Home / Romansa / Istri Rahasia untuk Kakak Ipar / 3. Rahasia Hitam dalam Gaun Pernikahan

Share

3. Rahasia Hitam dalam Gaun Pernikahan

Author: Banyu Biru
last update Last Updated: 2026-01-17 20:46:13

Setelah mengunci pagar butiknya, perlahan Sandra mengendarai motornya kembali ke rumah Wiryawan. Sepanjang perjalanan, ia menghirup oksigen dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.

"Malam Mbak Sandra. Lama gak pulang!" Sapa satpam yang sedang berjaga.

"Malam, Pak. Shift malam ya?" Tanya Sandra basa-basi ketika satpam itu membuka pintu gerbang untuknya.

"Gak sih, Mbak. Gantiin Joko yang telat!"

"Oh gitu," Sandra kembali menstater motornya yang sempat dimatikan. "Duluan ya, Pak!" pamit Sandra, meninggalkan satpam tua yang hanya menggeleng saat meihatnya menjauh.

Diparkirkannya motor maticnya di sisi dalam garasi melewati tiga mobil yang berjajar rapi. Dia memang tak pernah bermimpi untuk mengendarainya. Bisa berdiri di kakinya sendiri saja, sudah membuatnya bahagia.

Kini, langkah kakinya semakin terasa berat saat ia telah berdiri di depan teras. Di tangannya, sebuah kotak besar berisi gaun pengantin putih yang Elena inginkan. Gaun yang ia buat dengan tetesan keringat dan air mata.

"Oh, akhirnya datang juga si pembawa keberuntungan," suara Desi, ibu tirinya, terdengar sarkas dari arah sofa ruang tengah ketika melihat Sandra melangkah masuk. Desi masih sama, selalu terlihat sempurna dengan kecantikannya juga dengan kebenciannya. Matanya menatap Sandra seolah-olah Sandra adalah dosa yang terlihat.

"Akhirnya kau pulang!" Wiryawan yang duduk di samping istrinya, menatap Sandra sekilas. Ada binar rindu di matanya. Senyumnya mengembang lebar. Hal yang ia lakukan hanya saat bersama Ratih, dulu.

"Aku membawakan pesanan Kak Elena," ucap Sandra datar.

Tak lama, Elena turun dari tangga dengan wajah berseri-seri. "Sandra! Kamu pulang!" Ia menghambur memeluk Sandra. "Kamu memang yang terbaik!" Pujinya saat menerima kotak besar yang disodorkan Sandra.

"Terima kasih!" Kedip Elena.

Ruang tengah yang sejuk tiba-tiba hening sesaat ketika bel pintu berbunyi. Seorang ART bergegas melewati mereka dengan sopan.

"Selamat malam!"

Sandra tercekat. Laki-laki itu juga datang.

Dewantara yang tahu Sandra terkejut, hanya melewatinya kemudian dengan sopan memberi salam pada Wiryawan dan istrinya. Tanpa menunggu Sandra, Desi segera membawa Elena dan calon menantunya ke ruang makan.

"Kita akan makan malam bersama, aku juga mengajak Dewa!" Bisik Elena saat Sandra menatapnya, seolah tahu apa yang akan Sandra tanyakan.

"Ayo. Sudah waktunya makan!" Wiryawan sedikit mendekat ke arah Sandra. Gadis itu hanya mengangguk lalu mengekor di belakang ayahnya.

Malam itu, entah disengaja atau tidak, Dewantara datang untuk ikut makan malam. Merubah suasana yang biasanya mencekam sedikit lebih hangat tapi bagi Sandra tetap sama saja, siksaan setiap detiknya.

"Elena, mulai sekarang kamu harus hati-hati," Desi berkata sambil melirik Sandra dengan tajam. "Laki-laki seperti Dewantara ini sangat langka. Harta dan ketampanan bisa membuat wanita mana pun gila, bahkan mereka yang terlihat pendiam dan polos sekalipun!" Tangannya menyendok nasi lalu memasukkannya ke mulut. "Banyak wanita di luar sana yang rela menghalalkan segala cara untuk masuk dalam hidupnya!" Ia tetap saja bersuara dengan mulutnya yang penuh.

Tak ada yang bersuara, terlebih Sandra yang hanya menunduk menatap piringnya. Kata-kata ibu tirinya bukan lagi sindiran. Tapi sebuah tamparan.

