Home / Romansa / Istri Rahasia untuk Kakak Ipar / 2. Kenangan di balik Pintu Besar

Share

2. Kenangan di balik Pintu Besar

Author: Banyu Biru
last update Last Updated: 2026-01-17 19:11:50

Sandra membuang nafas. Kenangan itu mendadak kembali tergambar diingatannya.

Rasa sesak yang kembali datang seperti dua puluh tahun yang lalu.

Sandra kecil, yang saat itu baru berusia lima tahun, berdiri gemetar sambil meremas ujung baju ibunya, Ratih Kemala. Wanita cantik yang telah melahirkannya. Kini, sang ibu membawanya berdiri di sebuah rumah megah dengan pilar-pilar raksasanya.

"Ibu... ini rumah siapa?" Bisik Sandra lirih. Suaranya tenggelam oleh suara hujan dengan kilat yang menggelegar.

Tak berhenti matanya memindai sekitar. Rumah besar dengan taman yang cantik, selalu menjadi impian Sandra kecil.

Ibunya tidak menjawab. Wajahnya pucat dengan mata yang sembab. Susah payah ia mengangkat dagunya. Karena ia tahu, ia hanyalah remahan bagi Wiryawan dan keluarganya. Laki-laki yang hanya bisa berjanji di balik kata-kata manis tapi tak pernah bisa mewujudkannya.

Atau, memang dia yang terlalu bodoh karena menyerahkan diri begitu saja pada laki-laki yang telah berkeluarga

Ratih melangkah masuk bersama Sandra, setelah pintu besar itu terbuka.

Di hadapan mereka, seorang pria duduk di sofa dengan gelisah. Dia adalah Wiryawan, bos besar pabrik tempatnya bekerja, sekaligus pria yang selama lima tahun ini dipanggil Sandra dengan sebutan ayah setiap kali pria itu datang ke kontrakan kecil mereka secara sembunyi-sembunyi.

"Ada apa lagi, Ratih? Aku sudah memberimu gaji yang besar. Memberi tunjangan untuk Sandra. Apa lagi yang kau mau?" suara Wiryawan rendah, penuh ketakutan yang tak tertutupi.

"Aku kehilangan pekerjaanku, Mas. Aku dipecat. Istrimu tak hanya ingin kau menceraikanku, tapi juga membunuhku dan Sandra. Tunjangan juga dibekukan!" Ratih mengambil nafas dengan cepat. "Aku tidak punya apa-apa lagi untuk menghidupinya. Dia juga anakmu. Sah secara hukum agama, dia tanggung jawabmu, Mas!" Ratih membalas dengan suara pecah.

Tiba-tiba, pintu kembali terbuka. Lalu terdengar suara langkah kaki angkuh yang mendekat, menggandeng seorang gadis kecil yang cantik. Mungkin dua atau tiga tahun di atas Sandra. Mata kedua gadis itu saling bertemu. Anehnya, anak itu tersenyum pada Sandra. Senyum yang tak pernah ia dapatkan dari anak-anak orang kaya di sekitarnya.

"Punya nyali juga bekasan ini datang ke rumahku!" Desi, sang nyonya rumah sudah pulang. Menatap dengan pandangan jijik ke arah Ratih dan juga anaknya.

"Ma. Kita bicarakan baik-baik!" Wiryawan segera berdiri lalu menggenggam tangan istrinya.

"Bicara baik-baik tentang apa? Kau sudah menceraikannya bukan?" Sang nyonya menunjuk bekas madunya dengan jari yang berhias berlian.

Sandra menyusup ke belakang punggung ibunya, menahan tangis. Ia tak pernah melihat kemarahan orang dewasa.

Dunia kecilnya hancur saat itu juga. Saat ia melihat Ayahnya, laki-laki yang paling baik baginya, yang biasanya membawakan mainan untuknya, kini hanya bisa menunduk. Tak bergeming saat sumpah serapah keluar untuk ibunya.

"Dasar murahan. Kau sudah diceraikan tapi masih mengemis datang!"

"Aku tak mengemis apapun. Aku hanya ingin bertanya, kenapa kalian memecatku dari pabrik? Bagaimana aku menghidupi anakku?"

