LOGINDewantara mengendarai mobilnya menuju villa setelah berpikir lama di ruangannya. Biasanya, ia akan menghabiskan waktu di kantor. Berkutat dengan dokumen-dokumen bersama Ardi sampai pagi.
"Di..." Yang dipanggil menoleh dengan bingung. Tak biasanya sang pimpinan memanggilnya saat sedang fokus menatap berkas yang menumpuk di meja. "Apa yang kau rasakan setelah menikah?" Ardi menautkan kedua alisnya. Pertanyaan macam apa itu, batinnya lirih. "Entahlah, Mas. Aku kan belum menikah!" Dewantara tertawa. Mendengar tawa Dewantara, Ardi lebih kaget lagi. Jangan bilang kalau kesurupan! Lagi-lagi, batinnya bermonolog. "Aku lupa kalau kamu jomblo akut!" Ardi ternganga. Kata-kata dari mana lagi, itu? Dia mendehem, "Mas, sejak aku kerja sama Mas Tara, jam kerjaku mulai jam tujuh sampai suka-sukanya Mas Tara. Mana ada waktu buatku cari perempuan!" Ardi tak terima dikatakan jomblo akut. Tapi tak urung, kini dia yang menegang kala Dewantara menatapnya tajam. "Maksudmu, aku gila kerja?" Ardi serba salah. Ia tak mampu menjawab pertanyaan yang memang tak perlu ia jawab. "Kau boleh pulang!" Dewantara memijit pelipisnya. "Beneran, Mas?" Ardi berdiri setelah melirik arlojinya. Baru pukul sebelas malam? Dan Dewantara menyuruhnya pulang? Ini sih durian runtuh. Biasanya paling cepat pukul 2 malam Dewantara akan mengajaknya pulang. "Kenapa? Gak mau?" Ardi menggeleng cepat. "Bukan Mas! Aku pulang sekarang! Aku mau!" Tangannya degan cepat menumpuk berkas-berkas berserakan di meja sofa. "Bereskan saja besok!" Ardi ingin ternganga lagi, tapi ditepisnya cepat atau perintah pulang akan batal jika Dewantara kembali sadar. Barangkali saja laki-laki itu sedang nglindur. Ardi segera meninggalkan ruangan tanpa berpamitan meninggalkan Dewantara yang sebenarnya galau. Ia ingin pulang tapi kemana ia tak paham. Matanya menyipit saat membayangkan Sandra di villa. Perempuan yang ia nikahi pagi tadi. Ia bergegas keluar ruangan meninggalkan beberapa penjaga yang hanya bisa saling pandang. Tak membuang waktu lama. Perjalanan serasa singkat meski jalanan penuh dengan lalu lalang bagi manusia-manusia yang suka bersahabat dengan malam. Kini, ia memasuki kamar utama dengan hati-hati. Benar saja, sang istri sudah terbang ke alam mimpi dengan lampu yang temaram. Dewantara tersenyum. Ia masuk tanpa suara. Melepas jasnya, kemejanya lalu naik ke ranjang. Ditatapnya sang istri yang terlelap. Bagi orang lain, Sandra bukanlah siapa-siapa tapi bagi Dewantara, Sandra adalah hidupnya. "Pak... Dewa..." Sandra tergagap saat merasakan ruangnya terasa sempit. "Kenapa..." Tak ada waktu untuk menjawab karena Dewantara keburu menerkamnya. "Kau bilang, kau akan menunggu sampai aku siap!" Sandra menatap suaminya dengan bingung. Lebih bingung lagi ketika Dewantara hanya tersenyum samar. "Jalankan saja tugasmu!" hening. Sandra tak bisa menolak keinginan tiba-tiba Dewantara. Laki-laki angkuh yang tak ingin dia kenal tapi kini, justru ada di atas tubuhnya. Dewantara menghapus sisa keringat di dahi Sandra saat usai penyatuan mereka. Gadis itu menahan tangis sendiri. Ia tahu, Dewantara akan mengacuhkannya. Hingga lelah membuatnya tertidur dalam dekapan laki-laki yang akan menikahi kakaknya besok pagi! ****** Sandra terbangun dengan sisa rasa perih yang masih menjalar di sekujur tubuh. Ingatannya kembali pada kejadian tadi malam, saat Dewantara