LOGINRenata menatap pantulan wajahnya di kaca halte.Matanya sembap akibat terlalu banyak menangis.
Dia menepuk-nepuk pipinya pelan, berusaha menyamarkan bekas air mata. "Jangan kelihatan kalau habis nangis," gumam gadis itu lirih.
Renata tidak ingin rekan-rekan kerjanya bertanya. Menjelaskan bahwa dirinya baru saja diusir dari rumah sendiri hanya akan membuat dadanya kembali sesak.
Setelah menarik napas panjang, gadis itu memesan ojek online. Tak lama kemudian, sebuah motor berhenti di depan halte. Renata duduk di jok belakang sambil memeluk koper kecilnya erat-erat.
Sepanjang perjalanan, gadis itu hanya menatap jalanan yang mulai ramai. Deretan pertokoan, lampu lalu lintas, dan orang-orang yang berlalu-lalang seolah tak mampu mengalihkan pikirannya dari kejadian beberapa menit lalu. Bayangan wajah mendiang kedua orang tuanya silih berganti memenuhi benaknya. Dulu mereka berpesan agar Renata menjaga rumah itu, tetapi justru dirinya yang diusir tanpa memiliki kuasa untuk mempertahankan.
Diam-diam Renata mengusap sudut matanya yang kembali basah. Namun, dia segera menarik napas panjang, memaksa dirinya tetap tegar. Gadis itu sadar, menangis tak akan mengubah keadaan. Setidaknya, dia masih memiliki pekerjaan untuk bertahan hidup.
Beberapa menit kemudian, motor berhenti di depan bangunan bergaya klasik dengan papan nama bertuliskan Lumière Café. Renata membayar ongkos perjalanan, lalu menurunkan koper kecilnya sebelum melangkah masuk.
Lumière Café mulai dipenuhi pengunjung saat Renata tiba. Kafe bergaya modern dengan sentuhan klasik itu dikenal sebagai salah satu tempat favorit di pusat kota. Lampu-lampu gantung berwarna keemasan memancarkan cahaya hangat, berpadu dengan aroma kopi yang baru digiling. Alunan musik jazz mengalun pelan, menciptakan suasana nyaman bagi mahasiswa yang mengerjakan tugas, pekerja kantoran yang mengadakan pertemuan, hingga pasangan yang menikmati malam.
"Ren, kamu telat lima belas menit." Siska, supervisor Lumière Café, menghampiri sambil melirik jam tangan.
"Maaf, Kak. Tadi ada sedikit urusan," jawab Renata.
Siska mengangguk. "Ya sudah, cepat ganti seragam."
"Baik." Renata segera menuju ruang ganti. Dia segera mengenakan kemeja putih, celemek cokelat tua bertuliskan Lumière Café, dan merapikan rambutnya menjadi ekor kuda. Gadis itu menatap pantulan dirinya di cermin beberapa saat. Matanya masih tampak sembap akibat terlalu banyak menangis, tetapi dia buru-buru membasuh wajah dengan air dingin dan menepuk-nepuk pipinya pelan agar terlihat lebih segar. Senyum tipis kembali dipaksa terbit meski dadanya masih terasa sesak. "Jangan sampai mereka tahu," gumam Renata lirih. Gadis itu menarik napas panjang, merapikan kembali kerah kemejanya, lalu melangkah keluar dari ruang ganti.
Begitu pintu terbuka, aroma kopi yang baru diseduh dan riuh suara para pelanggan langsung menyambutnya. Dalam sekejap, Renata harus meninggalkan semua luka pribadi dan berubah menjadi pelayan yang ramah.
Apa pun yang terjadi, malam itu Renata tetap harus bekerja karena membutuhkan gaji. Kalau sampai kehilangan pekerjaan, dia benar-benar tidak tahu harus bertahan hidup dengan apa.
"Americano satu!"
"Cappuccino dua!"
"Caramel latte!"
Suasana sibuk membuat Renata perlahan melupakan masalah. Tangannya cekatan meracik kopi. Sesekali dia mengantar pesanan ke meja pelanggan sambil menyunggingkan senyum ramah.
"Terima kasih, Mbak," kata seorang pelanggan.
"Sama-sama, Kak."
Namun di balik senyum itu, pikiran Renata terus melayang. Ke mana dia akan pergi setelah kafe tutup. Hotel terlalu mahal. Kos-kosan meminta uang muka. Atau menghubungi Celina? Renata menggeleng pelan. Tidak. Celina sedang mengikuti pelatihan di luar kota selama beberapa hari. Lagi pula, dia tidak ingin membebani sahabatnya.
"Ren!" Suara Siska membuat Renata tersadar. Cepat-cepat gadis itu menoleh mencari sumber suara. "Meja nomor tujuh minta tambahan gula," lanjut Siska.
