แชร์

7. Rahasia Hitam

ผู้เขียน: Banyu Biru
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-21 21:45:03

Dewantara mengendarai mobilnya menuju villa setelah berpikir lama di ruangannya. Biasanya, ia akan menghabiskan waktu di kantor. Berkutat dengan dokumen-dokumen bersama Ardi sampai pagi.

"Di..."

Yang dipanggil menoleh dengan bingung. Tak biasanya sang pimpinan memanggilnya saat sedang fokus menatap berkas yang menumpuk di meja.

"Apa yang kau rasakan setelah menikah?"

Ardi menautkan kedua alisnya. Pertanyaan macam apa itu, batinnya lirih. "Entahlah, Mas. Aku kan belum menikah!"

Dewantara tertawa. Mendengar tawa Dewantara, Ardi lebih kaget lagi. Jangan bilang kalau kesurupan! Lagi-lagi, batinnya bermonolog.

"Aku lupa kalau kamu jomblo akut!"

Ardi ternganga. Kata-kata dari mana lagi, itu? Dia mendehem, "Mas, sejak aku kerja sama Mas Tara, jam kerjaku mulai jam tujuh sampai suka-sukanya Mas Tara. Mana ada waktu buatku cari perempuan!" Ardi tak terima dikatakan jomblo akut.

Tapi tak urung, kini dia yang menegang kala Dewantara menatapnya tajam. "Maksudmu, aku gila kerja?"

Ardi serba salah. Ia tak mampu menjawab pertanyaan yang memang tak perlu ia jawab.

"Kau boleh pulang!" Dewantara memijit pelipisnya.

"Beneran, Mas?" Ardi berdiri setelah melirik arlojinya. Baru pukul sebelas malam? Dan Dewantara menyuruhnya pulang? Ini sih durian runtuh. Biasanya paling cepat pukul 2 malam Dewantara akan mengajaknya pulang.

"Kenapa? Gak mau?"

Ardi menggeleng cepat. "Bukan Mas! Aku pulang sekarang! Aku mau!" Tangannya degan cepat menumpuk berkas-berkas berserakan di meja sofa.

"Bereskan saja besok!" Ardi ingin ternganga lagi, tapi ditepisnya cepat atau perintah pulang akan batal jika Dewantara kembali sadar. Barangkali saja laki-laki itu sedang nglindur. Ardi segera meninggalkan ruangan tanpa berpamitan meninggalkan Dewantara yang sebenarnya galau.

Ia ingin pulang tapi kemana ia tak paham. Matanya menyipit saat membayangkan Sandra di villa. Perempuan yang ia nikahi pagi tadi.

Ia bergegas keluar ruangan meninggalkan beberapa penjaga yang hanya bisa saling pandang.

Tak membuang waktu lama. Perjalanan serasa singkat meski jalanan penuh dengan lalu lalang bagi manusia-manusia yang suka bersahabat dengan malam.

Kini, ia memasuki kamar utama dengan hati-hati. Benar saja, sang istri sudah terbang ke alam mimpi dengan lampu yang temaram. Dewantara tersenyum.

Ia masuk tanpa suara. Melepas jasnya, kemejanya lalu naik ke ranjang. Ditatapnya sang istri yang terlelap. Bagi orang lain, Sandra bukanlah siapa-siapa tapi bagi Dewantara, Sandra adalah hidupnya.

"Pak... Dewa..." Sandra tergagap saat merasakan ruangnya terasa sempit.

"Kenapa..."

Tak ada waktu untuk menjawab karena Dewantara keburu menerkamnya.

"Kau bilang, kau akan menunggu sampai aku siap!" Sandra menatap suaminya dengan bingung. Lebih bingung lagi ketika Dewantara hanya tersenyum samar.

"Jalankan saja tugasmu!"

hening. Sandra tak bisa menolak keinginan tiba-tiba Dewantara. Laki-laki angkuh yang tak ingin dia kenal tapi kini, justru ada di atas tubuhnya.

Dewantara menghapus sisa keringat di dahi Sandra saat usai penyatuan mereka. Gadis itu menahan tangis sendiri. Ia tahu, Dewantara akan mengacuhkannya. Hingga lelah membuatnya tertidur dalam dekapan laki-laki yang akan menikahi kakaknya besok pagi!

