Se connecterSetelah mereka selesai makan, Alia mendekati Amira yang terlihat masih kedinginan."Mama mau istirahat?" tanya Alia yang dibalas gelengan oleh Amira.Untuk beberapa saat ia memperhatikan Alia dan Fras secara bergantian lalu ia tersenyum."Kalian harus janji sama tante ya, apapun yang terjadi jangan pernah berpisah. Kamu fras ..." ucapnya sambil melihat Fras membuat Fras mengangguk."Alia ini sudah saya anggap seperti anak sendiri, jadi tolong jangan sakiti dia.Nggak gampang untuk bisa mempertemukan kalian kembali, banyak yang udah jadi korban." lanjut Amira.Amira menceritakan semua kronologi yang terjadi di kota hingga ia bisa datang ke tempat sekarang.Nenek yang mendengar itu hanya manggut-manggut sambil menikmati tehnya."Tinggallah di sini ..." ucap nenek membuat Amira diam sejenak."Tapi saya nggak enak Bu, saya jadi ngerepotin,""Nyawa kamu lebih berharga dibandingkan harta, jadi tinggallah di sini. Rumah saya nggak bagus memang, tapi mudah-mudahan bisa melindungi kita semua,"
Selama proses interogasi di kantor polisi Alex benar-benar tidak bisa berkutik apa-apa, namun ia juga tidak sepolos yang dikira. "Saya pamit duluan ya pak ... Nanti kalau ada apa-apa langsung telepon sekretaris saya aja," ucap Amira lali pergi begitu saja membuat Alex menghela nafas panjang.Alex bangkit dari duduknya kemudian ia menuju ke arah jeruji besi di mana beberapa anak buah dan pembantunya ada di sana. "Apa kalian juga termasuk orang-orang yang membocorkan semuanya?" tanya Alex yang dibalas gelengan oleh mereka."Nggak pak, Mbok cuman pengen pulang ke rumah aja nggak mau Mbok ikutan masalah apapun sebenarnya," ucap mbok membuat Alex terkekeh."Gak segampang itu, rokok saya," ucap Alex yang tiba-tiba dibawakan oleh anak buahnya membuat mbok kaget.Setelah melihat Alex pergi Mbok dan orang di sebelahnya saling melempar pandangan. "Ya ampun ... Jangan bilang Pak Alex juga bagian dari mereka, kasihan banget Ibu yang tadi," gumam mbok "Huh ... Tah lah mbok, jangankan ibu itu k
Seminggu telah berlalu, Alex semakin frustasi karena ia ingin kembali ke rumahnya, namun dia tidak mau berurusan dengan wartawan apalagi polisi. "Huh sampai sekarang belum ada nih kabar dari Fras?" tanya Alex pada anak buahnya itu yang dibalas anggukan oleh mereka."Belum ada Pak, kami mencoba melacak juga nggak ke deteksi sama sekali, kayaknya mereka nggak menggunakan ponsel sekarang," jawab anak buahnya itu membuat Alex kesal."Huh ... Mana rekan-rekan ku nanyain mulu lagi di mana," "Pak ... Kalau rekan Bapak banyak, mereka nggak ada gitu niatan mau bantuin bapak? Kan Bapak juga sering ngasih mereka apa yang mereka mau," ucap anak buahnya itu membuat Alex terdiam. "Sejauh ini mereka nggak ada ngasih bantuan atau apa-apa ya, justru kalau nelpon mereka selalu mendesak di mana Alia, mereka bahkan menuduhku telah mengambil Alia untukku," kesal Alex."Bapak nggak curiga gitu, siapa tahu dalang dari kejadian ini salah satunya mereka?" Deg!Untuk beberapa saat Alex terdiam setelah mend
Lidya tidak tahu harus berbuat apa lagi sekarang karena langkahnya sudah dibatasi oleh keluarganya, sedangkan ia harus mencari keberadaan Alia."Huh ... Kenapa jadi berantakan semua sial! Pak Alex, bisa-bisanya dia nyebarin foto itu padahal aku juga lagi berusaha nyari," kesal Lidya lalu ia mengotak-atik ponselnya.[Halo sayang ... Kamu masih mengingatku?][Om!][Ada apa?] tanya Alex dengan santai.[Kenapa Om melakukan itu semua? Padahal baru aja tadi aku dapetin alamatnya Alia, cih ... Dasar!] [Dimana?][Bagaimana dengan foto itu? Saya udah kena marah sama orang tua saya Om,] ujar Lidya [Hahaha ... Biarlah kalau memang kena marah, kamu mau jadi istri saya?][NAJIS!] tiba-tiba nada Lidya naik membuat Alex terkekeh.[Kalau begitu berikan saya alamat Alia] Hening!Untuk beberapa saat Lidya terdiam, iya kembali mengingat kejadian dari waktu ke waktu. [Kalau dipikir-pikir Om ini sangat menyedihkan ya, jahat pula.][Maksud kamu?][Huh ... Satu si om yang pengen saya tanyain, siapa yang
Heri demi hari, jadi dia tidak bisa mendapatkan kabar Alia sedikitpun membuatnya semakin frustasi."Dek ... Liat ini hp mama kenapa?" ucap Mama Lidya buru-buru mendekatinya sambil menunjukkan ponselnya membuat Lidya menghela nafas panjang."Itu nggak ada apa-apa mah, mama mau nggak ngikutin saran adek?""Apa?""Ganti nomor, ganti kartunya pokoknya," ucap Lidya membuat mama langsung menggerutu."Masa ganti sih, kan nomor-nomor teman Mama semua di sini," ujar Mama"Kayaknya HP mama kena hack jadinya kayak gitu, bakal kayak gitu terus," ujar Lidya membuat orang tuanya terlihat kecewa namun mau tidak mau yang mengangguk. "Ya udah deh nggak apa-apa, daripada hp Mama kayak gini terus," ucapnya membuat Lidya memejamkan matanya sejenak."Ma ... Adek keluar sebentar ya,""Ya sekalian beliin Mama kartu baru ya, terus ini Mama biarin aja kayak gini?" tanya Mama "Iya, biarin aja jangan ada yang dibales satupun ya," lanjut Lidya yang dibalas anggukan oleh Mama.Tanpa membuang waktu Lidya langsun
Hari demi hari berlalu, kehidupan Lidya benar-benar tidak tenang. Ia berusaha mencari keberadaan Alia sendirian namun hasilnya tetap nihil."Huh ... Mau berapa lama lahi nyari cewek ini, masa saya Aku harus minta bantuan si Rendy lagi sih," gumamnya bingung.Sekarang Lidya sedang berada di kampus, di ruangan Fras. Ia datang mengaku sebagai istri Fras dan ingin mengambil berkas di ruangannya."Huh ini banyak banget, nggak ada satupun yang bisa ku percaya," kesalnya lalu ia kembali memasukkan kertas itu ke dalam laci meja.Melihat hari sudah menunjukkan pukul 02.00 siang, Lidya keluar dari ruangan dan tiba-tiba berpapasan dengan Rendy."Hey..." Panggilnya namun tidak dihiraukan oleh Rendy membuat Lidya kesal lalu ia mengejar Rendy."Hey lu buta ya!" kesal Lidya membuat Rendy menaikkan alisnya sebelah."Gua?" tanya Rendy membuat Lidya menghela nafas panjang."Siapa lagi? Yang lewat disini kan cuma lu," ujar Lidya membuat Rendy mengangguk pura-pura tidak paham."Ya ... Gua juga gak meras







