ログインJika dulu kehamilan adalah anugerah, maka bagi Aruna saat ini bukan lagi anugerah. Dia tak menginginkan mempunyai anak dari pria yang telah menyakitinya.
"Kita akan jadi keluarga kecil yang bahagia." Mata Mahesa berbinar. Rencana dia berhasil untuk mengikat Aruna. Bahkan dia tidak peduli jika nanti anak itu bukan anaknya. "Aku yakin bukan anakmu!" "Lalu anak siapa?" Aruna terdiam, apa mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk mengatakan hubungannya dengan Andri? Keluarga Mahesa datang mengucapkan selamat atas kehamilan Aruna. Namun, Aruna sama sekali tidak bahagia. Dia merasa terjebak dalam rumah tangga yang tak diinginkan. "Selamat, akhirnya kamu hamil!" Mawar memeluk Aruna. Dari sekian banyak orang yang datang, hanya Aruna yang tidak bahagia dengan kehamilannya. "Sayang, Mama senang kamu hamil!" Ratih, Mama Aruna juga datang. Mereka sangat bahagia sekali, keinginan mereka telah terkabul. Selama ini, Aruna belum memberitahu keluarganya jika Mahesa punya istri lain. Kesehatan sang mama tidak baik-baik saja. Ratih mempunyai penyakit jantung dan bisa kambuh kapan saja. Maka dari itu, Aruna selalu berhati-hati. Andri yang tahu kehamilan Aruna mulai mundur perlahan. Dia tidak ingin merusak kebahagiaan Aruna. Walaupun sebenarnya dia tak iklas Aruna bersama Mahesa. "Kamu yakin akan pergi? Tidak beri tahu Aruna dulu?" tanya Anita. "Tidak, untuk apa? Ku rasa dia sudah bahagia dengan keluarganya. Aku tidak mau membuat masalah jika datang padanya. Aku orang ketiga, jadi biarkan aku pergi." Andri tengah bersiap keluar kota. Dia akan merantau untuk beberapa tahun disana. Bahkan dia berpesan agar tidak memberi tahu Aruna kemana dia pergi pada Anita. Sementara itu, Aruna masih dalam kebingungan. Namun, sementara waktu ini dia harus tetap berada di rumah Mahesa. Semua orang berharap pada kehamilannya itu. "Sayang, kenapa kamu gelisah?" Mahesa mendekati Aruna. Tapi, Aruna berpaling. "Aku tahu itu anak aku atau bukan. Tapi yang jelas kehadirannya sangat menolongku." "Kamu memanfaatkan anak ini?" "Kenapa tidak Aruna? Keluarga kita menginginkannya walaupun kamu tidak." Mahesa menatap Aruna. "Ingat kesehatan mamamu Aruna!" Tak di sangka Mahesa hanya memanfaatkan kehamilan Aruna untuk keuntungannya. Aruna baru terpikirkan untuk menghubungi Andri, namun nomor Andri tidak aktif. Sudah beberapa hari Aruna melupakan Andri karena sibuk memikirkan kehamilannya. Esoknya, Aruna datang ke rumah Andri. Di sana sangat sepi, dia menemui Anita yang rumahnya ada di samping rumah Andri. "Nit, apa kamu tahu Andri kemana?" "Tidak tahu. Dia hanya bilang ingin melihat kamu bahagia dengan keluarga kamu. Dia tidak ingin merusak kebahagiaan kalian." "Nit, anak ini hanya dimanfaatkan suamiku. Dia tak peduli sekalipun ini bukan anaknya." "Tapi Andri sudah memilih pergi, aku juga tidak bisa menghubungi dia." Aruna pulang dengan hati kecewa, di saat seperti ini Andri justru meninggalkan dirinya. Aruna tak punya pilihan lain dia tetap bertahan dengan Mahesa walaupun dia gak lagi mencintainya. *** Selama kehamilan, Aruna sangat di perhatikan oleh siapapun termasuk Mahesa. Hal itu tentu membuat Hana merasa iri. Pasalnya Hana juga tengah hamil anak Mahesa. "Sayang, kenapa kamu jarang kesini? Aku juga hamil loh!" protes Hana. "Maaf, Han. Aku harus pastikan kalau Aruna baik-baik saja. Kamu harusnya bersyukur aku tidak meninggalkan kamu." "Kamu gak adil!" Hana menangis. Mahesa menenangkan Hana dengan memeluknya. Hana adalah