******

Sandra terbangun dengan sisa rasa perih yang masih menjalar di sekujur tubuh. Ingatannya kembali pada kejadian tadi malam, saat Dewantara tiba-tiba muncul di kamar villa.

Kini, kamar itu kosong, menyisakan aroma parfum Dewantara yang tertinggal.

Matanya menangkap beberapa paper bag mewah di atas meja rias.

Sandra menghela napas, menyeret kakinya yang lemas menuju kamar mandi. Saat ia membuka salah satu paper bag, jantungnya berdegup kencang. Sebuah gaun bodycon berwarna Merah Marun berbahan satin premium dengan potongan off-shoulder.

Bisa-bisanya Dewantara membelikannya gaun seperti itu. Di sisinya secarik kertas dengan sebuah tulisan. 'Pakai ini!'

Sandra menggeleng. Jiwa arogannya ternyata tak hilang. Dibukanya paper bag yang lain. Make up merk ternama, lengkap. Yang Sandra saja tak akan bisa memakainya. Lalu satu set perhiasan di paper bag lainnya.

Satu jam kemudian, Sandra tiba di gedung pernikahan dengan mengendarai Honda City putihnya. Saat ia melangkah masuk ke aula besar, suasana mendadak sunyi sesaat. Ratusan pasang mata tertuju padanya.

Gaun merah itu membalut tubuhnya dengan sempurna, memamerkan lekuk tubuh yang biasanya ia sembunyikan di balik kemeja longgar butiknya. Rambutnya disanggul modern dengan beberapa helai jatuh membingkai wajah yang dipulas make-up natural.

"Sandra!" Desi, ibu tirinya, segera mendekat. "Kemana saja kamu! Kamu tahu kan kalau anakku mencarimu?" Selalu kata 'anakku' yang diucapkannya, seakan Sandra adalah orang lain baginya. Matanya menatap Sandra dari ujung bawah, "Jangan terlalu mencari muka, Sandra. Ingat posisi kamu!"

Desi menarik lengan Sandra, berbisik tajam di telinganya. "Setelah ini, aku akan mengenalkanmu pada beberapa laki-laki kolega Wiryawan. Pilih saja yang kamu suka. Tapi ingat, laki-laki sekelas Dewantara tidak akan pernah ada!"

Sandra hanya tersenyum samar, senyum yang menyimpan luka sekaligus sebuah rahasia. Ia lalu berjalan mengikuti ibu tiri yang membawanya ke rombongan bridesmaid. Beberapa gadis cantik dengan gaun serupa telah duduk rapi di tempat yang telah ditentukan. Entah ide siapa yang memintanya ikut ada dalam barisan tersebut.

Acara akad nikah dimulai. Sandra yang merasa tak nyaman, hanya menahan nafas melihat laki-laki yang telah menikahinya, kini mengucap janji dengan saudara perempuannya. Sandra memejamkan mata sesaat, mencoba menepis bayangan semalam. Ia tahu, ia hanya pengganti. Tak akan pernah bisa berharap lebih.

"Kau yang bernama Sandra?" Sandra yang sejak tadi diam menatap lurus ke depan, menoleh. Disampingnya duduk laki-laki tampan dengan batik yang terlihat mahal.

Sandra tersenyum lalu mengangguk. "Ya, aku Sandra!"

"Aku Bastian. Aku teman dekat Elena!" Tangannya terulur. Sandra menatapnya sekilas lalu menjabat dengan hangat. "Aku tak pernah melihatmu!" Sandra menelisik laki-laki tampan itu lebih lama.

"Aku di luar negeri, tapi masih berhubungan baik dengan kakakmu!"

"Oh!" Sandra mengangguk pelan. Elena memang tak pernah menutupi keberadaan Sandra ssbagai adiknya. Ia tersenyum getir. Elena begitu menyayanginya tapi ia menusuk Elena dari belakang. Sandra meremas jemarinya perlahan.

"Aku ingin mengenalmu lebih jauh!" Bisik Bastian dengan lembut. Sandra terdiam. Tak pernah ada laki-laki yang benar-benar ingin dekat dengannya setelah tahu statusnya. Dan Bastian berbeda.

Tiba-tiba, seorang pelayan mendekati Sandra dan menyerahkan sebuah amplop cokelat kecil. "Ada titipan untuk Mbak Sandra."

Sandra mengernyit. "Dari siapa?"

