MasukLampu teras rumah di Jalan Frans Seda, Oebobo, masih menyala ketika sedan abu-abu itu memasuki halaman. Rumah bercat krem dengan pagar besi hitam itu tampak hangat dari luar. Pot-pot bugenvil berjajar rapi di sepanjang teras, dan sepasang sandal kecil berwarna merah muda tergeletak di dekat pintu.
Revan tidak segera turun. Lelaki bertubuh tegap itu duduk diam di balik kemudi, sementara pikirannya masih tertinggal di sebuah bangku kayu di Pantai Lasiana. Sebelum turun, dipastikannya riwayat percakapan dengan nomor bernama Pak Danu Logistik sudah terhapus. Kebiasaan itu sudah menjadi bagian dari dirinya, seperti mengenakan seragam setiap pagi. Pintu rumah terbuka sebelum Revan sempat mengetuk. "Jam berapa ini? Anak sakit, Papa malah pergi entah ke mana," sambut Aini dengan nada ketus. Perempuan bermata tajam itu berdiri di ambang pintu dengan tangan terlipat di dada. Gelang emas berkilauan di kedua pergelangan tangannya. "Maaf, Ma. Rapatnya lama sekali," jawab Revan. Kebohongan itu meluncur begitu ringan sampai lelaki itu sendiri terkejut. "Saya yang mengompres Salsa sejak tadi sore. Urus sendiri anakmu itu." Aini merampas kantong obat dari tangan suaminya, lalu berbalik masuk. Di kamar anak-anak, Salsa tertidur pulas dengan kain kompres di dahi, memeluk boneka komodo pemberian ayahnya. Revan mengusap rambut putrinya dengan lembut. Rasa bersalah menyerbu dadanya. Ketika anaknya demam, ayahnya justru sedang duduk di pantai bersama perempuan lain, perempuan lain yang juga istrinya. "Papa bisa membantu Raka? Soal matematikanya sulit," panggil Raka dari meja belajar. Bocah delapan tahun berkacamata bulat itu menatap ayahnya dengan penuh harap. Selama setengah jam, Revan membantu putranya mengerjakan soal pecahan. Raka tertawa setiap kali ayahnya salah menghitung. Momen sederhana itu terasa berharga sekaligus menyakitkan. Revan tahu, jika rahasianya terbongkar, momen seperti ini bisa hilang untuk selamanya. Malam itu, Aini melipat pakaian di ruang makan, sementara Revan menemaninya dengan secangkir kopi Bajawa. "Sabtu depan ulang tahun Salsa. Saya mau pesta di restoran hotel dan mengundang teman-teman arisan. Jangan pelit seperti tahun lalu. Mama Halimah juga datang dari Ende, jadi siapkan uang tiketnya." "Uangnya dari mana, Ma? Gaji saya sudah habis untuk cicilan rumah dan mobil." Aini melempar baju yang sedang dilipatnya ke atas meja. "Itu urusan Papa. Suami teman-teman saya bisa, mengapa Papa tidak bisa? Percuma jadi kepala subbagian kalau istrinya masih malu di depan orang." Revan memandangi istrinya dalam diam. Sepuluh tahun yang lalu, perempuan bertubuh semampai itu adalah guru taman kanak-kanak yang ceria di Kelurahan Fatululi. Revan jatuh cinta pada tawa dan semangatnya. Mereka menikah secara resmi, dan nama Aini tercatat dalam data kepegawaian Revan sebagai istri sah. Namun, semuanya berubah sejak Revan diangkat menjadi pejabat. Aini mulai membanding-bandingkan segalanya dengan istri-istri pejabat lain: mobil, rumah, perhiasan, dan liburan. Gaji Revan tidak pernah cukup, dan setiap pertengkaran berakhir dengan ancaman yang sama: Aini akan membawa anak-anak pulang ke Ende. Revan bertahan hanya demi Raka dan Salsa. Lalu Nandita datang. Gadis berlesung pipi itu membuat Revan merasa didengarkan lagi, merasa hidup lagi. Tetapi apakah itu alasan yang cukup? Pertanyaan itu terus menghantuinya setiap malam. "Mengapa diam? Tidak terima?" bentak Aini. "Pokoknya pesta Salsa harus jadi. Saya tidak mau malu di depan ibu-ibu arisan." Aini masuk ke kamar dan membanting pintu sampai bingkai foto di dinding bergetar. Revan duduk sendirian menatap kopi yang sudah dingin. Lelaki bertubuh tegap itu sudah terlalu terbiasa dengan malam-malam seperti ini. Pagi hari di Kantor Gubernur Nusa Tenggara Timur dimulai dengan apel. Selesai apel, Revan menuju ruang kerjanya di lantai dua Biro Perencanaan. Dalam usia tiga puluh lima tahun, lelaki berkumis tipis itu sudah menjabat sebagai kepala subbagian dan disebut-sebut sebagai calon kuat kepala bagian