"Oh, iya." Renata segera mengambil beberapa sachet gula. Saat menghampiri meja nomor tujuh, dia melihat tiga pria sedang tertawa keras.
Salah satunya memandang Renata dari atas sampai bawah.
"Mbak, cantik juga, ya."
Suara salah seorang pelanggan itu membuat Renata menghentikan langkah. Dia tetap memasang senyum profesional, seolah pujian bernada menggoda itu hanyalah komentar biasa. "Silakan gulanya, Pak," kata Renata.
Gadis itu meletakkan gula di atas meja, lalu berniat kembali melayani pesanan lain. Namun, baru saja dia berbalik, sebuah tangan tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangannya. "Jangan buru-buru. Temani kami ngobrol," ujar salah seorang pria.
Sentuhan itu membuat tubuh Renata menegang. Dia refleks menarik tangannya hingga terlepas, berusaha tetap tenang meski rasa tidak nyaman mulai menguasai dirinya. "Maaf, Pak. Saya masih bekerja," tolak Renata.
Alih-alih merasa sungkan, teman-teman pria itu justru saling pandang lalu tertawa, seolah penolakan Renata adalah hiburan bagi mereka. "Kasihan amat. Kerja terus. Duduk bentar, kami kasih tip." Beberapa pelanggan di meja lain mulai melirik ke arah mereka.
Renata bisa merasakan tatapan-tatapan itu, membuat pipinya memanas karena malu. "Tidak perlu, Pak." Dengan tetap menjaga sopan santun, Renata membungkukkan badan sekilas.
Tanpa menunggu jawaban lagi, dia segera melangkah cepat menuju balik meja bar, berusaha menjauh dari meja tersebut. Begitu berada di area yang lebih aman, gadis itu mengembuskan napas pelan. Dadanya berdebar tidak nyaman, sementara telapak tangannya terasa dingin karena gugup. Dia hanya berharap para pria itu tidak lagi mencari-cari alasan untuk mengganggunya.
Siska yang terus memperhatikan kejadian itu, akhirnya menghampiri sambil meletakkan nampan di atas meja bar. "Kalau mereka ganggu lagi, bilang ke satpam," ujar Siska.
Renata menoleh dan mengangguk pelan. Meski berusaha terlihat tegar, sorot matanya masih menyimpan kecemasan. "Makasih, Kak."
Siska menepuk pelan bahu Renata sebelum kembali bekerja, tetapi matanya sesekali tetap mengawasi meja para pelanggan itu, khawatir mereka kembali membuat ulah.
Renata spontan menggeleng. "Tidak usah. Merepotkan." "Malam sudah larut," kata Dirga. Suara Dirga terdengar tenang. Dia mengedarkan pandangannya ke sepanjang jalan di depan Lumière Café yang semakin sepi. Gerimis belum juga berhenti, sementara kendaraan yang melintas hanya sesekali terlihat. Renata menggenggam ponselnya lebih erat. "Aku bisa menunggu." Gadis itu berusaha terdengar yakin, meski aplikasi ojek online di layar ponselnya masih belum menunjukkan tanda-tanda ada pengemudi yang menerima pesanannya. Dirga kembali mengalihkan pandangan ke arah jalan yang lengang, lalu berkata, "Daerah sini tidak aman." Kalimat itu diucapkannya tanpa bermaksud memaksa. Dia hanya menyampaikan apa yang baru saja mereka alami beberapa menit lalu. Renata ikut menoleh ke arah jalan yang mulai gelap. Suasana yang tadinya biasa saja terasa berbeda. Bayangan wajah pria mabuk yang tadi mencengkeram tangannya kembali terlintas di benaknya. Bagaimana jika pria itu kembali? Pikiran itu membuat bulu kud
Renata menoleh ke arah pria bertubuh tinggi yang baru saja turun dari mobil hitam itu. Sorot matanya tajam, wajahnya tetap datar tanpa menunjukkan kepanikan sedikit pun. Dia berdiri tegak dengan kedua tangan di samping tubuh, tetapi auranya memancarkan wibawa yang sulit diabaikan.Pria mabuk yang masih mencengkeram pergelangan tangan Renata mendengus kesal. Dia menoleh dengan tatapan penuh tantangan. "Siapa kamu? Jangan ikut campur urusanku!" Pria itu melangkah maju setengah langkah, berusaha menunjukkan keberaniannya meski tubuhnya sedikit oleng karena pengaruh alkohol. Sementara itu, Renata masih berusaha melepaskan diri. Pergelangan tangannya mulai terasa sakit akibat cengkeraman yang terlalu kuat. Napasnya memburu, sementara air mata terus membasahi pipinya. Pria berjas hitam itu tidak bergeming sedikit pun. Tatapannya justru beralih pada tangan yang masih mencengkeram Renata, lalu kembali menatap wajah pria mabuk tersebut. Ekspresi pria itu tetap tenang. Namun, ketenangan itula
