Home / Romansa / Istri Rahasia untuk Kakak Ipar / 6. Akad di Balik Tirai

Share

6. Akad di Balik Tirai

Author: Banyu Biru
last update Last Updated: 2026-01-21 14:58:07

Sandra berkali-kali melap keringat di dahinya. Ia mulai merasa gerah. Padahal, perjalanan dari salon hingga ke hotel hanya memakan waktu tiga puluh menit tapi baginya terasa seperto tiga puluh jam. Sandra gelisah. Sesekali, ia mengganti posisi duduknya agar merasa nyaman.

dari spion tengah, Ardi yang menyetir ikut merasa gerah. Ia melirik wanita yang sebentar lagi akan menikah dengan bosnya. Cantik. Lembut. Sayangnya hanya menikah dalam diam.

"Masih panas, Mbak? Apa perlu saya naikkin AC-nya?" Ardi buka suara. Tak tega rasanya melihat Sandra yang sejak tadi berkeringat.

"Kayaknya yang masalah bukan AC-nya Mas. Tapi otak saya!" Jawab Sandra lirih. Ardi terkikik geli. Bisa-bisanya dalam kondisi seperti itu, Sandra menjawab dengan asal. Mungkin saja karena itu, Dewantara jatuh hati padanya. ya, meskipun laki-laki itu tak mau mengakuinya. Pakai alasan Elena mandul segala. Ardi menghembuskan nafas pelan. Takut Sandra tahu apa yang dipikirkannya.

"Kita sampai, Mbak!" Ardi memberi informasi pada Sandra.

Sandra bersiap. Merapikan kebaya dan melati yang bergoyang lembut di bahunya. Ia menghela nafas berat. Berusaha mengeluarkan beban dalam yang menghimpitnya. "Katanya gak suka ribet. tapi malah minta aku pakai beginian!" Sungutnya.

Ardi turun lebih dulu lalu membuka pintu untuk Sandra lalu .engiringi langkah Sandra yang sedikit tertatih karena kainnya.

Mereka berjalan menuju lobi hotel berbintang yang tampak lengang juga tulisan reservasi yang terpampang lebar.

"Silakan, Mbak Sandra. Mereka sudah menunggu di dalam," ucap Ardi sambil membukakan pintu sebuah ruang private yang kedap suara.

Di dalam ruangan yang terang, Sandra melihat pemandangan yang tak pernah ia bayangkan. Ayahnya, Wiryawan, duduk di sana dengan wajah berbinar sementara disampingnya, seorang pria seusia ayahnya, tampak berwibawa dengan tatapan tajam yang serupa dengan Dewantara Dan tentu saja, Dewantara dengan beskap senada kebayanya.

"Akhirnya, mempelai wanita sudah datang!" Seorang lelaki memakai batik rapi dengan tanda pengenal instansi agama, tersenyum menyambut Sandra.

Wiryawan berdiri, memeluk putrinya lebih lama. "Maafkan Ayah, Sandra!" Sandra menggelengkan kepala pelan. Ia bingung, harus memaafkan yang mana. Kesalahan Wiryawan memang tak bisa ia terima.

"Halo, nak. Aku ayah kandung dewantara. Panggil saja, Papa ya!" Laki-laki yang mirip Dewantara, ternyata memang ayahnya. Ia menjabat tangannya lebih lama.

"Halo, Om. Aku Sandra!" Laki-laki itu mengangguk sambil menepuk bahunya pelan.

Tak lama, akad berlangsung khidmat meskipun sangat singkat. Tanpa dekorasi bunga, tanpa musik pengiring, dan tanpa tamu undangan.

Hanya ada suara berat Dewantara yang menggema saat mengucapkan ijab kabul dengan satu tarikan napas, yang menyebut nama Sandra sebagai istrinya di depan penghulu juga orang tua mereka. Jujur, Sandra ingin menangis. Sayangnya ia malah tersenyum hambar menikmati momen sakral yang aneh.

"Bagaimana saksi?"

"Sah."

Kata itu bergema. Memenuhi rongga hati Sandra. Ia menunduk, menatap cincin emas putih melingkar di jari manisnya, sebuah simbol ikatan yang seharusnya indah, namun terasa seperti borgol yang mengikat hidupnya.

Selesai akad, penghulu menyerahkan dua buku nikah pada Sandra lalu bergegas berpamitan.