Pelayan itu menggeleng lemah, lalu berlalu meninggalkan Sandra yang penasaran. Tangannya membuka dengan cepat, "Aku tahu kau sudah sah menjadi istrinya. Berapa harga yang dibayar Dewantara untuk membeli rahimmu? Aku punya penawaran yang lebih baik sebelum Elena tahu suaminya sudah berbagi tempat tidur dengan adiknya sendiri."

Sandra lemas. Kakinya seolah tak mampu menopang berat tubuhnya. Ia menatap ke arah pelaminan, di mana Elena sedang tersenyum bahagia sambil menggandeng lengan Dewantara.

Siapa yang tahu rahasia ini? Ia tak akan bisa menerima kemarahan Elena.

Di tengah kepanikannya, Sandra mendongak dan matanya bertemu dengan mata Elena.

"Sandra, aku memanggilmu sejak tadi!" Sandra pias. "Apa yang kamu baca?"

Deg.

Sandra meremas kertas itu dengan gemetar.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Istri Rahasia untuk Kakak Ipar   46. Pemilik yang Sesungguhnya

    Sejak pertemuannya dengan Elena di ballroom Hotel Grand Mahardika itu, sesuatu berubah dalam kehidupan Dewantara. Hampir setiap hari ia mengirim kurir untuk datang ke rumah keluarga Wiryawan. Kadang sebuah buket bunga mawar putih yang mahal, kadang kotak perhiasan, atau tas dan pakaian edisi terbatas yang bahkan belum dirilis di Indonesia. Sesekali, ia juga mengirimkan makanan dari restoran bintang lima. "Dari Dewantara lagi, Ma?" Elena melirik ibunya dengan tatapan mata malas. Berbeda dengan Elena, Desi justru sangat senang, anaknya mendapatkan perhatian Dewantara. "Lihat ini!" Suaranya begitu keras. Seperti ingin menunjukkan pada semua orang. Termasuk Sandra yang baru melangkahkan kakinya masuk. Gadis itu hanya tersenyum kecil lalu melanjutkan langkahnya ke kamar. Ia tak pernah tertarik dengan urusan seperti itu. "Hadiah khusus untukmu, dari Dewantara Jayadi Rukmana!" Mata Desi berkilat bangga menatap kartu-kartu kecil yang selalu bertuliskan nama yang sama."Aneh. Aku gak

  • Istri Rahasia untuk Kakak Ipar   45. Awal Bertemu

    Lampu-lampu kristal menggantung megah di langit-langit ballroom Hotel Grand Mahardika, salah satu hotel paling bergengsi di Jakarta. Malam itu, hotel penuh dengan para tamu penting yang sebagian adalah pengusaha, pejabat, serta keluarga-keluarga yang dianggap terpandang. Sebuah acara tahunan yang biasa diadakan keluarga Rukmana, ayah kandung dari Helen Rukmana. Bersama Bagaskara suaminya. Helen menyalami tamu. undangan yang mulai berdatangan untuk mengucapkan selamat atas perayaan ulang tahun ke-40 perusahaan besar keluarga. "Kau lihat kan, Elena. Di sini banyak pengusaha muda yang datang. Mereka semuanya orang kaya, Sayang!" Desi terus saja berbisik lirih di telinga Elena, sejak mereka turun dari mobil. "Ayolah, Ma. Sekarang gak jaman perjodohan!" Elena memutar bola matanya. Baginya tak ada laki-lski lain kecuali satu pria, sayangnya ia bukan penguasaha. Itu sebabnya, sang ibu menolak mentah-mentah hubungan mereka. "Jangan pernah mendekati laki-lami miskin, Elena. Atau kau akan m

  • Istri Rahasia untuk Kakak Ipar   44. Malam yang Sama

    Malam semakin datang ketika mobil hitam milik Dewantara berhenti di depan villa. Seketika, wajahnya berubah. Tak lagi dan menyimpan kemarahan tapi hangat dan penuh kerinduan. Ia bergerak turun, sambil seekali mengangkat wajahnya menatap langit. Menikmati angin malam yang bergesek lewat dedaunan. Dewantara melangkah pasti, melewati jalan setapak yang menuju pintu utama. Ia berjalan dengan tenang, meski tubuhnya masih terasa sedikit lemah setelah seharian menahan pusing dan mual di kantor. Namun begitu mengingat siapa yang ada di dalam villa itu, rasa lelahnya seperti menguap begitu saja. Sandra. Hanya satu nama itu yang mampu membuat hatinya kembali tenang. Ia membuka pintu villa dengan pelan agar tidak menimbulkan suara. Rumah itu sunyi. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar samar dari ruang tengah. Langkah Dewantara terarah menuju kamar. Saat pintu kamar terbuka, pandangannya langsung tertuju pada sosok yang terbaring di atas tempat tidur. Tampak Sandra yang ter

