Share

Wanita yang Berbeda

Author: LeneRina
last update Last Updated: 2024-04-22 02:17:26

"Maaf sudah mengganggu waktu sibuk kamu," ucap Aaron begitu duduk bersama dengan Dona di sebuah kafe yang berada tidak jauh dari lokasi syuting Dona.

"Bisa kita langsung ke inti pembicaraan? Tidak perlu berbasa basi."

Aaron tersenyum geli bercampur kagum mendengar respon ketus Dona. Senyum tipis bercampur tatapan tajam merupakan kombinasi yang begitu mempesona di wajah cantik Dona bagi Aaron.

"Baiklah." Aaron menganggukkan kepalanya. "Saya menerima balasan penawaran kerjasama dari manajer kamu pagi ini, isinya menyatakan bahwa kamu menolak kerjasama itu. Boleh saya tahu alasan kenapa kamu menolaknya?"

"Aku sedang terikat banyak kontrak kerja saat ini. Mungkin lain kali. Itupun kemungkinannya sangat kecil mengingat banyak mitra bisnis yang berlomba-lomba ingin bekerja sama dengan saya."

Gotcha!

Kesan sombong dan angkuh. Seharusnya Aaron tersinggung dan muak dengan respon dan kesan arogan yang terang-terangan ditunjukkan oleh Dona. Tapi kenyataannya, Aaron malah semakin tertarik dengan wanita cantik yang kini menatapnya dengan malas.

Aaron menatap Dona lekat sembari sendikit tersenyum tipis. Dona langsung bisa menjawab pertanyaannya. Itu artina dia telah tahu siapa Aaron.

"Tapi aku cukup terkesan melihat kerja keras dan keseriusan anda, seorang pemimpin sebuah perusahaan multimedia terbesar datang langsung untuk menemui talent yang akan bekerja sama dengan anda. Namun sayang, totalitas yang anda tunjukan belum bisa aku balas dengan sebuah persetujuan."

"Baiklah. Saya menghormati keputusan kamu untuk menolak penawaran kerjasama dengan saya. Tapi saya ingin mengingatkan satu hal yang menjadi prinsip perusahaan saya, yaitu tidak akan menjalin kerjasama dengan siapapun yang pernah menolak kerjasama yang telah kami tawarkan, kecuali karena satu hal..."

"Tunggu, anda sedang mengancamku?" Dona menatap tajam Aaron.

"Bukan ancaman, ini prinsip, Dona."

Dona terkekeh mendengar dalih yang dikemukakan oleh Aaron.

"Klasik! Cara berbisnis orang yang merasa berkuasa memang selalu begitu. Tapi cara begitu tak akan berpengaruh apa-apa bagi saya. Saya tidak akan berbisnis hanya karena materi. Saya bekerja karena saya mau. Ini bukan ancaman, ini prinsip."

Aaron kembali mengulum tersenyum mendengar ucapan Dona yang terus berusaha mematahkan ucapannya.

"Baiklah. Saya akan tetap menghargai keputusan kamu. Sekali lagi saya mohon maaf telah mengganggu waktu sibuk kamu."

"Biasanya saya tidak akan menanggapi siapapun secara privat seperti ini, terlebih di sela-sela waktu berharga saya. Tapi tak apa, setidaknya mulai sekarang anda sudah tahu bagaimana bersikap bijaksana pada orang lain."

Dona meminum jus jeruknya sekilas kemudian berdiri dari tempat duduknya dan berjalan pergi meninggalkan Aaron sendiri di kafe itu.

Aaron tersenyum menatap punggung Dona yang perlahan menghilang di balik pintu kafe.

"Dia sangat menarik. Bukan, dia tidak hanya sekedar menarik. Dia wanita paling keras kepala dan angkuh yang pernah aku temui seumur hidupku. Dia telah tahu siapa aku tapi hal itu sama sekali tidak mengubah sikapnya terhadapku seperti saat pertama kali kami tanpa sengaja bertemu."

Sementara Dona terus berjalan menuju ke lokasi syutingnya. Dia yakin saat ini Doni dan Gina pasti sedang menunggunya dengan seribu pertanyaan di dalam kepala mereka.

Begitu langkah kaki Dona mencapai bibir pintu ruangan istirahat di lokasi syutingnya, dua pasang netra langsung tertuju padanya dan bergegas berdiri dari tempat duduknya.

"Dona!" panggil Gina sambil berlari cepat mendapati Dona yang masih berada di bibir pintu.

