MasukHampir satu tahun sebelumnya.
Hujan turun deras malam itu, hujan pertama di bulan Desember yang membuat jalanan Kupang tergenang air berwarna cokelat. Jam dinding di Apotek Kasih Farma menunjukkan pukul sebelas lewat dua puluh menit. Apotek yang terletak di Jalan W.J. Lalamentik itu buka dua puluh empat jam, dan malam itu giliran Nandita berjaga sendirian. Gadis berambut ikal sebahu itu sedang menyusun kotak-kotak vitamin di rak ketika pintu kaca apotek terbuka dengan kasar. Seorang lelaki bertubuh tegap masuk dengan kemeja basah kuyup. Rambutnya yang hitam pendek meneteskan air ke lantai keramik putih. "Permisi, Nona. Ada obat penurun panas untuk anak kecil? Anak saya demam tinggi, sudah tiga puluh sembilan derajat lebih." Suaranya panik. Matanya merah, entah karena air hujan atau karena kurang tidur. Nandita segera meletakkan kotak vitamin dan menghampiri meja pelayanan. "Usia anaknya berapa tahun, Pak?" "Empat tahun. Hampir empat." "Berat badannya kira-kira berapa?" Lelaki itu terdiam, tampak bingung. "Saya... saya kurang tahu. Mungkin enam belas kilogram?" Nandita tersenyum menenangkan. Perempuan bermata bulat itu sudah terbiasa menghadapi orang tua yang panik di tengah malam. Dengan sabar, dijelaskannya cara pemberian obat sesuai petunjuk pada kemasan, cara mengompres dengan air hangat, dan tanda-tanda bahaya yang mengharuskan anak segera dibawa ke rumah sakit. "Kalau sampai kejang atau panasnya tidak turun setelah beberapa jam, langsung bawa ke IGD RSUD Johannes, Pak. Jangan ditunda." "Terima kasih, Nona. Terima kasih banyak." Lelaki itu membayar dengan tergesa-gesa dan hampir lupa mengambil uang kembalian. Nandita harus berlari kecil ke pintu untuk memberikannya. Di bawah lampu teras apotek, untuk pertama kalinya mata mereka bertemu cukup lama. Pria berahang tegas itu tersenyum canggung, mengucapkan terima kasih sekali lagi, lalu berlari menembus hujan menuju sebuah sedan abu-abu. Nandita kembali ke rak vitamin dan melupakan kejadian itu. Setidaknya, begitulah yang dikira olehnya. Tiga hari kemudian, lelaki yang sama datang lagi. Kali ini siang hari, dengan seragam cokelat khaki yang rapi dan papan nama bertuliskan Revan Adinata. "Nona yang berjaga malam itu, bukan?" sapanya sambil tersenyum. "Saya mau berterima kasih. Anak saya sudah sembuh. Kata dokter, untung cepat diberi obat dan dikompres dengan benar." "Syukurlah, Pak. Saya ikut senang." "Ini sedikit untuk Nona dan teman-teman." Revan meletakkan sebuah kotak kue di atas meja. Kue rambut khas Nusa Tenggara Timur, renyah dan manis, dibeli dari toko kue terkenal di Kuanino. Nandita ragu sejenak sebelum menerimanya. Yuli, rekan kerjanya yang berambut lurus panjang, menyenggol lengannya dari belakang sambil menahan tawa. Sejak hari itu, Revan semakin sering datang ke Apotek Kasih Farma. Kadang membeli vitamin, kadang membeli plester, kadang hanya membeli sebotol minyak kayu putih. Lelaki berkumis tipis itu selalu memilih waktu ketika Nandita sedang berjaga. Mereka mulai bercakap-cakap, mula-mula tentang obat dan kesehatan, lalu tentang hal-hal lain: tentang Kupang yang semakin panas, tentang bemo yang musiknya terlalu keras, tentang jagung bose buatan ibu masing-masing. Nandita bercerita bahwa ayahnya seorang nelayan di Oeba yang meninggal karena perahunya terbalik diterjang badai ketika Nandita masih duduk di bangku sekolah dasar. Ibunya menyusul beberapa tahun kemudian karena sakit paru-paru. Sejak saat itu, Nandita diasuh oleh Tante Mariam, adik ibunya, di Kampung Solor. Setelah lulus