Share

Bab 5

last update publish date: 2026-08-27 15:32:01

Renata menoleh ke arah pria bertubuh tinggi yang baru saja turun dari mobil hitam itu. Sorot matanya tajam, wajahnya tetap datar tanpa menunjukkan kepanikan sedikit pun. Dia berdiri tegak dengan kedua tangan di samping tubuh, tetapi auranya memancarkan wibawa yang sulit diabaikan.

Pria mabuk yang masih mencengkeram pergelangan tangan Renata mendengus kesal. Dia menoleh dengan tatapan penuh tantangan. "Siapa kamu? Jangan ikut campur urusanku!" Pria itu melangkah maju setengah langkah, berusaha menunjukkan keberaniannya meski tubuhnya sedikit oleng karena pengaruh alkohol.

Sementara itu, Renata masih berusaha melepaskan diri. Pergelangan tangannya mulai terasa sakit akibat cengkeraman yang terlalu kuat. Napasnya memburu, sementara air mata terus membasahi pipinya.

Pria berjas hitam itu tidak bergeming sedikit pun. Tatapannya justru beralih pada tangan yang masih mencengkeram Renata, lalu kembali menatap wajah pria mabuk tersebut. Ekspresi pria itu tetap tenang. Namun, ketenangan itulah yang justru terasa lebih mengintimidasi daripada kemarahan.

"Lepaskan dia," ulangnya dengan nada yang lebih dingin, seolah memberi kesempatan terakhir sebelum keadaan berubah menjadi jauh lebih buruk.

Tanpa tergesa-gesa, Dirga melangkah mendekat. Derap sepatunya terdengar jelas di tengah jalan yang lengang. Jas hitam yang masih melekat rapi di tubuhnya membuat penampilannya tampak berwibawa, sementara sorot mata tidak pernah lepas dari tangan pria itu yang masih mencengkeram pergelangan Renata.

"Aku bilang, lepaskan dia."

Pria mabuk itu mendengus, lalu tertawa sinis. Bau alkohol semakin menyengat ketika dia membuka mulut. "Kalau nggak gue lepasin memangnya kenapa?" tanyanya. Pria mabuk itu menatap Dirga dengan penuh tantangan, yakin pria di hadapannya hanya menggertak. Belum sempat Dirga menjawab, pria itu lebih dulu mendorong bahunya dengan kasar.

Renata membelalak kaget. Napasnya tercekat melihat tindakan nekat itu. "Pak, jangan...." Suara Renata terdengar lirih dan bergetar. Dia takut keadaan akan berubah menjadi perkelahian yang lebih besar.

Namun, berbeda dengan dugaannya, Dirga sama sekali tidak terpancing. Tubuhnya hanya bergeser sedikit akibat dorongan itu. Wajahnya tetap tenang, bahkan nyaris tanpa perubahan ekspresi. "Kesempatanmu cuma sekali," ucap Dirga datar. "Lepaskan dia, lalu pergi." Nada suaranya rendah, tetapi mengandung ketegasan yang sulit dibantah.

Sayangnya, ucapan itu bukannya membuat pria mabuk tersebut mengurungkan niat, tetapi harga dirinya justru terusik. "Banyak gaya!" Dengan emosi yang memuncak, pria mabuk itu mengayunkan tangan hendak memukul wajah Dirga.

Sebelum pukulan itu mengenai sasaran, Dirga bergerak cepat. Tangannya terangkat, lalu mencengkeram pergelangan pria itu dengan kuat hingga gerakannya terhenti di udara.

"Aw!" Pria itu meringis kesakitan. Wajahnya yang semula garang berubah menahan nyeri. Dalam hitungan detik, cengkeramannya pada pergelangan tangan Renata terlepas begitu saja.

Renata segera menarik tangan dan mundur beberapa langkah. Dia memeluk pergelangan tangannya yang memerah sambil menatap Dirga dengan napas masih memburu. Rasa takut belum sepenuhnya hilang, tetapi malam itu dia merasa berada di sisi yang lebih aman.

Keributan di depan Lumière Café akhirnya menarik perhatian orang-orang di sekitar.

