LOGINDua tahun menikah, namun aku masih perawan. Mengapa aku tak disentuh oleh suamiku? Apakah dia tidak mencintaiku? Dan ketika aku memutuskan untuk mencintai orang lain, suamiku justru menyalahkanku. "Pernikahan bukan hanya soal hubungan ranjang, apakah kamu tak bisa menahannya?" Kalimat macam apa yang dia katakan? Lalu apa gunanya aku dinikahi? Saat aku memutuskan untuk meninggalkan dia, ternyata rahasia besar terbongkar. Ternyata suamiku ...
View MoreAruna terdiam menatap hujan dari balik jendela. Dia tengah menunggu kepulangan sang suami, Mahesa. Ada rasa sepi menyelimuti hati Aruna.
"Maaf, aku tidak bisa menyentuhmu." Satu kalimat itu selalu melekat dalam ingatan Aruna sejak dua tahun silam. Krett Terdengar pintu utama terbuka, sosok pria yang dia nantikan telah tiba. Seperti biasa, Aruna membantu Mahesa membuka jas kantor dan mengambil tas kerjanya. "Air hangat sudah aku siapkan, Mas!" Mahesa hanya mengangguk dan berlalu menuju kamar pribadi mereka. Sementara, Aruna membuntitinya di belakang. Saat Mahesa mandi, Aruna menyiapkan makan malam. "Aku sudah makan tadi dengan teman kantor." Padahal Aruna menantikan makan malam berdua dengannya. Tapi, Mahesa justru memilih mengabaikannya. "Besok aku ada tugas keluar kota. Kamu siapkan bajuku malam ini." "Baik, Mas." Aruna terdiam. "Mas, boleh aku meminta sesuatu?" "Apa?" Aruna menatap mata Mahesa, dan Mahesa seakan tahu apa yang Aruna maksud hanya dengan satu tatapan mata saja. "Maaf, aku tidak bisa!" "Kenapa? Apa salahku?" "Tidak ada. Tapi aku tidak bisa." Dua tahun menikah bersama Mahesa, Aruna sama sekali belum di sentuh. Ia sempat meragukan kejantanan Mahesa. Tapi, Aruna yakin bukan masalah itu. Mahesa kembali masuk ke kamar dan segera tidur. Dengan berlinang air mata, Aruna menyiapkan baju untuk Mahesa dinas besok. "Aku pergi satu Minggu, kamu jaga diri baik-baik di rumah." Hanya itu pesan dari Mahesa saat dia akan pergi dinas keluar kota. Aruna menatap kepergian Mahesa dengan begitu banyak pertanyaan. Apa dia sanggup dengan pernikahan ini? Apa dia bisa menahan semua? Aruna memilih menyibukkan diri dengan aktivitas di rumah. Namun, saat melihat cermin dia menyadari kalau dia tidak secantik dulu lagi. "Apa ini yang membuat Mas Mahesa tak mau menyentuhku? Apa aku perlu mengubah penampilanku?" Akhirnya, Aruna memutuskan pergi berbelanja ke mall. Dia juga akan pergi ke salon untuk memperbaiki penampilannya. Dia seperti orang hilang saat berbelanja seorang diri. Bagaimana tidak? Dia tak pernah mempunyai teman dekat. Dia selalu menyibukkan diri di dalam rumah. "Mbak cantik sekali!" Seorang karyawati memuji Aruna yang tengah memilih baju. "Benarkah?" Aruna masih belum yakin. Apakah di mata Mahesa dia akan cantik juga? "Benar, Mbak." Aruna tersenyum menanggapi pujian karyawati itu. Hingga dia memutuskan membeli dua helai mini dress dengan model terbaru. Mahesa tak pernah mempermasalahkan seberapa besar Aruna menghabiskan uangnya. Bahkan uang bulanan Aruna bertambah dua bulan ini. Terlalu lama berbelanja, Aruna merasa lapar. Dia segera memilih tempat makan. "Ah di sana, ramai pasti makanannya enak!" Aruna segera memesan beberapa menu. Aruna makan dengan lahap, hingga tak sadar ada sosok pria yang memperhatikan dirinya sejak tadi. Pria itu tersenyum saat melihat Aruna makan dengan lahap. "Apa dia tak pernah makan enak?" Senyum manis pria itu adalah dambaan dari semua wanita. Aruna telah menghabiskan menu yang dia pesan. Setelah itu dia segera pulang. Namun, dia melupakan sesuatu yang tertunggak di meja. Sampai tempat parkir, dia kebingungan. Dia mencari sesuatu di dalam tas tapi hasilnya nihil. "Tadi aku taruh disini! Ah kenapa aku lupa naruh sih!" Di saat Aruna kebingungan, seorang pria yang sejak tadi memperhatikan dia