dari sekolah menengah kejuruan farmasi, perempuan berlesung pipi itu bekerja sebagai asisten apoteker untuk membiayai hidupnya sendiri. Revan mendengarkan semua cerita itu dengan sungguh-sungguh. Tidak pernah memotong, tidak pernah menghakimi. Bagi Nandita, yang terbiasa menyimpan segala sesuatu sendirian, perhatian semacam itu terasa seperti air hujan pertama setelah kemarau panjang. Namun, ada satu hal yang tidak pernah diceritakan oleh Revan. Kebenaran itu terungkap secara tidak sengaja, pada suatu sore di bulan Februari. Revan mengajak Nandita minum es kelapa muda di sebuah warung di tepi Pantai Kelapa Lima. Ketika lelaki itu pergi ke kamar kecil, ponselnya yang tergeletak di atas meja menyala karena ada pesan masuk. Nandita tidak bermaksud melihat. Namun, layar kunci ponsel itu menampilkan sebuah foto: Revan bersama seorang perempuan berkerudung dan dua anak kecil, berpose di depan Gua Kristal dengan senyum lebar. Pesan yang masuk berbunyi: Gas habis. Kalau jam lima belum ada di rumah, tidak usah pulang sekalian. Dunia Nandita seakan berhenti berputar. Ketika Revan kembali, perempuan bertubuh mungil itu sudah berdiri sambil menyandang tas. "Kakak sudah beristri." Kalimat itu bukan pertanyaan. Wajah Revan memucat. Untuk beberapa saat, lelaki bertubuh tegap itu tidak mampu berkata apa-apa. "Mengapa Kakak tidak mengatakannya sejak awal?" "Saya takut kamu pergi." "Jadi Kakak memilih membohongi saya?" Suara Nandita bergetar. Matanya mulai berkaca-kaca. "Saya bukan perempuan seperti itu, Kak. Saya tidak mau merusak rumah tangga orang." "Dengarkan saya dulu, Nandita." Revan menunduk. "Sejak saya naik jabatan, istri saya berubah. Setiap hari hanya ada tuntutan dan hinaan. Saya tidak pernah cukup baik di matanya. Kami tinggal serumah, tetapi seperti dua orang asing. Saya bertahan hanya karena anak-anak. Setiap kali saya bicara soal berpisah, Aini bersumpah tidak akan pernah membiarkan saya bertemu Raka dan Salsa lagi." Kalimat itu terdengar seperti alasan yang sering diucapkan oleh banyak lelaki. Nandita tahu itu. Namun, ada sesuatu dalam suara Revan, sesuatu yang terdengar begitu lelah dan jujur, yang membuat hatinya goyah. Meskipun begitu, perempuan berlesung pipi itu tetap pergi sore itu. Nandita naik bemo jurusan Kampung Solor dengan air mata yang tidak berhenti mengalir, sementara lagu dangdut berdentum keras dari pengeras suara di belakang kursi sopir. Selama dua bulan berikutnya, Nandita menghindari Revan. Nomor teleponnya diblokir. Setiap kali sedan abu-abu itu terlihat di depan apotek, perempuan bermata bulat itu meminta Yuli yang melayani, lalu bersembunyi di gudang obat. Namun, Revan tidak menyerah. Surat-surat pendek ditinggalkan di meja apotek. Kotak kue rambut terus berdatangan. Sekali waktu, lelaki itu menunggu di bawah pohon flamboyan di seberang jalan selama berjam-jam, hanya untuk mengucapkan satu kalimat ketika Nandita pulang kerja: "Saya tidak akan memaksa. Saya hanya ingin kamu tahu, perasaan saya sungguh-sungguh." Tante Mariam, yang mengetahui semuanya, menggelengkan kepala berkali-kali. "Nak, lelaki yang sudah beristri itu bukan jalanmu. Kamu masih muda. Masih banyak lelaki baik di Kupang ini." Nandita tahu tantenya benar. Akal sehatnya pun berkata demikian. Tetapi hati manusia jarang sekali mau mendengarkan akal sehat. Pada suatu malam di bulan April, Nandita akhirnya membuka blokir nomor Revan dan menelepon lebih dulu. "Kak, saya tidak mau jadi pacar gelap. Saya tidak mau berdosa," ucap Nandita dengan suara tegas meskipun tangannya