Pintu kaca kafe kembali terbuka, disusul langkah tergesa-gesa satpam dan beberapa karyawan yang ternyata belum sempat pulang. Mereka langsung mengalihkan pandangan ke arah Renata, Dirga, dan pria mabuk yang masih berdiri saling berhadapan.

"Ada apa ini?" tanya satpam sambil mempercepat langkah. Sorot matanya bergantian menatap wajah-wajah yang berada di lokasi.

Sebelum Renata sempat menjawab, Siska yang baru keluar dari dalam kafe langsung tahu situasi karena mengenali pria mabuk yang ada di sana. Wajahnya tampak cemas saat melihat kondisi Renata yang masih pucat. Dia pun langsung lebih dulu angkat bicara. "Pria ini mengganggu karyawan kami," sahut Siska tegas sambil menunjuk ke arah pria mabuk tersebut.

Beberapa karyawan lain mulai berbisik-bisik. Ada yang segera menghampiri Renata untuk memastikan keadaannya, ada pula yang berdiri di dekat satpam, membuat suasana berubah menjadi tidak menguntungkan bagi pria itu.

Melihat jumlah orang yang semakin banyak, keberanian pria mabuk tersebut perlahan menghilang. Tatapannya mulai gelisah, sementara langkahnya tanpa sadar mundur setapak.

Namun, demi menjaga gengsi, dia tetap berusaha memasang wajah garang. "Kalian semua lihat saja!" Pria mabuk itu mengangkat telunjuknya, lalu menunjuk tepat ke arah Dirga. Wajahnya merah padam, entah karena amarah atau pengaruh alkohol. "Urusan kita belum selesai!" Meski mengucapkan ancaman itu, suaranya tidak lagi setegas sebelumnya. Setelah melirik ke arah satpam dan orang-orang yang mulai mengelilinginya, pria mabuk itu akhirnya berbalik dengan kesal, lalu berjalan tergesa menuju mobilnya sebelum segera meninggalkan halaman Lumière Café.

Suasana di depan Lumière Café perlahan kembali hening. Mobil pria mabuk itu telah menghilang di ujung jalan, sementara gerimis masih turun tipis membasahi trotoar.

Renata masih berdiri mematung. Napasnya belum sepenuhnya teratur, tubuhnya masih sedikit gemetar akibat rasa takut yang baru saja dialami. Jemarinya tanpa sadar memeluk tas di dada, seolah mencari rasa aman.

Pria yang menolongnya melangkah mendekat. Sorot matanya tak lagi setajam saat menghadapi pria mabuk tadi. Nada bicaranya pun terdengar jauh lebih lembut. "Anda tidak apa-apa?"

Renata mengangkat wajah perlahan. Tatapannya bertemu dengan mata pria itu. Meski masih diliputi rasa gugup, dia mengangguk pelan. "I-iya. Terima kasih." Ucapan itu keluar hampir berbisik. Rasa syukur bercampur lega memenuhi dada Renata.

"Yakin tidak terluka?" Tatapan pria itu beralih ke pergelangan tangan Renata yang tadi dicengkeram cukup kuat.

Renata ikut menunduk. Bekas kemerahan mulai terlihat jelas di kulitnya. "Sedikit saja," jawab Renata.

Dirga mengembuskan napas pelan. Ketegangan di wajahnya sedikit mengendur setelah memastikan Renata tidak mengalami luka yang lebih serius. "Kalau begitu syukurlah" ucap Dirga.

Tak lama kemudian, Siska menghampiri Renata dengan langkah cepat. Raut wajahnya masih dipenuhi kekhawatiran. "Ren, kamu kenal sama orang itu?" tanya Siska.

Renata segera menggeleng. "Tidak."

Jawabannya singkat, tetapi cukup membuat Siska menghela napas panjang. "Lain kali jangan pulang sendirian." Nada bicara Siska terdengar seperti seorang kakak yang sedang menasihati adiknya.

Renata hanya mengangguk pelan. "Iya, Kak," balas Renata.

Siska lalu mengalihkan pandangannya kepada pria yang telah membantu Renata. Dia tersenyum penuh rasa terima kasih. "Terima kasih banyak sudah membantu karyawan kami," ujar Siska.

