LOGINAruna, kamu tidak tahu kalau Mahesa sudah menikah denganku? Dan kamu! Kamu orang ketiga dalam hubungan kami!" Hana menuding Aruna.
"Mas ... Apa benar yang dia katakan? Kenapa kamu sejahat itu, Mas?" "Aruna, maafkan aku! Aku menikahi kamu karena paksaan papa. Papa punya hutang budi pada keluarga kamu." Aruna tak habis pikir selama ini justru dia yang menjadi orang ketiga. Pertengkaran mereka sampai ke telinga Bobi, pria itu tidak ingin Aruna meninggalkan Mahesa. Dia mencari cara agar Aruna tetap bersama Mahesa. "Mahesa, papa tidak mau kalian bercerai! Cepat lakukan kewajiban kamu sebagai seorang suami! Jika perlu, buat Aruna hamil secepatnya!" Mahesa merasa tertekan disatu sisi dia tidak sanggup menyentuh Aruna karena dia masih mencintai Hana. Tetapi, orang tuanya menekan agar tetap bersama Aruna. Mahesa dilema karena mencintai dua wanita sekaligus . Malam itu, Aruna duduk seorang diri di balkon. Dia menatap langit yang tampak mendung. "Sayang, aku harap kamu pikirkan kembali. Jangan sampai kamu menyesal!" "Aku menyesal? Tidak akan!" Aruna berbalik dan menatap Mahesa, dia merasa jijik dengan tingkah Mahesa. "Aku janji, aku akan menjalankan kewajiban aku sebagai seorang suami. Aku akan memberikan apa yang harusnya menjadi milikmu." Mahesa mendekati Aruna, namun Aruna justru menjauh dan meninggalkan Mahesa di balkon seorang diri. Mahesa merasa sakit hati mendapat penolakan dari Aruna. Sementara, orang tuanya terus menekannya. Hingga Mahesa mendapatkan cara agar bisa menyentuh Aruna. Setelah makan malam, Aruna merasakan pusing di kepala. Dia ke kamar merebahkan diri. Dia merasa ada yang tidak beres. Namun, dia tak dapat berpikir jernih saat itu. Aruna terbaring tak berdaya diatas kasur empuknya. Mahesa yang sudah menunggu kesempatan itu langsung saja beraksi. Namun, Mahesa terkejut setelah melakukannya. "Apa? Aruna sudah pernah melakukannya? Tapi dengan siapa?" Mahesa memakai kembali bajunya setelah semua usai. Aruna mengeliat, dia merasakan ada yang aneh karena saat terbangun dia tanpa sehelai benangpun. Aruna menatap nyalang ke arah Mahesa. "Jahat kamu, Mas!" Aruna memakai bajunya dan segera ke kamar mandi. Malam itu, Aruna memutuskan untuk pergi dari rumah. Dia tidak ingin bertemu Mahesa untuk sementara waktu. Namun, keluarga Mahesa selalu saja tahu dimana Aruna bersembunyi. "Aruna, kenapa kamu pergi dari rumah?" Mawar datang bersama Bobi. "Maafkan kesalahan Mahesa, dia tidak pernah mencintai wanita itu. Mahesa hanya dimanfaatkan oleh wanita miskin itu." "Dulu saat aku menuntut semua, dia tak mau memberikannya. Tapi kenapa setelah aku tahu kebusukannya dia baru melakukannya? Namun, cara dia salah! Aku tidak suka!" "Aruna, ayolah! Papa janji akan membereskan hubungan Mahesa dengan wanita itu. Setelah itu, kalian bisa bahagia berdua." Bobi dan Mawar membujuk Aruna. Aruna tetap pada pendiriannya untuk bercerai dari Mahesa. Bobi mulai menekan Aruna, jika Aruna tidak kembali pada Mahesa dia akan mengakhiri hidupnya. Aruna wanita yang tidak tegaan, dia terpaksa kembali ke rumah Mahesa lagi. Sejak saat itu, Aruna dan Mahesa tinggal bersama. Walaupun terkadang Aruna masih bertemu dengan Andri. Andri menyadari hubungannya dengan Aruna salah. Tetapi, dia sangat mencintai