar suara pintu terbuka, dia segera menoleh. Wajahnya langsung menunjukkan rasa ingin tahu ketika melihat keduanya masuk bersama. “Sudah pulang?” “Iya, Bi,” jawab Renata. Renata melepaskan sepatunya, lalu berjalan masuk ke ruang tengah. Dirga menyusul di belakangnya sambil melonggarkan kerah kemeja yang sejak tadi terasa sedikit menyesakkan. Makan malam bersama keluarga besarnya memang berjalan cukup lancar, tetapi ada banyak hal yang masih berputar di kepala Renata. Bi Sari memperhatikan ekspresi mereka bergantian. Dia sudah cukup lama bekerja di rumah itu sehingga bisa mengenali perubahan kecil pada wajah majikannya maupun Renata. “Bagaimana makan malamnya?” tanya Bi Sari. Renata duduk di sofa sambil tersenyum kecil. “Ramai.” “Ramai bagaimana, Nyonya? Banyak orang?” “Iya. Keluar
Setelah makan malam, perjalanan pulang terasa lebih tenang. Renata duduk di samping Dirga. Lampu-lampu jalan bergerak melewati jendela mobil. Beberapa menit mereka tidak berbicara. “Mas Dirga,” ucap Renata membuka percakapan. Sejak meninggalkan rumah utama keluarga Mahardika, Renata lebih banyak diam di kursi penumpang. Pikirannya masih dipenuhi kejadian malam itu, terutama saat mengetahui bahwa Celina, sahabat yang selama ini menjadi tempatnya berbagi cerita, ternyata merupakan keponakan suaminya sendiri. Rasanya masih sulit dipercaya. Selama ini, Renata dan Celina begitu dekat, tetapi ada satu hal besar tentang Dirga di keluarganya yang sama sekali tidak pernah diketahuinya. “Hm?” Dirga menyahut tanpa mengalihkan pandangan dari jalan. Renata menoleh ke arahnya. Pria itu tampak tenang seperti biasa, kedua tangannya sesekali bergerak mengikuti arah kemudi. Berbeda dengannya yang sejak tadi memikirkan berbagai kemungkinan, Dirga seolah tidak terlalu mengkhawatirkan kejadian ma