Dirga membalas dengan anggukan kecil. Ekspresinya tetap tenang, seolah apa yang baru saja dilakukannya adalah hal yang biasa. "Sama-sama," balas Dirga.

Sesaat kemudian, pandangannya kembali tertuju pada Renata. Dia memperhatikan koper kecil di samping kaki gadis itu dan ponsel yang masih berada di genggamannya. "Kamu mau ke mana? Mobilmu di mana?" tanya Dirga.

Renata tersenyum tipis, sedikit malu karena harus mengakui keadaannya. "Aku naik ojek online," jawab Renata.

Dirga mengangguk pelan, lalu melirik layar ponsel di tangan Renata. "Sudah dapat?"

Renata terdiam. Dia melirik layar ponselnya. Di sana masih tertulis mencari pengemudi, belum ada yang menerima pesanannya.

Dirga memahami keadaan itu. "Kalau tidak keberatan, biar saya antar," usul Dirga.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Rahasia Tuan Dirga   Bab 6

    Renata spontan menggeleng. "Tidak usah. Merepotkan." "Malam sudah larut," kata Dirga. Suara Dirga terdengar tenang. Dia mengedarkan pandangannya ke sepanjang jalan di depan Lumière Café yang semakin sepi. Gerimis belum juga berhenti, sementara kendaraan yang melintas hanya sesekali terlihat. Renata menggenggam ponselnya lebih erat. "Aku bisa menunggu." Gadis itu berusaha terdengar yakin, meski aplikasi ojek online di layar ponselnya masih belum menunjukkan tanda-tanda ada pengemudi yang menerima pesanannya. Dirga kembali mengalihkan pandangan ke arah jalan yang lengang, lalu berkata, "Daerah sini tidak aman." Kalimat itu diucapkannya tanpa bermaksud memaksa. Dia hanya menyampaikan apa yang baru saja mereka alami beberapa menit lalu. Renata ikut menoleh ke arah jalan yang mulai gelap. Suasana yang tadinya biasa saja terasa berbeda. Bayangan wajah pria mabuk yang tadi mencengkeram tangannya kembali terlintas di benaknya. Bagaimana jika pria itu kembali? Pikiran itu membuat bulu kud

  • Istri Rahasia Tuan Dirga   Bab 5

    Renata menoleh ke arah pria bertubuh tinggi yang baru saja turun dari mobil hitam itu. Sorot matanya tajam, wajahnya tetap datar tanpa menunjukkan kepanikan sedikit pun. Dia berdiri tegak dengan kedua tangan di samping tubuh, tetapi auranya memancarkan wibawa yang sulit diabaikan.Pria mabuk yang masih mencengkeram pergelangan tangan Renata mendengus kesal. Dia menoleh dengan tatapan penuh tantangan. "Siapa kamu? Jangan ikut campur urusanku!" Pria itu melangkah maju setengah langkah, berusaha menunjukkan keberaniannya meski tubuhnya sedikit oleng karena pengaruh alkohol. Sementara itu, Renata masih berusaha melepaskan diri. Pergelangan tangannya mulai terasa sakit akibat cengkeraman yang terlalu kuat. Napasnya memburu, sementara air mata terus membasahi pipinya. Pria berjas hitam itu tidak bergeming sedikit pun. Tatapannya justru beralih pada tangan yang masih mencengkeram Renata, lalu kembali menatap wajah pria mabuk tersebut. Ekspresi pria itu tetap tenang. Namun, ketenangan itula

  • Istri Rahasia Tuan Dirga   Bab 4

    Malam semakin larut. Jarum jam perlahan mendekati pukul sepuluh ketika ketiga pria yang membuat Renata gelisah itu akhirnya berdiri dari kursi mereka. Setelah membayar tagihan, mereka melangkah keluar sambil sesekali masih melirik ke arah dalam kafe. Baru setelah pintu kaca tertutup rapat di belakang mereka, Renata mengembuskan napas lega. Ketegangan yang beberapa waktu lalu dia tahan perlahan menghilang, meski rasa waspada masih tersisa. Tak lama kemudian, jarum jam menunjukkan pukul setengah sebelas. Lampu di sebagian area pelanggan mulai dipadamkan sebagai tanda Lumière Café telah resmi tutup. Seperti biasa, seluruh karyawan saling berbagi tugas. Renata mengangkat gelas-gelas kotor ke dapur, merapikan kursi dan meja, lalu mengepel lantai hingga mengilap. Setelah memastikan semua pekerjaannya selesai, dia masuk ke ruang ganti untuk melepas seragam kerja dan mengenakan kembali pakaian yang dipakainya saat datang. Saat keluar dari ruang ganti sambil menyampirkan tas di bahu, Sisk

