Share

Istri Sewaan Satu Tahun
Istri Sewaan Satu Tahun
Author: Dee Adiati

Bab 1

" Selamat Aruhi,aku tidak menyangka kau akan menikah secepat ini."

" Benar,kau juga menikah dengan lelaki kaya dari Amerika. Betapa beruntungnya dirimu Aruhi."

" Katakan selamat tinggal pada kemiskinan."

" Kau tidak boleh berbicara seperti itu.Aruhi menikahi lelaki kaya itu adalah berkat dari Tuhan tetapi kau tidak boleh melupakan dimana dirimu tinggal. Seperti kata pepatah, dimana kaki berpijak, disitu langit di junjung."

" Kau lihat betapa mewahnya pernikahan Aruhi ini."

Suara-suara itu adalah orang-orang kampung Aruhi yang turut menghadiri pernikahan Aruhi. Tentu saja bagi orang yang baru melihat pesta mewah dan megah akan bereaksi norak seperti mereka. Mirna, ibu Aruhi yang sudah diusia senjanya hanya bis tersenyum dan memberikan berkat pada sang putri. Tentu sebagai seorang ibu, ia begitu bahagia karena putrinya dinikahi oleh lelaki kaya raya.

Disaat semuanya bergembira karena pernikahannya, berbeda dengan Aruhi yang tertekan dengan suara-suara dari mereka semua, seakan itu adalah beban bagi dirinya. Siapapun tidak ada yang tahu bagaimana awalnya pernikahan ini bisa terjadi. Orang-orang hanya mengetahui betapa beruntungnya ia karena mendapatkan lelaki konglomerat, atau bagaimana mereka bertemu layaknya kisah putri dan pengeran dalam dongeng.

Aruhi melihat ibunya yang tengah tersenyum bahagia dikala para tetangganya memuji-muji ibunya, setelah selama ini mereka hidup dalam kesengsaraan tetapi karena pernikahan ini, kehidupan mereka sedikit terangkat tanpa harus memikirkan bagaimana caranya membayar hutang.

" Aku harus menelan pil pahit demi kebahagian mereka. Tidak apa-apa Aruhi. Hanya setahun dan semuanya akan berakhir. Waktu berjalan dengan begitu cepat, kau tidak akan merasakannya."

" Aruhi." Sapuan hangat di bahunya menyadarkannya dalam lamunannya yang kian membawanya pergi dalam sesaknya kamar pengantinnya. Aruhi mendongkak dan melihat ibunya yang tersenyum kepadanya.

" Sebaiknya kita keluar." Suara Mirna kembali terdengar, kerabat-kerabat Aruhi mulai mengosongkan kamar hotel yang menjadi tempatnya berada saat ini.

" Aruhi benar-benar beruntung mendapatkan lelaki yang kaya dan tampan.Aku pikir hidup Aruhi seperti Cinderella." Aruhi membalikan tubuhnya dan langsung bangkit ketika melihat sosok lelaki yang menjulang tinggi didepan pintu. Lelaki dengan jas hitam yang melekat indah di tubuhnya. Pahatan wajah yang menarik menunjukan kharisma seorang lelaki berkelas. Tatapan yang tajam seperti serigala yang mengintai mangsanya, hidung mancung serta bibir yang terkatup itu membuat tanda tanya pada Aruhi, mereka calon suaminya datang menemuinya sebelum pernikahan mereka di mulai.

Langkah kaki yang kian mendekat kearahnya meninggalkan jejak yang dingin dalam ruangan bernuansa hangat itu. Sebagai seseorang yang tidak tahu menahu tentang kehidupan lelaki tersebut, Rajeandra telah membuat dirinya begitu gugup dala setiap gerak geriknya.