  • Istri Rahasia untuk Kakak Ipar   43. Kamar yang Kosong

    Akhirnya hari yang dirunggu Elena dan Desi tiba. Kini, Dewantara membawa Elena menuju pondok indah, di rumah orang tuanya. Masih sore saat mobil Dewantara akhirnya berhenti di halaman rumah besar keluarganya. Elena tersenyum dalam hati. Harapannya untuk menjadi nyonya besar, tinggal selangkah lagi. Tak henti ia mendecak kagum saat melihat rumah megah itu semakin dekat. Halamannya luas dengan lampu taman yang menyala temaram. Belum lagi plar-pilar tinggi menopang teras depan, sementara jendela-jendela besarnya memantulkan cahaya hangat dari dalam. Elena menatapnya beberapa detik sebelum membuka pintu mobil dan mengikuti langkah Dewantara yang turun membawa koper pakaian Elena. Ia memang pernah datang ke rumah ini sebelumnya, saat ayahnya membawanya dalam acara kekuarga, tapi itu dulu, sebagai tamu. Dan kini, ia datang kembali sebagai menantu. Sebagai penghuni dan sebagai istri dari Dewantara. "Selamat datang, Sayang!" Helen menyambut mereka di ruang tamu tapi Dewantara berjalan

  • Istri Rahasia untuk Kakak Ipar   42. Jamuan Pengakuan

    Sorenya saat Elena mulai merencanakan sesuatu untuk membuat perutnya berangsur membesar seperti hamil, Desi masuk tanpa mengetuk pintu. "Ma..." Elena menutup ponselnya. "Kau dari mana Elena? Rendra bilang, kau keluar tanpa mau diantar!" "Oh, aku menemui Sandra, Ma.!" Desi menautkan kedua alisnya. "Kenapa kau menemuinya? Berapa kali Mama bilang, berhenti memperlakukannya seperti saudaramu sendiri. Dia bukan saudaramu, Elena!" Desi mendengus lalu duduk tepat di sisi Elena. "Aku hanya mengabari tentang kehamilanku, Ma!" Elena tak punya cara, selain menutupi kebohongan dengan kebohongan lainnya. Dan kali ini, Desi tak menjawab. Ia selalu mendukung jika Elena melakukan sesuatu yang Sandra tak bisa. "Bagus. Biar dia tahu kalau kalian berbeda!" Elena menghembuskan nafasnya perlahan. Aman, batinnya lega. "Sore ini, Mama akan mengadakan syukuran keluarga. Termasuk mengundang mertuamu. Kita akan rayakan kehamilanmu!" Desi begitu semangat menyampaikan rencananya. Elena

  • Istri Rahasia untuk Kakak Ipar   41. Aroma Pagi Hari

    Pagi itu, Elena terbangun seperti biasa. Tapi baru saja ia membuka mata, pintu kamar sudah terbuka perlahan. "Permisi?" Desi masuk dengan langkah hati-hati, membawa nampan besar dengan wajah penuh senyum. “Jangan bangun dulu, Sayang” tegurnya lembut, berbeda dari biasanya. “Ini kehamilan pertamamu. Mama tidak mau kau kelelahan.” Elena mengerjap pelan. Perhatian itu terasa berlebihan… namun setidaknya tetap saja menguntungkan baginya. Meskipun sebenarnya ia sudah terbiasa dengan perhatian itu sejak kecil. Di atas nampan, terhidang steak sapi hangat dengan saus lada hitam, kentang tumbuk, dan segelas jus jeruk segar. “Kau harus makan yang bergizi, Elena. Protein penting untuk pembentukan janin,” ujar Desi sambil membantu Elena duduk bersandar. Elena menurut. Ia meletakkan nampan di atas pangkuannya, lalu memotong kecil steak itu, dan memasukkannya ke mulut perlahan. Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Dewantara keluar dengan rambut masih basah, menyeka wajahnya d

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status