Mag-log inSetelah mengunci pagar butiknya, perlahan Sandra mengendarai motornya kembali ke rumah Wiryawan. Sepanjang perjalanan, ia menghirup oksigen dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.
"Malam Mbak Sandra. Lama gak pulang!" Sapa satpam yang sedang berjaga. "Malam, Pak. Shift malam ya?" Tanya Sandra basa-basi ketika satpam itu membuka pintu gerbang untuknya. "Gak sih, Mbak. Gantiin Joko yang telat!" "Oh gitu," Sandra kembali menstater motornya yang sempat dimatikan. "Duluan ya, Pak!" pamit Sandra, meninggalkan satpam tua yang hanya menggeleng saat meihatnya menjauh. Diparkirkannya motor maticnya di sisi dalam garasi melewati tiga mobil yang berjajar rapi. Dia memang tak pernah bermimpi untuk mengendarainya. Bisa berdiri di kakinya sendiri saja, sudah membuatnya bahagia. Kini, langkah kakinya semakin terasa berat saat ia telah berdiri di depan teras. Di tangannya, sebuah kotak besar berisi gaun pengantin putih yang Elena inginkan. Gaun yang ia buat dengan tetesan keringat dan air mata. "Oh, akhirnya datang juga si pembawa keberuntungan," suara Desi, ibu tirinya, terdengar sarkas dari arah sofa ruang tengah ketika melihat Sandra melangkah masuk. Desi masih sama, selalu terlihat sempurna dengan kecantikannya juga dengan kebenciannya. Matanya menatap Sandra seolah-olah Sandra adalah dosa yang terlihat. "Akhirnya kau pulang!" Wiryawan yang duduk di samping istrinya, menatap Sandra sekilas. Ada binar rindu di matanya. Senyumnya mengembang lebar. Hal yang ia lakukan hanya saat bersama Ratih, dulu. "Aku membawakan pesanan Kak Elena," ucap Sandra datar. Tak lama, Elena turun dari tangga dengan wajah berseri-seri. "Sandra! Kamu pulang!" Ia menghambur memeluk Sandra. "Kamu memang yang terbaik!" Pujinya saat menerima kotak besar yang disodorkan Sandra. "Terima kasih!" Kedip Elena. Ruang tengah yang sejuk tiba-tiba hening sesaat ketika bel pintu berbunyi. Seorang ART bergegas melewati mereka dengan sopan. "Selamat malam!" Sandra tercekat. Laki-laki itu juga datang. Dewantara yang tahu Sandra terkejut, hanya melewatinya kemudian dengan sopan memberi salam pada Wiryawan dan istrinya. Tanpa menunggu Sandra, Desi segera membawa Elena dan calon menantunya ke ruang makan. "Kita akan makan malam bersama, aku juga mengajak Dewa!" Bisik Elena saat Sandra menatapnya, seolah tahu apa yang akan Sandra tanyakan. "Ayo. Sudah waktunya makan!" Wiryawan sedikit mendekat ke arah Sandra. Gadis itu hanya mengangguk lalu mengekor di belakang ayahnya. Malam itu, entah disengaja atau tidak, Dewantara datang untuk ikut makan malam. Merubah suasana yang biasanya mencekam sedikit lebih hangat tapi bagi Sandra tetap sama saja, siksaan setiap detiknya. "Elena, mulai sekarang kamu harus hati-hati," Desi berkata sambil melirik Sandra dengan tajam. "Laki-laki seperti Dewantara ini sangat langka. Harta dan ketampanan bisa membuat wanita mana pun gila, bahkan mereka yang terlihat pendiam dan polos sekalipun!" Tangannya menyendok nasi lalu memasukkannya ke mulut. "Banyak wanita di luar sana yang rela menghalalkan segala cara untuk masuk dalam hidupnya!" Ia tetap saja bersuara dengan mulutnya yang penuh. Tak ada yang bersuara, terlebih Sandra yang hanya menunduk menatap piringnya. Kata-kata ibu tirinya bukan lagi sindiran. Tapi sebuah tamparan. "Aku rasa, tergantung bagaimana sang istri nantinya, Tante. Bisa gak dia menjalankan perannya