Wanita cantik itu tertawa. "Itu bukan urusanku. Harusnya kamu sudah memikirkannya saat suamiku merayumu!" Ia melirik kearah laki-laki yang ia sebut suami.

"Dia saja hidup dari hartaku, bagaimana mungkin dia menghidupimu jika tanpa ijinku!"

Hening.

Memang itulah kenyataannya. Wiryawan hanya staff pabrik tampan yang mampu meluluhkan Desi Wiguna, putri tunggal sang pemilik pabrik. Hingga akhirnya Wiryawan berganti status. Siapa sangka, ia malah mendua dan menikah siri dengan Ratih, hingga Sandra kemudian lahir.

"Keluar! Bawa anakmu bersamamu! Aku tidak sudi melihat wajah kalian di rumahku!" teriak Desi.

"Mas Wiryawan, tolong..." Ratih memohon, tapi suaminya tetap diam saat perempuan kaya itu menyeretnya keluar. Bahkan tak tergerak saat Sandra menangis ketakutan.

Di tengah keributan itu, Ratih melepaskan tangan Sandra. Ia berlutut, mencium kening putrinya untuk terakhir kali, lalu mendorongnya ke arah Wiryawan. Tanpa sepatah kata, Ratih berlari keluar menembus hujan, meninggalkan Sandra yang menjerit histeris memanggil ibunya.

"Ibu! Jangan tinggalkan Sandra. Ibu!" Sandra mencoba mengejar, namun lengan kuat ayahnya berusaha menahannya. Bagaimanapun, Sandra adalah anaknya.

Saat itulah, Desi mengangkat tangannya, siap memberikan tamparan pada anak kecil yang dianggapnya noda. "Diam! Atau aku lempar kau ke jalanan!"

"Mama....!"

Semua menoleh. Anak perempuan yang tadinya hanya diam kini mendekat. Ia menatap Sandra dengan rasa ingin tahu yang besar, bukan kebencian.

"Aku ingin adik ini, Ma. Aku bosan main sendiri. Biarkan dia di sini menemaniku," Sandra ditarik ke arahnya.

Kemarahan di wajah Desi luruh seketika demi melihat putri kesayangannya. Elena. Wiryawan pun seolah baru saja mendapatkan izin untuk bernapas. Hanya karena keinginan Elena, Sandra tidak jadi diusir malam itu.

Sejak hari itu, Sandra tahu posisinya. Ia ada di rumah itu bukan sebagai anak, melainkan sebagai mainan yang diminta Elena. Ia adalah bayangan yang harus selalu berutang budi karena Elena telah menyelamatkannya. Membuatnya diakui sebagai anak kedua oleh Wiryawan meskipun Desi tak pernah menginginkannya.

Sandra menghapus air matanya.

Karena Elena, ia mendapatkan statusnya. Sekarang, Elena memintanya menyerahkan rahimnya. Apakah hutang budi itu memang harus dibayar dengan cara sehina ini?

Sandra melihat pantulan dirinya yang tampak rapuh di kaca jendela ruangannya. Ia tak punya pilihan. "Hanya satu tahun," bisiknya pada diri sendiri, mencoba meyakinkan hatinya yang hancur. "Hanya satu tahun untuk menebus semuanya."

Sandra meremas jemarinya. Sebuah harga yang sangat mahal demi sebuah kehidupan. Andai saja ia tak pernah dilahirkan. Andai saja ibunya tak mencintai Wiryawan. Andai saja Wiryawan tak terus-terusan mengemis cinta pada ibunya.

Sandra menggeleng pelan. Tak ada artinya ia menyesali diri. Toh semua sudah terjadi.

Sandra hanya bisa menyiapkan diri ketika semuanya akan terungkap suatu saat. Ia tak bisa membayangkan jika kelak kata-kata wanita murahan kembali tersemat pada dirinya. Perempuan yang merebut suami orang. Sama persis seperti ibunya.

Drrtt. Drttt.

Ponselnya bergetar. Sandra melangkah gontai menuju meja dan meraih ponselnya.

Kakak. Nama itu muncul di layar ponselnya.

"Sandra, Dewa setuju menikahiku. Terima kasih ya, kamu udah mau menolongku!" Suara renyah Elena kini memenuhi telinganya.