tiba-tiba muncul di kamar villa. Kini, kamar itu kosong, menyisakan aroma parfum Dewantara yang tertinggal. Matanya menangkap beberapa paper bag mewah di atas meja rias. Sandra menghela napas, menyeret kakinya yang lemas menuju kamar mandi. Saat ia membuka salah satu paper bag, jantungnya berdegup kencang. Sebuah gaun bodycon berwarna Merah Marun berbahan satin premium dengan potongan off-shoulder. Bisa-bisanya Dewantara membelikannya gaun seperti itu. Di sisinya secarik kertas dengan sebuah tulisan. 'Pakai ini!' Sandra menggeleng. Jiwa arogannya ternyata tak hilang. Dibukanya paper bag yang lain. Make up merk ternama, lengkap. Yang Sandra saja tak akan bisa memakainya. Lalu satu set perhiasan di paper bag lainnya. Satu jam kemudian, Sandra tiba di gedung pernikahan dengan mengendarai Honda City putihnya. Saat ia melangkah masuk ke aula besar, suasana mendadak sunyi sesaat. Ratusan pasang mata tertuju padanya. Gaun merah itu membalut tubuhnya dengan sempurna, memamerkan lekuk tubuh yang biasanya ia sembunyikan di balik kemeja longgar butiknya. Rambutnya disanggul modern dengan beberapa helai jatuh membingkai wajah yang dipulas make-up natural. "Sandra!" Desi, ibu tirinya, segera mendekat. "Kemana saja kamu! Kamu tahu kan kalau anakku mencarimu?" Selalu kata 'anakku' yang diucapkannya, seakan Sandra adalah orang lain baginya. Matanya menatap Sandra dari ujung bawah, "Jangan terlalu mencari muka, Sandra. Ingat posisi kamu!" Desi menarik lengan Sandra, berbisik tajam di telinganya. "Setelah ini, aku akan mengenalkanmu pada beberapa laki-laki kolega Wiryawan. Pilih saja yang kamu suka. Tapi ingat, laki-laki sekelas Dewantara tidak akan pernah ada!" Sandra hanya tersenyum samar, senyum yang menyimpan luka sekaligus sebuah rahasia. Ia lalu berjalan mengikuti ibu tiri yang membawanya ke rombongan bridesmaid. Beberapa gadis cantik dengan gaun serupa telah duduk rapi di tempat yang telah ditentukan. Entah ide siapa yang memintanya ikut ada dalam barisan tersebut. Acara akad nikah dimulai. Sandra yang merasa tak nyaman, hanya menahan nafas melihat laki-laki yang telah menikahinya, kini mengucap janji dengan saudara perempuannya. Sandra memejamkan mata sesaat, mencoba menepis bayangan semalam. Ia tahu, ia hanya pengganti. Tak akan pernah bisa berharap lebih. "Kau yang bernama Sandra?" Sandra yang sejak tadi diam menatap lurus ke depan, menoleh. Disampingnya duduk laki-laki tampan dengan batik yang terlihat mahal. Sandra tersenyum lalu mengangguk. "Ya, aku Sandra!" "Aku Bastian. Aku teman dekat Elena!" Tangannya terulur. Sandra menatapnya sekilas lalu menjabat dengan hangat. "Aku tak pernah melihatmu!" Sandra menelisik laki-laki tampan itu lebih lama. "Aku di luar negeri, tapi masih berhubungan baik dengan kakakmu!" "Oh!" Sandra mengangguk pelan. Elena memang tak pernah menutupi keberadaan Sandra ssbagai adiknya. Ia tersenyum getir. Elena begitu menyayanginya tapi ia menusuk Elena dari belakang. Sandra meremas jemarinya perlahan. "Aku ingin mengenalmu lebih jauh!" Bisik Bastian dengan lembut. Sandra terdiam. Tak pernah ada laki-laki yang benar-benar ingin dekat dengannya setelah tahu statusnya. Dan Bastian berbeda. Tiba-tiba, seorang pelayan mendekati Sandra dan menyerahkan sebuah amplop cokelat kecil. "Ada titipan untuk Mbak Sandra." Sandra mengernyit. "Dari siapa?" Pelayan itu