MasukSemakin hari, Mahesa selalu sibuk dengan pekerjaannya dan melupakan bahwa ada Hana yang membutuhkannya. Hingga suatu hari, Hana melihat Mahesa bertemu dengan Aruna.Ya, pertemuan itu sebenarnya tidak sengaja. Tapi bagi Hana, hal itu pasti di rencanakan. Hana cemburu dan marah, seketika dia mendekati Aruna dan mendorongnya.Mahesa yang berada di dekat Aruna langsung menolong Aruna hingga Aruna tidak terjatuh."Hana, ngapain kamu disini?" Mahesa tampak marah sekali melihat Hana ada di tempatnya bekerja."Dia yang ngapain disini? Pasti dia sengaja datang kesini untuk menemui kamu, kan!""Aku menemui dia untuk apa. Aku datang kesini bersama suamiku untuk urusan bisnis. Bukan untuk menemui suami kamu."Andri datang, dia tampak marah karena melihat Hana memarahi Aruna. Begitu juga dengan atasan Mahesa, beliau tampak malu pada Andri."Mahesa, apa-apaan ini? Ini kantor bukan tempat istri kamu buat keributan. Suruh pergi sana!"Mahesa lalu menarik tangan Hana untuk keluar dari area kantor. Mah
Selang beberapa hari, pelaku itu tertangkap. Dia mengaku di suruh oleh Mahesa. Maka, polisi pun menangkap Mahesa, namun Mahesa berkilah tidak mengenal pelaku."Aku tidak kenal dia, bagaimana aku bisa memintanya menyelakai Aruna?"Polisi pun mengecek ponsel Mahesa tidak ada chat maupun komunitas apapun dengan pelaku. Bahkan transaksi keuangan pun tidak ada."Katakan siapa sebenarnya yang menyuruh kamu.""Mahesa yang menyuruhku. Dia tidak mengaku tidak masalah. Biar aku yang menanggung semua."Karena Mahesa tidak terbukti bersalah, maka Mahesa boleh pulang. Mahesa merasa aneh, ada orang yang berusaha mencelakia Aruna dan menggunakan namanya. Mahesa ingin menyelidiki semua. Dia tidak mau Aruna salah paham padanya.Jika Mahesa bingung siapa dalang semua? Begitu juga dengan Aruna dan Andri. Mereka mengira itu ulah Mahesa tapi polisi tidak menemukan keterlibatan Mahesa dalam masalah ini."Bagaimana bukan dia? Dia yang selalu mengganggu ku.""Aku juga tidak tahu. Apa mungkin memang bukan dia
Ternyata paket terus berdatangan ke rumah Aruna. Mulai dari foto hingga bunga dan makanan kesukaan Aruna. Karena merasa tidak memesan apapun, Aruna memilih untuk mengabaikannya. Namun, Andri justru marah. Dia merasa pengirim paket telah mengganggu ketenangan Aruna."Ini pasti ulah Mahesa, aku akan beri dia peringatan."Benar saja, sore itu Andri menunggu Mahesa di depan kantor Mahesa. Ketika dia melihat Mahesa, Andri langsung mendekatinya."Apa maksud kamu mengganggu istriku? Kalian sudah mantan! Jangan berharap bisa kembali sama dia!""Siapa yang mengganggu Aruna?""Jangan sok gak tahu! Kamu kirim paket terus-menerus ke rumahku untuk apa?""Aku tidak melakukannya."Andri marah, dia memukul Mahesa. Terjadilah baku hantam diantara mereka berdua. Indi yang melihat hal itu segera memanggil satpam kantor untuk melerai mereka."Awas kamu kalau ganggu istriku lagi!" Andri masih marah. Sementara, Mahesa sudah dibawa ke dalam kantor kembali."Siapa dia?" "Suaminya Aruna.""Aruna mantan istri
Indi bukannya takut, dia malah melawan Hana. Dia tidak menyadari kalau dirinyalah yang salah di posisi ini."Kamu kira aku takut? Gak akan!""Dasar pelakor gak tau diri! Percaya diri banget dirimu."Hana tak ingin mengalah, bukan karena ingin mempertahankan Mahesa tapi harga dirinya sebagai istri sah sedang dipertaruhkan. Sebagai istri sah, Hana tidak ingin harga dirinya diinjak-injak walaupun dia susah tidak mencintai Mahesa lagi."Kamu kira, kamu akan mendapatkan dia? Tidak! Aku yakin dia mau sama kamu karena ada sesuatu tujuan.""Alah... Kamu bilang seperti itu karena cemburu kan!""Sudah.... Sudah .... Hana kamu pergi! Jangan bikin gaduh disini! Bikin malu saja!"Mahesa mengusir Hana dari lobi. Hana benar-benar kesal dengan sikap Mahesa selama ini."Lihat saja kalian! Aku akan membalas sakit hatiku ini." Hana tidak akan melupakan orang-orang yang telah menyakitinya.Jika dulu Hana hanya bisa menangis saat Mahesa lebih memilih Aruna, kini Hana lebih kuat dari sebelumnya.***Tidak
Malam itu, Mahesa pulang dalam keadaan mabuk. Dia berbicara tanpa menghiraukan perasaan Hana yang ada di sampingnya."Aruna ...aku mencintaimu! Aku ingin kita bersama lagi. Memadu kasih, mempunyai buah hati dan bahagia bersama."Hati wanita mana yang tak sakit, mendengarkan pengakuan sang suami. Benar kata orang, orang mabuk itu pasti jujur karena dia bicara dalam keadaan setengah sadar. Hana meneteskan air mata, dia memilih meninggalkan Mahesa di kamar sendirian."Aruna, kamu sudah bahagia. Tapi mengapa kamu masih mengganggu Mahesa? Apa istimewanya dirimu? Aku yang selalu menemani Mahesa tapi mengapa kamu yang dia cintai?" Hana mengusap air matanya. "Tidak, aku harus kuat. Aku harus kuat sampai anak ini lahir. Meskipun anak ini tidak pernah di akui papanya sendiri."Hana mengambil air minum, dia mencoba menenangkan dirinya. Dia sudah tidak punya siapapun kecuali Mahesa.Ketika kembali ke kamar? Mahesa sudah mendengkur. Dia terlihat sangat lelah sekali. Hana berbaring dengan menatap w
Sebenarnya Mahesa tidak menginginkan kehamilan itu. Namun, dia juga tidak tega untuk membuatnya tiada."Dia hamil? Kenapa kamu tidak tahu? Apa mungkin bukan anakmu?"Mawar justru membuat asumsi sendiri sehingga membuat Mahesa menaruh curiga pada Hana. Ucapan Mawar menjadi Boomerang untuk kehamilan Hana.Mahesa masuk ke dalam ruangan Hana, dia tampak acuh pada Hana."Mas, kita akan punya momongan! Kita harus jaga dia sampai persalinan!""Kenapa kamu tidak bilang kalau hamil? Apa dia bukan anakku?""Hah!!! Kamu menuduh aku selingkuh! Tega kamu, Mas!"Mawar bukannya meredam keadaan justru memperkeruh suasana sehingga makin kacau."Alah, kamu kan memang tukang selingkuh! Pantas hamil diam-diam saja! Harusnya anak itu celaka saja!"Ucapan Mawar membuat Hana kesal, dia berusaha meredam amarah karena mereka berada di rumah sakit. Jika tidak, Hana sudah melupakan emosinya.Esoknya, Hana sudah diperbolehkan untuk pulang. Namun, Mahesa memilih untuk bekerja, Hana pulang dari rumah sakit seorang







