MasukRenata menoleh ke arah pria bertubuh tinggi yang baru saja turun dari mobil hitam itu. Sorot matanya tajam, wajahnya tetap datar tanpa menunjukkan kepanikan sedikit pun. Dia berdiri tegak dengan kedua tangan di samping tubuh, tetapi auranya memancarkan wibawa yang sulit diabaikan.
Pria mabuk yang masih mencengkeram pergelangan tangan Renata mendengus kesal. Dia menoleh dengan tatapan penuh tantangan. "Siapa kamu? Jangan ikut campur urusanku!" Pria itu melangkah maju setengah langkah, berusaha menunjukkan keberaniannya meski tubuhnya sedikit oleng karena pengaruh alkohol.
Sementara itu, Renata masih berusaha melepaskan diri. Pergelangan tangannya mulai terasa sakit akibat cengkeraman yang terlalu kuat. Napasnya memburu, sementara air mata terus membasahi pipinya.
Pria berjas hitam itu tidak bergeming sedikit pun. Tatapannya justru beralih pada tangan yang masih mencengkeram Renata, lalu kembali menatap wajah pria mabuk tersebut. Ekspresi pria itu tetap tenang. Namun, ketenangan itulah yang justru terasa lebih mengintimidasi daripada kemarahan.
"Lepaskan dia," ulangnya dengan nada yang lebih dingin, seolah memberi kesempatan terakhir sebelum keadaan berubah menjadi jauh lebih buruk.
Tanpa tergesa-gesa, Dirga melangkah mendekat. Derap sepatunya terdengar jelas di tengah jalan yang lengang. Jas hitam yang masih melekat rapi di tubuhnya membuat penampilannya tampak berwibawa, sementara sorot mata tidak pernah lepas dari tangan pria itu yang masih mencengkeram pergelangan Renata.
"Aku bilang, lepaskan dia."
Pria mabuk itu mendengus, lalu tertawa sinis. Bau alkohol semakin menyengat ketika dia membuka mulut. "Kalau nggak gue lepasin memangnya kenapa?" tanyanya. Pria mabuk itu menatap Dirga dengan penuh tantangan, yakin pria di hadapannya hanya menggertak. Belum sempat Dirga menjawab, pria itu lebih dulu mendorong bahunya dengan kasar.
Renata membelalak kaget. Napasnya tercekat melihat tindakan nekat itu. "Pak, jangan...." Suara Renata terdengar lirih dan bergetar. Dia takut keadaan akan berubah menjadi perkelahian yang lebih besar.
Namun, berbeda dengan dugaannya, Dirga sama sekali tidak terpancing. Tubuhnya hanya bergeser sedikit akibat dorongan itu. Wajahnya tetap tenang, bahkan nyaris tanpa perubahan ekspresi. "Kesempatanmu cuma sekali," ucap Dirga datar. "Lepaskan dia, lalu pergi." Nada suaranya rendah, tetapi mengandung ketegasan yang sulit dibantah.
Sayangnya, ucapan itu bukannya membuat pria mabuk tersebut mengurungkan niat, tetapi harga dirinya justru terusik. "Banyak gaya!" Dengan emosi yang memuncak, pria mabuk itu mengayunkan tangan hendak memukul wajah Dirga.
Sebelum pukulan itu mengenai sasaran, Dirga bergerak cepat. Tangannya terangkat, lalu mencengkeram pergelangan pria itu dengan kuat hingga gerakannya terhenti di udara.
"Aw!" Pria itu meringis kesakitan. Wajahnya yang semula garang berubah menahan nyeri. Dalam hitungan detik, cengkeramannya pada pergelangan tangan Renata terlepas begitu saja.
Renata segera menarik tangan dan mundur beberapa langkah. Dia memeluk pergelangan tangannya yang memerah sambil menatap Dirga dengan napas masih memburu. Rasa takut belum sepenuhnya hilang, tetapi malam itu dia merasa berada di sisi yang lebih aman.
Keributan di depan Lumière Café akhirnya menarik perhatian orang-orang di sekitar.