  • Istri Rahasia Tuan Dirga   Bab 3

    Renata menatap pantulan wajahnya di kaca halte.Matanya sembap akibat terlalu banyak menangis. Dia menepuk-nepuk pipinya pelan, berusaha menyamarkan bekas air mata. "Jangan kelihatan kalau habis nangis," gumam gadis itu lirih. Renata tidak ingin rekan-rekan kerjanya bertanya. Menjelaskan bahwa dirinya baru saja diusir dari rumah sendiri hanya akan membuat dadanya kembali sesak. Setelah menarik napas panjang, gadis itu memesan ojek online. Tak lama kemudian, sebuah motor berhenti di depan halte. Renata duduk di jok belakang sambil memeluk koper kecilnya erat-erat. Sepanjang perjalanan, gadis itu hanya menatap jalanan yang mulai ramai. Deretan pertokoan, lampu lalu lintas, dan orang-orang yang berlalu-lalang seolah tak mampu mengalihkan pikirannya dari kejadian beberapa menit lalu. Bayangan wajah mendiang kedua orang tuanya silih berganti memenuhi benaknya. Dulu mereka berpesan agar Renata menjaga rumah itu, tetapi justru dirinya yang diusir tanpa memiliki kuasa untuk mempertahankan.

  • Istri Rahasia Tuan Dirga   Bab 2

    Rahang Arman mengeras. Dia melangkah mendekat hingga hanya berjarak beberapa langkah dari Renata. "Selama kami yang merawat rumah ini, kami yang berhak menentukan siapa yang tinggal di sini!" tegas Arman. Kalimat itu menggema di telinga Renata. Mereka bukan hanya merampas rumah peninggalan kedua orang tuanya. Mereka juga berusaha merampas haknya untuk merasa memiliki satu-satunya tempat yang menyimpan seluruh kenangan tentang keluarga yang telah tiada. Bagaimana mungkin seseorang bisa mengusir pemilik rumah dari rumahnya sendiri? Pertanyaan itu terus berputar di kepala Renata. Dadanya terasa sesak, seolah udara di rumah yang sudah menjadi tempatnya bertumbuh tiba-tiba tak lagi menyisakan ruang untuk bernapas.Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Renata. Dia menatap Arman dengan tatapan penuh luka. "Paman pernah bilang hanya akan menjaga rumah ini sampai aku lulus kuliah." Kalimat itu meluncur pelan.Renata masih mengingat jelas janji yang diucapkan pamannya beberapa hari setelah pem

  • Istri Rahasia Tuan Dirga   Bab 1

    "Keluar dari rumah ini sekarang juga!" Suara Arman menggema memenuhi ruang tamu. Renata yang baru saja pulang dari kampus membeku di ambang pintu. Di tangannya masih tergenggam map biru berisi revisi skripsi yang harus dikumpulkan minggu depan. Dia menatap pamannya dengan bingung. "Paman, ada apa?" tanya Renata. Arman menghempaskan sebuah dompet kulit ke atas meja ruang tamu. Benturannya begitu keras hingga beberapa lembar uang receh, kartu ATM, dan kertas-kertas kecil di dalamnya berhamburan ke segala arah. Wajah pria paruh baya itu memerah, sementara sorot matanya penuh amarah. "Jangan pura-pura tidak tahu! Uang lima juta milik Paman hilang." Renata yang baru saja pulang dari kampus terpaku di tempatnya. Tas ransel yang masih menggantung di bahunya terasa semakin berat. Tatapannya bergantian menatap dompet di atas meja dan wajah pamannya yang penuh tuduhan. Perlahan, dia menggeleng. Bibirnya bergetar, tetapi suaranya tetap berusaha terdengar tenang. "Aku tidak mengambi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status