"Biar aku saja yang simpan!" Sandra terkejut saat Dewantara dengan tiba-tiba meraihnya. Sandra hanya sekilas membacanya lalu menatap fotonya bersanding dengan Dewantara sebagai pasangan yang sah, tidak hanya secara agama tapi juga negara. "Kupikir hanya secara agama!" Sandra menatap Dewantara.

Laki-laki itu tersenyum samar. "Aku ingin ketetapan hukum untuk pewarisku!" Sandra mengangguk puas. Di luar ekspektasinya. Ternyata, Dewantara mengabulkan keinginannya. Bukan hanya menikahinya secara agama tapi juga negara.

Sepanjang perjalanan menuju daerah Dharmawangsa, Sandra hanya berdiam diri. Meskipun Kini ia telah sah menjadi istri laki-laki dingin itu, tapi tetap saja tak ada keberanian baginya untuk memulai percakapan. Hingga mobil memasuki kawasan elit di Jakarta Selatan, Sandra hanya menatap keluar jendela mobil.

"Pernikahan ini rahasia, Sandra. Jangan sampai bocor sebelum semuanya jelas!" ucap Dewantara tanpa menoleh.

"Aku mengerti," jawab Sandra pendek. Ia tidak butuh pengakuan, ia hanya butuh perlindungan hukum untuk anak yang akan dikandungnya nanti.

Hingga mobil berhenti di depan sebuah villa mewah dengan gerbang hitam yang menjulang. Satpam penjaga berlari kecil untuk membuka pagar. Menganggguk kecil saat mobil yang mereka tumpangi masuk ke halaman yang luas. Sementara, di garasi, sudah terparkir sebuah mobil Honda City putih yang masih baru.

"Itu kuncinya," Dewantara menyerahkan kunci mobil ke tangannya. Sandra membeku. "Aku tahu kau tak suka hal-hal yang mencolok jadi, aku hanya siapkan mobil itu untukmu. Surat-suratnya lengkap di daasbord!" Dewantara terus saja berbicara sambil melepas sabuk pengaman. "Pakai itu untuk keperluanmu!"

Sandra menatap wajah Dewantara tak percaya. Benar-benar paham segala detail kecil tentangnya.

"Aku akan meninggalkanmu di sini," lanjut Dewantara. "Ada yang aku urus untuk pernikahanku dengan Elena!" Kini, ia memandang dalam wajah Sandra. "Aku akan mengunjungimu jika kamu sudah siap!"

Dewantara turun, lalu membukakan pintu untuknya. "Kamu tinggal dengan beberapa ART dan satpam. Ingat, jangan coba-coba lari!" Ancam Dewantara sesaat setelah Sanda turun dari mobilnya lalu Dewantara kembali memasuki mobilnya.

Tanpa kecupan. Tanpa kata-kata perpisahan. Meskipun hanya pernikahan singkat tapi apakah memang harus sedingin itu? Sandra menggaruk pelipisnya pelan.

Setelah Dewantara pergi, Sandra menaiki teras dimana beberapa ART sudah menunggunga dengan seragam.

"Selamat datang Bu Sandra!" Sandra mengangguk. Bahkan mereka sudah tahu siapa dirinya.

Mereka mengantar Sandra yang melangkah pelan memasuki penjaranya. Sambil menatap sekitar, Sandra mencoba menghitung waktu, berapa lama kira-kira ia akan menikmati semuanya.

Sandra tersentak ketika ponselnya berdering. Lebih kaget lagi saat nama Elena yang muncul.

"Sandra! Kau mana?"

"Aku... aku sedang di luar, Kak."

"Dengar, Sandra. Aku menelponmu karena aku ingin kamu tahu satu hal. Kamu gak perlu menikah dengan Dewa, ingat ya? Aku gak ingin ada komplikasi hukum nantinya. Orang-orang gak akan tahu kalau anak itu lahir di luar nikah, kita bisa mengurus aktenya langsung atas namaku. Setelah kau hamil nanti, kau tidak perlu lagi bertemu dengan Dewantara. Cukup jalani saja tugasmu untuk mengurus anak itu. Satu tahun, selesai!"

Sandra terdiam membeku. Lidahnya terasa kelu.

"Tapi. Kak..."

"Udah gak papa. Jalani aja seperti gak terjadi apa-apa. Jaman sekarang udah biasa punya anak tanpa status!"