"Bagaimana dengan Pak Aaron? Apa yang dikatakannya padamu? Apa dia marah karena kita menolak kerjasama yang diajukannya? Kenapa bisa dia sendiri yang datang menemui kamu?" cecar Gina bertubi-tubi tanpa jeda dengan kecepatan maksimal.

"Kerjasama apa? Siapa laki-laki tadi?" tanya Doni yang perlahan datang menghampiri Dona dan Gina.

Dona menatap ekspresi curiga bercampur emosi terpahat di wajah Doni. Dia mengerti apa yang ada di dalam isi kepala suami sirinya itu.

Dona harus segera memberi penjelasan pada Doni agar suami sirinya itu tidak berlarut curiga. Dia tidak ingin kehadiran Aaron merusak rencana berharga yang telah lama disusunnya. Segala hal telah dipertaruhkannya demi rencana pembalasan dendam ini.

"Kamu pulang saja dulu, Gin. Nanti akan aku ceritakan semua melalui telepon. Aku harus bicara dulu dengan Doni," ucap Dona pada manajernya.

Gina spontan melihat ke arah Doni yang kini telah berdiri di dekat mereka. Gina langsung menganggukkan kepalanya, mengerti maksud dari ucapan Dona.

"Baiklah kalau begitu. Aku pulang dulu."

Gina segera berjalan meninggalkan Dona dan Doni keluar dari ruangan istirahat mereka.

"Kita bicara di resto d'amore saja, Mas? Kita bicarakan hal ini sambil mengisi perut. Aku sudah lapar." Dona berusaha tersenyum manis pada Doni agar meredam emosi laki-laki yang menjadi alat pembalasan dendamnya itu.

"Baiklah. Kita bertemu di sana saja."

Doni langsung melangkahkan kakinya keluar meninggalkan Dona. Jelas, dari bahasa tubuh yang ditunjukkannya, Doni sedang dipenuhi api cemburu yang membara.

Dona tersenyum sinis melihat ekspresi marah Doni. Bisa-bisanya laki-laki itu merasakan cemburu pada wanita yang sama sekali tidak mencintainya.

Dona mengikuti Doni menuju ke parkiran mobil mereka. Setelah masuk ke dalam mobim mereka masing-masing, Doni dan Dona melaju pergi menuju ke sebuah restoran langganan merak karena restoran itu menyediakan tempat makan secara privat dan tertutup.

Begitu tiba di D'Amore Restauran, Dona dan Doni langsung menuju ke tempat yang khusus di sewa Doni untuk mereka. Doni sengaja merogoh kocek dalam demi mendapatkan tempat makan khusus itu agar dia dan Dona dapat makan berdua dengan tenang kapanpun mereka mau.

"Jadi, penjelasan apa yang ingin kamu katakan sekarang?" tanya Doni langsung begitu mereka telah duduk bersama di dalam sebuah ruangan privat.

Restoran itu akan secara otomatis menghdangkan berbagai makanan mereka ke meja Dona dan Doni tanpa dipesan terlebih dahulu.

"Namanya Aaron. Dia pemilik PT. Rajawali Sindo. Mas tahu kan perusahaan apa itu?" Dona menatap Doni dengan wajah yang tenang.

"Lanjutkan."

"Perusahaannya mengajukan kerjasama tadi pagi. Mereka ingin aku menjadi pemeran utama pada film yang akan mereka garap. Namun aku telah menolaknya tadi pagi, dan Aaron datang untuk menanyakan alasan kenapa aku menolak kerjasama mereka."

"Dia datang sendiri menemui kamu untuk menanyakan hal itu? Maksudku, seorang pemilik perushaan yang langsung datang menemui calon talent mereka? Apa aku tidak salah mendengar?" Doni terkekeh sarkas.

"Mas kan tahu karirku sedang berada dipuncaknya. Mungkin dia tidak ingin kehilangan kesempatan itu demi mendongkrak pamor film yang akan merek rilis."

"Tetap saja alasan itu tidak cukup kuat untuk seorang pemilik perusahaan sampai turun langsung menemui kamu."

"Sudahlah, Mas. Hal seperti ini tidak perlu dibahas berlarut-larut. Toh aku juga sudah menolak permintaannya."

"Jangan pernah mau bekerjasama dengan perusahaan itu. Mas tidak suka dengan cara laki-laki itu menatapmu, Dona. Dia buaya kelas atas. Mas tidak mau kamu terjebak."

"Hal itu tidak akan mungkin terjadi, Mas. Percayalah padaku." Dona mengukir senyum di wajahnya. Berusaha meyakinkan laki-laki yang ada di hadapannya.

"Jangan pernah mengkhianati kepercayaan Mas ya, Sayang."