sebagai istri untuk suaminya!" Semua terdiam. Desi merasa tertohok. Tapi tak lama, dia tersenyum lalu mengusap punggung tangan Elena. "Tante yakin, Elena akan menjalankan kewajibannya dengan baik. Ya kan Elena?" Elena meringis. Sementara Dewantara hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang sulit diartikan. Sesekali melirik Sandra dengan tatapan yang mengunci. Denting sendok dan garpu beradu di piring. Menciptakan musik yang bisa saja menjadi kejutan baginya. Hingga beberapa menit berlalu saat semuanya selesai mengisi perutnya masing-masing. "Ayo, Sandra! Bantu aku memakai gaunnya!" Elena menarik tangan Sandra ketika Sandra hendak berlalu lebih dulu. Di ruang tengah yang luas, Sandra membantu Elena mengenakan gaun pengantinnya. Ditengah-tengah perbincangan hangat antara Wiryawan, Desi, juga Dewantara. Sementara itu, saat jemari Sandra mengancingkan bagian belakang gaun, ia bisa melihat betapa cantiknya Elena. Saudara yang ia kagumi dalam diam. "Cantik sekali, Kak," bisik Sandra tulus, meski hatinya perih. "Semua ini karena kamu, Sandra. Terima kasih ya. Bagus banget!" balas Elena sambil menggenggam tangan Sandra. "Kayaknya masih bagus punya temen Mama deh, Sayang. Bukannya ini model kuno? Jaman sekarang pengantin itu pakai gaun yang lebih bagus! Kamu yakin mau pakai gaun itu?" Seperti biasa. Kata-kata Desi selalu meluncur untuk menyakiti. "Gaun buatan Sandra juga bagus, Tante. Ibuku juga salut dengan kreasi Sandra." Tak disangka, Dewantara yang angkat suara, dengan santai menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Oh..." Desi tak berkutik. Bagaimanapun, orang tua Dewantara memiliki status yang berbeda. Jauh lebih kaya, lebih berkelas. Bagaimana mungkin dia bisa menjatuhkan selera mereka? Setelah memastikan Elena nyaman, Sandra pamit ke kamar untuk mengambil tiara yang telah dia simpan. "Aku ambil beberapa tiara dulu, Kak. Nanti Kakak bisa pilih yang Kakak mau!" Elena mengangguk. "Gimana, Ma. Cantik kan? Dewa aja suka!" Sayup kata-kata Elena menyergap masuk telinganya. Sandra tahu, Elena selalu membela dengan caranya. Ia kembali turun turun setelah membawa beberapa kotak tiara. Tapi saat ia melewati lorong, sebuah tangan kekar menarik lengannya dan memojokkannya ke dinding. Sandra terkesiap. "Pak Dewa...!" Tubuh Dewantara yang tinggi dan kokoh itu mengukung Sandra. Napas pria itu terasa hangat di keningnya. Wajah dingin itu mendekat. "Besok, jam sepuluh pagi. Datang ke kantorku. Lihat draft yang kuberikan," bisik Dewantara dengan nada yang tak menerima penolakan. Sandra hanya bisa mengangguk kaku. Jantungnya tiba-tiba berpacu gila. Dewantara melepaskannya tepat sebelum suara langkah kaki terdengar. Di ujung lorong, Desi berdiri dengan tangan bersedekap. Matanya menyipit penuh kecurigaan melihat pemandangan itu. "Apa yang kalian bicarakan?" tanya Desi tajam saat Dewantara berbalik. "Hanya... soal detail tambahan untuk jas pernikahan, Ma," Elena tiba-tiba muncul dari belakang, merangkul ibunya. "Mungkin Dewa cuma mau memastikan semuanya sempurna. Iya kan?" Dewantara berjalan mendekati mereka lalu mengangguk. Tangannya terulur memeluk Elena. "Elena benar, Tante. Aku harus memastikan pakaianku juga sempurna." Elena mengedipkan sebelah matanya pada Sandra. Tapi entah mengapa, Sandra justru merasa jika Elena juga menyimpan rahasia. "Hm. Mama masuk ke kamar dulu. Kamu baik-baik ya sama