로그인Malam turun perlahan di atas villa itu.Lampu-lampu taman menyala satu per satu, memantulkan cahaya hangat di antara pepohonan yang berdiri rapi di sepanjang jalan setapak. Dari luar, tempat itu tampak tenang. Nyaris seperti tidak menyimpan apa pun selain ketenangan.Namun di dalamnya—Dewantara berdiri di depan jendela ruang kerja kecil yang berada di lantai dua.Tatapannya tajam menembus gelap.Tangannya terlipat di dada.Diam.Namun pikirannya tidak.Sejak kejadian beberapa hari terakhir, ada satu hal yang tidak bisa ia abaikan.Pergerakan.Orang-orang yang mulai terlalu dekat.Dan… ancaman yang tidak terlihat.Ia bukan pria yang mudah panik. Justru sebaliknya. Ia terbiasa membaca situasi sebelum semuanya benar-benar terjadi.Dan instingnya—Tidak pernah salah.Langkah kaki terdengar dari belakang.Pelan.Terukur.Tanpa perlu menoleh, Dewantara sudah tahu siapa itu.“Malam, Mas.”Suara itu tenang.Maya.Dewantara tetap menatap ke luar.“Bagaimana laporan hari ini?” tanyanya singkat
Malam di villa terasa lebih sunyi dari biasanya.Angin berembus pelan, menyusup melalui celah jendela yang sedikit terbuka. Tirai putih bergerak lembut, menciptakan bayangan samar di dinding kamar.Sandra duduk di tepi ranjang.Tangannya masih menggenggam selembar kain batik.Motif itu tidak asing.Tidak mungkin salah.Setiap garis… setiap lengkung… bahkan tekanan cantingnya—semuanya terlalu ia kenal.“Ibu…” bisiknya lirih.Suara itu hampir tidak terdengar.Namun cukup untuk mengguncang sesuatu yang selama ini ia kubur dalam-dalam.Ia tidak pernah menyangka.Bahwa masa lalu… akan datang dengan cara seperti ini.Perlahan, Sandra membuka lipatan kecil di dalam kain itu.Sebuah kertas terselip di sana.Tangannya sedikit gemetar saat membukanya.Tulisan tangan itu—Ia kenal.Sangat kenal.*Kalau kamu membaca ini… berarti waktunya sudah dekat.*Napas Sandra tertahan.Matanya bergerak cepat membaca setiap kata.*Jangan percaya siapa pun.**Bahkan orang yang kamu lindungi.*Deg.Jantungnya b
Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya.Di villa, angin berembus pelan melewati celah jendela. Tirai tipis bergerak lembut, seolah ikut merasakan kegelisahan yang tak terlihat.Sandra berdiri di depan meja.Tatapannya tertuju pada kain batik yang masih terbentang rapi.Motif itu…tidak berubah.Tetap sama seperti yang ia ingat.Tangannya perlahan menyentuh permukaan kain itu. Ujung jarinya mengikuti setiap guratan yang halus—lengkung yang tenang, tapi di beberapa bagian menyimpan ketegangan.Seperti… perasaan seseorang.“Ibu…” bisiknya lirih.Sudah lama.Sangat lama.Sejak ia memutuskan pergi.Sejak semuanya berubah.Ia pikir… masa lalu itu sudah selesai.Namun kini—masa lalu itu justru datang sendiri.Mencarinya.---“Masih belum tidur?”Suara itu membuat Sandra tersentak pelan.Ia menoleh.Dewantara berdiri di ambang pintu.Wajahnya terlihat lelah, tapi matanya langsung menangkap ekspresi Sandra.“Kamu kenapa?” tanyanya.Sandra tidak langsung menjawab.Ia hanya menatap Dewantar
Ruang ICU itu terasa dingin.Bukan hanya karena suhu ruangan yang dijaga stabil, tetapi juga karena suasana yang menekan. Bunyi **monitor jantung** berdetak teratur—*beep… beep… beep…*—menjadi satu-satunya suara yang mengisi keheningan.Desi berdiri di samping ranjang.Matanya tidak lepas dari tubuh Rendra yang terbaring kaku.Wajah pria itu pucat. Kepalanya dibalut perban tebal. Selang oksigen terpasang di hidungnya, membantu pernapasannya yang lemah. Infus menetes perlahan dari tangan kanannya, sementara kabel-kabel kecil menempel di dada, terhubung dengan monitor yang terus menunjukkan grafik detak jantungnya.“Rendra…” suara Desi bergetar.Untuk pertama kalinya—perempuan itu terlihat rapuh.Tangannya perlahan menyentuh punggung tangan Rendra.“Bangun…” bisiknya lirih. “Kamu gak boleh seperti ini…”Air matanya jatuh.Tanpa ia sadari.Beberapa langkah di belakangnya—Elena berdiri diam.Menatap semuanya.Wajahnya datar.Namun matanya…tidak.Ada sesuatu yang bergejolak di dalam dir