menggeleng lemah, lalu berlalu meninggalkan Sandra yang penasaran. Tangannya membuka dengan cepat, "Aku tahu kau sudah sah menjadi istrinya. Berapa harga yang dibayar Dewantara untuk membeli rahimmu? Aku punya penawaran yang lebih baik sebelum Elena tahu suaminya sudah berbagi tempat tidur dengan adiknya sendiri." Sandra lemas. Kakinya seolah tak mampu menopang berat tubuhnya. Ia menatap ke arah pelaminan, di mana Elena sedang tersenyum bahagia sambil menggandeng lengan Dewantara. Siapa yang tahu rahasia ini? Ia tak akan bisa menerima kemarahan Elena. Di tengah kepanikannya, Sandra mendongak dan matanya bertemu dengan mata Elena. "Sandra, aku memanggilmu sejak tadi!" Sandra pias. "Apa yang kamu baca?" Deg. Sandra meremas kertas itu dengan gemetar.Dewantara mengendarai mobilnya menuju villa setelah berpikir lama di ruangannya. Biasanya, ia akan menghabiskan waktu di kantor. Berkutat dengan dokumen-dokumen bersama Ardi sampai pagi. "Di..." Yang dipanggil menoleh dengan bingung. Tak biasanya sang pimpinan memanggilnya saat sedang fokus menatap berkas yang menumpuk di meja. "Apa yang kau rasakan setelah menikah?" Ardi menautkan kedua alisnya. Pertanyaan macam apa itu, batinnya lirih. "Entahlah, Mas. Aku kan belum menikah!" Dewantara tertawa. Mendengar tawa Dewantara, Ardi lebih kaget lagi. Jangan bilang kalau kesurupan! Lagi-lagi, batinnya bermonolog. "Aku lupa kalau kamu jomblo akut!" Ardi ternganga. Kata-kata dari mana lagi, itu? Dia mendehem, "Mas, sejak aku kerja sama Mas Tara, jam kerjaku mulai jam tujuh sampai suka-sukanya Mas Tara. Mana ada waktu buatku cari perempuan!" Ardi tak terima dikatakan jomblo akut. Tapi tak urung, kini dia yang menegang kala Dewantara menatapnya tajam. "Maksudmu, aku gila ker
Sandra berkali-kali melap keringat di dahinya. Ia mulai merasa gerah. Padahal, perjalanan dari salon hingga ke hotel hanya memakan waktu tiga puluh menit tapi baginya terasa seperto tiga puluh jam. Sandra gelisah. Sesekali, ia mengganti posisi duduknya agar merasa nyaman. dari spion tengah, Ardi yang menyetir ikut merasa gerah. Ia melirik wanita yang sebentar lagi akan menikah dengan bosnya. Cantik. Lembut. Sayangnya hanya menikah dalam diam. "Masih panas, Mbak? Apa perlu saya naikkin AC-nya?" Ardi buka suara. Tak tega rasanya melihat Sandra yang sejak tadi berkeringat. "Kayaknya yang masalah bukan AC-nya Mas. Tapi otak saya!" Jawab Sandra lirih. Ardi terkikik geli. Bisa-bisanya dalam kondisi seperti itu, Sandra menjawab dengan asal. Mungkin saja karena itu, Dewantara jatuh hati padanya. ya, meskipun laki-laki itu tak mau mengakuinya. Pakai alasan Elena mandul segala. Ardi menghembuskan nafas pelan. Takut Sandra tahu apa yang dipikirkannya. "Kita sampai, Mbak!" Ardi member
"Mas Tara!" Dara pucat. Ia segera mendekat ke arah Dewantara tapi laki-laki itu mengabaikannya. Ia justru menghampiri Sandra yang masih mematung. "Kau selesaikan tugas yang lain!" Lirik Dewantara pada Ardi. Ia tak ingin Ardi menanggung yang bukan kapasitasnya. Ardi mengangguk paham lalu berjalan meninggalkan tempat. "Mas..." Dewantara tak menoleh. Ia meraih kotak dari tangan Sandra lalu membimbing gadis itu ke ruangannya. Dara mengeryit. Apa yang dilihatnya sungguh diluar nalar. Dewantara paling tak suka disentuh, apalagi sama perempuan, tapi kali ini? Ia sendiri yang menyentuh Sandra? "Kalau matamu gak terpakai, kau bisa mendonorkannya sore ini!" Dewantara meliriknya sekilas. Ia tampaknya tak suka Dara melihat Sandra dengan tatapan merendahkan. Dara terkesiap. Ia menggelengkan kepala sambil menggerakkan tangan. "Gak usah, Mas. Aku mau pulang!" Dewantara tak lagi menggubris. Ia membawa Sandra melewati Dara tanpa banyak bicara. Mata Dara berkilat. "Ternyata
