Home / Romansa / Istri Rahasia untuk Kakak Ipar / 15. Kurang Sedikit Lagi

Share

15. Kurang Sedikit Lagi

Author: Banyu Biru
last update Last Updated: 2026-01-31 20:51:06
hampir jam dua belas malam dan mobil Elena berhenti tepat di depan butik Sandra.

Elena tersenyum. Lampu butik menyala. Dan yang membuat dada Elena sedikit lega adalah mobil Sandra yang masih terparkir rapi di halaman.

Elena turun dengan langkah cepat lalu mengetuk pintu kaca butik satu kali. Tak ada jawaban. Ia mengetuk lagi. Kali ini lebih keras.

“Sandra?”

Tak sabar, Elena menekan bel di samping pintu. Tak hanya sekali hingga suaranya memecah kesunyian malam.

Hingga beberapa detik ber
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Istri Rahasia untuk Kakak Ipar   27. Ada yang Salah

    "Kau bisa langsung ke kantor setelah menurunkan aku!" Ucap Elena tanpa menoleh. Matanya menatap jalanan lewat kaca jendela di sampingnya. Setelah malam tadi, ia mulai enggan untuk mendekati Dewantara. Dewantara menoleh sekilas. “Sejauh apa prosesnya? Sandra bilang baru pemeriksaan awal.” Tanya Dewantara tanpa merasa bersalah. Elena mengatur nafasnya perlahan lalu mulai menjelaskan tahapan yang akan dilalui Sandra. Mulai dari terapi hormon, pengambilan sel telur, pembuahan, hingga penanaman embrio. Meskipun awalnya ia tak ingin membicarakannya tapi bagaimanapun dewantara berhak untuk tahu. “Sandra bisa mulai minggu ini,” tutup Elena lirih. Dewantara hanya mengangguk. Mobil berhenti di depan rumah sakit. Elena turun tanpa curiga sedikit pun dan setelah membawa mobilnya agak jauh di tepi jalan, Dewantara meraih ponselnya di saku. Semalaman ia tak bisa tidur meskipun memejamkan matanya rapat-rapatm Rindunya pada sandra membuatnya hampir saja meninggalkan Elena semalam.

  • Istri Rahasia untuk Kakak Ipar   26. Dua Garis

    "Siang!" Anita yang sedang merapikan stok kain mendadak menoleh ketika pintu kaca terbuka dan seorang pria tinggi masuk sambil membawa beberapa paper bag eksklusif berlogo restoran mahal."Ya?" Anita terkejut. Butiknya biasa ramai dengan kaum hawa, kalaupun ada laki-laki, karena mereka menemani pasangannya. Tapi kali ini, laki-laki tampan ini datang sendiri. Dengan senyum yang menawan. "Ehem!" Ardi mendehem lalu kembali tersenyum ramah. “Mbak Sandra ada?” “ Eh.. ada, Mas. Di ruangannya. Mari aku antar!" Anita segera sadar lalu mempersilakan Ardi untuk mengikutinya. Mata Anita tertuju pada paper bag bawaan Ardi yang lumayan banyak. Tapi sepertinya, itu bukan kain. Sekilas, paper bag itu bertuliskan nama restoran steak premium. "Aku Ardi. Asisten Mas Dewantara!" Sambil berjalan mengikuti langkah Anita, Ardi mengenalkan diri. Anita mengangguk paham. Pantas saja gaya Ardi begitu mempesona, ternyata bosnya adalah Dewantara. Anita sedikit tersenyum manis. "Aku Anita!" Jawab Anit

  • Istri Rahasia untuk Kakak Ipar   25. Sakit Hati

    "Akhirnya. Kau pulang juga, Dewa!" Elena meletakkan handuk bekas pembungkus rambutnya begitu saja di kursi rias saat melihat Dewantara tiba-tiba masuk. Dewantara tak menjawab. Ia hanya melempar jas ke atas ranjang lalu duduk dengan santai. "Memangnya salah, aku pulang ke rumah?" Dewantara menjawab sambil melepas kancing lengan kemejanya. "Sudah sebulan ini kamu mengabaikan aku, Dewa!" Elena menggigit bibirnya getir. Sekuat apapun seorang istri, ia akan tetap rapuh saat suaminya mengabaikannya. "Aku sibuk. Kantor sedang buka cabang baru. Aku harus benar-benar menyiapkan semuanya sebelum pembukaan" Elena tersenyum miring. Jawaban itu terdengar janggal di telinganya. Ia bisa memaklumi jika usia pernikahan mereka telah berjalan belasan tahun. "Kita baru saja menikah, Dewa. Baru satu bulan!" Elena menatap tajam sang suami yang sepertinya tak merasa bersalah dengan sikapnya. "Lalu?" Dewantara mendongak. Menatap Elena yang masih berdiri di depannya. "Dewa. Apa yang salah de

