Home / Romansa / Istri Siri Sang Abdi Negara / Bab 9 Kecurigaan Aini

Share

Bab 9 Kecurigaan Aini

Author: Christin
last update publish date: 2026-10-14 16:24:44

Satu garis.

Aini menatap alat tes kehamilan di tangannya dengan perasaan kecewa. Hanya satu garis merah yang muncul, sama seperti bulan lalu. Perempuan berwajah teduh itu menghela napas panjang, lalu membungkus alat tes itu dengan tisu dan membuangnya ke tempat sampah di bawah wastafel.

Tidak apa-apa, katanya dalam hati. Dokter bilang program kehamilan memang butuh waktu. Masih ada bulan depan. Masih ada harapan.

Dari dapur terdengar suara Salsa dan Raka bertengkar memperebutkan roti bakar tera
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Istri Siri Sang Abdi Negara   Bab 16 Di Hadapan Pemeriksa

    Revan pun langsung menarik kursi lalu duduk secara perlahan. Map biru itu diletakkannya di atas meja, tepat di depan dada bagaikan sebuah perisai terakhir yang dimilikinya. Di seberang meja, Aini tidak menatapnya sedikit pun. Wanita bermata tajam itu hanya memandang lurus ke arah para pemeriksa. Kedua tangannya bertaut di pangkuan, Jari-jarinya hanya memutar-mutar cincin kawin emas yang masih melingkar di jari manisnya. Sebuah cincin yang dipasangkan Revan sepuluh tahun lalu di gedung pertemuan yang penuh tamu. Di hadapan Revan duduk ketua tim pemeriksa, seorang priai paruh baya berkacamata tipis bernama Pak Yakobus Lake, Pria paruh baya itu terlihat membuka berkas di hadapan Revan. "Saudara Frans, silakan sampaikan kembali laporan Saudara." Frans membetulkan letak kacamatanya. Lalu Pria berperut buncit itu berbicara dengan lancar, seolah-olah sudah berlatih berkali-kali. Diceritakannya tentang amplop

  • Istri Siri Sang Abdi Negara   Bab 15 Amplop Cokelat

    "Bukti apa, Pak?" tanya Revan dengan suara tertahan. "Sebuah foto," jawab Pak Markus. "Foto amplop cokelat tebal di atas mejamu, bertuliskan nama sebuah perusahaan konstruksi dari Sumba. Tanggalnya Agustus tahun lalu, dua hari sebelum pengumuman pemenang proyek pembangunan gedung arsip." Revan memejamkan mata. Ingatannya melayang ke hari itu. Seorang lelaki dari perusahaan konstruksi datang ke ruangannya dengan senyum lebar, meletakkan amplop cokelat di atas meja, lalu pergi sebelum Revan sempat menolak. Isinya uang tunai dalam jumlah besar. Sore itu juga, Revan mengembalikan amplop tersebut ke kantor perusahaan itu di Jalan Soeharto, ditemani seorang staf keuangan senior yang menjadi saksi. "Pak, amplop itu sudah saya kembalikan pada hari yang sama," ujar Revan. "Ada saksinya. Ibu Sarlota Manafe, staf keuangan kita yang sekarang sudah pensiun." Hening sejenak di seberang telepon. "Kalau begitu, temui Ibu Sarlota sebelum hari Senin. Inspektorat membutuhkan keterangannya." R

  • Istri Siri Sang Abdi Negara   Bab 14 Detak yang Bertahan

    Revan menatap wajah Salsa yang tertidur di dadanya. Napas gadis kecil itu hangat dan teratur. Jari-jarinya yang mungil masih mencengkeram kerah kemeja ayahnya.Lalu lelaki bertubuh tegap itu menatap Raka. Bocah berkacamata bulat itu menunggu dengan mata berkaca-kaca, seolah-olah sudah tahu ayahnya akan pergi.Revan berdiri perlahan. Dengan sangat hati-hati, diserahkannya Salsa ke dalam gendongan Tante Rina. Gadis kecil itu menggeliat sebentar, lalu kembali terlelap. Setelah itu, Revan berlutut di depan putranya dan memegang kedua bahunya."Raka, dengar Papa. Ada orang yang sedang sakit dan membutuhkan Papa sekarang. Tetapi Papa janji, Papa akan kembali. Papa tidak akan pernah berhenti menjadi ayahmu dan ayah Salsa. Tidak akan pernah."Raka mengangguk sambil mengusap air matanya. "Janji, Papa?""Janji."Revan mencium kening putranya, lalu berdiri menghadap Aini. Perempuan bermata tajam itu masih berdiri di ambang pintu dengan tangan terlipat di dada."Ancaman tidak akan membuat saya be