"Kita ada jadwal meeting jam sebelas, Mas." Ardi sang asisten mendekat sambil menyodorkan berkas. "Atur jadwal ulang untuk besok." Dewantara tak menoleh. Matanya masih terpekur pada layar ponsel. "Tapi, Mas..." "Di Papua sedang buka kantor cabang. Sepertinya kamu cocok tugas di sana." Dewantara menatap sang asisten tajam membuat Ardi seketika terperangah lalu tersenyum gugup.Beginilah jika sudah menyinggung bosnya, dia akan tiba-tiba dipindahkan ke tempat yang jauh. Dewantara mungkin tak bercanda, dia memang punya kekuasaan sebesar itu. "Oh, itu. Anu, Mas. Ibuku sudah tua, aku gak bisa meninggalkannya. Biar aku di kantor ini saja..." Tangannya menggaruk kepala lalu kembali mengambil berkas dengan ragu. "Aku jadwalkan ulang sesuai instruksi saja, Mas!"Dewantara tak menjawab hingga Ardi pergi menjauh dan hendak membuka pintu. "Di, sebentar lagi ada tamu. Tolong pastikan dia nyaman sejak datang," titah bosnya itu tiba-tiba.Ardi menautkan kedua alisnya. Memastikan tamu nya
Setelah mengunci pagar butiknya, perlahan Sandra mengendarai motornya kembali ke rumah Wiryawan. Sepanjang perjalanan, ia menghirup oksigen dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. "Malam Mbak Sandra. Lama gak pulang!" Sapa satpam yang sedang berjaga. "Malam, Pak. Shift malam ya?" Tanya Sandra basa-basi ketika satpam itu membuka pintu gerbang untuknya. "Gak sih, Mbak. Gantiin Joko yang telat!" "Oh gitu," Sandra kembali menstater motornya yang sempat dimatikan. "Duluan ya, Pak!" pamit Sandra, meninggalkan satpam tua yang hanya menggeleng saat meihatnya menjauh. Diparkirkannya motor maticnya di sisi dalam garasi melewati tiga mobil yang berjajar rapi. Dia memang tak pernah bermimpi untuk mengendarainya. Bisa berdiri di kakinya sendiri saja, sudah membuatnya bahagia. Kini, langkah kakinya semakin terasa berat saat ia telah berdiri di depan teras. Di tangannya, sebuah kotak besar berisi gaun pengantin putih yang Elena inginkan. Gaun yang ia buat dengan tetesan keringat
Sandra membuang nafas. Kenangan itu mendadak kembali tergambar diingatannya. Rasa sesak yang kembali datang seperti dua puluh tahun yang lalu. Sandra kecil, yang saat itu baru berusia lima tahun, berdiri gemetar sambil meremas ujung baju ibunya, Ratih Kemala. Wanita cantik yang telah melahirkannya. Kini, sang ibu membawanya berdiri di sebuah rumah megah dengan pilar-pilar raksasanya. "Ibu... ini rumah siapa?" Bisik Sandra lirih. Suaranya tenggelam oleh suara hujan dengan kilat yang menggelegar. Tak berhenti matanya memindai sekitar. Rumah besar dengan taman yang cantik, selalu menjadi impian Sandra kecil. Ibunya tidak menjawab. Wajahnya pucat dengan mata yang sembab. Susah payah ia mengangkat dagunya. Karena ia tahu, ia hanyalah remahan bagi Wiryawan dan keluarganya. Laki-laki yang hanya bisa berjanji di balik kata-kata manis tapi tak pernah bisa mewujudkannya. Atau, memang dia yang terlalu bodoh karena menyerahkan diri begitu saja pada laki-laki yang telah berkeluarga Rat