Aruna. Namun, untuk merebut Aruna dari Mahesa dia tidak mampu. Kecuali jika Aruna sendiri yang ingin mengakhiri dengan Mahesa. "Kamu kenapa?" tanya Aruna melihat raut wajah Andri yang tampak murung. "Jika kamu tidak bisa bercerai dari Mahesa. Biarkan aku yang mengalah!" "Jangan! Kamu jangan tinggalin aku! Aku mencintaimu!" "Tapi kamu istri orang, Mbak. Bagaimana kalau Mahesa tahu?" Aruna terdiam, dia menatap wajah Andri dengan sangat serius. "Jika kamu mencintai aku, bantu aku lepas dari Mahesa. Seharusnya dia tahu aku pernah melakukannya, nyatanya dia diam saja." Aruna dan Andri saling diam, mereka saling bertatap muka. "Apa dia ingin kamu hamil? Biar kalian tidak jadi cerai?" tanya Andri. Aruna mengangguk, dia yakin apa yang dikatakan Andri benar. Namun, dia tak ingin mengandung anak Mahesa. Pria yang dia tahun telah membohonginya. *** "Apa? Kamu telah menyentuhnya? Apa kamu tidak menyayangi aku lagi?" Hana marah besar ketika Mahesa mengatakan dia dan Aruna sudah melakukannya. "Dia sudah berselingkuh tapi kamu mau aja sama dia." "Aku tahu dia berselingkuh, bagus lagi kalau dia hamil. Dimata semua orang itu anakku. Dan aku tidak peduli itu anakku atau tidak setidaknya papa tidak menekankan aku lagi." "Lalu bagaimana denganku?" "Sebaiknya kita cerai saja!" "Tidak! Aku tidak mau! Kamu tidak akan bisa lepas dariku!" Jika Mahesa akan mengikat Aruna dengan anak. Maka, Hana pun melakukan hal yang sama pada Mahesa. Dia harus segera hamil agar Mahesa tidak meninggalkan dirinya. Mahesa masih menjalani kehidupan dengan dua istri. Namun, saat ini dia fokus pada Aruna. Wanita pilihan keluarga dan yang dia cintai juga. "Sayang, kita honeymoon yuk!" "Untuk apa? Biar aku cepat hamil lalu aku gak bisa cerai sama kamu?" "Bukan begitu, aku hanya ingin memperbaiki kesalahan-kesalahan aku yang dulu, Sayang!" "Kemana saja selama ini? Disaat aku sudah tak butuh kamu, malah kamu baru sadar! Maaf aku gak butuh honeymoon!" Aruna menatap nyalang ke arah Mahesa. Seketika Mahesa menunduk. Baru kali ini, Aruna terlihat sangat garang. Dua tahun menikah, Mahesa sama sekali tak pernah melihat Aruna semarah itu. "Jangan harap aku akan mengandung anakmu!" Aruna meninggalkan Mahesa, dia memilih mengunci diri di dalam kamar. Aruna terus berpikir, agar bisa lepas dari Mahesa dan keluarganya. Namun, di saat seperti ini dia merasa buntu. Dia merebahkan diri diatas kasur. Mencoba mencari cara, hingga terlintas satu ide dibenaknya. "Hanya dia yang bisa membantuku! Tapi dimana dia tinggal?" Aruna bangun, lalu mengambil ponselnya. Sesaat kemudian, dia bisa menemukan seseorang yang dia cari. Harapan dia sangat besar mendapat bantuannya. Aruna mengirim pesan "Aku Aruna, bisakah kita bertemu di cafe putri jam 4 sore." Pesan itu sudah terkirim, berharap akan dibalas dengan cepat. Namun, setelah menunggu beberapa menit tak ada balasan. Aruna memutuskan untuk tidur karena dia merasa lelah. "Mama ... Mama ...!" Suara anak kecil itu terdengar jelas di telinga Aruna. "Aku dan Papa menyayangi Mama!" Terlihat jelas, Mahesa menuntut anak laki-laki berusia 4 tahun. "Tidak ....!" Aruna terbangun dari tidurnya. "Untung hanya mimpi! Aku tidak boleh hamil anaknya Mahesa!" Aruna mencuci wajahnya, dia membuka pintu kamarnya. Dia tiba-tiba