" Tuan...Tuan..anda" Aruhi selalu terbata-bata berbicara dengan Rajeandra. Entah mengapa, ia tidak menemukan rasa damai jika berhadapan dengan calon suaminya. Apakah Rajeandra yang selalu mengintimidasinya atau dirinya yang takut tanpa alasan yang jelas. Namun, Aruhi telah memiliki batasan yang dirinya sadari bahwa dirinya tidak bisa melangkah disamping Rajeandra. Sebab lelaki itu telah mengumumkannya sejak awal.

Rajeandra tidak mengerti bahkan dirinya bertanya-tanya, apakah dirinya begitu aneh?

Rajeandra tidak pernah mengubah pandangannya akan sosok wanita didepannya. Sejak pertama kali ia bertemu dengan wanita itu. Sampai ia berfikir bahwa wanita yang telah pilih oleh ayahnya tidak begitu menarik untuknya. Bagaimanapun pilihan orang tua itu memang sangat kuno.

Wajah yang biasa, tetapi mata wanita itu cukup indah dengan manik hazel yang ia miliki serta bulu mata yang lentik hingga ketika ia menatap sesuatu, itu akan berbinar terang. Mungkin hanya itu yang menarik dari wajah kecilnya dan kulitnya yang tidak begitu putih.

Gerakannya yang pemalu khas wanita kampung yang masih polos dan tampilannya yang begitu sederhana, apakah bisa bersanding dengannya?

Tidak mungkin, sebab banyak wanita yang ia kenal, dan Aruhi adalah yang terburuk dengan penampilan yang rapuh seperti seekor burung kecil yang meminta pertolongan.

Diam sejenak, Aruhi tengah menunggu lelaki itu untuk berbicara sehingga ia datang menemuinya tetapi apa yang dilakukan lelaki itu dengan menatapnya secara intimidasi membuat Aruhi malu sendiri.

" Apa...apa ada hal yang harus aku lakukan tuan?" Aruhi berbicara serta menunduk, ia tidak berani menatap mata yang telah mempermalukannya itu.

" Sangat tidak sopan jika berbicara tanpa melihat lawan bicaramu." Aruhi langsung menodongkan dengan tubuh yang tegang seiring dengan langkah lelaki itu.

Rajeandra memberikan kertas kepada dirinya yang sempat membuat Aruhi bertanya-tanya, tetapi seiring itu pula ia menggerakan tangannya untuk mengambil kertas tersebut. Aruhi menatap Rajeandra sejenak lalu melihat kertas tersebut.

Divorce atau surat perceraian

Ketika itu pula Aruhi merasakan dadanya yang sakit, hampir saja ia tidak merasakan kakinya yang menampak. Meski sangat jelas tujuan dari pernikahan ini tetapi melihat surat perceraian dihari pernikahannya sendiri adalah hal yang begitu mengejutkan.

" Aku tidak ingin ada masalah dikemudian hari, maka sebaiknya selesaikan perjanjian ini dengan cepat." Ujar Rajeandra.

Tubuh Aruhi gemetar, matanya berkaca-kaca yang dia tahan agar tidak jatuh air matanya. Alunan musik masih menggema indah, dekorasi pesta yang masih begitu baru lalu baju pengantin yang belum terbuka semuanya tidak berarti setelah disadarkan oleh satu lembar surat perceraian mereka.

Rajeandra masih mengawasi Aruhi, ia kemudian memberikan sebuah pena di depan wajah Aruhi dengan gerakan yang harus menunjuk kertas tersebut agar Aruhi menandatanganinya dengan cepat. Tahu, Aruhi bergerak melangkah ke arah meja rias dan mulai menggerakan tangannya menggores kertas putih tersebut dengan bubuhan tanda-tangannya.

Aruhi kemudian memberikannya kepada Rajeandra.

Tok

Tok

Keduanya berbalik, disana ada Hanin, adiknya.