  • Istri Rahasia untuk Kakak Ipar   24. Bikin Gemas

    "Kirain Anita. Soalnya tadi baru aja keluar, Kak!" Elena mengangguk lalu masuk dan menutup pintu. Tapi tak lama, Anita memang muncul. Kepalanya menyembul di balik pintu. "Mbak Sandra...." "Nah, kan. Apa kubilang. Pastikan dulu dengan benar jadi kamu gak keluar masuk!" Sandra segera bersuara. Anita yang tak paham dengan maksud Sandra hanya mengangguk pelan. Apa lagi saat melihat Elena yang juga menatapnya. Seketika ia merasa perlu untuk ikut bersandiwara. "Em... baik, Mbak. Nanti aja aku masuk lagi!"' Sandra membuang nafas perlahan saat Anita kembali menutup pintu. "Ada kabar baik!" Elena segera mengawali pembicaraan begitu duduk di sofa. "Kabar apa, Kak?" Sandra segera mendekat lalu duduk tepat di depan Elena. "Jauh banget duduknya. Di sini aja, Sandra, dekat aku!" ujar Elena sambil menepuk sebelahnya. "Aku lembur dari pagi, Kak. Berkeringat. Gak enak kalau duduk deket-deket Kakak!" Sandra meringis sambil menyelipkan anak rambut ke belakang telinganya. "Kabar apa,

  • Istri Rahasia untuk Kakak Ipar   23. Nyaris Saja

    Elena menelan ludah saat sosok itu benar-benar mendekat. Helen, sang mertua, menarik kursi di hadapannya lalu duduk tanpa banyak bertanya Dengan tatapan yang berbeda dari biasanya. Bukan dingin, tapi ingin tahu. “Ma...” Elena tersenyum canggung. “Kok di sini?” tanyanya basa-basi. Helen menyandarkan punggungnya, menautkan kedua tangan di atas meja. “Aku dengar sesuatu yang menarik barusan." Jantung Elena berdegup terlalu keras sampai-sampai telinganya bisa merasakannya. “Kalian membahas bayi tabung,” lanjut Helen datar. "Bayi tabung apa? Buat siapa? Jangan bilang kalau bayi tabung itu...." kata-kata Helen menggantung. Ia ingin Elena yang memberi penjelasan. Sementara itu, Elena merasakan tenggorokannya mengering. Tapi seperti biasa, ia terlalu terlatih untuk menghadapi kondisi panik. Dalam hitungan detik, senyum kembali terukir di wajahnya, sangat meyakinkan. “Oh itu,” Elena tertawa kecil, terdengar santai. “Bukan aku, Ma. Temanku tadi cerita. Kalau dia biasa menangani

  • Istri Rahasia untuk Kakak Ipar   22. Retak yang Dipilih

    Sandra menarik kursi di depan sofa. “Silakan duduk.... Tante,” ucapnya ragu. Desi tak menjawab. Ia tetap berdiri, menatap ruangan itu dengan sorot mata tajam, menyapu sofa, meja, pintu kamar mandi, bahkan jendela yang sedikit terbuka. Sambil terus berjalan hingga berhenti di sudut jendela. Menatap jalanan dengan sedikit menahan nafas. “Kau pikir aku mau datang ke sini tanpa alasan?” Desi akhirnya bersuara. Tetap dingin dan menusuk. Sandra menelan ludah. Ia tahu, setiap kali bertemu dengan Desi, tak akan ada satu pun kata yang akan berujung baik. "Kau tahu, jika aku tak pernah menyukaimu?" Sandra menahan bafas. “Dan aku ..tak pernah suka perempuan yang mencoba merebut laki-laki lain,” lanjut Desi, menatap Sandra tanpa berkedip. Sandra terdiam. Dadanya naik turun. Ia ingin membela diri, namun rasa bersalah menahan lidahnya. Apa pun yang ia katakan tak akan mengubah fakta apapun. Dan Desi tak pernah mau mengerti. Desi tersenyum tipis, senyum yang tak mengandung kehangat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status