Mag-log in"Mas Tara!"
Dara pucat. Ia segera mendekat ke arah Dewantara tapi laki-laki itu mengabaikannya. Ia justru menghampiri Sandra yang masih mematung. "Kau selesaikan tugas yang lain!" Lirik Dewantara pada Ardi. Ia tak ingin Ardi menanggung yang bukan kapasitasnya. Ardi mengangguk paham lalu berjalan meninggalkan tempat. "Mas..." Dewantara tak menoleh. Ia meraih kotak dari tangan Sandra lalu membimbing gadis itu ke ruangannya. Dara mengeryit. Apa yang dilihatnya sungguh diluar nalar. Dewantara paling tak suka disentuh, apalagi sama perempuan, tapi kali ini? Ia sendiri yang menyentuh Sandra? "Kalau matamu gak terpakai, kau bisa mendonorkannya sore ini!" Dewantara meliriknya sekilas. Ia tampaknya tak suka Dara melihat Sandra dengan tatapan merendahkan. Dara terkesiap. Ia menggelengkan kepala sambil menggerakkan tangan. "Gak usah, Mas. Aku mau pulang!" Dewantara tak lagi menggubris. Ia membawa Sandra melewati Dara tanpa banyak bicara. Mata Dara berkilat. "Ternyata Tante Desi memang benar!" Ia tersenyum sinis lalu menghilang di balik lift. "Maaf, Pak!" Sandra menepis lembut tangan Dewantara. Laki-laki itu hanya menatap datar tak mengindahkan. "Duduklah." Perintahnya dingin. Sandra terpaksa menurut. Ia duduk di sofa dengan kikuk. Harusnya ia memakai celana panjang saja tadi, bukan rok A-line. Tapi bagaimana lagi? Sandra tidak mengira dia akan bertemu Dara yang akan tega mendorongnya. "Kakimu ada yang terluka?" Laki-laki itu duduk di sisi Sandra sambil membawa obat oles luka. "Ah, tidak. Aku tidak..." Sandra menarik kakinya tapi Dewantara bukan laki-laki yang mudah ditolak. Ia menarik kaki Sandra kembali. Mengamati kaki Sandra yang barangkali ada luka. "Bagaimana Pak Tara..." Sandra menutup mulutnya ketika Dewantara menatapnya sekilas. Sandra lupa siapa Dewantara. Mungkin saja ia memang melihatnya dari CCTV. Dewantara memang menunggunya. Saat jam sepuluh Sandra belum juga masuk ke ruangannya, laki-laki dingin itu langsung menatap mesin perekam. Dan di sanalah, ia melihat semuanya. Sandra bersyukur tak ada luka. Lagi pula dia bukan tipe orang yang suka high heel, jadi dorongan Dara tak membuatnya terkilir. Sandra menatap sekitar. Ruangan itu luas. Dingin dan minimalis. Sangat mencerminkan siapa pemiliknya. "Aduh!" Sandra meringis ketika tangan itu menyentuh lebam di salah satu mata kakinya. Tangannya seketika meremas bahu Dewantara yang sedikit menunduk. Dewantara menegang sesaat lalu kembali bersikap biasa, seolah-olah tak terjadi apapun. "Maaf, Pak. Gak sengaja!" Sandra segera menarik tangan dan kakinya. Kini, Dewantara berdiri, berjalan menuju mejanya untuk meraih map biru lalu kembali mendekati Sandra. Dewantara tidak langsung bicara. Ia membiarkan keheningan menekan mental Sandra selama beberapa menit."Tanda tangani," perintahnya dingin.