" kalian telah di tunggu oleh semua orang untuk pemberkatan." Rajendra melihat Aruhi, ia kemudian mengulurkan tangannya kepada wanita tersebut. Gerakan Aruhi begitu lambat sehingga Rajeandra menarik tangan Aruhi dengan cepat dan ia genggam. Aruhi tersentak, ia menatap tangan yang begitu hangat mengenggamnya.

Kehangatan itu tidak akan bertahan lama dan kemudian akan hilang seperti musim dingin yang pergi menyisakan kehampaan yang kosong. Setelah musim dingin pergi, maka tidak ada kehidupan setelahnya. Dan Aruhi menyebutkan bahwa Rajeandra adalah musim dingin baginya, ia akan pergi cepat atau lambat.

Aruhi kemudian menutup kepala dan wajahnya dengan selendang berenda berwarna putih, setetes air mata jatuh ke pipinya seiring ia berjalan menghadapi altar pernikahannya.

Tidak ada yang menginginkan hodupnya seperti ini, tetapi ia terpaksa melakukannya, Begitupun dengan Rajeandra.

******

Pesta belum berakhir tetapi Aruhi telah ditinggalkan oleh Rajeandra sendirian ditengah orang-orang yang begitu berbeda dengan dirinya. Seperti orang bingung, ia hanya berdiri dan tersenyum saat orang-orang yang tidak ia kenali menyapa dirinya. Sanak saudaranya juga tengah sibuk dengan pesta seakan apa yang mereka lihat masih menjadi hal yang begitu indah.

" Menantu!" Aruhi langsung memberikan hormat dengan menundukan kepalanya menyapa ayah mertuanya dan ibu mertuanya.

" Tuan."

Wajah keriputnya bergerak membentuk senyuman dan membelai kepala Aruhi dengan lembut bak sosok ayah.

" Sekarang kau adalah menantuku, bukan karyawanku. Terbiasalah memanggilku dengan sebutan ayah." Aruhi tersenyum canggung, ia mengetahui bahwa ibu mertuanya itu tidak menyukainya, nampak jelas dari wajahnya yang kusut dan tidak begitu bahagia ketika melihatnya.

Sebelumnya Aruhi adalah cleaning service di perusahaan ayah mertuanya. Dirinya juga tidak menyangka bahwa akan ada sebuah tawaran tak terduga kepadanya, meski akhirnya berjalan dengan tidak menyenangkan.

" Maaf Tu..ayah." Manov tersenyum saat Aruhi mencium tangannya.

" Nyonya." Wajah Areta sang istri tetap tidak senang, begitu Aruhi menyentuh tangannya ia langsung menariknya dan kemudian menggosoknya pada bajunya sekaan Aruhi adalah virus yang akan membuatnya terjengkit penyakit.

Aruhi menegakkan tubuhnya dan tersenyum canggung, ia malu dan melihat sekitarnya.

" Dimana suamimu?" Tanya ayah mertuanya.

" Aku,aku akan mencarinya. Permisi."

" Temukan suamimu secepatnya."

Wajah Manov langsung mengerat ketika melihat sang istri. Sejak dirinya mengusulkan pernikahan untuk Rajeandra kepada istrinya, Areta tidak setuju dengan keputusannya begitupun dengan Rajeandra tetapi keputusan kepala keluarga, adalah yang akan di patuhi oleh mereka semua.

" Cobalah menerima Aruhi sebagai menantumu, Rania."

" Aku tidak akan menerima wanita dengan asal usul yang tidak jelas seperti dirinya."

" Tidak jelas bagaimana? Padahal kau sudah melihat bahwa Aruhi memiliki keluarga disini."

" Apa Upik Abu Sepertinya cocok dengan Rajeandra?.Kau memutuskan takdir Anak kita semau mu, tanpa ingin mendengarkan bahwa Rajeandra tidak suka dengan keputusanmu." Rania meninggalkan sang suami dan berbaur dengan hati yang masih panas bersama teman-teman sosialitanya.

" Aruhi adalah orang yang cocok untuk Rajeandra." Gumam Manov

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status