mendekat. "Cari ini!" Aruna mendongakkan kepala, "Iya itu kunci mobilku!" seru Aruna ketika melihat kunci yang dia cari berada di tangan pria itu. "Berikan padaku!" "Ada syaratnya kalau mau kunci ini." "Syarat?" Mata Aruna membulat. Sedikit rasa kesal dalam hati Aruna. Dia sudah ingin pulang tapi harus bertemu pria menjengkelkan. "Berikan nomor ponsel kamu padaku!" "Tidak mau!" Tanpa berpikir Aruna menolak cepat. "Oke." Pria itu menyimpan kunci itu ke dalam saku dan berbalik. "Tunggu ... Baiklah!" Akhirnya Aruna menyerah. Dia tak mungkin pulang tanpa membawa mobilnya. Apalagi itu mobil hadiah dari Mahesa saat usia pernikahan mereka genap satu tahun. "Berikan ponselmu!" Pria itu mengambil ponsel dari saku celananya dan memberikannya pada Aruna. Tak ingin tertipu, pria itu langsung menelpon nomor yang Aruna simpan di ponselnya. "Ini bukan nomor kamu!" Pria itu merasa dibohongi karena saat dihubungi nomor tersebut tidak aktif. "Ponselku mati, makanya tidak aktif." "Jangan berbohong!" Aruna makin kesal, dia mengambil kembali ponsel pria itu dan menyimpan nomornya disana. Pria itu kembali menelpon nomor itu dan ternyata benar nomor Aruna. "Itu nomorku, simpan ya!" "Mana kunciku!" Pria itu memberikan kunci pada Aruna, dan Aruna segera memasuki mobil. Dua hari setelah kejadian itu, Aruna kembali bertemu dengan pria menjengkelkan itu. Pria itu mengirim makanan yang Aruna pesan lewat online. "Kamu ...!" Aruna menunjuk wajah pria itu mulai kesal. "Kamu kurir?" Pria itu hanya tersenyum, "Jangan lupa bintang limanya, Mbak!" Aruna mengambil pesanannya dan segera menutup pintu. Dia memberikan ulasan bintang satu untuk kurir itu. Pintu terdengar di gedor saat Aruna hendak melangkah. "Mbak ... Tolong ganti bintang lima dong, Mbak!" Pria itu berteriak dari luar pintu. Aruna mengabaikannya, dia memutuskan untuk segera makan. Sementara, pria itu terpaku di depan pintu. "Jahat sekali dia!" Pria itu melangkah meninggalkan rumah Aruna. Kali ini dia yang dibuat jengkel oleh Aruna. Sorenya, kran air di kamar mandi rumah Aruna bocor. Dia terpaksa memanggil tukang untuk memperbaikinya. Namun, entah sengaja atau bagaimana tukang yang biasanya tidak bisa. Yang datang tukang baru dan ternyata pria menjengkelkan itu. "Ketemu lagi, Mbak! Mana yang perlu di perbaiki?" Aruna mengantarkan pria itu ke kamar mandi. Setelah itu, Aruna meninggalkan pria itu. Aruna tak terbiasa berdua saja dengan pria asing. Aruna haus dia melewati kamar mandi itu, dia melihat pria itu membenarkan kran dengan telanjang dada. Seketika, Aruna merasakan ada sesuatu yang berbeda pada dirinya ketika melihat tubuh kekar itu. Dia segera ke dapur untuk mengambil air. "Sudah selesai, Mbak!" Pria itu mendekati Aruna yang sedang minum. Aruna berbalik, dia menyemburkan air minum yang ada di mulutnya ke wajah pria itu karena kaget. "Buset...basah lagi!" "Maaf ...!" Aruna yang reflek segera mengelap baju pria itu yang basah karena ulahnya. Saat itu tanpa sengaja mata mereka saling bertemu. Perasaan yang tadi Aruna tahan kini kembali muncul. Tubuh kekar pria asing itu sangat menggoda sekali. Tanpa ia sadari, otak Aruna berpikir sedikit mesum. "Mbak ... Mbak ...!'' Aruna masih belum menyadari kalau tangannya masih menyentuh dada bidang pria itu. Matanya masih tertuju pada mata indah sang pria asing. Entah bagaimana bukan menjauhi pria itu, Aruna malah mendekatkan wajahnya ke wajah pria itu. Dan alhasil sesuatu yang tak terduga terjadi diantara mereka.Semakin hari, Mahesa selalu sibuk dengan pekerjaannya dan melupakan bahwa ada Hana yang membutuhkannya. Hingga suatu hari, Hana melihat Mahesa bertemu dengan Aruna.Ya, pertemuan itu sebenarnya tidak sengaja. Tapi bagi Hana, hal itu pasti di rencanakan. Hana cemburu dan marah, seketika dia