Pintu kaca kafe kembali terbuka, disusul langkah tergesa-gesa satpam dan beberapa karyawan yang ternyata belum sempat pulang. Mereka langsung mengalihkan pandangan ke arah Renata, Dirga, dan pria mabuk yang masih berdiri saling berhadapan.
"Ada apa ini?" tanya satpam sambil mempercepat langkah. Sorot matanya bergantian menatap wajah-wajah yang berada di lokasi.
Sebelum Renata sempat menjawab, Siska yang baru keluar dari dalam kafe langsung tahu situasi karena mengenali pria mabuk yang ada di sana. Wajahnya tampak cemas saat melihat kondisi Renata yang masih pucat. Dia pun langsung lebih dulu angkat bicara. "Pria ini mengganggu karyawan kami," sahut Siska tegas sambil menunjuk ke arah pria mabuk tersebut.
Beberapa karyawan lain mulai berbisik-bisik. Ada yang segera menghampiri Renata untuk memastikan keadaannya, ada pula yang berdiri di dekat satpam, membuat suasana berubah menjadi tidak menguntungkan bagi pria itu.
Melihat jumlah orang yang semakin banyak, keberanian pria mabuk tersebut perlahan menghilang. Tatapannya mulai gelisah, sementara langkahnya tanpa sadar mundur setapak.
Namun, demi menjaga gengsi, dia tetap berusaha memasang wajah garang. "Kalian semua lihat saja!" Pria mabuk itu mengangkat telunjuknya, lalu menunjuk tepat ke arah Dirga. Wajahnya merah padam, entah karena amarah atau pengaruh alkohol. "Urusan kita belum selesai!" Meski mengucapkan ancaman itu, suaranya tidak lagi setegas sebelumnya. Setelah melirik ke arah satpam dan orang-orang yang mulai mengelilinginya, pria mabuk itu akhirnya berbalik dengan kesal, lalu berjalan tergesa menuju mobilnya sebelum segera meninggalkan halaman Lumière Café.
Suasana di depan Lumière Café perlahan kembali hening. Mobil pria mabuk itu telah menghilang di ujung jalan, sementara gerimis masih turun tipis membasahi trotoar.
Renata masih berdiri mematung. Napasnya belum sepenuhnya teratur, tubuhnya masih sedikit gemetar akibat rasa takut yang baru saja dialami. Jemarinya tanpa sadar memeluk tas di dada, seolah mencari rasa aman.
Pria yang menolongnya melangkah mendekat. Sorot matanya tak lagi setajam saat menghadapi pria mabuk tadi. Nada bicaranya pun terdengar jauh lebih lembut. "Anda tidak apa-apa?"
Renata mengangkat wajah perlahan. Tatapannya bertemu dengan mata pria itu. Meski masih diliputi rasa gugup, dia mengangguk pelan. "I-iya. Terima kasih." Ucapan itu keluar hampir berbisik. Rasa syukur bercampur lega memenuhi dada Renata.
"Yakin tidak terluka?" Tatapan pria itu beralih ke pergelangan tangan Renata yang tadi dicengkeram cukup kuat.
Renata ikut menunduk. Bekas kemerahan mulai terlihat jelas di kulitnya. "Sedikit saja," jawab Renata.
Dirga mengembuskan napas pelan. Ketegangan di wajahnya sedikit mengendur setelah memastikan Renata tidak mengalami luka yang lebih serius. "Kalau begitu syukurlah" ucap Dirga.
Tak lama kemudian, Siska menghampiri Renata dengan langkah cepat. Raut wajahnya masih dipenuhi kekhawatiran. "Ren, kamu kenal sama orang itu?" tanya Siska.
Renata segera menggeleng. "Tidak."
Jawabannya singkat, tetapi cukup membuat Siska menghela napas panjang. "Lain kali jangan pulang sendirian." Nada bicara Siska terdengar seperti seorang kakak yang sedang menasihati adiknya.
Renata hanya mengangguk pelan. "Iya, Kak," balas Renata.
Siska lalu mengalihkan pandangannya kepada pria yang telah membantu Renata. Dia tersenyum penuh rasa terima kasih. "Terima kasih banyak sudah membantu karyawan kami," ujar Siska.