Dewantara!" Desi mengusap lengan Elena tapi matanya melirik tajam ke arah Sandra. "Ini tiaramu, Kak. Kakak bisa memilihnya bersama Pak Dewantara!" Sandra menyerahkan kotak-kotak yang tersusun di tangannya setelah Desi pergi. "Terima kasih! Aku akan memlihnya bersama Dewa. Ayo, Dewa!" Elena menarik tangan Dewantara meninggalkan Sandra yang bernafas lega. Oksigen terasa berkurang saat Sandra berdekatan dengan mereka, terutama saat dengan Dewantara. Sandra segera berbalik lalu bergegas pergi, meninggalkan seringai halus di wajah Dewantara. Laki-laki dingin yang ternyata tak sebaik yang Sandra pikirkan. Bahkan Elena tak pernah tahu, rahasia apa yang Dewantara simpan rapat hingga hari ini. Sebuah rahasia yang membuatnya mau menikahi Elena meski Elena tak akan pernah bisa melahirkan anak untuknya!"Kenapa kita harus ke hotel? Aku lebih puas kita di rumah!" Pertanyaan Rendra menunjukkan ketidakpuasan. Ia beringsut dan hersandar di bahu ranjang sambil menyalakan sebatang rokok. Tak mempedulikan tubuhnya yang masih telanjang. "Ada Wiryawan di rumah!" Jawab Desi sambil menjauh. Ia duduk di tepi tempat tidur sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Gaun marunnya sudah kembali menutupi tubuhnya dengan rapi, seolah beberapa menit lalu tidak terjadi apa-apa di antara merema. "Cepat berpakaian!" Desi melemparkan kemeja Rendra yang masih tercecer di sebelahnya. Dengan mendengus, ia menerika kemeja itu lalu memakainya. Pria itu menutup kancing bajunya satu per satu dengan santai, karena hubungan terlarang mereka memang sudah menjadi hal yang biasa. Desi berdiri lalu berjalan ke meja dan menuangkan dua gelas minuman dari botol whiskey yang telah tersedia. “Minum dulu,” katanya ringan sambil menyerahkan satu gelas pada Rendra. Ia tahu, ia tak bisa membuat Rendra tak nyam
Sejak pertemuannya dengan Elena di ballroom Hotel Grand Mahardika itu, sesuatu berubah dalam kehidupan Dewantara. Hampir setiap hari ia mengirim kurir untuk datang ke rumah keluarga Wiryawan. Kadang sebuah buket bunga mawar putih yang mahal, kadang kotak perhiasan, atau tas dan pakaian edisi terbatas yang bahkan belum dirilis di Indonesia. Sesekali, ia juga mengirimkan makanan dari restoran bintang lima. "Dari Dewantara lagi, Ma?" Elena melirik ibunya dengan tatapan mata malas. Berbeda dengan Elena, Desi justru sangat senang, anaknya mendapatkan perhatian Dewantara. "Lihat ini!" Suaranya begitu keras. Seperti ingin menunjukkan pada semua orang. Termasuk Sandra yang baru melangkahkan kakinya masuk. Gadis itu hanya tersenyum kecil lalu melanjutkan langkahnya ke kamar. Ia tak pernah tertarik dengan urusan seperti itu. "Hadiah khusus untukmu, dari Dewantara Jayadi Rukmana!" Mata Desi berkilat bangga menatap kartu-kartu kecil yang selalu bertuliskan nama yang sama."Aneh. Aku gak
Lampu-lampu kristal menggantung megah di langit-langit ballroom Hotel Grand Mahardika, salah satu hotel paling bergengsi di Jakarta. Malam itu, hotel penuh dengan para tamu penting yang sebagian adalah pengusaha, pejabat, serta keluarga-keluarga yang dianggap terpandang. Sebuah acara tahunan yang biasa diadakan keluarga Rukmana, ayah kandung dari Helen Rukmana. Bersama Bagaskara suaminya. Helen menyalami tamu. undangan yang mulai berdatangan untuk mengucapkan selamat atas perayaan ulang tahun ke-40 perusahaan besar keluarga. "Kau lihat kan, Elena. Di sini banyak pengusaha muda yang datang. Mereka semuanya orang kaya, Sayang!" Desi terus saja berbisik lirih di telinga Elena, sejak mereka turun dari mobil. "Ayolah, Ma. Sekarang gak jaman perjodohan!" Elena memutar bola matanya. Baginya tak ada laki-lski lain kecuali satu pria, sayangnya ia bukan penguasaha. Itu sebabnya, sang ibu menolak mentah-mentah hubungan mereka. "Jangan pernah mendekati laki-lami miskin, Elena. Atau kau akan m