"Aku rasa, tergantung bagaimana sang istri nantinya, Tante. Bisa gak dia menjalankan perannya sebagai istri untuk suaminya!" Semua terdiam.

Desi merasa tertohok. Tapi tak lama, dia tersenyum lalu mengusap punggung tangan Elena. "Tante yakin, Elena akan menjalankan kewajibannya dengan baik. Ya kan Elena?" Elena meringis. Sementara Dewantara hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang sulit diartikan. Sesekali melirik Sandra dengan tatapan yang mengunci.

Denting sendok dan garpu beradu di piring. Menciptakan musik yang bisa saja menjadi kejutan baginya. Hingga beberapa menit berlalu saat semuanya selesai mengisi perutnya masing-masing.

"Ayo, Sandra! Bantu aku memakai gaunnya!" Elena menarik tangan Sandra ketika Sandra hendak berlalu lebih dulu.

Di ruang tengah yang luas, Sandra membantu Elena mengenakan gaun pengantinnya. Ditengah-tengah perbincangan hangat antara Wiryawan, Desi, juga Dewantara.

Sementara itu, saat jemari Sandra mengancingkan bagian belakang gaun, ia bisa melihat betapa cantiknya Elena. Saudara yang ia kagumi dalam diam.

"Cantik sekali, Kak," bisik Sandra tulus, meski hatinya perih.

"Semua ini karena kamu, Sandra. Terima kasih ya. Bagus banget!" balas Elena sambil menggenggam tangan Sandra.

"Kayaknya masih bagus punya temen Mama deh, Sayang. Bukannya ini model kuno? Jaman sekarang pengantin itu pakai gaun yang lebih bagus! Kamu yakin mau pakai gaun itu?" Seperti biasa. Kata-kata Desi selalu meluncur untuk menyakiti.

"Gaun buatan Sandra juga bagus, Tante. Ibuku juga salut dengan kreasi Sandra." Tak disangka, Dewantara yang angkat suara, dengan santai menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

"Oh..." Desi tak berkutik. Bagaimanapun, orang tua Dewantara memiliki status yang berbeda. Jauh lebih kaya, lebih berkelas. Bagaimana mungkin dia bisa menjatuhkan selera mereka?

Setelah memastikan Elena nyaman, Sandra pamit ke kamar untuk mengambil tiara yang telah dia simpan. "Aku ambil beberapa tiara dulu, Kak. Nanti Kakak bisa pilih yang Kakak mau!" Elena mengangguk.

"Gimana, Ma. Cantik kan? Dewa aja suka!" Sayup kata-kata Elena menyergap masuk telinganya. Sandra tahu, Elena selalu membela dengan caranya.

Ia kembali turun turun setelah membawa beberapa kotak tiara. Tapi saat ia melewati lorong, sebuah tangan kekar menarik lengannya dan memojokkannya ke dinding.

Sandra terkesiap.

"Pak Dewa...!"

Tubuh Dewantara yang tinggi dan kokoh itu mengukung Sandra. Napas pria itu terasa hangat di keningnya. Wajah dingin itu mendekat. "Besok, jam sepuluh pagi. Datang ke kantorku. Lihat draft yang kuberikan," bisik Dewantara dengan nada yang tak menerima penolakan.

Sandra hanya bisa mengangguk kaku. Jantungnya tiba-tiba berpacu gila. Dewantara melepaskannya tepat sebelum suara langkah kaki terdengar.

Di ujung lorong, Desi berdiri dengan tangan bersedekap. Matanya menyipit penuh kecurigaan melihat pemandangan itu.

"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Desi tajam saat Dewantara berbalik.

"Hanya... soal detail tambahan untuk jas pernikahan, Ma," Elena tiba-tiba muncul dari belakang, merangkul ibunya. "Mungkin Dewa cuma mau memastikan semuanya sempurna. Iya kan?"

Dewantara berjalan mendekati mereka lalu mengangguk. Tangannya terulur memeluk Elena. "Elena benar, Tante. Aku harus memastikan pakaianku juga sempurna."

Elena mengedipkan sebelah matanya pada Sandra. Tapi entah mengapa, Sandra justru merasa jika Elena juga menyimpan rahasia.

"Hm. Mama masuk ke kamar dulu. Kamu baik-baik ya sama Dewantara!" Desi mengusap lengan Elena tapi matanya melirik tajam ke arah Sandra.

"Ini tiaramu, Kak. Kakak bisa memilihnya bersama Pak Dewantara!" Sandra menyerahkan kotak-kotak yang tersusun di tangannya setelah Desi pergi.