Dirga membalas dengan anggukan kecil. Ekspresinya tetap tenang, seolah apa yang baru saja dilakukannya adalah hal yang biasa. "Sama-sama," balas Dirga.
Sesaat kemudian, pandangannya kembali tertuju pada Renata. Dia memperhatikan koper kecil di samping kaki gadis itu dan ponsel yang masih berada di genggamannya. "Kamu mau ke mana? Mobilmu di mana?" tanya Dirga.
Renata tersenyum tipis, sedikit malu karena harus mengakui keadaannya. "Aku naik ojek online," jawab Renata.
Dirga mengangguk pelan, lalu melirik layar ponsel di tangan Renata. "Sudah dapat?"
Renata terdiam. Dia melirik layar ponselnya. Di sana masih tertulis mencari pengemudi, belum ada yang menerima pesanannya.
Dirga memahami keadaan itu. "Kalau tidak keberatan, biar saya antar," usul Dirga.
Dirga masih menggenggam tangan Renata ketika mereka berjalan meninggalkan area kafe. Langkah pria itu tidak terburu-buru, seolah ingin memastikan istrinya benar-benar merasa tenang setelah kejadian yang baru saja mereka alami.Sementara itu, Renata sesekali melirik wajah suaminya. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan, tetapi entah mengapa, ia justru merasa malu untuk memulainya. Terlebih setelah mendengar pengakuan Dirga bahwa pria itu datang karena merindukannya.Sebuah alasan sederhana yang berhasil membuat hatinya berdebar lebih cepat."Mas Dirga.""Hm?"Dirga menoleh. Tatapannya langsung tertuju kepada Renata yang berjalan di sampingnya. Ia memperlambat langkah ketika menyadari istrinya seperti sedang memikirkan sesuatu."Kamu kenapa tiba-tiba datang?"Pertanyaan itu sebenarnya sudah muncul sejak Dirga pertama kali memasuki kafe. Renata tidak menyangka suaminya akan datang tanpa pemberitahuan, apalagi ketika ia masih sibuk menyelesaikan pekerjaannya.Dirga menatapnya sejenak sebe
Renata menahan napas. Entah kenapa, satu kata itu membuat dadanya menghangat.Suaminya.Dirga mengucapkannya tanpa keraguan, tanpa perlu menjelaskan panjang lebar. Seolah status itu adalah sesuatu yang memang ingin dia tegaskan kepada siapa pun. Padahal, hubungan mereka selama ini masih menyimpan banyak hal yang belum sepenuhnya dipahami Renata.Pernikahan mereka bermula dari keadaan yang tidak sederhana. Ada alasan, kesepakatan, dan keputusan yang awalnya terasa lebih masuk akal daripada romantis. Namun, belakangan ini, Dirga semakin sering melakukan hal-hal kecil yang membuat Renata lupa bahwa pernikahan mereka tidak dimulai dari kisah cinta seperti kebanyakan pasangan. Kedatangan Dirga hari itu adalah salah satunya.Dirga menatap pria tersebut tanpa senyum. Dia tidak perlu melirik Renata untuk mengetahui bahwa istrinya berdiri tepat di belakangnya."Saya dengar dari istri saya bahwa Anda beberapa kali mengganggunya."Pria itu tertawa kecil. Tawanya terdengar dipaksakan, seolah dia
Pagi itu, Renata kembali menjalani rutinitasnya seperti biasa. Setelah beberapa hari terakhir dipenuhi kejutan—mulai dari pernikahannya yang akhirnya diketahui Celina hingga pertemuan dengan keluarga Dirga—Renata justru merasa membutuhkan sesuatu yang sederhana. Bekerja.Bekerja di kafe selalu membuat pikirannya lebih tenang. Di sana, dia bisa menjadi Renata yang biasa. Bukan istri seorang pengusaha kaya. Bukan bagian dari keluarga Mahardika. Hanya Renata. Seorang wanita yang sedang berusaha menyelesaikan kuliah dan membangun kehidupannya sendiri.Pagi itu, Renata mengenakan seragam Lumière Café lalu mengikat rambutnya dengan rapi."Renata, meja lima pesanannya sudah siap," panggil salah satu rekannya."Iya."Renata mengambil nampan dan berjalan menuju meja pelanggan.Beberapa jam berlalu dengan tenang. Sampai seorang pria datang sendirian. Usianya mungkin sekitar tiga puluh tahun. Dia duduk di salah satu meja dekat kasir, lalu beberapa kali memanggil Renata meskipun sebenarnya pelaya