wanita dengan tempramental tinggi dia mudah tersulut emosi. Bahkan dulu waktu SMA dia pernah masuk rumah sakit karena emosinya meledak-ledak. "Aruna, aku tidak akan biarkan kamu bahagia." Hana mulai tersulut emosi saat melihat Mahesa lebih peduli pada Aruna. Dia tidak akan rela suaminya bahagia dengan wanita lain. "Hana, aku harus pulang. Aruna di rumah sendiri. Aku takut dia kenapa-kenapa." "Lalu kamu tidak mengkhawatirkan aku?" Hana mendelik kesal pada Mahesa. "Aku juga istrimu, aku adalah istri pertama kamu, Mas!" "Tapi Aruna lebih penting saat ini." Mahesa segera mengambil kunci mobil dan pergi dari rumah Hana. Hana makin sakit hati atas perlakuan Mahesa. Dia ingin sekali memiliki Mahesa seutuhnya seperti dulu. *** Aruna merasa bosan, dia merindukan Andri. Namun, dia tak tahu dimana Andri berada. "Kenapa kamu tega meninggalkan aku? Aku mencintaimu!" Aruna tampak sedih sekali. Dia melihat perutnya yang masih rata. "Andai aku tidak hamil." Aruna berharap anak yang dia kandung adalah anak Andri. Dengan begitu dia punya alasan kuat untuk pergi dari Mahesa. "Sayang, maaf aku meninggalkan kamu." "Dari rumah istri tua? Kenapa gak tinggal disana saja!" Aruna menatap sinis ke arah Mahesa. "Aku berharap anak ini anak Andri." "Pria selingkuhan kamu itu pergi, tapi kamu masih berharap darinya. Sudahlah kamu nikmati saja, ingat mama kamu bisa sakit kalau tahu kamu selingkuh sampai hamil." Aruna memilih mengabaikan Mahesa, dia masuk ke dalam kamar dan menguncinya. Aruna tidak pernah mau tidur bersama Mahesa lagi. Aruna hanya bisa menangis, dia membutuhkan Andri tapi dia justru pergi. Aruna kecewa dengan Andri, tapi Aruna masih sangat mencintai Andri. "Aruna, Mbak datang!" Suara Mawar terdengar di depan pintu kamar Aruna. Aruna malas sekali membuka pintu. Dia sangat merasa terganggu dengan kedatangan Mawar. Dia lebih suka menyendiri di kamar saja. "Run, kamu kenapa? Kalau ada masalah cerita sama Mbak." Tampaknya Mawar tak sadar diri kalau Aruna tidak ingin diganggu. Aruna memilih merebahkan diri di kasur dan menutup kepalanya dengan bantal agar tidak mendengar suara Mawar lagi. Tidak berapa lama terdengar langkah kaki Mawar menjauhi kamar Aruna. Aruna merasa lega, dia benar-benar malas sekali bertemu Mahesa dan keluarganya. *** "Kamu yakin itu anakmu?" Mawar mendekati Mahesa. "Bagaimana kalau tidak?" "Aku tidak peduli, yang penting dia tidak meninggalkan aku." "Kamu harus lakukan sesuatu agar Aruna lepas dari pria itu." "Pria itu sudah meninggalkan Aruna, jadi aku bisa tenang." Mawar tersenyum, entah mengapa Mawar justru mendukung Mahesa. Padahal apa yang dilakukan Mahesa sangat menyakiti Aruna. "Mbak, bagaimana kalau aku pekerjaan pembantu disini? Selain itu dia bisa menemani Aruna saat aku ada dinas keluar kota." "Boleh saja. Tapi kamu harus teliti memilih pembantu." "Oke." Aruna mendengar hal itu, dia merencanakan sesuatu. Dia langsung menghubungi seseorang. "Apa kamu mau bekerja?" "Mau, dimana?" "Di rumahku." Aruna tersenyum karena wanita di seberang sana menyetujui. Aruna berharap apa yang dia rencanakan berhasil. Dia ingin pergi dari rumah tangga yang menyiksa. Dia ingin lepas dari jerat Mahesa dan keluarganya. Pagi itu, seorang wanita datang ke rumah Mahesa. Mahesa terkejut melihat kedatangan wanita itu. "Untuk apa kamu kemari?" "Aku yang meminta dia datang." Aruna mendekati Mahesa. "Butuh pembantu kan? Biar dia yang jadi pembantu disini!" Mahesa langsung melotot, dia hendak menolak. "Tak