"Terima kasih! Aku akan memlihnya bersama Dewa. Ayo, Dewa!" Elena menarik tangan Dewantara meninggalkan Sandra yang bernafas lega. Oksigen terasa berkurang saat Sandra berdekatan dengan mereka, terutama saat dengan Dewantara.

Sandra segera berbalik lalu bergegas pergi, meninggalkan seringai halus di wajah Dewantara. Laki-laki dingin yang ternyata tak sebaik yang Sandra pikirkan. Bahkan Elena tak pernah tahu, rahasia apa yang Dewantara simpan rapat hingga hari ini. Sebuah rahasia yang membuatnya mau menikahi Elena meski Elena tak akan pernah bisa melahirkan anak untuknya!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Rahasia untuk Kakak Ipar   6. Akad di Balik Tirai

    Sandra berkali-kali melap keringat di dahinya. Ia mulai merasa gerah. Padahal, perjalanan dari salon hingga ke hotel hanya memakan waktu tiga puluh menit tapi baginya terasa seperto tiga puluh jam. Sandra gelisah. Sesekali, ia mengganti posisi duduknya agar merasa nyaman. dari spion tengah, Ardi yang menyetir ikut merasa gerah. Ia melirik wanita yang sebentar lagi akan menikah dengan bosnya. Cantik. Lembut. Sayangnya hanya menikah dalam diam. "Masih panas, Mbak? Apa perlu saya naikkin AC-nya?" Ardi buka suara. Tak tega rasanya melihat Sandra yang sejak tadi berkeringat. "Kayaknya yang masalah bukan AC-nya Mas. Tapi otak saya!" Jawab Sandra lirih. Ardi terkikik geli. Bisa-bisanya dalam kondisi seperti itu, Sandra menjawab dengan asal. Mungkin saja karena itu, Dewantara jatuh hati padanya. ya, meskipun laki-laki itu tak mau mengakuinya. Pakai alasan Elena mandul segala. Ardi menghembuskan nafas pelan. Takut Sandra tahu apa yang dipikirkannya. "Kita sampai, Mbak!" Ardi member

  • Istri Rahasia untuk Kakak Ipar   5. Kontrak Cinta di Atas Meja

    "Mas Tara!" Dara pucat. Ia segera mendekat ke arah Dewantara tapi laki-laki itu mengabaikannya. Ia justru menghampiri Sandra yang masih mematung. "Kau selesaikan tugas yang lain!" Lirik Dewantara pada Ardi. Ia tak ingin Ardi menanggung yang bukan kapasitasnya. Ardi mengangguk paham lalu berjalan meninggalkan tempat. "Mas..." Dewantara tak menoleh. Ia meraih kotak dari tangan Sandra lalu membimbing gadis itu ke ruangannya. Dara mengeryit. Apa yang dilihatnya sungguh diluar nalar. Dewantara paling tak suka disentuh, apalagi sama perempuan, tapi kali ini? Ia sendiri yang menyentuh Sandra? "Kalau matamu gak terpakai, kau bisa mendonorkannya sore ini!" Dewantara meliriknya sekilas. Ia tampaknya tak suka Dara melihat Sandra dengan tatapan merendahkan. Dara terkesiap. Ia menggelengkan kepala sambil menggerakkan tangan. "Gak usah, Mas. Aku mau pulang!" Dewantara tak lagi menggubris. Ia membawa Sandra melewati Dara tanpa banyak bicara. Mata Dara berkilat. "Ternyata

  • Istri Rahasia untuk Kakak Ipar   4. Tamu Istimewa

    "Kita ada jadwal meeting jam sebelas, Mas." Ardi sang asisten mendekat sambil menyodorkan berkas. "Atur jadwal ulang untuk besok." Dewantara tak menoleh. Matanya masih terpekur pada layar ponsel. "Tapi, Mas..." "Di Papua sedang buka kantor cabang. Sepertinya kamu cocok tugas di sana." Dewantara menatap sang asisten tajam membuat Ardi seketika terperangah lalu tersenyum gugup.Beginilah jika sudah menyinggung bosnya, dia akan tiba-tiba dipindahkan ke tempat yang jauh. Dewantara mungkin tak bercanda, dia memang punya kekuasaan sebesar itu. "Oh, itu. Anu, Mas. Ibuku sudah tua, aku gak bisa meninggalkannya. Biar aku di kantor ini saja..." Tangannya menggaruk kepala lalu kembali mengambil berkas dengan ragu. "Aku jadwalkan ulang sesuai instruksi saja, Mas!"Dewantara tak menjawab hingga Ardi pergi menjauh dan hendak membuka pintu. "Di, sebentar lagi ada tamu. Tolong pastikan dia nyaman sejak datang," titah bosnya itu tiba-tiba.Ardi menautkan kedua alisnya. Memastikan tamu nya