  • Istri Siri Sang Abdi Negara   Bab 13 Pilihan yang Mustahil

    Revan memejamkan mata. Ponsel di telinganya terasa sangat berat.Di sampingnya, Nandita duduk mematung. Perempuan berlesung pipi itu mendengar setiap kata yang diucapkan Aini, karena suara perempuan itu terdengar jelas dari pengeras suara ponsel di dalam mobil yang sunyi."Bagaimana, Pa?" desak Aini. "Pilih sekarang. Perempuan itu atau anak-anakmu."Revan membuka mata dan menatap Nandita. Perempuan bermata bulat itu menggeleng pelan, seolah-olah berkata bahwa suaminya tidak perlu memilih dirinya. Namun, Revan sudah mengambil keputusan sejak semalam, di atas Jembatan Liliba."Saya tidak akan menceraikan Nandita, Ma."Hening panjang di seberang telepon."Saya akan tetap menjadi ayah bagi Raka dan Salsa, apa pun yang terjadi," lanjut Revan dengan suara tegas. "Tetapi saya tidak akan meninggalkan perempuan yang sedang mengandung anak saya. Saya sudah cukup lama menjadi pengecut.""Mengandung?" Suara Aini meninggi. "Jadi perempuan itu hamil?"Revan tidak menjawab. Diamnya sudah cukup menja

  • Istri Siri Sang Abdi Negara   Bab 12 Hari Pengakuan

    Revan tidak tidur sepanjang malam.Lelaki bertubuh tegap itu duduk di ruang makan yang sunyi sampai azan Subuh berkumandang. Ponselnya tergeletak di atas meja. Puluhan panggilan ke nomor Aini tidak pernah dijawab. Pesan-pesannya hanya dibaca, tanpa satu pun balasan. Nomor ibu mertuanya di Ende pun tidak aktif.Setelah salat Subuh, Revan mandi, mengenakan seragam cokelat khaki, dan memandangi bayangannya di cermin cukup lama. Wajah di cermin itu tampak lelah dan jauh lebih tua. Namun, ada keputusan yang sudah bulat di matanya.Hari ini, tidak akan ada lagi kebohongan.Pukul delapan pagi, Kantor Gubernur Nusa Tenggara Timur sudah ramai seperti biasa. Namun, begitu Revan melangkah ke lantai dua, suasana terasa berbeda. Beberapa rekan kerja berhenti berbicara ketika melihatnya lewat. Ada yang berbisik-bisik. Ada pula yang buru-buru menunduk dan berpura-pura sibuk dengan berkas di meja.Di ujung lorong, Frans Ndolu berdiri bersandar di dinding sambil memegang gelas kopi. Lelaki berperut bu

  • Istri Siri Sang Abdi Negara   Bab 11 Badai di Atas Liliba

    Tamparan itu datang lebih cepat daripada kata-kata.Tangan Aini melayang dan mendarat keras di pipi Revan. Suaranya nyaring, mengalahkan deru angin dari ngarai. Beberapa pengendara sepeda motor yang melintas di atas Jembatan Liliba memperlambat laju kendaraan, menoleh dengan penasaran, lalu kembali melaju.Revan tidak mengelak. Lelaki bertubuh tegap itu hanya berdiri diam dengan pipi yang memerah, menatap istrinya tanpa berkata apa-apa."Pembohong!" teriak Aini. Suaranya bergetar oleh amarah. "Sepuluh tahun saya mengurus rumahmu, mengurus anak-anakmu, dan ini balasanmu? Bermain gila dengan perempuan apotek di pinggir jalan?""Ma, dengarkan saya dulu...""Tidak ada yang perlu didengarkan!" Perempuan bermata tajam itu berbalik menghadap Nandita. Tatapannya penuh kebencian. "Dan kamu. Sudah saya peringatkan di apotek waktu itu. Ternyata kamu memang perempuan murahan yang suka mengincar suami orang."Nandita mundur selangkah. Tangan kanannya tetap melindungi perutnya. Wajah perempuan berl

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status