Share

43. Kamar yang Kosong

Penulis: Banyu Biru
last update Terakhir Diperbarui: 2026-03-07 21:35:49
Akhirnya hari yang dirunggu Elena dan Desi tiba. Kini, Dewantara membawa Elena menuju pondok indah, di rumah orang tuanya. Masih sore saat mobil Dewantara akhirnya berhenti di halaman rumah besar keluarganya.

Elena tersenyum dalam hati. Harapannya untuk menjadi nyonya besar, tinggal selangkah lagi. Tak henti ia mendecak kagum saat melihat rumah megah itu semakin dekat. Halamannya luas dengan lampu taman yang menyala temaram. Belum lagi plar-pilar tinggi menopang teras depan, sementara jendela-
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Abhizar Ananda Ghaisan
rahasia ap sih penasaran
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Istri Rahasia untuk Kakak Ipar   46. Pemilik yang Sesungguhnya

    Sejak pertemuannya dengan Elena di ballroom Hotel Grand Mahardika itu, sesuatu berubah dalam kehidupan Dewantara. Hampir setiap hari ia mengirim kurir untuk datang ke rumah keluarga Wiryawan. Kadang sebuah buket bunga mawar putih yang mahal, kadang kotak perhiasan, atau tas dan pakaian edisi terbatas yang bahkan belum dirilis di Indonesia. Sesekali, ia juga mengirimkan makanan dari restoran bintang lima. "Dari Dewantara lagi, Ma?" Elena melirik ibunya dengan tatapan mata malas. Berbeda dengan Elena, Desi justru sangat senang, anaknya mendapatkan perhatian Dewantara. "Lihat ini!" Suaranya begitu keras. Seperti ingin menunjukkan pada semua orang. Termasuk Sandra yang baru melangkahkan kakinya masuk. Gadis itu hanya tersenyum kecil lalu melanjutkan langkahnya ke kamar. Ia tak pernah tertarik dengan urusan seperti itu. "Hadiah khusus untukmu, dari Dewantara Jayadi Rukmana!" Mata Desi berkilat bangga menatap kartu-kartu kecil yang selalu bertuliskan nama yang sama."Aneh. Aku gak

  • Istri Rahasia untuk Kakak Ipar   45. Awal Bertemu

    Lampu-lampu kristal menggantung megah di langit-langit ballroom Hotel Grand Mahardika, salah satu hotel paling bergengsi di Jakarta. Malam itu, hotel penuh dengan para tamu penting yang sebagian adalah pengusaha, pejabat, serta keluarga-keluarga yang dianggap terpandang. Sebuah acara tahunan yang biasa diadakan keluarga Rukmana, ayah kandung dari Helen Rukmana. Bersama Bagaskara suaminya. Helen menyalami tamu. undangan yang mulai berdatangan untuk mengucapkan selamat atas perayaan ulang tahun ke-40 perusahaan besar keluarga. "Kau lihat kan, Elena. Di sini banyak pengusaha muda yang datang. Mereka semuanya orang kaya, Sayang!" Desi terus saja berbisik lirih di telinga Elena, sejak mereka turun dari mobil. "Ayolah, Ma. Sekarang gak jaman perjodohan!" Elena memutar bola matanya. Baginya tak ada laki-lski lain kecuali satu pria, sayangnya ia bukan penguasaha. Itu sebabnya, sang ibu menolak mentah-mentah hubungan mereka. "Jangan pernah mendekati laki-lami miskin, Elena. Atau kau akan m

  • Istri Rahasia untuk Kakak Ipar   44. Malam yang Sama

    Malam semakin datang ketika mobil hitam milik Dewantara berhenti di depan villa. Seketika, wajahnya berubah. Tak lagi dan menyimpan kemarahan tapi hangat dan penuh kerinduan. Ia bergerak turun, sambil seekali mengangkat wajahnya menatap langit. Menikmati angin malam yang bergesek lewat dedaunan. Dewantara melangkah pasti, melewati jalan setapak yang menuju pintu utama. Ia berjalan dengan tenang, meski tubuhnya masih terasa sedikit lemah setelah seharian menahan pusing dan mual di kantor. Namun begitu mengingat siapa yang ada di dalam villa itu, rasa lelahnya seperti menguap begitu saja. Sandra. Hanya satu nama itu yang mampu membuat hatinya kembali tenang. Ia membuka pintu villa dengan pelan agar tidak menimbulkan suara. Rumah itu sunyi. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar samar dari ruang tengah. Langkah Dewantara terarah menuju kamar. Saat pintu kamar terbuka, pandangannya langsung tertuju pada sosok yang terbaring di atas tempat tidur. Tampak Sandra yang ter