ada kata penolakan." Aruna langsung memberi peringatan.Ternyata paket terus berdatangan ke rumah Aruna. Mulai dari foto hingga bunga dan makanan kesukaan Aruna. Karena merasa tidak memesan apapun, Aruna memilih untuk mengabaikannya. Namun, Andri justru marah. Dia merasa pengirim paket telah mengganggu ketenangan Aruna."Ini pasti ulah Mahesa, aku akan beri dia peringatan."Benar saja, sore itu Andri menunggu Mahesa di depan kantor Mahesa. Ketika dia melihat Mahesa, Andri langsung mendekatinya."Apa maksud kamu mengganggu istriku? Kalian sudah mantan! Jangan berharap bisa kembali sama dia!""Siapa yang mengganggu Aruna?""Jangan sok gak tahu! Kamu kirim paket terus-menerus ke rumahku untuk apa?""Aku tidak melakukannya."Andri marah, dia memukul Mahesa. Terjadilah baku hantam diantara mereka berdua. Indi yang melihat hal itu segera memanggil satpam kantor untuk melerai mereka."Awas kamu kalau ganggu istriku lagi!" Andri masih marah. Sementara, Mahesa sudah dibawa ke dalam kantor kembali."Siapa dia?" "Suaminya Aruna.""Aruna mantan istri
Indi bukannya takut, dia malah melawan Hana. Dia tidak menyadari kalau dirinyalah yang salah di posisi ini."Kamu kira aku takut? Gak akan!""Dasar pelakor gak tau diri! Percaya diri banget dirimu."Hana tak ingin mengalah, bukan karena ingin mempertahankan Mahesa tapi harga dirinya sebagai istri sah sedang dipertaruhkan. Sebagai istri sah, Hana tidak ingin harga dirinya diinjak-injak walaupun dia susah tidak mencintai Mahesa lagi."Kamu kira, kamu akan mendapatkan dia? Tidak! Aku yakin dia mau sama kamu karena ada sesuatu tujuan.""Alah... Kamu bilang seperti itu karena cemburu kan!""Sudah.... Sudah .... Hana kamu pergi! Jangan bikin gaduh disini! Bikin malu saja!"Mahesa mengusir Hana dari lobi. Hana benar-benar kesal dengan sikap Mahesa selama ini."Lihat saja kalian! Aku akan membalas sakit hatiku ini." Hana tidak akan melupakan orang-orang yang telah menyakitinya.Jika dulu Hana hanya bisa menangis saat Mahesa lebih memilih Aruna, kini Hana lebih kuat dari sebelumnya.***Tidak
Malam itu, Mahesa pulang dalam keadaan mabuk. Dia berbicara tanpa menghiraukan perasaan Hana yang ada di sampingnya."Aruna ...aku mencintaimu! Aku ingin kita bersama lagi. Memadu kasih, mempunyai buah hati dan bahagia bersama."Hati wanita mana yang tak sakit, mendengarkan pengakuan sang suami. Benar kata orang, orang mabuk itu pasti jujur karena dia bicara dalam keadaan setengah sadar. Hana meneteskan air mata, dia memilih meninggalkan Mahesa di kamar sendirian."Aruna, kamu sudah bahagia. Tapi mengapa kamu masih mengganggu Mahesa? Apa istimewanya dirimu? Aku yang selalu menemani Mahesa tapi mengapa kamu yang dia cintai?" Hana mengusap air matanya. "Tidak, aku harus kuat. Aku harus kuat sampai anak ini lahir. Meskipun anak ini tidak pernah di akui papanya sendiri."Hana mengambil air minum, dia mencoba menenangkan dirinya. Dia sudah tidak punya siapapun kecuali Mahesa.Ketika kembali ke kamar? Mahesa sudah mendengkur. Dia terlihat sangat lelah sekali. Hana berbaring dengan menatap w