Sandra mengangkat sudut bibirnya. Seperti dirinya? Menjalani hidup tanpa status yang jelas membuatnya selalu direndahkan. Diremehkan. Dianggap sebelah mata.

Sandra tiba-tiba curiga. Kenapa Elena melarangnya menikah dengan Dewantara? Apakah Elena tidak tahu bahwa sejam yang lalu, Dewantara baru saja menikahinya secara resmi di depan ayah mereka sendiri?

Ada sesuatu yang janggal. Elena seolah ingin menjauhkan Sandra dari Dewantara sepenuhnya. Sandra merasa dirinya kini berada di tengah-tengah dua orang yang memiliki agenda berbeda, dan dia hanyalah bidak catur yang sedang diperebutkan di atas papan yang gelap.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Rahasia untuk Kakak Ipar   6. Akad di Balik Tirai

    Sandra berkali-kali melap keringat di dahinya. Ia mulai merasa gerah. Padahal, perjalanan dari salon hingga ke hotel hanya memakan waktu tiga puluh menit tapi baginya terasa seperto tiga puluh jam. Sandra gelisah. Sesekali, ia mengganti posisi duduknya agar merasa nyaman. dari spion tengah, Ardi yang menyetir ikut merasa gerah. Ia melirik wanita yang sebentar lagi akan menikah dengan bosnya. Cantik. Lembut. Sayangnya hanya menikah dalam diam. "Masih panas, Mbak? Apa perlu saya naikkin AC-nya?" Ardi buka suara. Tak tega rasanya melihat Sandra yang sejak tadi berkeringat. "Kayaknya yang masalah bukan AC-nya Mas. Tapi otak saya!" Jawab Sandra lirih. Ardi terkikik geli. Bisa-bisanya dalam kondisi seperti itu, Sandra menjawab dengan asal. Mungkin saja karena itu, Dewantara jatuh hati padanya. ya, meskipun laki-laki itu tak mau mengakuinya. Pakai alasan Elena mandul segala. Ardi menghembuskan nafas pelan. Takut Sandra tahu apa yang dipikirkannya. "Kita sampai, Mbak!" Ardi member

  • Istri Rahasia untuk Kakak Ipar   5. Kontrak Cinta di Atas Meja

    "Mas Tara!" Dara pucat. Ia segera mendekat ke arah Dewantara tapi laki-laki itu mengabaikannya. Ia justru menghampiri Sandra yang masih mematung. "Kau selesaikan tugas yang lain!" Lirik Dewantara pada Ardi. Ia tak ingin Ardi menanggung yang bukan kapasitasnya. Ardi mengangguk paham lalu berjalan meninggalkan tempat. "Mas..." Dewantara tak menoleh. Ia meraih kotak dari tangan Sandra lalu membimbing gadis itu ke ruangannya. Dara mengeryit. Apa yang dilihatnya sungguh diluar nalar. Dewantara paling tak suka disentuh, apalagi sama perempuan, tapi kali ini? Ia sendiri yang menyentuh Sandra? "Kalau matamu gak terpakai, kau bisa mendonorkannya sore ini!" Dewantara meliriknya sekilas. Ia tampaknya tak suka Dara melihat Sandra dengan tatapan merendahkan. Dara terkesiap. Ia menggelengkan kepala sambil menggerakkan tangan. "Gak usah, Mas. Aku mau pulang!" Dewantara tak lagi menggubris. Ia membawa Sandra melewati Dara tanpa banyak bicara. Mata Dara berkilat. "Ternyata

  • Istri Rahasia untuk Kakak Ipar   4. Tamu Istimewa

    "Kita ada jadwal meeting jam sebelas, Mas." Ardi sang asisten mendekat sambil menyodorkan berkas. "Atur jadwal ulang untuk besok." Dewantara tak menoleh. Matanya masih terpekur pada layar ponsel. "Tapi, Mas..." "Di Papua sedang buka kantor cabang. Sepertinya kamu cocok tugas di sana." Dewantara menatap sang asisten tajam membuat Ardi seketika terperangah lalu tersenyum gugup.Beginilah jika sudah menyinggung bosnya, dia akan tiba-tiba dipindahkan ke tempat yang jauh. Dewantara mungkin tak bercanda, dia memang punya kekuasaan sebesar itu. "Oh, itu. Anu, Mas. Ibuku sudah tua, aku gak bisa meninggalkannya. Biar aku di kantor ini saja..." Tangannya menggaruk kepala lalu kembali mengambil berkas dengan ragu. "Aku jadwalkan ulang sesuai instruksi saja, Mas!"Dewantara tak menjawab hingga Ardi pergi menjauh dan hendak membuka pintu. "Di, sebentar lagi ada tamu. Tolong pastikan dia nyaman sejak datang," titah bosnya itu tiba-tiba.Ardi menautkan kedua alisnya. Memastikan tamu nya