Doni meraih tangan Dona dan menggenggamnya. Dona menganggukkan kepalanya dengan cepat sambil tersenyum.

Tiba-tiba ponsel Doni berdering. Kontak milik dengan nama 'My Wife' tampil di layar ponselnya.

"Jihan lagi! Dia begitu rewel hari ini. Entah sudah berapa kali dia menelpon sejak aku berangkat tadi," keluh Doni kesal.

"Angkat dulu, Mas. Mana tahu penting."

"Dia hanya ingin menanyakan keberadaanku. Aku sudah muak dengannya."

Dona tersenyum mendengar ucapan Doni. Rencananya berhasil, membuat Jihan mencurigai Doni dan juga membuat Doni muak dengan sikap curiga Jihan padanya.

"Aku tidak sabar mendengar kata talak dari bibir Mas Doni pada Jihan. Aku akan membuat Mas Doni menyiksa batin Jihan terlebih dahulu dan menguras harta Jihan kemudian membuat mereka berpisah. Persis dengan apa yang dilakukan Jihan padaku dahulu!"

Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Doni setelah panggilan telepon berkali-kali diabaikannya.

My Wife:

"Aku di D'Amore Restauran. Mas dimana? Aku melihat mobil Mas di parkiran resto tapi mereka bilang tidak ada pengunjung atas nama Mas yang melakukan reservasi. Segera temui aku di depan sekarang!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Simpanan Sang Aktor   Tirai Terakhir

    Sepuluh tahun kemudian.Waktu memiliki cara kerja yang aneh di Pulau Nusakambangan. Bagi dunia luar, satu dekade adalah waktu yang cukup untuk mengubah peta politik, melahirkan teknologi baru, dan menumbuhkan generasi yang berbeda. Namun, di balik tembok beton Penjara Batu yang lembap dan berlumut, waktu hanyalah tetesan air keran yang bocor: lambat, monoton, dan menyiksa.Di bangsal isolasi rumah sakit penjara, Doni Pratama terbaring lemah. Tubuhnya yang dulu dipuja jutaan wanita kini tak lebih dari rangka tulang yang dibungkus kulit pucat kekuningan. Penyakit paru-paru kronis, ditambah dengan gangguan jiwa yang tak pernah pulih, telah menggerogoti sisa-sisa nyawanya.Napasnya berbunyi ngik yang menyakitkan, beradu dengan suara hujan deras di luar sana. Badai sedang menghantam pulau itu lagi, seolah alam semesta ingin mengulangi latar belakang tragedi hidupnya."Suster..." panggil Doni dengan suara serak, nyaris tak terdengar. Matanya yang cekung menatap langit-langit yang retak.Seo

  • Istri Simpanan Sang Aktor   Harga Sebuah Masa Depan

    Deburan ombak di bawah tebing Bali pagi itu terdengar lebih tenang, seolah laut telah kenyang menelan satu nyawa yang penuh dosa. Polisi dan tim forensik telah meninggalkan villa mewah tempat Aaron dan Dona menginap. Garis polisi berwarna kuning yang sempat terpasang di balkon kini sudah dilepas.Laporan resmi telah dibuat: Seorang pasien gangguan jiwa yang melarikan diri dari RSJ Grogol, menyusup ke area hotel, dan tewas terjatuh dari tebing karena kecelakaan saat hendak menyerang tamu.Tidak ada yang tahu bahwa wanita itu adalah Jihan, mantan supermodel dan mantan istri Doni Pratama. Wajahnya hancur terbentur karang, dan sidik jarinya sudah rusak karena terlalu lama menggelandang. Dia dimakamkan di pemakaman umum tak bernama di desa terdekat, tanpa nisan, tanpa pelayat, kecuali Dona yang mengirimkan seikat bunga mawar putih tanpa kartu ucapan.“Sudah selesai,” ucap Aaron, meletakkan ponselnya di meja sarapan. Dia baru saja memastikan semua berita di media massa terkendali. Tidak ada

  • Istri Simpanan Sang Aktor   Tamu Tak Diundang Dari Masa Lalu

    Hari pernikahan Dona dan Aaron tiba. Sebuah hotel bintang lima di tepi tebing Bali dipilih sebagai lokasi. Ombak memecah karang di bawah sana, langit biru bersih tanpa awan, dan dekorasi bunga Lily of the Valley—bunga yang melambangkan kebahagiaan yang kembali—memenuhi setiap sudut venue.Namun, di balik keindahan itu, Aaron Dwirangga tidak bisa tersenyum.Dia berdiri di balkon suite pengantin pria, memegang ponselnya erat-erat. Kemeja putihnya sudah rapi, tapi keringat dingin membasahi punggungnya.“Bagaimana bisa kalian kehilangan jejaknya?!” desis Aaron pada kepala keamanannya di telepon.“Maaf, Pak. Dia cerdik sekali. Dia mencuri pakaian perawat dan menumpang truk sayur yang keluar dari area RSJ. Sinyal terakhir terdeteksi di pelabuhan Gilimanuk pagi ini.”“Gilimanuk? Itu di Bali! Dia sudah menyeberang!” Aaron memijat pelipisnya. Jihan ada di pulau yang sama. Jihan datang untuk merusak hari ini.“Perketat keamanan. Siapapun yang tidak punya undangan barcode, jangan biarkan mendeka