  • Istri Rahasia untuk Kakak Ipar   3. Rahasia Hitam dalam Gaun Pernikahan

    Setelah mengunci pagar butiknya, perlahan Sandra mengendarai motornya kembali ke rumah Wiryawan. Sepanjang perjalanan, ia menghirup oksigen dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. "Malam Mbak Sandra. Lama gak pulang!" Sapa satpam yang sedang berjaga. "Malam, Pak. Shift malam ya?" Tanya Sandra basa-basi ketika satpam itu membuka pintu gerbang untuknya. "Gak sih, Mbak. Gantiin Joko yang telat!" "Oh gitu," Sandra kembali menstater motornya yang sempat dimatikan. "Duluan ya, Pak!" pamit Sandra, meninggalkan satpam tua yang hanya menggeleng saat meihatnya menjauh. Diparkirkannya motor maticnya di sisi dalam garasi melewati tiga mobil yang berjajar rapi. Dia memang tak pernah bermimpi untuk mengendarainya. Bisa berdiri di kakinya sendiri saja, sudah membuatnya bahagia. Kini, langkah kakinya semakin terasa berat saat ia telah berdiri di depan teras. Di tangannya, sebuah kotak besar berisi gaun pengantin putih yang Elena inginkan. Gaun yang ia buat dengan tetesan keringat

  • Istri Rahasia untuk Kakak Ipar   2. Kenangan di balik Pintu Besar

    Sandra membuang nafas. Kenangan itu mendadak kembali tergambar diingatannya. Rasa sesak yang kembali datang seperti dua puluh tahun yang lalu. Sandra kecil, yang saat itu baru berusia lima tahun, berdiri gemetar sambil meremas ujung baju ibunya, Ratih Kemala. Wanita cantik yang telah melahirkannya. Kini, sang ibu membawanya berdiri di sebuah rumah megah dengan pilar-pilar raksasanya. "Ibu... ini rumah siapa?" Bisik Sandra lirih. Suaranya tenggelam oleh suara hujan dengan kilat yang menggelegar. Tak berhenti matanya memindai sekitar. Rumah besar dengan taman yang cantik, selalu menjadi impian Sandra kecil. Ibunya tidak menjawab. Wajahnya pucat dengan mata yang sembab. Susah payah ia mengangkat dagunya. Karena ia tahu, ia hanyalah remahan bagi Wiryawan dan keluarganya. Laki-laki yang hanya bisa berjanji di balik kata-kata manis tapi tak pernah bisa mewujudkannya. Atau, memang dia yang terlalu bodoh karena menyerahkan diri begitu saja pada laki-laki yang telah berkeluarga Rat

  • Istri Rahasia untuk Kakak Ipar   1. Rahim yang Ditawar

    Sandra berlari sepanjang koridor rumah sakit. Hatinya sesak saat Elena menghubunginya lima belas menit yang lalu. "Kakak!" Sandra membeku sesaat ketika melihat Elena duduk di tepi ranjang dengan wajah pucat, jemarinya saling meremas seperti menahan ketakutan. Meski bau antiseptik menusuk hidungnya, Sandra tetap maju mendekat. “Sandra… tolong aku.” Elena menatap Sandra dengan memelas. Dengan suara yang sedikit bergetar, berbeda seperti biasanya yang selalu tegas dan keras. 'Aku cuma bisa mengandalkanmu, Sandra. Tolong!" Air mata kembali jatuh dipipi Elena yang mulus. "Kenapa...?" Pertanyaan Sandra menggantung karena Elena dengan cepat menyambar. "Aku gak bisa bilang sama Mama atau Papa!' lanjutnya lirih. "Cuma kamu, Sandra. Cuma kamu yang bisa menyelamatkan pernikahanku. Menyelamatkan pabrik Papa!" Sandra masih tak bisa memahami kalimat Elena. Tatapannya kosong, seolah belum benar-benar memahami arah pembicaraan ini. “Maksud kakak apa?” Elena menelan ludah. Matany

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status