tahun depan. "Selamat pagi, Pak Kepala Subbagian!" sapa Frans Ndolu dengan suara lantang. Pria berperut buncit dan berkacamata tebal itu dikenal ramah, tetapi juga senang sekali membicarakan urusan orang lain. "Kemarin sore saya melihat mobil Bapak di Jalan Timor Raya, arah Lasiana. Rumah Bapak di Oebobo, bukan?" Jantung Revan berdegup kencang, tetapi wajahnya tetap tenang. "Saya mampir membeli se'i di Baun. Salsa yang minta." "Oh, se'i Baun memang paling enak," ujar Frans sambil tertawa, lalu berlalu menuju mejanya. Di layar komputer Revan, terpampang surat edaran baru tentang disiplin pegawai. Salah satu poinnya mewajibkan pegawai negeri sipil pria memperoleh izin pejabat yang berwenang dan persetujuan tertulis istri pertama sebelum beristri lebih dari seorang. Pelanggarannya dapat dijatuhi hukuman disiplin berat, termasuk pemberhentian. Revan tahu, Aini tidak akan pernah memberikan persetujuan itu. Beberapa tahun lalu, perempuan bermata tajam itu pernah berkata dengan suara dingin, "Kalau Papa sampai berani begitu, saya laporkan ke kantor sampai Papa dipecat. Anak-anak saya bawa ke Ende, dan Papa tidak akan pernah melihat mereka lagi." Aini selalu menepati ancamannya. Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Pak Danu Logistik: Selamat pagi, Kak. Jangan lupa sarapan. Semoga Salsa sudah sehat. Revan tersenyum tipis. Perempuan berlesung pipi itu selalu memikirkan orang lain lebih dulu, bahkan anak dari perempuan yang menjadi alasan pernikahannya harus disembunyikan. Revan membalas singkat, lalu seperti biasa, menghapus riwayat percakapan itu. Di seberang ruangan, Frans Ndolu memperhatikan dari balik kacamata tebalnya. Lelaki berperut buncit itu tidak berkata apa-apa. Namun, keningnya berkerut, seolah-olah sedang menyusun potongan-potongan teka-teki yang belum lengkap. Revan tidak menyadarinya. Pikirannya sudah melayang ke Penfui, ke sebuah rumah petak sederhana dengan dua batang pohon kelor di halaman, tempat seorang perempuan menunggunya tanpa pernah mengeluh. Dua rumah. Dua perempuan. Dan satu lelaki yang perlahan-lahan kehilangan kemampuan untuk menjadi utuh di salah satunya.Revan pun langsung menarik kursi lalu duduk secara perlahan. Map biru itu diletakkannya di atas meja, tepat di depan dada bagaikan sebuah perisai terakhir yang dimilikinya. Di seberang meja, Aini tidak menatapnya sedikit pun. Wanita bermata tajam itu hanya memandang lurus ke arah para pemeriksa. Kedua tangannya bertaut di pangkuan, Jari-jarinya hanya memutar-mutar cincin kawin emas yang masih melingkar di jari manisnya. Sebuah cincin yang dipasangkan Revan sepuluh tahun lalu di gedung pertemuan yang penuh tamu. Di hadapan Revan duduk ketua tim pemeriksa, seorang priai paruh baya berkacamata tipis bernama Pak Yakobus Lake, Pria paruh baya itu terlihat membuka berkas di hadapan Revan. "Saudara Frans, silakan sampaikan kembali laporan Saudara." Frans membetulkan letak kacamatanya. Lalu Pria berperut buncit itu berbicara dengan lancar, seolah-olah sudah berlatih berkali-kali. Diceritakannya tentang amplop
"Bukti apa, Pak?" tanya Revan dengan suara tertahan. "Sebuah foto," jawab Pak Markus. "Foto amplop cokelat tebal di atas mejamu, bertuliskan nama sebuah perusahaan konstruksi dari Sumba. Tanggalnya Agustus tahun lalu, dua hari sebelum pengumuman pemenang proyek pembangunan gedung arsip." Revan memejamkan mata. Ingatannya melayang ke hari itu. Seorang lelaki dari perusahaan konstruksi datang ke ruangannya dengan senyum lebar, meletakkan amplop cokelat di atas meja, lalu pergi sebelum Revan sempat menolak. Isinya uang tunai dalam jumlah besar. Sore itu juga, Revan mengembalikan amplop tersebut ke kantor perusahaan itu di Jalan Soeharto, ditemani seorang staf keuangan senior yang menjadi saksi. "Pak, amplop itu sudah saya kembalikan pada hari yang sama," ujar Revan. "Ada saksinya. Ibu Sarlota Manafe, staf keuangan kita yang sekarang sudah pensiun." Hening sejenak di seberang telepon. "Kalau begitu, temui Ibu Sarlota sebelum hari Senin. Inspektorat membutuhkan keterangannya." R