  • Istri Simpanan Sang Aktor   Undangan Dari Neraka

    Satu tahun kemudian.Pulau Nusakambangan, Penjara Batu.Suara deburan ombak Samudra Hindia yang menghantam karang terdengar sayup-sayup dari balik tembok beton setinggi lima meter yang memisahkan dunia luar dengan neraka bagi para pendosa kelas kakap. Di sini, waktu seolah berhenti. Tidak ada kamera, tidak ada tepuk tangan, tidak ada cahaya blitz. Hanya ada lembap, dingin, dan kesunyian yang bisa membunuh jiwa seseorang perlahan-lahan.Di Sel Nomor 109, Doni Pratama duduk bersila menghadap tembok.Penampilannya sudah tidak bisa dikenali lagi. Rambutnya memutih sebagian, meski usianya baru menginjak awal tiga puluhan. Tubuhnya tinggal tulang berbalut kulit, dengan tato nomor narapidana di lengan kirinya. Matanya, yang dulu memiliki sorot tajam nan memikat, kini keruh seperti kolam air yang sudah lama tidak dibersihkan."Dona bilang dia suka warna biru..." gumam Doni pada seekor cicak yang merayap di dinding. "Nanti resepsi kita pakai tema laut ya, Cak? Kamu setuju kan?"Cicak itu diam

  • Istri Simpanan Sang Aktor   Puing-puing Ego

    Cahaya pagi yang lembut menerobos masuk melalui jendela kaca setinggi langit-langit di Penthouse Aaron, menyinari sebuah boks bayi berwarna putih gading yang dihiasi kelambu sutra. Di dalamnya, Bima—bayi yang baru berusia dua hari—tertidur pulas. Napasnya teratur, pipinya kemerahan, tampak begitu damai dan tidak sadar akan badai dosa yang melingkupi kelahirannya.Dona berdiri di sisi boks itu, tangannya memegang secangkir teh chamomile yang sudah dingin. Dia mengenakan gaun tidur satin berwarna champagne, rambutnya tergerai bebas. Dia menatap bayi itu bukan dengan tatapan seorang ibu yang penuh cinta tanpa syarat, melainkan dengan tatapan seorang pemahat yang sedang mengagumi karya seni terbarunya."Dia tidak mirip Jihan," gumam Dona pelan, jari telunjuknya menyentuh jemari mungil Bima. "Dia juga tidak mirip Doni. Syukurlah."Aaron muncul dari arah dapur, membawa botol susu formula hangat. Dia sudah rapi dengan setelan kerjanya, siap untuk kembali menguasai dunia bisnis Jakarta, seola

  • Istri Simpanan Sang Aktor   Tangisan Di Tengah Badai

    Langit di atas kaki Gunung Salak seolah terbelah dua. Kilatan petir menyambar-nyambar dengan ganas, menerangi hutan pinus yang gelap gulita dalam sekejap mata, diikuti oleh dentuman guntur yang menggetarkan kaca-kaca jendela rumah tua itu. Hujan turun bukan lagi seperti air, melainkan seperti jarum-jarum es yang menghantam atap seng dengan suara bising yang memekakkan telinga. Namun, di dalam salah satu kamar yang lembap dan berbau apek di rumah isolasi itu, ada suara lain yang berusaha menandingi kegaduhan alam: jeritan seorang wanita yang sedang bertaruh nyawa.“AAAAARGHHH!!! SAKIIIT!!! MAS DONIII!!!”Jihan mencengkeram besi ranjang tua itu hingga buku-buku jarinya memutih. Keringat dingin membanjiri sekujur tubuhnya, membuat daster lusuh yang dipakainya basah kuyup seolah dia baru saja diangkat dari kolam. Wajahnya yang dulu dipuja jutaan orang sebagai wajah bidadari, kini tak ubahnya topeng kematian. Tulang pipinya menonjol tajam, matanya cekung dengan lingkaran hitam pekat, dan b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status