gemetar. "Kalau Kakak benar-benar serius, halalkan saya." Hening panjang di seberang telepon. Nandita bisa mendengar napas Revan yang berat. "Kamu tahu apa artinya itu, kan, Dik? Saya pegawai negeri. Saya tidak bisa menikah lagi secara resmi tanpa izin atasan dan persetujuan istri. Kalau ketahuan, saya bisa dipecat." "Saya tahu." "Pernikahan kita harus dirahasiakan. Tidak boleh ada yang tahu. Tidak boleh tercatat di mana pun. Kamu sanggup?" Nandita memejamkan mata. Di luar jendela kamarnya, suara azan Isya berkumandang dari masjid tua di Kampung Solor, masjid yang dibangun oleh para leluhur pendatang dari Solor ratusan tahun silam. "Saya sanggup, Kak." Kalimat itu diucapkan dengan penuh keyakinan. Kalimat yang kelak akan disesali, ditangisi, dan dipertanyakan oleh Nandita pada banyak malam yang sunyi. Dua bulan kemudian, di bawah guyuran hujan yang turun di luar musim, akad nikah sederhana itu dilangsungkan di rumah panggung Tante Mariam. Pernikahan yang sah di mata agama, tetapi tidak pernah ada di mata negara. Pernikahan yang lahir dari pertemuan yang salah, pada waktu yang salah, dengan lelaki yang seharusnya tidak pernah dicintai.Revan pun langsung menarik kursi lalu duduk secara perlahan. Map biru itu diletakkannya di atas meja, tepat di depan dada bagaikan sebuah perisai terakhir yang dimilikinya. Di seberang meja, Aini tidak menatapnya sedikit pun. Wanita bermata tajam itu hanya memandang lurus ke arah para pemeriksa. Kedua tangannya bertaut di pangkuan, Jari-jarinya hanya memutar-mutar cincin kawin emas yang masih melingkar di jari manisnya. Sebuah cincin yang dipasangkan Revan sepuluh tahun lalu di gedung pertemuan yang penuh tamu. Di hadapan Revan duduk ketua tim pemeriksa, seorang priai paruh baya berkacamata tipis bernama Pak Yakobus Lake, Pria paruh baya itu terlihat membuka berkas di hadapan Revan. "Saudara Frans, silakan sampaikan kembali laporan Saudara." Frans membetulkan letak kacamatanya. Lalu Pria berperut buncit itu berbicara dengan lancar, seolah-olah sudah berlatih berkali-kali. Diceritakannya tentang amplop
"Bukti apa, Pak?" tanya Revan dengan suara tertahan. "Sebuah foto," jawab Pak Markus. "Foto amplop cokelat tebal di atas mejamu, bertuliskan nama sebuah perusahaan konstruksi dari Sumba. Tanggalnya Agustus tahun lalu, dua hari sebelum pengumuman pemenang proyek pembangunan gedung arsip." Revan memejamkan mata. Ingatannya melayang ke hari itu. Seorang lelaki dari perusahaan konstruksi datang ke ruangannya dengan senyum lebar, meletakkan amplop cokelat di atas meja, lalu pergi sebelum Revan sempat menolak. Isinya uang tunai dalam jumlah besar. Sore itu juga, Revan mengembalikan amplop tersebut ke kantor perusahaan itu di Jalan Soeharto, ditemani seorang staf keuangan senior yang menjadi saksi. "Pak, amplop itu sudah saya kembalikan pada hari yang sama," ujar Revan. "Ada saksinya. Ibu Sarlota Manafe, staf keuangan kita yang sekarang sudah pensiun." Hening sejenak di seberang telepon. "Kalau begitu, temui Ibu Sarlota sebelum hari Senin. Inspektorat membutuhkan keterangannya." R