"Dewa sudah bilang, akan setuju dengan semua syaratmu. Aku juga akan setuju dengan syaratmu! Kita ketemu di rumah!"

Klik.

Sambungan terputus sepihak. Hati Sandra kembali berdenyut. Tidak bisakah ia tak lagi melangkahkan kakinya di rumah itu? Rumah yang telah memisahkannya dengan sang ibu?

"Ibu. Aku kangen!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Rahasia untuk Kakak Ipar   7. Rahasia Hitam

    Dewantara mengendarai mobilnya menuju villa setelah berpikir lama di ruangannya. Biasanya, ia akan menghabiskan waktu di kantor. Berkutat dengan dokumen-dokumen bersama Ardi sampai pagi. "Di..." Yang dipanggil menoleh dengan bingung. Tak biasanya sang pimpinan memanggilnya saat sedang fokus menatap berkas yang menumpuk di meja. "Apa yang kau rasakan setelah menikah?" Ardi menautkan kedua alisnya. Pertanyaan macam apa itu, batinnya lirih. "Entahlah, Mas. Aku kan belum menikah!" Dewantara tertawa. Mendengar tawa Dewantara, Ardi lebih kaget lagi. Jangan bilang kalau kesurupan! Lagi-lagi, batinnya bermonolog. "Aku lupa kalau kamu jomblo akut!" Ardi ternganga. Kata-kata dari mana lagi, itu? Dia mendehem, "Mas, sejak aku kerja sama Mas Tara, jam kerjaku mulai jam tujuh sampai suka-sukanya Mas Tara. Mana ada waktu buatku cari perempuan!" Ardi tak terima dikatakan jomblo akut. Tapi tak urung, kini dia yang menegang kala Dewantara menatapnya tajam. "Maksudmu, aku gila ker

  • Istri Rahasia untuk Kakak Ipar   6. Akad di Balik Tirai

    Sandra berkali-kali melap keringat di dahinya. Ia mulai merasa gerah. Padahal, perjalanan dari salon hingga ke hotel hanya memakan waktu tiga puluh menit tapi baginya terasa seperto tiga puluh jam. Sandra gelisah. Sesekali, ia mengganti posisi duduknya agar merasa nyaman. dari spion tengah, Ardi yang menyetir ikut merasa gerah. Ia melirik wanita yang sebentar lagi akan menikah dengan bosnya. Cantik. Lembut. Sayangnya hanya menikah dalam diam. "Masih panas, Mbak? Apa perlu saya naikkin AC-nya?" Ardi buka suara. Tak tega rasanya melihat Sandra yang sejak tadi berkeringat. "Kayaknya yang masalah bukan AC-nya Mas. Tapi otak saya!" Jawab Sandra lirih. Ardi terkikik geli. Bisa-bisanya dalam kondisi seperti itu, Sandra menjawab dengan asal. Mungkin saja karena itu, Dewantara jatuh hati padanya. ya, meskipun laki-laki itu tak mau mengakuinya. Pakai alasan Elena mandul segala. Ardi menghembuskan nafas pelan. Takut Sandra tahu apa yang dipikirkannya. "Kita sampai, Mbak!" Ardi member

  • Istri Rahasia untuk Kakak Ipar   5. Kontrak Cinta di Atas Meja

    "Mas Tara!" Dara pucat. Ia segera mendekat ke arah Dewantara tapi laki-laki itu mengabaikannya. Ia justru menghampiri Sandra yang masih mematung. "Kau selesaikan tugas yang lain!" Lirik Dewantara pada Ardi. Ia tak ingin Ardi menanggung yang bukan kapasitasnya. Ardi mengangguk paham lalu berjalan meninggalkan tempat. "Mas..." Dewantara tak menoleh. Ia meraih kotak dari tangan Sandra lalu membimbing gadis itu ke ruangannya. Dara mengeryit. Apa yang dilihatnya sungguh diluar nalar. Dewantara paling tak suka disentuh, apalagi sama perempuan, tapi kali ini? Ia sendiri yang menyentuh Sandra? "Kalau matamu gak terpakai, kau bisa mendonorkannya sore ini!" Dewantara meliriknya sekilas. Ia tampaknya tak suka Dara melihat Sandra dengan tatapan merendahkan. Dara terkesiap. Ia menggelengkan kepala sambil menggerakkan tangan. "Gak usah, Mas. Aku mau pulang!" Dewantara tak lagi menggubris. Ia membawa Sandra melewati Dara tanpa banyak bicara. Mata Dara berkilat. "Ternyata