mendekati Aruna dan mendorongnya.Mahesa yang berada di dekat Aruna langsung menolong Aruna hingga Aruna tidak terjatuh."Hana, ngapain kamu disini?" Mahesa tampak marah sekali melihat Hana ada di tempatnya bekerja."Dia yang ngapain disini? Pasti dia sengaja datang kesini untuk menemui kamu, kan!""Aku menemui dia untuk apa. Aku datang kesini bersama suamiku untuk urusan bisnis. Bukan untuk menemui suami kamu."Andri datang, dia tampak marah karena melihat Hana memarahi Aruna. Begitu juga dengan atasan Mahesa, beliau tampak malu pada Andri."Mahesa, apa-apaan ini? Ini kantor bukan tempat istri kamu buat keributan. Suruh pergi sana!"Mahesa lalu menarik tangan Hana untuk keluar dari area kantor. Mah
Selang beberapa hari, pelaku itu tertangkap. Dia mengaku di suruh oleh Mahesa. Maka, polisi pun menangkap Mahesa, namun Mahesa berkilah tidak mengenal pelaku."Aku tidak kenal dia, bagaimana aku bisa memintanya menyelakai Aruna?"Polisi pun mengecek ponsel Mahesa tidak ada chat maupun komunitas apapun dengan pelaku. Bahkan transaksi keuangan pun tidak ada."Katakan siapa sebenarnya yang menyuruh kamu.""Mahesa yang menyuruhku. Dia tidak mengaku tidak masalah. Biar aku yang menanggung semua."Karena Mahesa tidak terbukti bersalah, maka Mahesa boleh pulang. Mahesa merasa aneh, ada orang yang berusaha mencelakia Aruna dan menggunakan namanya. Mahesa ingin menyelidiki semua. Dia tidak mau Aruna salah paham padanya.Jika Mahesa bingung siapa dalang semua? Begitu juga dengan Aruna dan Andri. Mereka mengira itu ulah Mahesa tapi polisi tidak menemukan keterlibatan Mahesa dalam masalah ini."Bagaimana bukan dia? Dia yang selalu mengganggu ku.""Aku juga tidak tahu. Apa mungkin memang bukan dia
Ternyata paket terus berdatangan ke rumah Aruna. Mulai dari foto hingga bunga dan makanan kesukaan Aruna. Karena merasa tidak memesan apapun, Aruna memilih untuk mengabaikannya. Namun, Andri justru marah. Dia merasa pengirim paket telah mengganggu ketenangan Aruna."Ini pasti ulah Mahesa, aku akan beri dia peringatan."Benar saja, sore itu Andri menunggu Mahesa di depan kantor Mahesa. Ketika dia melihat Mahesa, Andri langsung mendekatinya."Apa maksud kamu mengganggu istriku? Kalian sudah mantan! Jangan berharap bisa kembali sama dia!""Siapa yang mengganggu Aruna?""Jangan sok gak tahu! Kamu kirim paket terus-menerus ke rumahku untuk apa?""Aku tidak melakukannya."Andri marah, dia memukul Mahesa. Terjadilah baku hantam diantara mereka berdua. Indi yang melihat hal itu segera memanggil satpam kantor untuk melerai mereka."Awas kamu kalau ganggu istriku lagi!" Andri masih marah. Sementara, Mahesa sudah dibawa ke dalam kantor kembali."Siapa dia?" "Suaminya Aruna.""Aruna mantan istri
Indi bukannya takut, dia malah melawan Hana. Dia tidak menyadari kalau dirinyalah yang salah di posisi ini."Kamu kira aku takut? Gak akan!""Dasar pelakor gak tau diri! Percaya diri banget dirimu."Hana tak ingin mengalah, bukan karena ingin mempertahankan Mahesa tapi harga dirinya sebagai istri sah sedang dipertaruhkan. Sebagai istri sah, Hana tidak ingin harga dirinya diinjak-injak walaupun dia susah tidak mencintai Mahesa lagi."Kamu kira, kamu akan mendapatkan dia? Tidak! Aku yakin dia mau sama kamu karena ada sesuatu tujuan.""Alah... Kamu bilang seperti itu karena cemburu kan!""Sudah.... Sudah .... Hana kamu pergi! Jangan bikin gaduh disini! Bikin malu saja!"Mahesa mengusir Hana dari lobi. Hana benar-benar kesal dengan sikap Mahesa selama ini."Lihat saja kalian! Aku akan membalas sakit hatiku ini." Hana tidak akan melupakan orang-orang yang telah menyakitinya.Jika dulu Hana hanya bisa menangis saat Mahesa lebih memilih Aruna, kini Hana lebih kuat dari sebelumnya.***Tidak






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.