Sandra tidak segera meraih pulpen emas yang disodorkan. Ia membuka map itu dengan tangan gemetar. Matanya memindai poin per poin. Semuanya tertulis dengan sangat detail, namun intinya hanya satu, Sandra menyerahkan hidupnya kepada Dewantara. "Tunggu," suara Sandra serak. "Aku sudah bilang, aku punya syarat." Dewantara menyandarkan punggungnya, menatap Sandra dengan tatapan meremehkan. "Katakan. Uang? Properti? Atau kau ingin butikmu menjadi merek internasional?" Sandra menggeleng. Ia menatap langsung ke mata gelap Dewantara. "Aku tidak butuh hartamu. Syaratku cuma tiga." Dewantara mengangkat sebelah alisnya, memberi isyarat agar Sandra melanjutkan. "Pertama," Sandra menarik napas panjang. "Selama aku mengandung, aku ingin tetap tinggal di rumahku sendiri, bukan di rumah kalian. Aku tidak ingin Anda atau Elena atau siapapun mengawasi setiap gerak-gerikku." "Ditolak," potong Dewantara cepat. "Aku harus memastikan kesehatan pewarisku setiap detik. Kau akan tinggal di vila pribadiku, di bawah pengawasanku langsung." Sandra mengepalkan tangan, namun ia tahu ia tak punya posisi tawar yang kuat. "Baik. Syarat kedua, Setelah anak itu lahir, aku tak ingin ada keterikatan apapun!" Ada kilatan aneh di mata Dewantara saat mendengar syarat kedua itu, sesuatu yang menyerupai amarah yang tertahan. "Seolah kau sangat tidak sabar untuk membuang darah dagingmu sendiri," sindirnya sinis. "Yang ketiga?" "Aku akan menjalani proses bayi tabung sendiri," bisik Sandra, "Aku tahu teknologi kedokteran sudah canggih dengan melakukan In Vitro, aku tak perlu siapapun!" Dewantara tiba-tiba tertawa. membuat Sandra meremang. "Kau pikir ini transaksi laboratorium?" Dewantara menatap wajah tirusnya "Aku ingin semuanya natural dan alami. Aku..." Ia menjeda kalimatnya, jemarinya menyentuh dagu Sandra, memaksa wanita itu menatapnya. "...aku tidak suka prosedur medis yang rumit!" "Apa maksudmu?" Jantung Sandra berdegup kencang. "Proses ini akan dilakukan sesuai keinginanku, Sandra." Ada kilatan aneh di mata Dewantara. Sandra ingin menolak. Tapi bagaimana dengan pabrik ayahnya? Bagaimana dengan Elena? Itu artinya, bukan dengan rahim pengganti tapi... "Aku ingin Anda menikahiku!" Sandra dengan berat hati mengatakannya. Dan mendengar itu, Dewantara tersenyum tipis. "Kenapa?" Pancingnya. "Aku... aku ingin anakku lahir dalam ikatan pernikahan. Agar ia sah menjadi pewaris seperti yang Anda inginkan," jelas Sandra.Dewantara mengangguk. "Baiklah. Itu bisa diatur. Aku akan menikahimu sebelum aku menikahi Elena."
Mata Sandra membulat. "K-kami dua saudara. Anda tak bisa menikahi kami bersamaan!" Dewantara menaikkan satu alisnya. "Untuk orang yang seharusnya berkompromi, kamu banyak sekali permintaan." Pria itu menyeringai miring. "Baiklah. Itu juga bisa diatur." Dengan berat hati, Sandra menarik napas, mengambil pulpen itu dan menandatangani dokumennya. Dewantara menatapnya dengan mata yang terkunci pada Sandra. Dengan satu goresan tangan, Sandra resmi menjual jiwanya. Ia tidak tahu bahwa kontrak itu hanyalah awal dari semuanya. "Kita akan ke butik. Aku perlu mengganti jas. Kita sekalian mencarikanmu gaun untuk pernikahan kita." Sandra menggeleng cepat. "Tidak, tidak perlu. Aku tak ingin pernikahan kita diketahui siapapun. Aku tak bisa menyakiti Kakakku!" Dewantara menatap Sandra lama. Tidak ada penolakan, tidak juga bujukan. “Baiklah. Tanpa pesta,” akhirnya ia berkata. “Tapi akad tetap dilakukan. Sederhana. Resmi.” Sandra menelan ludah. lalu mengangguk pelan. “Dua hari lagi,” lanjut Dewantara singkat. “Aku tidak suka menunda.” Sandra pasrah ketika laki-laki itu membawanya ke butik eksklusif yang namanya hanya dikenal kalangan tertentu. "Motormu akan kembali nanti malam," ujar Dewantara. "Antar saja ke butikku," jawab Sandra. Tak ada jawaban. Mobil melaju pelan membelah jalanan. “Masuk dulu,” ucap Dewantara singkat pada Sandra ketika mereka di depan pintu butik. Butik itu tampaknya mewah, mungkin khusus kalangan