Malam semakin datang ketika mobil hitam milik Dewantara berhenti di depan villa. Seketika, wajahnya berubah. Tak lagi dan menyimpan kemarahan tapi hangat dan penuh kerinduan. Ia bergerak turun, sambil seekali mengangkat wajahnya menatap langit. Menikmati angin malam yang bergesek lewat dedaunan. Dewantara melangkah pasti, melewati jalan setapak yang menuju pintu utama. Ia berjalan dengan tenang, meski tubuhnya masih terasa sedikit lemah setelah seharian menahan pusing dan mual di kantor. Namun begitu mengingat siapa yang ada di dalam villa itu, rasa lelahnya seperti menguap begitu saja. Sandra. Hanya satu nama itu yang mampu membuat hatinya kembali tenang. Ia membuka pintu villa dengan pelan agar tidak menimbulkan suara. Rumah itu sunyi. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar samar dari ruang tengah. Langkah Dewantara terarah menuju kamar. Saat pintu kamar terbuka, pandangannya langsung tertuju pada sosok yang terbaring di atas tempat tidur. Tampak Sandra yang ter
Akhirnya hari yang dirunggu Elena dan Desi tiba. Kini, Dewantara membawa Elena menuju pondok indah, di rumah orang tuanya. Masih sore saat mobil Dewantara akhirnya berhenti di halaman rumah besar keluarganya. Elena tersenyum dalam hati. Harapannya untuk menjadi nyonya besar, tinggal selangkah lagi. Tak henti ia mendecak kagum saat melihat rumah megah itu semakin dekat. Halamannya luas dengan lampu taman yang menyala temaram. Belum lagi plar-pilar tinggi menopang teras depan, sementara jendela-jendela besarnya memantulkan cahaya hangat dari dalam. Elena menatapnya beberapa detik sebelum membuka pintu mobil dan mengikuti langkah Dewantara yang turun membawa koper pakaian Elena. Ia memang pernah datang ke rumah ini sebelumnya, saat ayahnya membawanya dalam acara kekuarga, tapi itu dulu, sebagai tamu. Dan kini, ia datang kembali sebagai menantu. Sebagai penghuni dan sebagai istri dari Dewantara. "Selamat datang, Sayang!" Helen menyambut mereka di ruang tamu tapi Dewantara berjalan
Sorenya saat Elena mulai merencanakan sesuatu untuk membuat perutnya berangsur membesar seperti hamil, Desi masuk tanpa mengetuk pintu. "Ma..." Elena menutup ponselnya. "Kau dari mana Elena? Rendra bilang, kau keluar tanpa mau diantar!" "Oh, aku menemui Sandra, Ma.!" Desi menautkan kedua alisnya. "Kenapa kau menemuinya? Berapa kali Mama bilang, berhenti memperlakukannya seperti saudaramu sendiri. Dia bukan saudaramu, Elena!" Desi mendengus lalu duduk tepat di sisi Elena. "Aku hanya mengabari tentang kehamilanku, Ma!" Elena tak punya cara, selain menutupi kebohongan dengan kebohongan lainnya. Dan kali ini, Desi tak menjawab. Ia selalu mendukung jika Elena melakukan sesuatu yang Sandra tak bisa. "Bagus. Biar dia tahu kalau kalian berbeda!" Elena menghembuskan nafasnya perlahan. Aman, batinnya lega. "Sore ini, Mama akan mengadakan syukuran keluarga. Termasuk mengundang mertuamu. Kita akan rayakan kehamilanmu!" Desi begitu semangat menyampaikan rencananya. Elena