  • Istri Rahasia untuk Kakak Ipar   4. Tamu Istimewa

    "Kita ada jadwal meeting jam sebelas, Mas." Ardi sang asisten mendekat sambil menyodorkan berkas. "Atur jadwal ulang untuk besok." Dewantara tak menoleh. Matanya masih terpekur pada layar ponsel. "Tapi, Mas..." "Di Papua sedang buka kantor cabang. Sepertinya kamu cocok tugas di sana." Dewantara menatap sang asisten tajam membuat Ardi seketika terperangah lalu tersenyum gugup.Beginilah jika sudah menyinggung bosnya, dia akan tiba-tiba dipindahkan ke tempat yang jauh. Dewantara mungkin tak bercanda, dia memang punya kekuasaan sebesar itu. "Oh, itu. Anu, Mas. Ibuku sudah tua, aku gak bisa meninggalkannya. Biar aku di kantor ini saja..." Tangannya menggaruk kepala lalu kembali mengambil berkas dengan ragu. "Aku jadwalkan ulang sesuai instruksi saja, Mas!"Dewantara tak menjawab hingga Ardi pergi menjauh dan hendak membuka pintu. "Di, sebentar lagi ada tamu. Tolong pastikan dia nyaman sejak datang," titah bosnya itu tiba-tiba.Ardi menautkan kedua alisnya. Memastikan tamu nya

  • Istri Rahasia untuk Kakak Ipar   3. Rahasia Hitam dalam Gaun Pernikahan

    Setelah mengunci pagar butiknya, perlahan Sandra mengendarai motornya kembali ke rumah Wiryawan. Sepanjang perjalanan, ia menghirup oksigen dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. "Malam Mbak Sandra. Lama gak pulang!" Sapa satpam yang sedang berjaga. "Malam, Pak. Shift malam ya?" Tanya Sandra basa-basi ketika satpam itu membuka pintu gerbang untuknya. "Gak sih, Mbak. Gantiin Joko yang telat!" "Oh gitu," Sandra kembali menstater motornya yang sempat dimatikan. "Duluan ya, Pak!" pamit Sandra, meninggalkan satpam tua yang hanya menggeleng saat meihatnya menjauh. Diparkirkannya motor maticnya di sisi dalam garasi melewati tiga mobil yang berjajar rapi. Dia memang tak pernah bermimpi untuk mengendarainya. Bisa berdiri di kakinya sendiri saja, sudah membuatnya bahagia. Kini, langkah kakinya semakin terasa berat saat ia telah berdiri di depan teras. Di tangannya, sebuah kotak besar berisi gaun pengantin putih yang Elena inginkan. Gaun yang ia buat dengan tetesan keringat

  • Istri Rahasia untuk Kakak Ipar   2. Kenangan di balik Pintu Besar

    Sandra membuang nafas. Kenangan itu mendadak kembali tergambar diingatannya. Rasa sesak yang kembali datang seperti dua puluh tahun yang lalu. Sandra kecil, yang saat itu baru berusia lima tahun, berdiri gemetar sambil meremas ujung baju ibunya, Ratih Kemala. Wanita cantik yang telah melahirkannya. Kini, sang ibu membawanya berdiri di sebuah rumah megah dengan pilar-pilar raksasanya. "Ibu... ini rumah siapa?" Bisik Sandra lirih. Suaranya tenggelam oleh suara hujan dengan kilat yang menggelegar. Tak berhenti matanya memindai sekitar. Rumah besar dengan taman yang cantik, selalu menjadi impian Sandra kecil. Ibunya tidak menjawab. Wajahnya pucat dengan mata yang sembab. Susah payah ia mengangkat dagunya. Karena ia tahu, ia hanyalah remahan bagi Wiryawan dan keluarganya. Laki-laki yang hanya bisa berjanji di balik kata-kata manis tapi tak pernah bisa mewujudkannya. Atau, memang dia yang terlalu bodoh karena menyerahkan diri begitu saja pada laki-laki yang telah berkeluarga Rat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status