merasa pusing dan tidak sadarkan diri. "Aruna.... Bangun sayang!" Suara Mahesa terdengar. Aruna membuka mata, terlihat jelas wajah sumringah Mahesa. Di sampingnya ada pria berjas putih, tampaknya seorang dokter. "Sayang, ada kabar bahagia!" "Kabar bahagia apa?" Aruna memijat kepalanya yang masih sedikit pusing. "Kamu hamil." Mata Aruna melotot, dia tidak menyangka akan hamil secepat itu. Mimpinya menjadi kenyataan. Namun, dia berharap itu bukan anak Mahesa melainkan anak Andri, pria yang sangat dia cintai.Semakin hari, Mahesa selalu sibuk dengan pekerjaannya dan melupakan bahwa ada Hana yang membutuhkannya. Hingga suatu hari, Hana melihat Mahesa bertemu dengan Aruna.Ya, pertemuan itu sebenarnya tidak sengaja. Tapi bagi Hana, hal itu pasti di rencanakan. Hana cemburu dan marah, seketika dia mendekati Aruna dan mendorongnya.Mahesa yang berada di dekat Aruna langsung menolong Aruna hingga Aruna tidak terjatuh."Hana, ngapain kamu disini?" Mahesa tampak marah sekali melihat Hana ada di tempatnya bekerja."Dia yang ngapain disini? Pasti dia sengaja datang kesini untuk menemui kamu, kan!""Aku menemui dia untuk apa. Aku datang kesini bersama suamiku untuk urusan bisnis. Bukan untuk menemui suami kamu."Andri datang, dia tampak marah karena melihat Hana memarahi Aruna. Begitu juga dengan atasan Mahesa, beliau tampak malu pada Andri."Mahesa, apa-apaan ini? Ini kantor bukan tempat istri kamu buat keributan. Suruh pergi sana!"Mahesa lalu menarik tangan Hana untuk keluar dari area kantor. Mah
Selang beberapa hari, pelaku itu tertangkap. Dia mengaku di suruh oleh Mahesa. Maka, polisi pun menangkap Mahesa, namun Mahesa berkilah tidak mengenal pelaku."Aku tidak kenal dia, bagaimana aku bisa memintanya menyelakai Aruna?"Polisi pun mengecek ponsel Mahesa tidak ada chat maupun komunitas apapun dengan pelaku. Bahkan transaksi keuangan pun tidak ada."Katakan siapa sebenarnya yang menyuruh kamu.""Mahesa yang menyuruhku. Dia tidak mengaku tidak masalah. Biar aku yang menanggung semua."Karena Mahesa tidak terbukti bersalah, maka Mahesa boleh pulang. Mahesa merasa aneh, ada orang yang berusaha mencelakia Aruna dan menggunakan namanya. Mahesa ingin menyelidiki semua. Dia tidak mau Aruna salah paham padanya.Jika Mahesa bingung siapa dalang semua? Begitu juga dengan Aruna dan Andri. Mereka mengira itu ulah Mahesa tapi polisi tidak menemukan keterlibatan Mahesa dalam masalah ini."Bagaimana bukan dia? Dia yang selalu mengganggu ku.""Aku juga tidak tahu. Apa mungkin memang bukan dia
Ternyata paket terus berdatangan ke rumah Aruna. Mulai dari foto hingga bunga dan makanan kesukaan Aruna. Karena merasa tidak memesan apapun, Aruna memilih untuk mengabaikannya. Namun, Andri justru marah. Dia merasa pengirim paket telah mengganggu ketenangan Aruna."Ini pasti ulah Mahesa, aku akan beri dia peringatan."Benar saja, sore itu Andri menunggu Mahesa di depan kantor Mahesa. Ketika dia melihat Mahesa, Andri langsung mendekatinya."Apa maksud kamu mengganggu istriku? Kalian sudah mantan! Jangan berharap bisa kembali sama dia!""Siapa yang mengganggu Aruna?""Jangan sok gak tahu! Kamu kirim paket terus-menerus ke rumahku untuk apa?""Aku tidak melakukannya."Andri marah, dia memukul Mahesa. Terjadilah baku hantam diantara mereka berdua. Indi yang melihat hal itu segera memanggil satpam kantor untuk melerai mereka."Awas kamu kalau ganggu istriku lagi!" Andri masih marah. Sementara, Mahesa sudah dibawa ke dalam kantor kembali."Siapa dia?" "Suaminya Aruna.""Aruna mantan istri