  • Istri Rahasia untuk Kakak Ipar   3. Rahasia Hitam dalam Gaun Pernikahan

    Setelah mengunci pagar butiknya, perlahan Sandra mengendarai motornya kembali ke rumah Wiryawan. Sepanjang perjalanan, ia menghirup oksigen dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. "Malam Mbak Sandra. Lama gak pulang!" Sapa satpam yang sedang berjaga. "Malam, Pak. Shift malam ya?" Tanya Sandra basa-basi ketika satpam itu membuka pintu gerbang untuknya. "Gak sih, Mbak. Gantiin Joko yang telat!" "Oh gitu," Sandra kembali menstater motornya yang sempat dimatikan. "Duluan ya, Pak!" pamit Sandra, meninggalkan satpam tua yang hanya menggeleng saat meihatnya menjauh. Diparkirkannya motor maticnya di sisi dalam garasi melewati tiga mobil yang berjajar rapi. Dia memang tak pernah bermimpi untuk mengendarainya. Bisa berdiri di kakinya sendiri saja, sudah membuatnya bahagia. Kini, langkah kakinya semakin terasa berat saat ia telah berdiri di depan teras. Di tangannya, sebuah kotak besar berisi gaun pengantin putih yang Elena inginkan. Gaun yang ia buat dengan tetesan keringat

  • Istri Rahasia untuk Kakak Ipar   2. Kenangan di balik Pintu Besar

    Sandra membuang nafas. Kenangan itu mendadak kembali tergambar diingatannya. Rasa sesak yang kembali datang seperti dua puluh tahun yang lalu. Sandra kecil, yang saat itu baru berusia lima tahun, berdiri gemetar sambil meremas ujung baju ibunya, Ratih Kemala. Wanita cantik yang telah melahirkannya. Kini, sang ibu membawanya berdiri di sebuah rumah megah dengan pilar-pilar raksasanya. "Ibu... ini rumah siapa?" Bisik Sandra lirih. Suaranya tenggelam oleh suara hujan dengan kilat yang menggelegar. Tak berhenti matanya memindai sekitar. Rumah besar dengan taman yang cantik, selalu menjadi impian Sandra kecil. Ibunya tidak menjawab. Wajahnya pucat dengan mata yang sembab. Susah payah ia mengangkat dagunya. Karena ia tahu, ia hanyalah remahan bagi Wiryawan dan keluarganya. Laki-laki yang hanya bisa berjanji di balik kata-kata manis tapi tak pernah bisa mewujudkannya. Atau, memang dia yang terlalu bodoh karena menyerahkan diri begitu saja pada laki-laki yang telah berkeluarga Rat

  • Istri Rahasia untuk Kakak Ipar   1. Rahim yang Ditawar

    Sandra berlari sepanjang koridor rumah sakit. Hatinya sesak saat Elena menghubunginya lima belas menit yang lalu. "Kakak!" Sandra membeku sesaat ketika melihat Elena duduk di tepi ranjang dengan wajah pucat, jemarinya saling meremas seperti menahan ketakutan. Meski bau antiseptik menusuk hidungnya, Sandra tetap maju mendekat. “Sandra… tolong aku.” Elena menatap Sandra dengan memelas. Dengan suara yang sedikit bergetar, berbeda seperti biasanya yang selalu tegas dan keras. 'Aku cuma bisa mengandalkanmu, Sandra. Tolong!" Air mata kembali jatuh dipipi Elena yang mulus. "Kenapa...?" Pertanyaan Sandra menggantung karena Elena dengan cepat menyambar. "Aku gak bisa bilang sama Mama atau Papa!' lanjutnya lirih. "Cuma kamu, Sandra. Cuma kamu yang bisa menyelamatkan pernikahanku. Menyelamatkan pabrik Papa!" Sandra masih tak bisa memahami kalimat Elena. Tatapannya kosong, seolah belum benar-benar memahami arah pembicaraan ini. “Maksud kakak apa?” Elena menelan ludah. Matany

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status