Malam semakin larut. Jarum jam perlahan mendekati pukul sepuluh ketika ketiga pria yang membuat Renata gelisah itu akhirnya berdiri dari kursi mereka. Setelah membayar tagihan, mereka melangkah keluar sambil sesekali masih melirik ke arah dalam kafe. Baru setelah pintu kaca tertutup rapat di belakang mereka, Renata mengembuskan napas lega. Ketegangan yang beberapa waktu lalu dia tahan perlahan menghilang, meski rasa waspada masih tersisa. Tak lama kemudian, jarum jam menunjukkan pukul setengah sebelas. Lampu di sebagian area pelanggan mulai dipadamkan sebagai tanda Lumière Café telah resmi tutup. Seperti biasa, seluruh karyawan saling berbagi tugas. Renata mengangkat gelas-gelas kotor ke dapur, merapikan kursi dan meja, lalu mengepel lantai hingga mengilap. Setelah memastikan semua pekerjaannya selesai, dia masuk ke ruang ganti untuk melepas seragam kerja dan mengenakan kembali pakaian yang dipakainya saat datang. Saat keluar dari ruang ganti sambil menyampirkan tas di bahu, Sisk
Renata menatap pantulan wajahnya di kaca halte.Matanya sembap akibat terlalu banyak menangis. Dia menepuk-nepuk pipinya pelan, berusaha menyamarkan bekas air mata. "Jangan kelihatan kalau habis nangis," gumam gadis itu lirih. Renata tidak ingin rekan-rekan kerjanya bertanya. Menjelaskan bahwa dirinya baru saja diusir dari rumah sendiri hanya akan membuat dadanya kembali sesak. Setelah menarik napas panjang, gadis itu memesan ojek online. Tak lama kemudian, sebuah motor berhenti di depan halte. Renata duduk di jok belakang sambil memeluk koper kecilnya erat-erat. Sepanjang perjalanan, gadis itu hanya menatap jalanan yang mulai ramai. Deretan pertokoan, lampu lalu lintas, dan orang-orang yang berlalu-lalang seolah tak mampu mengalihkan pikirannya dari kejadian beberapa menit lalu. Bayangan wajah mendiang kedua orang tuanya silih berganti memenuhi benaknya. Dulu mereka berpesan agar Renata menjaga rumah itu, tetapi justru dirinya yang diusir tanpa memiliki kuasa untuk mempertahankan.
Rahang Arman mengeras. Dia melangkah mendekat hingga hanya berjarak beberapa langkah dari Renata. "Selama kami yang merawat rumah ini, kami yang berhak menentukan siapa yang tinggal di sini!" tegas Arman. Kalimat itu menggema di telinga Renata. Mereka bukan hanya merampas rumah peninggalan kedua orang tuanya. Mereka juga berusaha merampas haknya untuk merasa memiliki satu-satunya tempat yang menyimpan seluruh kenangan tentang keluarga yang telah tiada. Bagaimana mungkin seseorang bisa mengusir pemilik rumah dari rumahnya sendiri? Pertanyaan itu terus berputar di kepala Renata. Dadanya terasa sesak, seolah udara di rumah yang sudah menjadi tempatnya bertumbuh tiba-tiba tak lagi menyisakan ruang untuk bernapas.Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Renata. Dia menatap Arman dengan tatapan penuh luka. "Paman pernah bilang hanya akan menjaga rumah ini sampai aku lulus kuliah." Kalimat itu meluncur pelan.Renata masih mengingat jelas janji yang diucapkan pamannya beberapa hari setelah pem
"Keluar dari rumah ini sekarang juga!" Suara Arman menggema memenuhi ruang tamu. Renata yang baru saja pulang dari kampus membeku di ambang pintu. Di tangannya masih tergenggam map biru berisi revisi skripsi yang harus dikumpulkan minggu depan. Dia menatap pamannya dengan bingung. "Paman, ada apa?" tanya Renata. Arman menghempaskan sebuah dompet kulit ke atas meja ruang tamu. Benturannya begitu keras hingga beberapa lembar uang receh, kartu ATM, dan kertas-kertas kecil di dalamnya berhamburan ke segala arah. Wajah pria paruh baya itu memerah, sementara sorot matanya penuh amarah. "Jangan pura-pura tidak tahu! Uang lima juta milik Paman hilang." Renata yang baru saja pulang dari kampus terpaku di tempatnya. Tas ransel yang masih menggantung di bahunya terasa semakin berat. Tatapannya bergantian menatap dompet di atas meja dan wajah pamannya yang penuh tuduhan. Perlahan, dia menggeleng. Bibirnya bergetar, tetapi suaranya tetap berusaha terdengar tenang. "Aku tidak mengambi