orang kelas atas melihat bagaimana mobil-mobil mewah berjajar di halamannya. “Aku akan menyusul setelah mengangkat telpon," kata Dewantara. Pria itu melangkah menjauh, berdiri di sudut butik dengan suara ditekan rendah. Sandra melangkah masuk sendirian. Butik itu sunyi, wangi parfum mahal bercampur pendingin ruangan yang dingin menusuk. Seorang perempuan berusia akhir dua puluhan menoleh, memindai Sandra dari ujung kepala hingga kaki. “Halo. Anda sedang cari apa?” tanyanya tanpa senyum. “Aku… ingin melihat kebaya!" jawab Sandra pelan. Petugas itu mendengus kecil. “Lihat-lihat saja? Bukan untuk coba-coba? Sudah ada reservasi?” Sandra menggeleng. “Kalau begitu, sebaiknya ke butik sebelah,” lanjut perempuan itu tak sopan. “Di sini khusus klien tetap.” Beberapa pasang mata lain ikut melirik. Bisik-bisik pelan mulai terdengar. Sandra meremas jemarinya, menahan rasa perih yang sama. “Aku hanya ingin melihat,” ucapnya lagi, kali ini sedikit bergetar. Petugas itu melipat tangan di dada. “Maaf, Mbak. Kami tidak melayani—” Langkah sepatu kulit terdengar dari arah pintu. Dewantara masuk dengan wajah datar, aura dinginnya langsung mengisi ruangan. Tatapannya menyapu butik itu sebelum berhenti tepat pada Sandra yang berdiri kaku di tengah ruangan. “Ada masalah?” tanyanya pelan, tapi nadanya cukup membuat siapa pun menegang. Petugas tadi pucat seketika. “P-Pak Dewantara?” Sandra menoleh. Baru kali itu ia melihat perubahan cepat. Sikap yang semula angkuh mendadak runtuh. “Kenapa harus pindah ke butik sebelah?" tanya Dewantara, menatap tajam. Petugas itu tergagap. “Ma-maaf, Pak. Kami tidak tahu kalau Nona ini—” “Sekarang kau tahu,” potong Dewantara dingin. Ia meraih tangan Sandra. “Panggil manajermu. Dan keluarkan semua koleksi yang dia mau." Petugas itu mengangguk panik lalu berlari kecil ke belakang. Sandra menunduk, napasnya masih gemetar. “Pilih yang kamu suka," ujarnya. “Akad sederhana bukan berarti murahan.”Sejak pertemuannya dengan Elena di ballroom Hotel Grand Mahardika itu, sesuatu berubah dalam kehidupan Dewantara. Hampir setiap hari ia mengirim kurir untuk datang ke rumah keluarga Wiryawan. Kadang sebuah buket bunga mawar putih yang mahal, kadang kotak perhiasan, atau tas dan pakaian edisi terbatas yang bahkan belum dirilis di Indonesia. Sesekali, ia juga mengirimkan makanan dari restoran bintang lima. "Dari Dewantara lagi, Ma?" Elena melirik ibunya dengan tatapan mata malas. Berbeda dengan Elena, Desi justru sangat senang, anaknya mendapatkan perhatian Dewantara. "Lihat ini!" Suaranya begitu keras. Seperti ingin menunjukkan pada semua orang. Termasuk Sandra yang baru melangkahkan kakinya masuk. Gadis itu hanya tersenyum kecil lalu melanjutkan langkahnya ke kamar. Ia tak pernah tertarik dengan urusan seperti itu. "Hadiah khusus untukmu, dari Dewantara Jayadi Rukmana!" Mata Desi berkilat bangga menatap kartu-kartu kecil yang selalu bertuliskan nama yang sama."Aneh. Aku gak
Lampu-lampu kristal menggantung megah di langit-langit ballroom Hotel Grand Mahardika, salah satu hotel paling bergengsi di Jakarta. Malam itu, hotel penuh dengan para tamu penting yang sebagian adalah pengusaha, pejabat, serta keluarga-keluarga yang dianggap terpandang. Sebuah acara tahunan yang biasa diadakan keluarga Rukmana, ayah kandung dari Helen Rukmana. Bersama Bagaskara suaminya. Helen menyalami tamu. undangan yang mulai berdatangan untuk mengucapkan selamat atas perayaan ulang tahun ke-40 perusahaan besar keluarga. "Kau lihat kan, Elena. Di sini banyak pengusaha muda yang datang. Mereka semuanya orang kaya, Sayang!" Desi terus saja berbisik lirih di telinga Elena, sejak mereka turun dari mobil. "Ayolah, Ma. Sekarang gak jaman perjodohan!" Elena memutar bola matanya. Baginya tak ada laki-lski lain kecuali satu pria, sayangnya ia bukan penguasaha. Itu sebabnya, sang ibu menolak mentah-mentah hubungan mereka. "Jangan pernah mendekati laki-lami miskin, Elena. Atau kau akan m