  • Istri Rahasia untuk Kakak Ipar   43. Kamar yang Kosong

    Akhirnya hari yang dirunggu Elena dan Desi tiba. Kini, Dewantara membawa Elena menuju pondok indah, di rumah orang tuanya. Masih sore saat mobil Dewantara akhirnya berhenti di halaman rumah besar keluarganya. Elena tersenyum dalam hati. Harapannya untuk menjadi nyonya besar, tinggal selangkah lagi. Tak henti ia mendecak kagum saat melihat rumah megah itu semakin dekat. Halamannya luas dengan lampu taman yang menyala temaram. Belum lagi plar-pilar tinggi menopang teras depan, sementara jendela-jendela besarnya memantulkan cahaya hangat dari dalam. Elena menatapnya beberapa detik sebelum membuka pintu mobil dan mengikuti langkah Dewantara yang turun membawa koper pakaian Elena. Ia memang pernah datang ke rumah ini sebelumnya, saat ayahnya membawanya dalam acara kekuarga, tapi itu dulu, sebagai tamu. Dan kini, ia datang kembali sebagai menantu. Sebagai penghuni dan sebagai istri dari Dewantara. "Selamat datang, Sayang!" Helen menyambut mereka di ruang tamu tapi Dewantara berjalan

  • Istri Rahasia untuk Kakak Ipar   42. Jamuan Pengakuan

    Sorenya saat Elena mulai merencanakan sesuatu untuk membuat perutnya berangsur membesar seperti hamil, Desi masuk tanpa mengetuk pintu. "Ma..." Elena menutup ponselnya. "Kau dari mana Elena? Rendra bilang, kau keluar tanpa mau diantar!" "Oh, aku menemui Sandra, Ma.!" Desi menautkan kedua alisnya. "Kenapa kau menemuinya? Berapa kali Mama bilang, berhenti memperlakukannya seperti saudaramu sendiri. Dia bukan saudaramu, Elena!" Desi mendengus lalu duduk tepat di sisi Elena. "Aku hanya mengabari tentang kehamilanku, Ma!" Elena tak punya cara, selain menutupi kebohongan dengan kebohongan lainnya. Dan kali ini, Desi tak menjawab. Ia selalu mendukung jika Elena melakukan sesuatu yang Sandra tak bisa. "Bagus. Biar dia tahu kalau kalian berbeda!" Elena menghembuskan nafasnya perlahan. Aman, batinnya lega. "Sore ini, Mama akan mengadakan syukuran keluarga. Termasuk mengundang mertuamu. Kita akan rayakan kehamilanmu!" Desi begitu semangat menyampaikan rencananya. Elena

  • Istri Rahasia untuk Kakak Ipar   41. Aroma Pagi Hari

    Pagi itu, Elena terbangun seperti biasa. Tapi baru saja ia membuka mata, pintu kamar sudah terbuka perlahan. "Permisi?" Desi masuk dengan langkah hati-hati, membawa nampan besar dengan wajah penuh senyum. “Jangan bangun dulu, Sayang” tegurnya lembut, berbeda dari biasanya. “Ini kehamilan pertamamu. Mama tidak mau kau kelelahan.” Elena mengerjap pelan. Perhatian itu terasa berlebihan… namun setidaknya tetap saja menguntungkan baginya. Meskipun sebenarnya ia sudah terbiasa dengan perhatian itu sejak kecil. Di atas nampan, terhidang steak sapi hangat dengan saus lada hitam, kentang tumbuk, dan segelas jus jeruk segar. “Kau harus makan yang bergizi, Elena. Protein penting untuk pembentukan janin,” ujar Desi sambil membantu Elena duduk bersandar. Elena menurut. Ia meletakkan nampan di atas pangkuannya, lalu memotong kecil steak itu, dan memasukkannya ke mulut perlahan. Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Dewantara keluar dengan rambut masih basah, menyeka wajahnya d

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status