Sebenarnya Mahesa tidak menginginkan kehamilan itu. Namun, dia juga tidak tega untuk membuatnya tiada."Dia hamil? Kenapa kamu tidak tahu? Apa mungkin bukan anakmu?"Mawar justru membuat asumsi sendiri sehingga membuat Mahesa menaruh curiga pada Hana. Ucapan Mawar menjadi Boomerang untuk kehamilan Hana.Mahesa masuk ke dalam ruangan Hana, dia tampak acuh pada Hana."Mas, kita akan punya momongan! Kita harus jaga dia sampai persalinan!""Kenapa kamu tidak bilang kalau hamil? Apa dia bukan anakku?""Hah!!! Kamu menuduh aku selingkuh! Tega kamu, Mas!"Mawar bukannya meredam keadaan justru memperkeruh suasana sehingga makin kacau."Alah, kamu kan memang tukang selingkuh! Pantas hamil diam-diam saja! Harusnya anak itu celaka saja!"Ucapan Mawar membuat Hana kesal, dia berusaha meredam amarah karena mereka berada di rumah sakit. Jika tidak, Hana sudah melupakan emosinya.Esoknya, Hana sudah diperbolehkan untuk pulang. Namun, Mahesa memilih untuk bekerja, Hana pulang dari rumah sakit seorang
Demi bisa menumpang hidup pada Hana, Mahesa terpaksa diam. Namun, sebagai pria dia merasa harga dirinya di pertaruhkan."Aku ini laki-laki, tidak pantas seperti ini." Ponsel Mahesa berdering. Ada panggilan dari keluarganya."Mahesa ... Kamu harus menolong papa!" Suara Mawar di seberang sana tampak panik. "Papa di tangkap polisi!"Mahesa termangu, dia tidak tahu harus berbuat apa. Saat ini, dia tidak punya kuasa apapun."Mahesa, jangan diam! Tolong papa!" Mawar terus mendesak Mahesa.Mahesa mematikan panggilannya dan segera ke kantor polisi. Sampai di sana dia melihat Bobi sedang diintrogasi polisi. Mahesa tidak menyangka kasus kecelakaan Papa Aruna akan diusut lagi.Mahesa tidak dapat menolong Bobi, dia kembali pulang. Mawar marah karena merasa Mahesa tidak berguna. Demi menyelamatkan Bobi, Mawar mendatangi Aruna.Malam itu, Aruna sedang tidak di rumah. Jadi Mawar tidak bertemu dengan Aruna. Mawar kesal dia menunggu hingga Aruna pulang.Mobil Aruna memasuki halaman rumah Aruna. Ia mel
Aruna dan Andri semakin dekat, hal itu membuat Mahesa makin kepanasan. Dia tidak ingin melepaskan Aruna."Jangan sampai kamu kalah sama dia!" Bobi yang sudah tahu hubungan Aruna dengan Andri mengingatkan Mahesa. "Ingat, Aruna adalah aset kita!""Kenapa Papa izinkan Aruna kerja lagi? Bukannya itu akan membahayakan kita?""Itu tugas kamu, bagaimana biar dia tidak betah di kantor." Bobi justru melimpah semua pada Mahesa.Satu Minggu bekerja, Aruna mulai menemukan satu per satu kejanggalan. Banyak proyek yang dananya melambung tinggi tapi tidak sesuai dengan di lapangan."Apa ini?" Aruna masuk ke ruangan Mahesa. "Kamu dan papa kamu ingin perusahaan ini bangkrut?" Aruna memperlihatkan semua laporan yang sudah ia cek kembali."Apa maksudnya? Kamu menuduh kami?""Ini ada buktinya! Oh aku sekarang tahu alasan kamu tidak mau menceraikan aku. Kalian ingin menguasai perusahaan ini kan!""Aruna jaga bicara kamu. Aku ini suami kamu, tidak mungkin aku melakukan hal itu." Mahesa masih menyanggah."S
Aruna sedikit kecewa karena tidak mendapatkan info apapun dari Anjas. Namun, dia tidak putus asa, dia akan mengatur ulang jadwal untuk bertemu Anjas lagi.Sekilas terbesit dipikiran Aruna untuk datang ke kantor. Biar bagaimanapun? Kantor itu juga milik Aruna. Aruna langsung menjalankan mobilnya men
Aruna sengaja memasukkan Hana ke dalam rumahnya dengan alasan menjadi pembantu. Dia sedang merencanakan sesuatu bersama Hana. Tentu saja Mahesa merasa khawatir karena kedua istrinya berada di rumah yang sama."Aruna, kita perlu bicara!" Mahesa menarik Aruna ke ruang kerjanya. "Dia itu madu kamu, ta
Aruna meminta izin pada Mahesa untuk menginap di rumah mamanya selama beberapa hari. Mahesa tentu saja mengizinkan Aruna.Sampai di rumah, Aruna disambut hanya oleh Ratih. Dia sanang Aruna sering berkunjung."Apa ada masalah?""Tidak, Ma."Malam itu, Aruna dan Ratih duduk berdua di taman. Sambil m