Malam semakin larut. Setelah berbincang sebentar dengan Renata dan Dirga, Bi Sari akhirnya berpamitan untuk kembali ke kamarnya. Dia masih sempat mengingatkan mereka agar tidak tidur terlalu malam sebelum menutup percakapan dengan senyum ramah. Renata membalas senyum itu sebelum berjalan menuju kamar bersama Dirga. Begitu memasuki kamar, suasana yang lebih tenang menyambut mereka. Lampu tidur memancarkan cahaya hangat, sementara udara sejuk dari pendingin ruangan membuat Renata merasa nyaman setelah menjalani hari yang cukup panjang. Dirga meletakkan ponselnya di atas nakas, kemudian berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaian tidur. Sementara itu, Renata duduk di depan meja rias dan mulai melepas anting-anting yang dikenakannya sejak sore. Dia meletakkan perhiasan itu ke dalam kotak kecil, lalu memperhatikan pantulan wajahnya di cermin. Malam itu benar-benar berbeda dari yang dibayangkannya. Dia datang ke rumah utama dengan perasaan gugup, tetapi pulang dengan membawa begitu
Begitu tiba di rumah, Renata dan Dirga mendapati Bi Sari sudah menunggu di ruang tengah. Wanita paruh baya itu duduk di sofa sambil menonton televisi dengan volume kecil. Namun, begitu mendengar suara pintu terbuka, dia segera menoleh. Wajahnya langsung menunjukkan rasa ingin tahu ketika melihat keduanya masuk bersama. “Sudah pulang?” “Iya, Bi,” jawab Renata. Renata melepaskan sepatunya, lalu berjalan masuk ke ruang tengah. Dirga menyusul di belakangnya sambil melonggarkan kerah kemeja yang sejak tadi terasa sedikit menyesakkan. Makan malam bersama keluarga besarnya memang berjalan cukup lancar, tetapi ada banyak hal yang masih berputar di kepala Renata. Bi Sari memperhatikan ekspresi mereka bergantian. Dia sudah cukup lama bekerja di rumah itu sehingga bisa mengenali perubahan kecil pada wajah majikannya maupun Renata. “Bagaimana makan malamnya?” tanya Bi Sari. Renata duduk di sofa sambil tersenyum kecil. “Ramai.” “Ramai bagaimana, Nyonya? Banyak orang?” “Iya. Keluar
Setelah makan malam, perjalanan pulang terasa lebih tenang. Renata duduk di samping Dirga. Lampu-lampu jalan bergerak melewati jendela mobil. Beberapa menit mereka tidak berbicara. “Mas Dirga,” ucap Renata membuka percakapan. Sejak meninggalkan rumah utama keluarga Mahardika, Renata lebih banyak diam di kursi penumpang. Pikirannya masih dipenuhi kejadian malam itu, terutama saat mengetahui bahwa Celina, sahabat yang selama ini menjadi tempatnya berbagi cerita, ternyata merupakan keponakan suaminya sendiri. Rasanya masih sulit dipercaya. Selama ini, Renata dan Celina begitu dekat, tetapi ada satu hal besar tentang Dirga di keluarganya yang sama sekali tidak pernah diketahuinya. “Hm?” Dirga menyahut tanpa mengalihkan pandangan dari jalan. Renata menoleh ke arahnya. Pria itu tampak tenang seperti biasa, kedua tangannya sesekali bergerak mengikuti arah kemudi. Berbeda dengannya yang sejak tadi memikirkan berbagai kemungkinan, Dirga seolah tidak terlalu mengkhawatirkan kejadian ma