Revan menatap wajah Salsa yang tertidur di dadanya. Napas gadis kecil itu hangat dan teratur. Jari-jarinya yang mungil masih mencengkeram kerah kemeja ayahnya.Lalu lelaki bertubuh tegap itu menatap Raka. Bocah berkacamata bulat itu menunggu dengan mata berkaca-kaca, seolah-olah sudah tahu ayahnya akan pergi.Revan berdiri perlahan. Dengan sangat hati-hati, diserahkannya Salsa ke dalam gendongan Tante Rina. Gadis kecil itu menggeliat sebentar, lalu kembali terlelap. Setelah itu, Revan berlutut di depan putranya dan memegang kedua bahunya."Raka, dengar Papa. Ada orang yang sedang sakit dan membutuhkan Papa sekarang. Tetapi Papa janji, Papa akan kembali. Papa tidak akan pernah berhenti menjadi ayahmu dan ayah Salsa. Tidak akan pernah."Raka mengangguk sambil mengusap air matanya. "Janji, Papa?""Janji."Revan mencium kening putranya, lalu berdiri menghadap Aini. Perempuan bermata tajam itu masih berdiri di ambang pintu dengan tangan terlipat di dada."Ancaman tidak akan membuat saya be
Revan memejamkan mata. Ponsel di telinganya terasa sangat berat.Di sampingnya, Nandita duduk mematung. Perempuan berlesung pipi itu mendengar setiap kata yang diucapkan Aini, karena suara perempuan itu terdengar jelas dari pengeras suara ponsel di dalam mobil yang sunyi."Bagaimana, Pa?" desak Aini. "Pilih sekarang. Perempuan itu atau anak-anakmu."Revan membuka mata dan menatap Nandita. Perempuan bermata bulat itu menggeleng pelan, seolah-olah berkata bahwa suaminya tidak perlu memilih dirinya. Namun, Revan sudah mengambil keputusan sejak semalam, di atas Jembatan Liliba."Saya tidak akan menceraikan Nandita, Ma."Hening panjang di seberang telepon."Saya akan tetap menjadi ayah bagi Raka dan Salsa, apa pun yang terjadi," lanjut Revan dengan suara tegas. "Tetapi saya tidak akan meninggalkan perempuan yang sedang mengandung anak saya. Saya sudah cukup lama menjadi pengecut.""Mengandung?" Suara Aini meninggi. "Jadi perempuan itu hamil?"Revan tidak menjawab. Diamnya sudah cukup menja
Revan tidak tidur sepanjang malam.Lelaki bertubuh tegap itu duduk di ruang makan yang sunyi sampai azan Subuh berkumandang. Ponselnya tergeletak di atas meja. Puluhan panggilan ke nomor Aini tidak pernah dijawab. Pesan-pesannya hanya dibaca, tanpa satu pun balasan. Nomor ibu mertuanya di Ende pun tidak aktif.Setelah salat Subuh, Revan mandi, mengenakan seragam cokelat khaki, dan memandangi bayangannya di cermin cukup lama. Wajah di cermin itu tampak lelah dan jauh lebih tua. Namun, ada keputusan yang sudah bulat di matanya.Hari ini, tidak akan ada lagi kebohongan.Pukul delapan pagi, Kantor Gubernur Nusa Tenggara Timur sudah ramai seperti biasa. Namun, begitu Revan melangkah ke lantai dua, suasana terasa berbeda. Beberapa rekan kerja berhenti berbicara ketika melihatnya lewat. Ada yang berbisik-bisik. Ada pula yang buru-buru menunduk dan berpura-pura sibuk dengan berkas di meja.Di ujung lorong, Frans Ndolu berdiri bersandar di dinding sambil memegang gelas kopi. Lelaki berperut bu
Tamparan itu datang lebih cepat daripada kata-kata.Tangan Aini melayang dan mendarat keras di pipi Revan. Suaranya nyaring, mengalahkan deru angin dari ngarai. Beberapa pengendara sepeda motor yang melintas di atas Jembatan Liliba memperlambat laju kendaraan, menoleh dengan penasaran, lalu kembali melaju.Revan tidak mengelak. Lelaki bertubuh tegap itu hanya berdiri diam dengan pipi yang memerah, menatap istrinya tanpa berkata apa-apa."Pembohong!" teriak Aini. Suaranya bergetar oleh amarah. "Sepuluh tahun saya mengurus rumahmu, mengurus anak-anakmu, dan ini balasanmu? Bermain gila dengan perempuan apotek di pinggir jalan?""Ma, dengarkan saya dulu...""Tidak ada yang perlu didengarkan!" Perempuan bermata tajam itu berbalik menghadap Nandita. Tatapannya penuh kebencian. "Dan kamu. Sudah saya peringatkan di apotek waktu itu. Ternyata kamu memang perempuan murahan yang suka mengincar suami orang."Nandita mundur selangkah. Tangan kanannya tetap melindungi perutnya. Wajah perempuan berl