Revan menatap wajah Salsa yang tertidur di dadanya. Napas gadis kecil itu hangat dan teratur. Jari-jarinya yang mungil masih mencengkeram kerah kemeja ayahnya.Lalu lelaki bertubuh tegap itu menatap Raka. Bocah berkacamata bulat itu menunggu dengan mata berkaca-kaca, seolah-olah sudah tahu ayahnya akan pergi.Revan berdiri perlahan. Dengan sangat hati-hati, diserahkannya Salsa ke dalam gendongan Tante Rina. Gadis kecil itu menggeliat sebentar, lalu kembali terlelap. Setelah itu, Revan berlutut di depan putranya dan memegang kedua bahunya."Raka, dengar Papa. Ada orang yang sedang sakit dan membutuhkan Papa sekarang. Tetapi Papa janji, Papa akan kembali. Papa tidak akan pernah berhenti menjadi ayahmu dan ayah Salsa. Tidak akan pernah."Raka mengangguk sambil mengusap air matanya. "Janji, Papa?""Janji."Revan mencium kening putranya, lalu berdiri menghadap Aini. Perempuan bermata tajam itu masih berdiri di ambang pintu dengan tangan terlipat di dada."Ancaman tidak akan membuat saya be
Revan memejamkan mata. Ponsel di telinganya terasa sangat berat.Di sampingnya, Nandita duduk mematung. Perempuan berlesung pipi itu mendengar setiap kata yang diucapkan Aini, karena suara perempuan itu terdengar jelas dari pengeras suara ponsel di dalam mobil yang sunyi."Bagaimana, Pa?" desak Aini. "Pilih sekarang. Perempuan itu atau anak-anakmu."Revan membuka mata dan menatap Nandita. Perempuan bermata bulat itu menggeleng pelan, seolah-olah berkata bahwa suaminya tidak perlu memilih dirinya. Namun, Revan sudah mengambil keputusan sejak semalam, di atas Jembatan Liliba."Saya tidak akan menceraikan Nandita, Ma."Hening panjang di seberang telepon."Saya akan tetap menjadi ayah bagi Raka dan Salsa, apa pun yang terjadi," lanjut Revan dengan suara tegas. "Tetapi saya tidak akan meninggalkan perempuan yang sedang mengandung anak saya. Saya sudah cukup lama menjadi pengecut.""Mengandung?" Suara Aini meninggi. "Jadi perempuan itu hamil?"Revan tidak menjawab. Diamnya sudah cukup menja
Revan tidak tidur sepanjang malam.Lelaki bertubuh tegap itu duduk di ruang makan yang sunyi sampai azan Subuh berkumandang. Ponselnya tergeletak di atas meja. Puluhan panggilan ke nomor Aini tidak pernah dijawab. Pesan-pesannya hanya dibaca, tanpa satu pun balasan. Nomor ibu mertuanya di Ende pun tidak aktif.Setelah salat Subuh, Revan mandi, mengenakan seragam cokelat khaki, dan memandangi bayangannya di cermin cukup lama. Wajah di cermin itu tampak lelah dan jauh lebih tua. Namun, ada keputusan yang sudah bulat di matanya.Hari ini, tidak akan ada lagi kebohongan.Pukul delapan pagi, Kantor Gubernur Nusa Tenggara Timur sudah ramai seperti biasa. Namun, begitu Revan melangkah ke lantai dua, suasana terasa berbeda. Beberapa rekan kerja berhenti berbicara ketika melihatnya lewat. Ada yang berbisik-bisik. Ada pula yang buru-buru menunduk dan berpura-pura sibuk dengan berkas di meja.Di ujung lorong, Frans Ndolu berdiri bersandar di dinding sambil memegang gelas kopi. Lelaki berperut bu
Tamparan itu datang lebih cepat daripada kata-kata.Tangan Aini melayang dan mendarat keras di pipi Revan. Suaranya nyaring, mengalahkan deru angin dari ngarai. Beberapa pengendara sepeda motor yang melintas di atas Jembatan Liliba memperlambat laju kendaraan, menoleh dengan penasaran, lalu kembali melaju.Revan tidak mengelak. Lelaki bertubuh tegap itu hanya berdiri diam dengan pipi yang memerah, menatap istrinya tanpa berkata apa-apa."Pembohong!" teriak Aini. Suaranya bergetar oleh amarah. "Sepuluh tahun saya mengurus rumahmu, mengurus anak-anakmu, dan ini balasanmu? Bermain gila dengan perempuan apotek di pinggir jalan?""Ma, dengarkan saya dulu...""Tidak ada yang perlu didengarkan!" Perempuan bermata tajam itu berbalik menghadap Nandita. Tatapannya penuh kebencian. "Dan kamu. Sudah saya peringatkan di apotek waktu itu. Ternyata kamu memang perempuan murahan yang suka mengincar suami orang."Nandita mundur selangkah. Tangan kanannya tetap melindungi perutnya. Wajah perempuan berl