Pagi itu seharusnya berjalan seperti biasa.Rendra mengemudikan mobil dengan tenang, sesekali melirik ke kaca spion. Di kursi belakang, Desi duduk sambil memeriksa ponselnya. Wajahnya masih menyimpan sisa ketegangan sejak semalam, tapi ia berusaha terlihat seperti tidak terjadi apa-apa.“Langsung ke kantor saja, Ren,” katanya singkat.“Iya,” jawab Rendra tanpa banyak bicara.Mobil melaju membelah jalanan kota yang mulai ramai. Suara klakson bersahutan, orang-orang bergegas memulai aktivitas mereka.Tak ada yang aneh.Setidaknya sampai mobil itu berbelok di sebuah tikungan.Semuanya terjadi begitu cepat.Sebuah truk dari arah berlawanan melaju terlalu kencang. Rendra refleks memutar setir. Ban berdecit. Mobil kehilangan keseimbangan.BRAKK!Benturan keras mengguncang segalanya.Tubuh Rendra terpental ke depan, kepalanya menghantam bagian setir. Kaca depan pecah. Suara logam beradu memekakkan telinga.Desi menjerit.Segalanya menjadi kacau.---Beberapa jam kemudian—Lorong rumah sakit
Desi masih berdiri di dalam ruangan kecil itu setelah panggilan tadi terputus. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya tajam. Ia menatap layar ponselnya beberapa detik, lalu kembali menekan satu nomor lain.Kali ini, ia tidak perlu menunggu lama.“Ya?” suara di seberang langsung menjawab.Desi menyandarkan tubuhnya ke meja. “Semua sudah siap?”Terdengar tawa kecil. “Sejak kapan kamu meragukan aku?”Desi mendengus pelan. “Aku tidak suka menunggu, Rendra.”Nama itu akhirnya disebut.Di seberang sana, Rendra terkekeh rendah. “Tenang saja. Aku sudah cari tahu semua yang kamu minta.”Desi langsung menegakkan tubuhnya. “Dan?”“Apa yang kamu lihat tadi… perempuan yang bersama Dewantara itu…” Rendra berhenti sejenak, seolah sengaja menggantung.Desi menyipitkan mata. “Cepat katakan.”“Itu bukan siapa-siapa.”Desi terdiam.“Apa maksudmu?”“Hanya pekerja biasa,” lanjut Rendra santai. “Namanya Maya. Dia cuma orang yang dipakai Dewantara untuk urusan tertentu.”Desi mengernyit. “Lalu…?”Suara Rendra
hampir jam dua belas malam dan mobil Elena berhenti tepat di depan butik Sandra. Elena tersenyum. Lampu butik menyala. Dan yang membuat dada Elena sedikit lega adalah mobil Sandra yang masih terparkir rapi di halaman. Elena turun dengan langkah cepat lalu mengetuk pintu kaca butik satu kali. Tak
“Itu… itu…!” Sandra refleks melangkah ke depan, menghadang Elena yang terus berjalan ke depan. Tangan Sandra terulur meraih lengan kakaknya cepat, berharap ia bisa menghentikan langkah Elena yang sudah telanjur maju. “Kak, jangan ke situ,” ucap Sandra dengan suara tegang. Ia tak bisa mengambil
Menunggu bukanlah pekara mudah bagi Sandra. Itu artinya, ia akan tetap menjalankan perannya sebagai istri secara penuh bagi Dewantara tapi juga harus menjalani pemeriksaan untuk program bayi tabung yang direncanakan Elena. "Mbak..." Sandra mengangkat kepalanya yang masih berdenyut sakit. Sejak
Sandra bersiap ke rumah sakit setelah Elena menelponnya pagi-pagi. Jadwal pemeriksaan. Hal yang kadang membuat Sandra berdebar. Sesuai dengan arahan, ia segera datang menemui Bastian. Setelah memastikan serangkaian dokumen, Bastian meminta beberapa tenaga kesehatan untuk menyiapkan yang dibutuhkan