Malam semakin datang ketika mobil hitam milik Dewantara berhenti di depan villa. Seketika, wajahnya berubah. Tak lagi dan menyimpan kemarahan tapi hangat dan penuh kerinduan. Ia bergerak turun, sambil seekali mengangkat wajahnya menatap langit. Menikmati angin malam yang bergesek lewat dedaunan. Dewantara melangkah pasti, melewati jalan setapak yang menuju pintu utama. Ia berjalan dengan tenang, meski tubuhnya masih terasa sedikit lemah setelah seharian menahan pusing dan mual di kantor. Namun begitu mengingat siapa yang ada di dalam villa itu, rasa lelahnya seperti menguap begitu saja. Sandra. Hanya satu nama itu yang mampu membuat hatinya kembali tenang. Ia membuka pintu villa dengan pelan agar tidak menimbulkan suara. Rumah itu sunyi. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar samar dari ruang tengah. Langkah Dewantara terarah menuju kamar. Saat pintu kamar terbuka, pandangannya langsung tertuju pada sosok yang terbaring di atas tempat tidur. Tampak Sandra yang ter
Akhirnya hari yang dirunggu Elena dan Desi tiba. Kini, Dewantara membawa Elena menuju pondok indah, di rumah orang tuanya. Masih sore saat mobil Dewantara akhirnya berhenti di halaman rumah besar keluarganya. Elena tersenyum dalam hati. Harapannya untuk menjadi nyonya besar, tinggal selangkah lagi. Tak henti ia mendecak kagum saat melihat rumah megah itu semakin dekat. Halamannya luas dengan lampu taman yang menyala temaram. Belum lagi plar-pilar tinggi menopang teras depan, sementara jendela-jendela besarnya memantulkan cahaya hangat dari dalam. Elena menatapnya beberapa detik sebelum membuka pintu mobil dan mengikuti langkah Dewantara yang turun membawa koper pakaian Elena. Ia memang pernah datang ke rumah ini sebelumnya, saat ayahnya membawanya dalam acara kekuarga, tapi itu dulu, sebagai tamu. Dan kini, ia datang kembali sebagai menantu. Sebagai penghuni dan sebagai istri dari Dewantara. "Selamat datang, Sayang!" Helen menyambut mereka di ruang tamu tapi Dewantara berjalan
Sorenya saat Elena mulai merencanakan sesuatu untuk membuat perutnya berangsur membesar seperti hamil, Desi masuk tanpa mengetuk pintu. "Ma..." Elena menutup ponselnya. "Kau dari mana Elena? Rendra bilang, kau keluar tanpa mau diantar!" "Oh, aku menemui Sandra, Ma.!" Desi menautkan kedua alisnya. "Kenapa kau menemuinya? Berapa kali Mama bilang, berhenti memperlakukannya seperti saudaramu sendiri. Dia bukan saudaramu, Elena!" Desi mendengus lalu duduk tepat di sisi Elena. "Aku hanya mengabari tentang kehamilanku, Ma!" Elena tak punya cara, selain menutupi kebohongan dengan kebohongan lainnya. Dan kali ini, Desi tak menjawab. Ia selalu mendukung jika Elena melakukan sesuatu yang Sandra tak bisa. "Bagus. Biar dia tahu kalau kalian berbeda!" Elena menghembuskan nafasnya perlahan. Aman, batinnya lega. "Sore ini, Mama akan mengadakan syukuran keluarga. Termasuk mengundang mertuamu. Kita akan rayakan kehamilanmu!" Desi begitu semangat menyampaikan rencananya. Elena
Pagi itu, Elena terbangun seperti biasa. Tapi baru saja ia membuka mata, pintu kamar sudah terbuka perlahan. "Permisi?" Desi masuk dengan langkah hati-hati, membawa nampan besar dengan wajah penuh senyum. “Jangan bangun dulu, Sayang” tegurnya lembut, berbeda dari biasanya. “Ini kehamilan pertamamu. Mama tidak mau kau kelelahan.” Elena mengerjap pelan. Perhatian itu terasa berlebihan… namun setidaknya tetap saja menguntungkan baginya. Meskipun sebenarnya ia sudah terbiasa dengan perhatian itu sejak kecil. Di atas nampan, terhidang steak sapi hangat dengan saus lada hitam, kentang tumbuk, dan segelas jus jeruk segar. “Kau harus makan yang bergizi, Elena. Protein penting untuk pembentukan janin,” ujar Desi sambil membantu Elena duduk bersandar. Elena menurut. Ia meletakkan nampan di atas pangkuannya, lalu memotong kecil steak itu, dan memasukkannya ke mulut perlahan. Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Dewantara keluar dengan rambut masih basah, menyeka wajahnya d