Indi bukannya takut, dia malah melawan Hana. Dia tidak menyadari kalau dirinyalah yang salah di posisi ini."Kamu kira aku takut? Gak akan!""Dasar pelakor gak tau diri! Percaya diri banget dirimu."Hana tak ingin mengalah, bukan karena ingin mempertahankan Mahesa tapi harga dirinya sebagai istri sah sedang dipertaruhkan. Sebagai istri sah, Hana tidak ingin harga dirinya diinjak-injak walaupun dia susah tidak mencintai Mahesa lagi."Kamu kira, kamu akan mendapatkan dia? Tidak! Aku yakin dia mau sama kamu karena ada sesuatu tujuan.""Alah... Kamu bilang seperti itu karena cemburu kan!""Sudah.... Sudah .... Hana kamu pergi! Jangan bikin gaduh disini! Bikin malu saja!"Mahesa mengusir Hana dari lobi. Hana benar-benar kesal dengan sikap Mahesa selama ini."Lihat saja kalian! Aku akan membalas sakit hatiku ini." Hana tidak akan melupakan orang-orang yang telah menyakitinya.Jika dulu Hana hanya bisa menangis saat Mahesa lebih memilih Aruna, kini Hana lebih kuat dari sebelumnya.***Tidak
Malam itu, Mahesa pulang dalam keadaan mabuk. Dia berbicara tanpa menghiraukan perasaan Hana yang ada di sampingnya."Aruna ...aku mencintaimu! Aku ingin kita bersama lagi. Memadu kasih, mempunyai buah hati dan bahagia bersama."Hati wanita mana yang tak sakit, mendengarkan pengakuan sang suami. Benar kata orang, orang mabuk itu pasti jujur karena dia bicara dalam keadaan setengah sadar. Hana meneteskan air mata, dia memilih meninggalkan Mahesa di kamar sendirian."Aruna, kamu sudah bahagia. Tapi mengapa kamu masih mengganggu Mahesa? Apa istimewanya dirimu? Aku yang selalu menemani Mahesa tapi mengapa kamu yang dia cintai?" Hana mengusap air matanya. "Tidak, aku harus kuat. Aku harus kuat sampai anak ini lahir. Meskipun anak ini tidak pernah di akui papanya sendiri."Hana mengambil air minum, dia mencoba menenangkan dirinya. Dia sudah tidak punya siapapun kecuali Mahesa.Ketika kembali ke kamar? Mahesa sudah mendengkur. Dia terlihat sangat lelah sekali. Hana berbaring dengan menatap w
Sebenarnya Mahesa tidak menginginkan kehamilan itu. Namun, dia juga tidak tega untuk membuatnya tiada."Dia hamil? Kenapa kamu tidak tahu? Apa mungkin bukan anakmu?"Mawar justru membuat asumsi sendiri sehingga membuat Mahesa menaruh curiga pada Hana. Ucapan Mawar menjadi Boomerang untuk kehamilan Hana.Mahesa masuk ke dalam ruangan Hana, dia tampak acuh pada Hana."Mas, kita akan punya momongan! Kita harus jaga dia sampai persalinan!""Kenapa kamu tidak bilang kalau hamil? Apa dia bukan anakku?""Hah!!! Kamu menuduh aku selingkuh! Tega kamu, Mas!"Mawar bukannya meredam keadaan justru memperkeruh suasana sehingga makin kacau."Alah, kamu kan memang tukang selingkuh! Pantas hamil diam-diam saja! Harusnya anak itu celaka saja!"Ucapan Mawar membuat Hana kesal, dia berusaha meredam amarah karena mereka berada di rumah sakit. Jika tidak, Hana sudah melupakan emosinya.Esoknya, Hana sudah diperbolehkan untuk pulang. Namun, Mahesa memilih untuk bekerja, Hana pulang dari rumah sakit seorang







